
Malam ini, Segara tidak akan keras kepala untuk tidur di atas lantai lagi. Sudah cukup dia merasakan tubuhnya remuk, seakan habis digebuki oleh orang sekampung. Apalagi, ia dan Lana akhirnya berjalan-jalan sampai matahari tenggelam, membuat otot kakinya menegang karena memang sudah lama dia tidak berolahraga. Tentu, dia tidak akan mengambil risiko untuk memperparah kondisinya sendiri. Jangan sampai ketika waktunya pulang ke Jakarta, dia malah berubah menjadi pria jompo.
Sebelum membaringkan tubuhnya di atas kasur, Segara sudah meminta izin kepada Lana, dan perempuan itu mengizinkan. Masih sama seperti malam kemarin, mereka juga menerapkan batas yang cukup jauh. Bedanya, kali ini tidak terlalu canggung. Mungkin efek dari obrolan random yang terjadi di antara mereka selama sesi jalan-jalan tadi, ia jadi merasa tidak lagi terlalu asing dengan Lana.
Obrolan yang berlangsung selama beberapa jam itu membuat Segara sedikit banyak mengerti alasan kenapa Mikha dan Arkana cenderung nyaman berada di dekat Lana. Perempuan itu pandai menempatkan diri, ahli dalam menjaga batas, tahu kapan dia boleh lanjut berbicara dan kapan sebaiknya dia menarik diri. Selain itu, Lana juga merupakan pendengar yang baik. Ketika dia kelepasan menceritakan banyak hal soal Mikha, perempuan itu dengan senang hati mendengarkan semua ocehnya, tanpa sedikit pun berniat untuk memotong ceritanya. Bahkan, sama sekali tidak ada momen di mana Lana membalikkan ceritanya dengan versinya sendiri. Tidak tampak ingin membandingkan cerita mereka untuk tahu cerita mana yang kedengaran lebih menarik.
Lana sempurna untuk dijadikan teman mengobrol. Itu kesimpulan yang dia dapat dari interaksi mereka hari ini.
Setelah sekian lama berdiam diri menatapi langit-langit kamar hotel yang dihiasi lampu utama, Segara menoleh ke samping. Di sebelahnya, Lana ternyata sudah terlelap. Posisi tubuh perempuan itu juga sudah berubah. Dari yang awalnya telentang di ujung ranjang sebelah kiri, kini sudah beruba miring ke kanan, membuat wajah polosnya yang tanpa make up tersuguh begitu saja di depan Segara.
“Kalau lagi kangen, saya biasanya datang ke makam, terus cerita panjang lebar sama gundukan tanah hehe. Biarin deh kelihatan kayak orang gila, yang penting saya bisa mengobati kangen saya.”
Sepotong obrolan setelah mereka menyantap makan malam tadi kembali terngiang di telinga. Obrolan itu dimulai dari dirinya yang menceritakan sedikit tentang Karenina, tentang betapa berartinya perempuan itu untuk dirinya dan bagaimana dia menjalani kehidupan setelah kepergian perempuan itu. Lalu, sebuah pertanyaan dia lontarkan kepada Lana. Sebuah pertanyaan berbunyi, “Apa yang Miss Lana lakukan kalau lagi kangen ayah ibu? Soalnya saya kalau lagi kangen sama Karenina cuma bisa mandangin fotonya, terus nangis.”
Pertanyaan itu meluncur bebas dari bibirnya. Tidak ada malu-malunya sama sekali dia mengatakan kepada Lana bahwa dia sering menangisi Karenina. Segara juga tidak tahu kenapa dia begitu. Mungkin karena dia mulai bisa menaruh percaya, bahwa apa pun yang akan dia ceritakan, Lana tidak akan menghakiminya. Alasan lainnya, karena dia merasa dirinya dan Lana memiliki nasib serupa, sama-sama ditinggalkan oleh orang yang disayang. Lana bahkan lebih parah, dia kehilangan kedua orang tuanya di saat yang bersamaan, ditinggalkan sendirian, sebatang kara di dunia yang kejam ini.
“Kok ada manusia sekuat ini?” gumamnya, menyuarakan apa yang sudah menggaung di kepalanya sejak tadi. Lana hebat, menurutnya. Saat dirinya masih memiliki kedua orang tuanya dan Mikha sekalipun, Segara bahkan hampir menyerah pada hidupnya. Tapi Lana mampu menjalaninya sampai sekarang, sendirian, benar-benar tanpa ada seseorang yang bisa dia datangi untuk berbagi tangis dan duka.
