Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
EMPAT PULUH TIGA


__ADS_3

“Segara Adhitama, lo di mana?! Ini anak lo nangis nyariin emak bapaknya! Ngapain sih lo lama-lama di rumah sakit, hah?! Mau cosplay jadi tabung oksigen?!”


Ponsel yang menempel di telinga kanan Segara praktis dijauhkan. Suara Arkana yang begitu menggelegar seakan mampu merobek gendang telinganya, meninggalkan denging nengganggu yang bahkan belum kunjung hilang setelah beberapa menit kemudian.


Segara menghentikan langkah, mendengus sebal seraya menempelkan kembali ponselnya ke telinga. “Lo kalau teriak-teriak begitu, yang ada Mikha nangisnya makin kejer. Lagian gue—“


“Bodo amat! Buruan pulang!”


“Astaga, Ar... gue udah di depan!” Segara balas berteriak. Akhirnya habis sudah kesabarannya menghadapi Arkana yang memang kadang-kadang suka berubah menjadi manusia paling menyebalkan sejagad raya. Padahal, di sisinya sekarang ada Lana dan dia tidak berniat menunjukkan di depan perempuan itu betapa emosionalnya dia. “Gue udah di depan, sabar.” Imbuhnya setelah menarik napas begitu dalam. Lalu, telepon dimatikan dan ponsel dia masukkan ke dalam saku celana.


“Mikha rewel, ya, Pak?”


“Iya.” Segara menjawab singkat. Kemudian, tidak ada kalimat lain yang lelaki itu katakan karena kakinya sudah lebih dulu terayun. Sungguh, dia kesal pada Arkana yang hobi berteriak di telepon. Saking kesalnya, dia bahkan lupa untuk untuk berbasa-basi mengajak Lana turut masuk bersamanya. Dia tinggalkan perempuan itu begitu saja, melangkah lebar menerobos pintu depan lantas bablas mencari keberadaan Mikha dan Arkana.


Sampai di ruang tengah, dia menemukan Arkana sedang berusaha menenangkan Mikha yang menangis di dalam gendongannya. Dan ketika pemuda itu menyadari kehadirannya, sebuah tatapan tajam menjadi hadiah pertama yang dia terima.


“Lo punya anak, Segara Adhitama, jangan semau lo sendiri. Lagian, lebih penting mana sih, anak lo atau bocah badung itu?” Oceh Arkana lagi.


Malas mendengarkan ocehan Arkana yang pasti tidak akan ada habisnya, Segara memilih mengabaikannya. Dia lebih tertarik untuk merebut Mikha dari dalam gendongan Arkana, lantas memeluk anak itu erat guna memenangkannya. “No, Baby, don’t cry. Daddy is here, don’t cry.” Ucapnya seraya mengusap jejak air mata yang membasahi pipi gembul putrinya.


“Daddy sama Mommy dari mana? Tadi... ta-tadi Mikha... tadi Mikha bangun tidur, tapi... ta-tapi nggak ada Daddy sama Mommy.” Adu si bocah dengan suara putus-putus karena sibuk menangis. Sudah diusap sedemikian rupa oleh ayahnya, pipi gembilnya masih tetap saja basah karena air mata seakan enggan berhenti mengalir dari kedua netra bulatnya.


“Daddy kan udah pamit tadi pagi, mau anterin Mas Rudi ke rumah sakit dulu.” Segara berusaha memberikan pengertian.


“K-kalau Mommy? Mommy dari mana?” pertanyaan itu beralih kepada Lana, yang kini berdiri persis di belakang Segara.


“Mommy nyusulin Daddy, Sayang, anterin makan siang.” Lana menjelaskan.


