Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
ENAM PULUH SATU


__ADS_3

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jaktif area, cobalah beberapa saat lagi.”


“Nomor yang anda tu—“


Tuk!


Segara memencet tombol merah di ponselnya, lalu mencampakkan benda pipih itu ke atas dashboard mobil dengan kegusaran yang mulai kembali datang.


Bukan sekali dua kali, ia sudah mencoba menelepon nomor si office boy yang dia temui semalam untuk mengingatkan perihal janji membawakan teh herbal dan surat, namun tidak satu pun dari panggilannya yang bahkan bisa tersambung.


Khawatir. Segara takut si office boy itu melarikan diri. Barangkali karena terlalu takut untuk menghadapinya lagi setelah pengakuan dosa yang semalam? Bisa saja itu terjadi.


Jam di pergelangan tangan kiri Segara sudah menunjukkan angka 8. Mesin mobil telah menyala sejak 10 menit yang lalu, namun kakinya masih belum kunjung bergerak untuk menginjak pedal gas karena dia masih sibuk berusaha menghubungi sang office boy.


Dari kaca spion sebelah kanan, Segara bisa mengintip keberadaan Lana yang rupanya masih betah menunggu di ambang pintu. Entahlah, dia sendiri juga tidak mengerti kenapa Lana masih bersikeras ada di sana padahal dia sudah mengatakan agar perempuan itu segera masuk dan melakukan aktivitas lain yang lebih berguna.


Semakin hari bersama, Segara semakin paham kalau Lana juga tipikal yang keras kepala dalam beberapa kesempatan. Mungkin memang sudah jalannya begitu. Mungkin takdirnya memang untuk hidup dikelilingi oleh orang-orang yang keras kepala, sama seperti dirinya.


Usai melirik jam di tangannya sekali lagi, Segara menginjak pedal gas, tidak terlalu dalam namun sudah cukup mampu untuk menggerakkan mobilnya meninggalkan halaman depan. Selagi keluar dari gerbang, ia masih sesekali melirik spion untuk memastikan apakah Lana masih berdiri di tempatnya atau tidak. Dan ketika dia mendapati perempuan itu berbalik, barulah injakan di pedal gas dia perdalam sehingga mobilnya mulai melaju dalam kecepatan penuh.


Biasanya, Segara selalu mengemudi dalam konsentrasi penuh. Tapi pagi ini, ia sama sekali tidak bisa hanya fokus pada jalanan yang dia lewati karena pikirannya mulai bercabang banyak. Ia memikirkan banyak sekali hal. Soal office boy yang dia temui semalam, soal Mikha yang tak kunjung dibawa pulang, soal Pamela yang dalam beberapa hari tidak menghubunginya sejak terakhir kali perempuan itu menangis tersedu-sedu di dalam pelukannya, juga soal detak jantungnya yang mulai bergerak tidak beraturan setiap kali ia berada dekat dengan Lana.


Semua hal itu datang secara bersamaan, seolah berebut untuk mendapatkan tempat paling tinggi di kepala Segara, seperti orang-orang yang tengah berjuang di dalam sebuah perlombaan.


Kusutnya pikiran membuat Segara tidak sadar bahwa mobilnya sudah melaju jauh, mulai menepi dari jalanan yang padat memasuki kompleks gedung tinggi tempat kantornya berdiri.


Rem diinjak, membuat roda mobil berhenti berputar di depan pelataran gedung perkantoran. Seharusnya Segara langsung lanjut menuju basement, tapi kondisi pelataran yang ramai membuat akses ke sana terblokir.


Dengan gerakan lambat dan pandangan yang tertuju pada keramaian di depan, Segara melepaskan seatbelt. Ketika beberapa orang yang berkerumun mulai melebar, nampaklah oleh mata Segara dua unit mobil polisi dan satu unit mobil ambulans terparkir di area dekat pintu masuk menuju lobi. Mulai dari sana, perasaan Segara sudah tidak enak. Gerakan lambatnya sirna, tergantikan dengan gerakan serabutan kala ia membuka pintu mobil lalu berlarian keluar menghampiri kerumunan.


“Katanya sih depresi karena banyak hutang.”


“Salah satu rekan kerjanya bilang dia tulang punggung keluarga, ibunya lagi sakit dan butuh biaya besar buat berobat, mungkin karena itu dia jadi banyak hutang.”


“Kasihan, ya. Kalau dia meninggal gitu, ibunya nggak ada yang rawat lagi dong berarti.”


“Padahal orangnya baik, sopan juga. Gue kalau minta tolong beliin apa-apa pasti sama dia.”


“Emang, ya, nggak ada yang tahu gimana kondisi orang.”


“Berarti di balik sikapnya yang ramah dan murah senyum, dia emang udah nyembunyiin penderitaan itu sendiri, ya.”


Kalimat-kalimat yang keluar dari bibir yang berbeda-beda itu saling tumpang-tindih di telinga Segara, membuat kepalanya mulai berangsur terasa berat.