Alih-alih terus merasa bersalah karena telah membawa Lana masuk ke dalam hidupnya, Segara kini malah merasa itu adalah keputusan yang baik. Dia mungkin tidak bisa menawarkan cinta kepada perempuan itu, karena hatinya masih benar-benar penuh untuk Karenina. Tapi setidaknya, dia bisa membagi Mikha, membagi kehadiran bocah itu untuk menjadi penghiburan bagi Lana. Setidaknya, dia akan membantu Lana agar tidak merasa sendirian lagi, kan? Sama seperti dia membantu Mikha untuk memuaskan dahaganya atas kasih sayang seorang ibu.
Tengah malam, setelah sekian lama, Segara kembali memejamkan matanya seraya mengukir senyum tipis sebagai pengantar menuju dunia mimpi.
...****************...
Lana merasa aneh. Dia merasa... napasnya sedikit sesak dan tubuhnya sulit digerakkan. Mungkinkah dia sedang mengalami sleep paralysis? Tapi kok bisa? Apa penyebabnya? Apa karena dia terlalu kelelahan berjalan-jalan?
Ragu-ragu, untuk memastikan apakah dia betulan sedang mengalami sleep paralysis atau tidak, Lana mencoba membuka matanya secara perlahan. Mulanya hanya satu mata kiri, itu pun hanya sedikit. Lalu dia turut membuka mata kanannya dan kedua matanya dibuka lebih lebar.
Bisa. Dia bisa membuka matanya dengan mudah, tanpa ada perasaan seperti matanya sedang digelayuti raksasa. Itu artinya, dia tidak sedang mengalami sleep paralysis. Tapi kenapa... Ugh!
__ADS_1
Lana membeku saat kesadarannya terkumpul. Dia baru menyadari kalau ternyata penyebab mengapa ia tidak bisa bergerak dengan leluasa adalah karena saat ini, Segara tengah memeluknya. Literally dipeluk. Di mana lengan lelaki itu melingkar di pinggangnya, sedang satu tangannya yang lain... ough bagaimana bisa Lana menggunakan lengan kekar itu sebagai sebuah bantal? Apakah dia secara tidak sadar telah bergerak mendekat ke arah Segara ketika sedang tertidur? Lalu bagaimana dengan Segara? Apakah lelaki itu juga sama tidak sadarnya ketika bergerak mendekat? Atau... malah sengaja?
Ah... Lana segera mengusir pemikiran yang terakhir dari dalam kepalanya. Ia masih mengingat jelas bagaimana Segara bercerita tentang sosok mendiang istrinya, Karenina. Mustahil lelaki itu sengaja bergerak mendekat ketika dia tidur. Lagipula, Segara sepertinya bukan tipikal laki-laki yang seperti itu. Maksudnya, yang suka menyentuh orang lain tanpa izin.
“Nih, ya, di mana-mana, yang namanya laki-laki itu sama aja, Lana. Kalau ada kesempatan, mereka pasti nggak akan lewatkan. Jadi hati-hati aja deh kalau sama laki-laki.”
Peringatan itu datang dari salah seorang teman semasa kuliah. Masa itu, ia cukup terkenal di fakultasnya. Alasannya bukan karena dia berwajah cantik atau otaknya yang kelewat cerdas, melainkan citranya sebagai gadis baik-baik dan polos yang belum pernah mengecap apa itu namanya jatuh cinta. Tidak seperti teman-teman seusianya yang sudah sering bergonta-ganti pasangan, bahkan beberapa ada yang sampai bablas melakukan hubungan suami istri dengan pacar mereka, Lana malah sama sekali belum pernah yang namanya dekat dengan laki-laki.
Lalu si teman itu berkata demikian kepadanya, mewanti-wanti dirinya agar tidak mudah percaya pada laki-laki mana pun yang berusaha mendekati dirinya. Kalau ada yang mencoba menyentuhnya, harus segera ditepis. Karena kalau dia diam saja, laki-laki itu akan berpikir dia tidak masalah untuk disentuh. Akibatnya, mereka akan menyentuh lebih banyak, mencari untung.
Tapi masalahnya, itu kan berlaku untuk laki-laki asing yang tidak ada hubungan apa pun dengannya. Sedangkan Segara... laki-laki ini adalah suaminya! Apakah dia juga boleh menepis dan menolak sentuhan yang diberikan oleh Segara?
Tentu tidak. Umurnya sudah 24 sekarang, dia sudah tidak polos-polos amat. Menolak dipeluk oleh suaminya sendiri? Yang menikahinya secara sah di mata hukum dan agama? Dia hanya akan berakhir dikatai perempuan gila.
Oh... kalau sudah begini, dia harus apa? Mau menuntut pun tidak bisa. Tidak ada perjanjian hitam di atas putih tentang larangan saling menyentuh. Mereka hanya mengatakannya melalui mulut dan semua orang tahu bahwa omongan adalah sesuatu yang paling tidak bisa dijadikan barang bukti karena tidak ada bentuk fisiknya.
