
"Om Ar!"
Arkana tersentak saat tahu-tahu tubuh kecil Mikha sudah berada di depannya. Bocah itu mendongak dengan tangan kecil yang menepuk-nepuk kakinya beberapa kali, berusaha mendapatkan perhatian.
Saat mengangkat kepala, Arkana menemukan Segara sedang berjalan ke arahnya dengan raut wajah lelah yang kentara. Ada seulas senyum tipis yang terlihat sekali dipaksakan menghiasi wajah tampannya. Bahu lelaki itu tampak turun, tak lagi tegap seperti hari-hari lalu ketika mereka berjumpa.
"Kata Daddy nggak boleh nguping pembicaraan orang lain."
Arkana kembali menunduk, hanya untuk menemukan Mikha sedang menatapnya dengan mata bulat dan bibir yang cemberut serta tangannya terlipat di depan dada.
"Om nggak nguping." Kilahnya. Karena dia memang tidak sedang menguping. Dia hanya memperhatikan bagaimana sepasang anak dan ayah itu saling berbincang, tanpa tahu apa yang sedang mereka perbincangkan.
"Bohong!" Sergah Mikha, memasang wajah galak yang sayangnya sama sekali tidak terlihat menakutkan di mata Arkana. Alih-alih menakutkan, Arkana malah menemukan raut galak itu tampak lucu.
"Daddy bilang, kita nggak boleh bohong." Mikha melanjutkan, masih dengan raut wajah galak yang kali ini semakin dibuat-buat.
Arkana yang melihat bagaimana mata bulat Mikha semakin membola dan bibir mungil itu kian cemberut pun tak kuasa menahan diri dari ledakan tawa. Ia terbahak-bahak, berjongkok dengan susah payah demi meraih tubuh kecil keponakannya itu untuk dia bawa ke dalam gendongan.
"Pinter banget sih anaknya Segara." Kata Arkana, mengusak rambut Mikha dengan gemas. "Tapi Om Ar nggak bohong, Mikha. Om emang nggak dengar kamu sama Daddy kamu ngobrolin apa." Lanjutnya.
Mikha tidak lantas percaya, bocah itu kini menatap Arkana dengan penuh selidik, membuat lelaki itu semakin tergelak.
"Om nggak bohong! Suweeeeerrrrrrrrrrr." Kata Arkana melebih-lebihkan.
Segara yang melihat bagaimana Mikha masih tidak percaya pada omongan Arkana hanya bisa terkekeh. Melihat bagaimana Mikha masih ngotot pada pendiriannya kembali mengingatkannya pada Karenina, dan cara Arkana menanggapi ocehan Mikha juga mengingatkannya pada mendiang istrinya itu.
Mikha dan Arkana adalah perpaduan yang pas, mereka benar-benar menggambarkan bagaimana sosok Karenina.
Tak berapa lama, Segara mendengar Mikha tergelak. Penat yang dia rasa berangsur menyingkir tatkala menyaksikan putri kecilnya tertawa gemas setelah adu argumennya dengan Arkana akhirnya selesai.
"Daddy."
"Hmmm?"
"Mikha mau tidur sama Daddy malam ini, boleh?" tanya Mikha dengan tatapan penuh harap.
__ADS_1
"Boleh." Segara menjawab tanpa ragu. Dia berjalan mendekat, mengambil alih tubuh Mikha dari dalam gendongan Arkana.
"Kita tidur sekarang?" tanyanya.
"Iya, tapi Mikha mau tidurnya di kamar Daddy, boleh?" tanya Mikha lagi, tangannya bergelayut manja di leher Segara.
"Boleh."
"Sama Om Ar, ya?"
Segara terdiam sejenak. Dia melirik Arkana yang mesam-mesem, menyandarkan bahunya di tembok dengan tangan terlipat di depan dada dan ekspresi wajah yang tengil abis.
"Om Ar sibuk, nggak bisa nginep." Kata Segara, memberi kode pada Arkana melalui matanya agar adik iparnya itu menyetujui ucapannya.
Tapi lelaki itu justru mengatakan sesuatu yang sebaliknya. Dengan tampang songong dan alis yang sengaja dinaik-turunkan dalam gerak yang menyebalkan, Arkana berkata "Nggak sibuk. Emang niatnya malam ini mau nginep kok."
"Dadd... boleh, ya? Kita tidur bertiga di kamar Daddy. Boleh yaaa? Hmmm?" rengek Mikha, mulai bergerak tak tenang di dalam gendongannya.
Merasa tidak punya alasan untuk menolak permintaan Mikha, Segara pun mengangguk, membuat bocah itu langsung berteriak kegirangan. Ia hanya bisa menghela napas saat Mikha melompat turun dari gendongannya, berlarian dengan semangat menuju kamarnya sembari menggandeng tangan Arkana.
Sekira pukul enam, Segara bangun lebih dulu. Saat membuka mata, ia menemukan Mikha masih terlelap dalam pelukan Arkana. Entah jam berapa semalam ketika mereka akhirnya jatuh tertidur. Karena seingat Segara, Mikha masih terus mengoceh tentang banyak hal dan Arkana selalu menanggapinya dengan antusias. Seolah dua orang itu memang ditakdirkan untuk bersama. Energi mereka memang cocok dan Segara bersyukur akan hal itu.
Saat hendak turun dari kasur dengan gerak yang teramat hati-hati agar tidak menganggu tidur Mikha dan Arkana, Segara mendengar suara bisikan dari belakang tubuhnya. Ketika menoleh, ia menemukan Arkana sudah membuka matanya lebar. Lelaki itu meringis, dan Segara tidak tahu kenapa.