Segara masih terus melangkah, menerobos kerumunan hanya untuk disambut bau anyir yang menyengat. Cairan berwarna merah menggenang memenuhi aspal di pelataran, mengelilingi tubuh seorang manusia yang teronggok tak berdaya dengan luka terbuka di bagian kepala. Tubuh Segara bergetar, ia nyaris kehilangan pijakan kala otaknya berhasil mengenali siapa yang tengah terbujur kaku itu.

__ADS_1


Si office boy yang dia telepon sejak pagi, yang berjanji untuk membawakan barang bukti, kini sudah tidak bernyawa lagi. Padahal Segara sudah menaruh harapan begitu tinggi kepadanya untuk bisa mendapatkan titik terang atas segala bencana yang terjadi di sekitar keluarganya. Dan kini, satu-satunya petunjuk paling dekat sudah tidak ada. Hilang, atau mungkin, memang sengaja dihilangkan.


Segara berubah linglung. Otaknya mendadak beku kala beberapa petugas mulai mengambil foto TKP dan menyuruh orang-orang yang bekerumun untuk menjauh dari sana, termasuk dirinya. Proses evakuasi jasad si office boy tetap dilanjutkan meski beberapa orang masih bersikeras untuk tetap tinggal, menyaksikan dari kejauhan.


Sementara di ambang pintu lobi bagian dalam, ada Pamela yang berdiri kaku memperhatikan Segara yang terduduk lemas di dekat mobilnya. Sekali lagi, dia harus menyaksikan Segara melihat sebuah kematian yang tragis di depan matanya.


...****************...


Kejadian meninggalnya office boy itu membuat Segara mengambil keputusan untuk meniadakan kegiatan apa pun di kantor hari itu. Selain untuk mensterilkan TKP, ia juga butuh waktu untuk menjernihkan pikirannya yang keruh.


Di ujung meja panjang di ruang meeting, Arkana berdiri membelakangi dirinya, menatap lurus pada hamparan gedung tinggi di seberang gedung perkantoran mereka melalui jendela kaca besar. Pemuda itu menyakui kedua tangannya, berkali-kali membuang napas kasar selagi mendengarkan cerita soal si office boy yang Segara temui semalam.


“Loker karyawan,” Arkana menoleh sedikit, tidak sampai membalikkan badan untuk menatap Segara yang duduk di ujung meja di seberang. “Gue yakin barang buktinya udah nggak ada di sana, karena gue juga yakin kalau ini bukan kasus bunuh diri.”


Meski berat, Segara mengangguk mengiyakan. Ia sendiri yakin Nurdin tidak akan senekat itu untuk terjun dari lantai gedung tertinggi hanya karena masalah hutang. Hei, lelaki itu bahkan memohon kepadanya untuk tidak dimasukkan ke dalam penjara karena takut tidak bisa lagi mencari nafkah untuk keluarganya, benar?


“CCTV pasti udah dicek sama polisi, kan?” kali ini, Arkana baru sepenuhnya membalikkan badan. Pemuda itu lantas menyandarkan tubuhnya di tembok, melipat kedua tangan di depan dada seraya menatap Segara serius. “Hasilnya pasti nihil.”


“Yup. Dia emang ketangkep CCTV jalan ke tangga darurat, and as we know, ada beberapa blind spot setelahnya yang bikin dia nggak terlihat lagi.” Tutur Segara. Ia lalu beranjak dari kursi, berjalan mendekati Arkana lalu berhenti di ujung meja, berdiri dengan menopangkan satu tangannya di atas meja panjang itu. “Nggak ada orang lain yang ketangkep kamera jalan ke arah sana sebelum dan sesudah dia, jadi yeah, udah bisa dipastiin kalau polisi bakal mutusin kalau ini murni kasus bunuh diri.


“Sialan.” Arkana menggeram. Sudah tidak tahu lagi harus bereaksi seperti apa untuk menghadapi bajingan sialan yang licin sekali seperti belut ini. Ia bahkan masih tidak mengerti kenapa orang ini selalu menargetkan Segara. Banyak dia berpikir, tidak satu pun dia temukan jawabannya.


Di tengah kekusutan pikiran mereka berdua, pintu ruang meeting diketuk beberapa kali. Otomatis, mereka berdua menoleh ke arah sana, untuk menemukan Pamela berdiri di baliknya dengan raut wajah yang terlalu sulit untuk dibaca.


“Ga, boleh aku masuk?” tanya perempuan itu. Entah hanya perasaannya saja, atau suara Pamela memang sedikit gemetar.


Ada alasan kuat untuknya menolak, namun pada akhirnya Segara tetap menganggukkan kepala sehingga Pamela bergegas masuk ke dalam ruang meeting, bergabung dengan dirinya dan Arkana.


Yang tidak Segara sadari adalah, raut wajah Arkana yang langsung berubah. Sorot mata pemuda itu pun tampak lain kala menatap Pamela yang bergerak mendekat, seakan memasang sikap waspada yang memang sudah disetel otomatis kapan pun perempuan itu ada dalam jarak jangkau dekat.


