
Sebuah mobil Range Rover Evoque berhenti di depan pelataran rumah Segara. Seorang pemuda berkaus putih dengan jaket denim dan celana jeans sobek-sobek serta sepatu sneaker putih turun dari sana dan berdiri di sisi mobil selama beberapa saat, mengamati bagaimana rumah yang telah lama tidak dia kunjungi itu masih menyimpan daya tarik tersendiri bahkan setelah salah satu penghuninya tak lagi ada di dunia.
Pemuda berusia pertengahan 20-an itu pun melangkah ke dalam rumah setelah satu kali tarikan napas. Ponsel di dalam saku celana jeans dia keluarkan, hanya untuk menemukan beberapa pesan dari orang yang berbeda-beda muncul satu persatu dari pop up notifikasi di bagian atas layar ponselnya.
Hah, ini hari Sabtu dan dia begitu sibuk. Harusnya dia pergi ke tempat lain untuk menemui orang lain juga, tapi setelah Segara meneleponnya untuk bertemu, dia seketika mengesampingkan segala urusan hanya demi menemui lelaki itu.
Mata pemuda itu memicing setelah dia sampai di ruang tamu dan menemukan pecahan kaca yang berserakan memenuhi lantai. Dia tahu Segara tidak akan meneleponnya kecuali untuk urusan yang penting, tapi dia tidak menyangka situasinya akan seserius ini.
Maka dengan langkah yang lebih lebar, dia berjalan melewati ruang tamu dan hendak menuju ke ruang kerja Segara di lantai 2. Namun langkahnya terhenti di tengah-tengah tangga ketika matanya menemukan sebuah foto pernikahan yang dipajang di dinding dekat tangga.
Pada sosok perempuan yang tersenyum lembut dengan binar mata cerah itu, tatapannya terpaku.
Entah sudah berapa lama dia tidak bertandang ke rumah baru perempuan itu saking pengecutnya dia. Saking tidak maunya dia mengakui bahwa salah satu orang yang berharga dalam hidupnya itu telah direnggut dengan cara yang mengenaskan tanpa dia diberi kesempatan untuk mengucapkan salam perpisahan.
Dia bahkan tidak ada di sana ketika tubuh tak bernyawa itu dikebumikan, sebab kala itu dia berada beratus kilo meter di benua seberang.
Sesal selalu datang terlambat, dia tahu. Tapi untuk penyesalan atas kehilangan Karenina, terlalu sulit untuk bisa dia terima dan lupakan begitu saja. Karena sampai detik ini pun, masih terasa segar dalam ingatannya suara nyaring Karenina saat terakhir kali mereka berbincang melalui sebuah sambungan telepon.
Perempuan itu tidak berhenti mengoceh tentang betapa bahagianya dia karena telah berhasil meahirkan seorang putri cantik yang dia beri nama Mikha. Juga tentang bagaimana perempuan itu menangis haru menyaksikan suaminya, Segara menggendong putri kecil mereka untuk pertama kalinya dan mengecup pipi lembut itu dengan sayang.
__ADS_1
Semua yang Karenina katakan padanya hari itu adalah kabar bahagia, dan dia tidak pernah menyangka kabar bahagia itu akan menjadi kenangan hanya dalam beberapa bulan kemudian.
"Ngapain?"
Suara Segara membuatnya menolehkan kepala, sepenuhnya melepaskan diri dari kenangan yang silih berganti tandang ke kepalanya. Pada lelaki jangkung yang berdiri di ujung tangga itu, Arkana tersenyum. Senyum yang sarat akan kepalsuan dan rasa sakit yang dibungkam mati-matian agar tidak melesak keluar dalam satu kali hentakan.
"Mikha mana?" tanyanya mengalihkan pembicaraan. Dia lanjutkan kembali langkahnya yang tersisa, hanya untuk mendaratkan sebuah pukulan pelan di bahu Segara.
"Makan yang banyak, bro. Lo kurusan." Katanya kemudian berlalu melewati Segara bahkan sebelum lelaki itu menjawab pertanyaannya soal Mikha.
