
“What the—“ Arkana menahan umpatannya karena sadar di sampingnya masih ada Mikha.
Saat ini, mereka—Arkana, Mikha dan Segara—sedang berada di sebuah cafe dekat rumah Segara. Ia sengaja membelokkan kemudi ke sini, menunggu Segara datang menyusul karena lelaki itu ternyata kadung berjanji untuk mengajak Mikha jalan-jalan dan anak itu sama sekali tidak mau diajak pulang sebelum ayahnya datang.
Prosesi penjemputan anak itu dari daycare juga lumayan menguras tenaga dan berlangsung cukup alot. Mikha ngotot tidak mau pulang kalau bukan ayahnya yang menjemput, membuat Arkana terpaksa memelas kepada Miss Lana agar bersedia membantunya membujuk anak itu supaya mau diajak pulang.
Selama ini, Arkana mengenal Mikha sebagai anak manis yang tidak rewel dan banyak menuntut. Jadi jujur saja dia agak kewalahan saat tahu-tahu saja Mikha berubah menjadi reog, tantrum tidak mau menuruti perintahnya.
Beruntung, Miss Lana ternyata cukup pandai menarik hati bocah itu, sehingga berhasil lah dia membawa Mikha pulang meskipun di dalam perjalanan pun drama kecil masih berlangsung.
Belum lama Segara bergabung dengan mereka. Mungkin baru sekitar 10 menit, dan lelaki itu sudah datang membawa kabar berita yang membuat Arkana kembali merasa sakit kepala.
Masalah yang lalu, soal jatuh sakitnya Damian dan teror yang dikirimkan melalui Rudi, belum berhasil mereka pecahkan. Dan sekarang, ada masalah lain yang bahkan terasa jauh lebih menyebalkan.
Sedari dulu, Arkana tahu bagaimana Segara ingin kehidupan peribadinya terjaga. Dari semua orang, dia mungkin satu-satunya yang paling paham betapa lelaki itu tidak suka ada orang asing yang mencoba masuk ke dalam ranah pribadinya.
“Pelakunya udah ketemu?” Arkana bertanya setelah berhasil menurunkan sedikit tensinya. Diliriknya sebentar Mikha yang sedang memakan red velvet miliknya, lalu kembali menatap Segara. “Dari divisi mana?”
“Bayu bilang alamat IP nya dari ruang divisi marketing, tapi untuk tahu siapa pelaku pastinya ya jelas nggak gampang. Bisa aja orang itu sengaja pakai komputer milik yang lain, supaya dirinya sendiri tetap aman, kan?”
“Terus, lo bakal gimana sekarang?”
Segara meraih es Americano miliknya, lalu meneguknya sedikit sebelum menjawab pertanyaan Arkana. “Untuk saat ini, gue cuma bisa usahakan supaya kejadian serupa nggak terulang lagi.”
__ADS_1
“Caranya?” tanya Arkana.
“Gue udah minta sama Bayu untuk bikin skema supaya apapun yang akan diunggah ke website resmi kantor lebih dulu sampai ke gue. Dari sana, gue akan punya wewenang untuk membiarkan unggahan itu tetap dibuat atau enggak.”
“Merepotkan.”
Segara mengangguk. “Jelas. Karena itu artinya gue harus pantengin semua calon unggahan yang jumlahnya bisa beratus-ratus dalam sehari. Tapi, mau gimana lagi? Cuma itu yang bisa gue lakukan sekarang. Percuma juga nyari pelakunya sampai mampus, karena ujung-ujungnya gue juga yang bakal rugi.”
Arkana mengepalkan tangan di atas pangkuan. Demi apapun, dia kesal sekali sekarang. Mengapa tak sehari pun kakak ipar dan keponakannya ini dibiarkan hidup tenang? Mengapa ada saja manusia-manusia kurang kerjaan yang hobi mengganggu kehidupan mereka?
“Sumpah, gue pengin misuh-misuh sekarang.” Geramnya. Kalau saat ini tidak ada Mikha, sudah pasti segala macam umpatan dia keluarkan. Dari A sampai Z, bahkan seluruh isi kebun binatang pun bisa dia absen satu persatu. “Gue kesal banget, Ga. Nggak bohong.”
Segara tidak mengatakan apa-apa. Lelaki itu hanya kembali meneguk es Americano miliknya yang sudah nyaris terasa seperti air karena es di dalamnya sudah hampir semuanya mencair, meluruhkan pekatnya espresso yang semula mendominasi.
