
“Ngambek?”
Segara menganggukkan kepala. Sedari tadi, matanya tidak lepas dari sosok Mikha yang gegoleran di atas lantai sambil memainkan boneka beruang warna cokelat yang dia dapatkan dari Arkana beberapa minggu lalu. Sementara di sampingnya, Arkana kembali menghela napas.
Pemuda itu sengaja melipir ke rumah Segara setelah melakukan pekerjaan kecil, membawa seember ayam KFC rasa original—kesukaan Mikha—dan beberapa camilan lain yang dia beli dari Alfamart depan kompleks. Dalam bayangannya, ia akan menghabiskan Jumat malam dengan menyenangkan, bersenda gurau dengan Mikha sebelum akhirnya mereka terlelap bersama di satu ranjang—entah milik Segara, atau justru milik Mikha.
Kenyataannya, yang Arkana pertama kali dapati ketika pintu rumah Segara terbuka adalah raut wajah kakak iparnya itu yang kusut, kemudian disusul eksistensi Mikha yang sudah gegoleran di lantai kamar ayahnya yang dingin bersama Hechi (nama boneka beruang Mikha). Bibir anak itu cemberut, maju bersenti-senti sampai rasanya Arkana bisa menguncir belah bibir itu dengan sempurna.
Arkana menoleh kembali ke arah Segara. Dilihatnya lelaki itu bersedekap, dengan tatapan yang masih tak lepas dari tingkah polah putrinya yang ada-ada saja. “Minta apa lagi kali ini?” tanyanya. Terakhir kali, dia tahu anak itu sedang merengek minta sepeda. Arkana pikir, itu mungkin sebabnya Mikha merajuk lebih hebat—karena sepeda yang dia minta belum dibelikan.
“Mommy.”
Refleks, mata Arkana membola. Bahkan saking hebatnya gerak refleks itu, nyaris saja dia menemukan kedua bola matanya jatuh menggelinding ke lantai, hingga mencapai tubuh Mikha yang kini sudah dalam posisi tengkurap.
Di sampingnya, Segara membuang napas berat sebelum akhirnya menoleh. “Dia minta mommy, Ar.” Ulang lelaki itu.
__ADS_1
Tunggu dulu. Setidaknya, tolong berikan Arkana waktu untuk memproses informasi yang Segara berikan kepadanya beberapa detik lalu. Karena itu agak... tidak masuk akal?
Mikha minta seorang ibu? Dari mana datangnya permintaan semacam itu, padahal selama ini Mikha terlihat baik-baik saja meskipun tumbuh besar hanya dengan sang ayah?
“Gue nggak tahu kenapa dia tiba-tiba minta itu, tapi beberapa hari lalu, gue udah iyain.” Segara menerangkan. Dari nada suaranya, terdengar sekali lelaki itu menyesali keputusan yang telah dibuatnya, dan Arkana bisa mengerti kenapa. “Gue lupa, Ar, kalau dia itu anaknya Karenina, yang sekali dijanjiin sesuatu, bakal nagih terus sampai dapat.”
Sefrustrasi itu Segara ketika mengatakannya, dan sekali lagi, Arkana tahu kenapa. Tapi dipikir-pikir lagi, Mikha memang sepertinya lebih parah. Mungkin karena dia masih terlalu kecil dan belum mengerti bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tidak akan bisa dia dapatkan, tidak peduli seberapa keras dia berusaha.
“Cariin ibu bohongan aja.” Entah dari mana datangnya ide tidak masuk akal itu, tetapi Arkana mengatakannya dengan kesadaran penuh sebab... dia tidak tahu lagi apa yang dia bisa katakan untuk membantu.
Seperti yang sudah ia dan Segara ketahui, janji bagi Mikha adalah sebuah hutang yang akan dia tagih sampai mati. Dan berhubung Segara sudah kadung berjanji pada bocah itu, Arkana tidak yakin mereka bisa melarikan diri.
“Cari istri sewaan, Ga.” Kata Arkana lagi. Mungkin, dia tidak melihat bahwa kini di atas kepala Segara telah muncul dua tanduk merah yang siap menyeruduknya kapan saja.
Mencari istri sewaan apanya? Apakah Arkana pikir mereka sedang hidup di negeri dongeng, atau novel-novel bertema nikah kontrak yang ujung-ujungnya membuat kedua peran utama saling jatuh cinta? Nah, omong kosong macam apa?!
__ADS_1
“Mau gue cariin?”
“Lo mending diam dulu, Ar.” Segara menyela. Mendadak, kepalanya pusing sekali. Pemandangan di depannya tak kunjung membaik bahkan setelah bermenit-menit berlalu. Mikha malah semakin jauh menggulingkan diri di atas lantai. Kalau dihitung-hitung, anak itu mungkin sudah bolak-balik menggelinding sebanyak delapan kali.
Boneka beruang tak berdosa di dalam dekapan anak itu pun juga turut menjadi korban karena harus ikut berguling, sesekali berada di atas, sesekali harus merelakan dirinya tergencet perut Mikha yang buncit ketika anak itu sampai pada posisi tengkurap. Kalau bisa bicara, boneka beruang itu mungkin sudah meneriaki Mikha untuk berhenti melakukan aksinya.
Arkana betulan diam dan turut menyaksikan bagaimana Mikha bertingkah semakin aneh. Dan semakin dia perhatikan, semakin dia yakin bahwa tidak ada pilihan lain selain membantu Segara mencari istri sewaan.
Tapi masalahnya, di mana dia bisa menemukan perempuan yang bersedia menjadi ibu sementara untuk Mikha? Dan lagi, tidak mudah mencari seseorang yang akan bisa diterima dengan baik oleh anak itu.
Pamela... ah, Arkana tidak akan pernah merekomendasikan perempuan itu, bahkan jika hanya ada dia satu-satunya kandidat yang bisa dipilih. Sebab entah kenapa, dia memiliki firasat yang buruk soal teman masa kecil Segara itu.
Pamela baik, setidaknya itu yang selalu perempuan itu coba perlihatkan kepada semua orang. Tetapi jauh sekali di dalam benak Arkana, dia menyimpan kecurigaan yang begitu besar pada Pamela. Barangkali, hanya menunggu waktu sampai dia bertemu dengan penyebab pastinya.
“Kalau lo punya opsi yang lebih oke sih nggak apa-apa, Ga. Tapi kalau memang nggak ada, gue rasa nggak ada salahnya lo mempertimbangkan saran gue yang tadi.” Beberapa kali tepukan dia berikan di pundak Segara, lalu dia berlalu dari depan pintu kamar lelaki itu.
__ADS_1
Untuk saat ini, dia akan membiarkan kakak iparnya itu berpikir solusi mana yang lebih tepat untuk diambil. Ayam KFC yang sudah terlanjur dia beli tidak boleh disia-siakan, jadi dia akan menikmatinya lebih dulu sambil menunggu Mikha berhenti mereog.
Bersambung