“Kenapa nggak pulang?” tanya Segara begitu Pamela sampai di depannya.


“Aku cuma khawatir sama kamu. Ini pasti bikin kamu syok dan—“


“Segara nggak kenapa-kenapa. Lagian, ada gue juga.” Arkana menyela dengan nada sengak. Benar-benar, lelaki itu sama sekali tidak berusaha menyembunyikan ketidaksukaannya terhadap Pamela.


Tidak ingin terjadi keributan yang hanya akan menambah beban di kepala, Segara menyela. “Ar,” tegurnya. Hal itu membuat Arkana yang sudah siap berbicara lagi praktis terdiam. “Tolong jemput anak sama istri gue gih, nanti gue nyusul.”


“Bareng aja sih sekalian.”


Segara menggeleng pelan. “Gue mau ngobrol sebentar sama Pamela.”


Dengusan keras yang Arkana buat sudah jelas berasal dari keengganan lelaki itu untuk pergi, namun ia tak punya pilihan lain. “Jangan lama-lama.” Kemudian, ia berlalu setelah melirik tajam ke arah Pamela sekali lagi.


“You okay?” Segara bertanya setelah memastikan Arkana berlalu meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


“Aku yang harusnya nanya, Ga. You okay? Kejadian tadi pasti bikin kamu syok dan ingat lagi sama—“


“Yeah,” Segara menyela. Meninggalnya Nurdin dengan cara mengenaskan bukan hanya membuat angannya untuk sampai pada titik terang pupus begitu saja, tetapi juga sekaligus membuatnya teringat kembali pada peristiwa meninggalnya Karenina. Keadaan mereka kurang lebih sama, sama-sama menderita luka berat di kepala sehingga nyawa mereka tidak dapat diselamatkan. “But I’m okay now.”


“You sure?”


“Yeah.” Segara beralih melabuhkan pandangannya pada papan proyektor yang biasa digunakan untuk presentasi. “Kamu sendiri gimana? Udah oke? You didn’t call or text me after that day,”


That day. Pamela menarik napas begitu dalam ketika mengingat lagi soal hari di mana dia menangis tersedu-sedu di pelukan Segara. Itu adalah hari terburuk sepanjang hidupnya, dan ia mungkin tidak akan bertahan jika Segara tidak ada di sana untuk mendengarkan keluh kesahnya serta memberikan pelukan yang hangat.


“Aku ... akhirnya mutusin buat pindah rumah.”


“Really? Kamu udah coba tanya dulu ke papa kamu soal itu? I mean—“


“Nggak ada possibility kalau itu adalah salah paham.” Pamela memotong. Meski kedatangannya ke sini bukan untuk membahas soal itu lagi, namun pertanyaan yang Segara lontarkan cukup untuk menyulut kembali api amarah yang nyaris meleburkannya hari itu. Hubungan antara dirinya dan sang ayah kian memburuk sampai ia memutuskan untuk pergi dari rumah, pindah ke sebuah apartemen tak jauh dari kantor. “Papa juga nggak ada kasih sangkalan apa pun sewaktu aku nyodorin bukti, jadi udah jelas kalau ada sesuatu antara dia sama perempuan itu.”


Katanya, cinta pertama untuk anak perempuan itu adalah ayahnya. Namun Segara justru menemukan Pamela terluka karena cinta pertamanya itu sendiri.


Perselingkuhan. Lagi-lagi kasus seperti itu menjadi momok menakutkan untuk orang-orang yang sedang menjalin hubungan. Bukan hanya untuk pasangan mereka, tetapi juga bagi anak-anak buah cinta mereka yang mentalnya dapat terganggu setelah mengetahui betapa orang yang disanjung dan dikagumi selama ini ternyata tidak sebaik yang dikira.


Segara paham Pamela kecewa, jadi dia tidak akan menghakimi keputusan perempuan itu untuk pergi dari rumah. Karena bisa jadi, memang itu satu-satunya jalan untuk menenangkan diri.


“Kamu pindah ke mana? Boleh aku tahu? Supaya kalau ada apa-apa, aku bisa cepat bantu.”


“Apartemen Green Hills.”


“Dekat.”


Pamela mengangguk, “Sengaja, biar aku bisa pulang jalan kaki. Karena kalau maksa naik mobil pas kepala aku lagi ramai, aku takut malah terjadi hal-hal yang nggak diinginkan.”


“Kamu butuh apa? Apa yang belum ada di sana? Biar aku bantu sediain buat kamu.”


“Ga,”


“Hmm?”


“Aku ke sini buat cek kondisi kamu, bukan sebaliknya.”


Segara terdiam sebentar, lalu berusaha menerbitkan senyum yang tidak seberapa lebar. “Aku udah oke, Mel, nggak perlu khawatir. Makasih udah care.”


“I have to. Kamu juga selalu care sama aku.”


Segara tidak menjawab, ia hanya menyunggingkan senyum yang lebih tulus karena memang hanya itu yang bisa dia lakukan. Sebab kepalanya masih penuh, masih terlalu keruh.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2