Entah bagaimana, usai mendengar penjelasan Lana yang diucapkan dengan suara super lembut itu, tangis Mikha perlahan-lahan mereda. Lalu, bocah itu serta-merta mengulurkan kedua tangan, meminta berpindah ke dalam gendongan Lana.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya, Segara menemukan Mikha begitu lengket dengan orang lain selain dirinya dan Arkana, jadi dia agak keheranan sewaktu mengoper tubuh mungil Mikha ke dalam gendongan Lana.


“Udah, jangan nangis lagi, Mommy sama Daddy kan udah di sini.”


Mikha mengangguk, wajahnya yang basah ditenggelamkan di dada Lana, meninggalkan jejak basah di bagian depan kemeja yang tengah perempuan itu kenakan.


“Pak, saya izin bawa Mikha ke atas, ya? Udah sore juga, sekalian mau saya mandikan.” Lana meminta izin kepada Segara.


Masih setengah keheranan, Segara mengangguk. Lalu dia dapati Lana berlalu bersama Mikha. Sayup-sayup terdengar obrolan ringan di antara keduanya seiring dengan langkah kaki Lana yang semakin menjauh. Sebuah obrolan yang membuat Segara kembali bertanya, ada apa dengan Lana sehingga membuat Mikha segitu lengketnya dengan perempuan itu?


Namun pertanyaan itu tidak mendapatkan kesempatan untuk berkembang lebih banyak karena lengannya tahu-tahu saja ditarik oleh Arkana. Pemuda itu menyeretnya menuju halaman belakang, langkah kakinya yang terayun lebar membuat Segara nyaris terjungkal karena belum bisa menyesuaikan.


“Gue bisa jalan sendiri.” Segara berusaha melepaskan diri, namun Arkana tidak membiarkannya lolos begitu saja.


Akhirnya, Segara cuma bisa pasrah saat Arkana terus menyeretnya, menggelandang dirinya seperti seorang maling yang tertangkap basah mencuri ayam milik tetangga.


Sampai di halaman belakang, tubuhnya dihempaskan ke kursi kayu, dipaksa tetap duduk sementara di hadapannya Arkana berdiri dengan angkuh, menyilangkan kedua tangan di depan dada sedangkan matanya menatap tajam, penuh penghakiman.


Segara hendak bergerak membetulkan posisi duduknya sebelum menjawab, namun tatapan tajam yang Arkana layangkan membuatnya mengurungkan niat.


“Lo nggak lupa kan sama apa yang udah bocah badung itu lakuin ke lo?”


“Ar,” Segara menyela sebelum perkataan Arkana semakin melebar ke mana-mana. “Yang sakit ibunya, dan beliau nggak tahu apa-apa. Well, gue juga udah bilang sama lo kalau Rudi juga nggak tahu-menahu siapa yang nyuruh dia kirim teror ke gue dulu.”


“Gue nggak percaya sama dia.” Kekeuh Arkana. Kalau itu ada hubungannya dengan misteri di balik kematian Karenina, dia memang tidak akan percaya pada siapa-siapa.


Kalau sudah begitu, Segara tidak bisa mengatakan apa-apa. Karena sepanjang lebar apapun dia berusaha menjelaskan kepada Arkana bahwa Rudi memang tidak sepenuhnya bersalah, pemuda itu akan tetap teguh dengan pemikirannya sendiri. Kecuali Arkana bisa membuktikan sendiri bahwa Rudi memang tidak seperti apa yang dia pikirkan.


Pada akhirnya, yang Segara bisa katakan kepada Arkana untuk meredakan gejolak amarah yang menguasai pemuda itu hanyalah sesederhana bahwa dia sedang berusaha untuk tetap menjadi manusia. Tak peduli seberapa buruk perlakuan Rudi, ia akan tetap memberikan bantuan, karena dia tidak mungkin membiarkan seseorang meregang nyawa di depan matanya, ketika memungkinkan untuknya memberikan bantuan.

__ADS_1


Singkatnya, dia hanya tidak bisa tutup mata. Tidak bisa merubah dirinya menjadi monster hanya untuk memenuhi ambisinya mencari tahu kebenaran di balik kematian Karenina.