"Bro," bisik Arkana lagi.
Segara tidak menyahut. Dia hanya menunggu dengan sabar sampai Arkana melanjutkan kalimatnya.
"Anak lo biasanya bangun jam berapa?" lanjut Arkana masih dengan nada berbisik.
"Kenapa?" tanya Segara dengan satu alis yang terangkat.
"Tangan gue pegal, Ga. Gue mau bangun, tapi anak lo masih pulas gini." Rengek Arkana, persis seperti Mikha ketika bocah itu sedang merayunya untuk dibelikan es krim.
Bukannya menjawab pertanyaan Arkana, Segara malah melanjutkan niatnya untuk bangkit dari kasur. Dia berjalan santai menuju kamar mandi, mengabaikan Arkana yang melongo di tempat karena rengekannya sama sekali tidak ditanggapi.
__ADS_1
Di kamar mandi, Segara terdiam cukup lama di depan cermin kecil dekat wastafel. Dipandanginya refleksi dirinya sendiri, mengamati bagaimana lingkaran hitam di sekitar matanya mulai tampak lebih jelas ketimbang hari-hari sebelumnya.
Malam-malam yang Segara lewati sejak dirinya aktif bekerja di kantor sama sekali tidak tenang. Tidurnya tidak nyenyak karena sesekali harus terbangun dari mimpi buruk yang secara rutin datang menyambangi malam-malamnya.
Segara menghela napas gusar. Dinyalakannya keran air di wastafel kemudian menengadahkan tangannya, meraup air dari sana lantas membasuh wajahnya dengan gerak lambat. Sensasi dingin seketika terasa saat bulir bulir air itu bertemu dengan permukaan kulit wajahnya. Ia ulangi hal itu beberapa kali sampai dirasa sensasi dingin yang dihasilkan sudah cukup mampu untuk memadamkan gejolak amarah yang perlahan-lahan naik kembali.
Kembali ia amati pantulan dirinya di cermin. Kini, wajah yang basah itu tampak lebih baik dari sebelumnya. Lalu setelah puas bercengkerama dengan bayangan dirinya sendiri, Segara melangkah keluar dari kamar mandi.
Di atas ranjang, Arkana masih berbaring di posisi semula, tampak ragu-ragu ketika hendak bergerak karena takut akan mengganggu tidur Mikha.
"Gerak aja, itu anak udah bangun dari tadi." Kata Segara diakhiri kekehan.
Mendengar ucapan Segara, Arkana sontak menoleh pada sosok Mikha yang tertidur pulas di dalam pelukannya. Setelah ia amati lebih teliti, ada senyum tipis yang terukir di bibir Mikha dan kelopak mata bocah itu beberapa kali bergerak pelan. Dengan begitu saja, Arkana jadi tahu kalau ucapan Segara masuk akal.
"Ooooh, jadi kamu sengaja pura-pura tidur biar Om Ar makin kesemutan?" Arkana menyentil pelan dahi Mikha, membuat si empunya meringis dengan mata yang masih terpejam.
"Bangun kamu, tangan Om Ar udah mati rasa nih gara-gara kamu tindihin semalaman!" Arkanan menggerutu, tapi ada senyum tipis yang tersungging di bibirnya.
Dengan gerakan cepat, dia menarik lengannya yang dijadikan bantal oleh Mikha sehingga membuat kepala bocah itu mendarat ke kasur. Arkana lalu duduk, hanya untuk mendengar suara gelak tawa Mikha yang mengudara memenuhi seisi kamar.
"Iseng banget sih, siapa yang ngajarin?" tanyany, dengan tangan bersedekap sedangkan matanya menatap Mikha penuh selidik ketika bocah itu bangun dan bergerak mendekat ke arahnya.
"Daddy." Kata Mikha dengan polosnya, membuat Segara yang berdiri di dekat kasur sontak melongo. Sejak kapan dia mengajari Mikha untuk bertingkah usil?
"Daddy nggak pernah ajarin kamu buat iseng sama orang." Sanggah Segara, hanya untuk membuat Mikha menggelengkan kepala sembari menatapnya serius.
"Semalam Daddy gelitikin Mikha, itu namanya iseng."
Mendengar penuturan Mikha, Segara sontak terdiam dengan mulut setengah terbuka. Ah, lagi-lagi dia lupa kalau Mikha itu anaknya Karenina. Bocah itu cepat tanggap dan suka sekali menirukan apapun yang dia lihat dan dengar.
"Lain kali jangan ngajarin anaknya buat iseng, Bro." Sela Arkana diselingi kekehan renyah.
Segara mendengus tatkala menyaksikan Arkana dan Mikha terkekeh bersamaan dengan tampang usil mereka yang mirip. Tapi diam-diam, dia mengulum senyum. Karena rasanya sudah lama sekali dia tidak menyaksikan Arkana kembali menjadi sosok yang sereceh ini.
Bertahun-tahun setelah kematian Karenina, Arkana berubah total menjadi sosok yang dingin dan tertutup. Bahkan, sempat tercipta jarak yang cukup jauh di antara mereka ketika Arkana memutuskan untuk mengurung diri lebih banyak demi menikmati penyesalan yang dia punya. Penyesalan karena tidak bisa berada di sisi Karenina untuk terakhir kalinya sebelum perempuan itu pergi untuk selama-lamanya.
__ADS_1
Bersambung