Suasana cafe yang lengang seakan mendukung keterdiaman mereka berlanjut lebih lama. Mikha asyik dengan red velvetnya yang seakan tidak habis-habis, Segara dengan es Americano yang tawar, sedangkan Arkana dengan gejolak ingin mengumpat yang lama-kelamaan tidak bisa lagi ditahan.
Setiap akhir pekan, Segara selalu memberikan keringanan kepada Mikha supaya gadis kecil itu bisa menonton serial kartun favoritnya sampai satu jam lebih lama daripada hari-hari biasanya.
Mikha akan selalu menyambut hal itu dengan riang gembira, bahkan tak jarang anak itu akan meminta tambahan waktu.
Namun malam ini, Segara merasa ada yang lain dengan putrinya. Mikha tidak terlihat berminat pada layar televisi yang mempertontonkan adegan di dalam serial kartun favoritnya. Sesekali, anak itu bahkan akan terlihat menunduk, memainkan jemari kakinya sendiri.
Sebenarnya, Segara sudah mencium gelagat aneh dari Mikha sejak sepulangnya mereka dari cafe. Tidak seperti biasanya, anak itu lebih banyak diam.
__ADS_1
“Mikha,” panggil Segara pelan. Sudah hampir setengah jam Mikha bersikap demikian, jadi dia memutuskan untuk bertanya. “Ada apa?”
Mikha mengangkat kepalanya. Mata bulat anak itu menatap lurus ke arah Segara. Lalu alih-alih menjawab, anak itu malah beringsut, membaringkan kepalanya di paha Segara.
“Hei, what happened?” tanya Segara mulai panik. Tangan besarnya refleks menyentuh kening Mikha, memeriksa kalau-kalau anak itu sedang tidak enak badan. Tapi, Mikha tidak demam. Suhu tubuhnya normal, bahkan cenderung sedikit lebih dingin akibat terpaan air conditioner.
“Answer me?” tagih Segara, namun tetap saja anak itu tidak mau bicara apa-apa. Telunjuknya yang kecil malah bergerilya, menggambar pola acak di betis sang ayah yang nyaris tidak ditumbuhi bulu-bulu seperti laki-laki pada umumnya.
“Mikha, kamu nggak akan bikin Daddy ngomong sendirian sampai nanti, kan?” gemas, Segara akhirnya mengangkat paksa tubuh Mikha lalu dia bawa ke atas pangkuan. “Answer me, kamu kenapa?”
Yang ditanya masih tak mau menjawab. Malahan, pola acak yang semula digambar di betis Segara, kini berpindah ke dada lelaki itu. Segara tidak bisa berbuat banyak hal. Sadar dirinya tak bisa memaksa Mikha untuk bicara, maka dia pun kembali diam, membiarkan anak itu berbuat semaunya sampai nanti bersedia buka suara dengan sendirinya.
Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Segara mulai kehilangan hitungan pada waktu ketika pola-pola acak yang Mikha gambar menggunakan jemarinya semakin melebar ke mana-mana. Kini tidak hanya di dadanya, anak itu juga membentuk pola itu di perut, lengan, bahkan tulang selangkanya.
Hingga akhirnya, telunjuk mungil itu berhenti, tepat di dada kiri Segara.
“Daddy....” cicit si bocah.
“Yes, Honey. Kenapa?” tanya Segara lembut. Dia perhatikan bagaimana kepala mungil di hadapannya itu perlahan terangkat hingga tatapan mereka bertemu. “Tell me. Daddy all ears.”
Untuk beberapa lama, Mikha masih tidak berkata apa-apa. Segara pun tidak memaksa. Dia hanya dengan sabar menunggu anak itu membuka mulutnya. Mungkin, Mikha hanya sedang berusaha mencari padanan kata paling pas untuk menyampaikan keinginannya. Segara akan maklum, karena sebagai orang dewasa, dia pun sering mengalaminya.
Akan tetapi, ketika anak itu akhirnya membuka mulutnya, Segara merasa—untuk pertama kalinya—bahwa lebih baik Mikha tidak usah bicara apa-apa.
__ADS_1
“Mikha udah jadi good girl. Jadi, kapan Daddy mau kasih Mommy untuk Mikha?”
Bersambung