Sore itu, ketika matahari perlahan bergeser ke sisi barat, Arkana tidak lagi mendebat. Meskipun Segara tahu apa yang dia katakan tidak sepenuhnya bisa membuat pemuda itu merasa lega, setidaknya perdebatan mereka tidak berlanjut ke tahap yang lebih serius.


...****************...


.


Cuti 2 hari bukanlah apa-apa untuk Segara. Itu hanya terasa seperti dia mengambil waktu untuk tidur siang selama beberapa menit. Tidak berpengaruh banyak. Tidak mampu mengisi kembali energinya yang habis, pun dengan kantuknya yang tetap saja ada setelah dia membuka mata.


Maka, demi menikmati sisa cutinya yang tinggal beberapa jam saja, Segara memutuskan untuk menonaktifkan ponselnya. Adella cukup pengertian, dalam beberapa kesempatan. Namun di beberapa kesempatan lain, perempuan itu juga bisa berubah menjadi cukup menyebalkan.


Segara masih ingat, beberapa minggu yang lalu, perempuan itu pernah meneleponnya tepat tengah malam, hanya untuk menagih e-mail yang seharusnya dia kirimkan dan dia lupa untuk melakukannya. Padahal, ia masih bisa melakukannya esok hari, tapi Adella bersikeras e-mail itu harus sampai padanya malam itu juga. Sebab kata perempuan itu, berganti hari berganti pula pekerjaan yang harus dia tangani.


Oh, itu kedengaran seperti sikap profesional yang patut diacungi jempol. Tapi untuk manusia seperti Segara yang lebih suka menghabiskan waktu bersama keluarga, telepon di luar jam kerja semacam itu jelas merupakan bencana.


“Daddy,” Segara merasakan kakinya digerayangi, disusul munculnya sosok Mikha yang merangkak naik ke atas kasur, terus menjalar dari kaki hingga akhirnya nemplok di dada bidangnya yang berbalut kaus ketat warna hitam. “Mikha mau tidur sama Daddy dan Mommy lagi.”


Oh, jangan lagi. Segara mendekap tubuh Mikha erat, membiarkan anak itu terkunci agar tidak banyak bergerak. “Nggak. Malam ini, kamu punya Daddy.” Lalu ia labuhkan sebuah kecupan di puncak kepala sang putri.


Mikha jelas tidak terima diberi jawaban seperti itu. Anak itu berusaha keras meloloskan diri, dan ketika berhasil, ia menatap Segara dengan bibir bawah yang maju beberapa senti. “Ayolah, Dadd...” Bujuknya.


Sayang seribu sayang, segala bujuk rayu itu tidak akan mempan untuk Segara. Sebab seperti yang sudah dia sampaikan sebelumnya, dia hanya ingin memilki Mikha untuk dirinya sendiri malam ini. Mulai minggu depan, dia akan kembali sibuk dengan berbagai agenda pertemuan, jadi selagi bisa, dia akan menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan buah hatinya ini.


Tanpa mengatakan penolakannya lagi, Segara kembali merapatkan pelukan. Ia memejamkan mata, tak peduli pada rengekan Mikha juga usaha anak itu untuk tetap meloloskan diri.


Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Bahkan sampai Segara kehilangan hitungan, Mikha masih terus menggeliat di dalam pelukannya, membuatnya terpaksa kembali membuka mata dan menatap anak itu serius. Hanya untuk memberikan ultimatum yang sukses membuat anak itu diam seribu bahasa, merebahkan kembali kepalanya dengan terpaksa di dada bidang sang ayah, lalu memejamkan mata walaupun bibirnya masih terus manyun dan sesekali bergumam.


“Kalau kamu nggak tidur sekarang, nanti Mommy-nya hilang.” Begitulah isi ultimatum yang Mikha dengar. Mengerikan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2