Arkana menyelonong masuk ke dalam kamar Segara kemudian berjalan melewati connecting door menuju kamar Mikha, hanya untuk menemukan gadis kecil itu sedang terduduk di atas ranjang mini sambil mengucek kedua matanya. Sepertinya bocah itu baru bangun dari tidur siangnya yang kesorean.
"Om Ar!" pekik Mikha kegirangan. Saking girangnya, bocah itu sampai berdiri di atas kasur, melompat-lompat dengan kedua tangan yang direntangkan lebar demi bisa menyambut Arkana ke dalam pelukan.
Arkana tentu senang. Dengan senyum yang kali ini lebih jujur, dia melangkah mendekati Mikha dan dalam sekejap tubuh kecil itu sudah berada dalam gendongannya. Kecupan-kecupan ringan Arkana daratkan di pipi gembil Mikha sebagai bentuk penyampaian rasa gemasnya pada bocah itu.
"I miss you, Om." Kata Mikha.
Mendengar itu, Arkana terkekeh. Dari segelintir alasan yang masih bisa membuatnya tersenyum, mendapatkan pengakuan kerinduan dari Mikha adalah salah satu yang paling bisa membuat Arkana sejenak lupa pada kebisingan di dalam kepala.
__ADS_1
"Kenapa nggak pernah main ke sini lagi? Daddy marah sama Om karena beliin Mikha cokelat satu kardus?" tanya Mikha dengan polosnya.
Arkana kembali terkekeh. Dia kembali mengingat bagaimana Segara mengomelinya dengan kecepatan mirirp emak-emak yang tupperware nya dihilangkan hanya karena dia membelikan satu kardus cokelat untuk diberikan kepada Mikha sebagai hadiah ulang tahun beberapa bulan yang lalu. Rupanya gadis ini mengira dia jarang bertandang karena kejadian hari itu. Lucu sekali.
"Bukan. Om Ar sibuk banget akhir-akhir ini, jadinya jarang bisa main dan ketemu Mikha. Maaf, ya, Princess." Rayunya.
Tapi mendengar dirinya disebut princess oleh Arkana justru membuat Mikha mencebik sebal. "I'm not a princess. Jangan panggil Mikha dengan sebutan itu." Protesnya dengan raut menggemaskan.
Tawa Arkana meledak saat itu juga. Dia cubit pipi gembil Mikha dengan gemasnya hingga membuat si empunya meneriakkan lebih banyak protes yang mengundang tawanya kian pecah.
Di ambang pintu, Segara cuma bisa menyaksikan semuanya dalam diam. Cara Arkana menggoda Mikha mengingatkannya pada Karenina berkali-kali lipat lebih banyak daripada sebelumnya.
Dulu, saat mereka baru menikah dan belum dikaruniai Mikha, Karenina gemar sekali menggoda anak-anak kompleks yang sedang menghabiskan sore dengan para pengasuh. Tak jarang tangan usilnya mencubit gemas pipi-pipi gembil anak-anak itu hanya untuk membuat mereka menangis dan mengadu pada orang tuanya.
Sebagai hasilnya, Segara harus merogoh kantong lebih dalam demi membelikan anak-anak itu es krim kesukaan agar tangis mereka reda sedangkan Karenina hanya tertawa puas melihat suaminya mencebik dan mengomel tentang pundi-pundi uangnya yang berangsur menipis karena ulah usilnya.
Melihat Arkana membuat Segara teringat pada Karenina. Membuat rindu yang dia pendam di dalam dada meletup-letup ke udara bagai kembang api yang dinyalakan pada perayaan tahun baru. Tapi Segara tidak keberatan, karena Arkana adalah satu-satunya yang Karen miliki di dunia sebelum perempuan itu bertemu dengan dirinya. Satu-satunya tempat bersandar di kala perempuan itu jatuh tersungkur tertampar kejamnya realita dunia. Satu-satunya orang yang bisa perempuan itu andalkan setelah kematian kedua orang tuanya. Adik kandung yang tidak bisa menghadiri pemakamannya sendiri bertahun-tahun kemudian.
Bersambung
__ADS_1