...****************...
Segara mengerjapkan matanya pelan, sedikit meringis saat merasakan lengan kirinya kebas. Dan, alangkah terkejutnya ia kala mendapati penyebab utama mengapa lengannya bisa terasa kebas begitu.
Lana. Perempuan itu menggunakan lengannya sebagai bantal. Tapi itu bukan bagian paling mengejutkan, sebab dia juga menemukan lengan kanannya bersemayam begitu damai di pinggang ramping Lana. Lancang. Lancang sekali!
“****!” tanpa sadar, dia mengumpat agak keras seraya menarik lengan kanannya dari pinggang Lana. Sementara untuk lengan kirinya, dia tidak bisa langsung menariknya begitu saja karena takut akan membuat Lana terbangun. Akan sangat awkward jika Lana terbangun dalam keadaan sadar bahwa mereka sedang... berpelukan.
Lama Segara berpikir. Kalau dia tidak segera menarik lengannya, maka Lana juga tetap akan menemukan keadaan mereka yang seperti itu. Hal itu akan membuat Lana tidak nyaman, namun perempuan itu pasti akan berpura-pura tidak terjadi apa pun agar mereka bisa tetap berinteraksi secara normal.
Segara tidak ingin itu terjadi. Dia tidak ingin membuat Lana merasa canggung.
Maka satu-satunya cara yang terpikir olehnya adalah menarik lengannya pelan-pelan.
__ADS_1
Sebelum melaksanakan rencana, Segara menarik dan membuang napas beberapa kali, seakan apa yang hendak dia lakukan adalah sebuah misi besar yang tidak boleh gagal. Tidak lupa juga dia berdoa, semoga Lana bukan tipikal yang akan mudah terbangun karena sebuah pergerakan kecil.
Perlahan-lahan, Segara menggeser posisi tubuhnya, memastikan goyangan yang terjadi di kasur tidak cukup heboh untuk membuat Lana terbangun. Agar memudahkan proses perpindahannya, Segara juga menggunakan tangan kanannya untuk membantu mengangkat kepala Lana.
Setelah melewati proses yang lumayan menguras adrenalin, Segara akhirnya berhasil meloloskan diri. Ia berhasil menarik lengannya tanpa membangunkan Lana.
Setidaknya, itulah yang dia pikirkan, tanpa tahu kalau sedari tadi Lana itu sebenarnya sedang menahan napas, menahan diri agar tidak jeritan selama proses pelepasan.
“Ga, Ga, kok ya bisa-bisanya.” Gumamnya, mengomeli diri sendiri.
Lengan kirinya masih kebas, tapi dia tidak bisa pasrah saja menunggu sampai kebas itu hilang. Maka dia memijat-mijat lengannya sendiri, sesekali memutarnya dan menggerakkannya dengan heboh.
Sambil berusaha menghilangkan kebas, ia kembali menoleh ke arah Lana. Namun, hal itu justru membuat gerakannya terhenti. Terpaku. Dia memandangi Lana cukup lama, tanpa melakukan apa-apa.
Sampai tiba-tiba, dia melihat kelopak mata Lana bergerak-gerak pelan, lalu tak lama kemudian, perempuan itu berhasil membuka matanya.
Tak ingin tertangkap basah, Segara segera mengalihkan pandangan, kembali menggerak-gerakkan lengannya sambil berpura-pura menatap ke arah luar jendela.
“Tangan Pak Segara kenapa?” tanya Lana setelah merubah posisinya menjadi duduk, pura-pura polos. Padahal kan dia jelas tahu kalau itu semua karena ulahnya. Karena dia telah menjadikan lengan lelaki itu sebagai bantal selama... Semalaman, mungkin?
Segara pura-pura tidak tahu kalau Lana sudah bangun. Reaksi terkejutnya yang pura-pura sangat tidak natural, well, dia memang tidak pandai berbohong. Tapi tetap saja dia lakukan, habisnya tidak ada pilihan lain. “Oh, cuma pegal. Kayaknya ketindihan pas saya tidur.” Bohongnya. Ya iyalah. Tidak mungkin dia mengatakan dengan gamblang kepada Lana, “Kesemutan, habisnya Miss Lana tidur di lengan saya semalaman sih.” Tidak mungkin, itu tidak masuk akal.
Hanya sebuah ohhhh panjang yang keluar dari bibir Lana. Habisnya, dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Kalau terlalu heboh dan cerewet, takutnya malah ketahuan kalau dia cuma pura-pura tidak tahu.
Segara tidak bicara apa-apa lagi. Dengan dalih hendak mencuci muka dan menggosok gigi supaya mereka bisa bersiap pergi untuk sarapan, dia kabur ke kamar mandi. Padahal mah itu hanya alasan. Aslinya, sesampainya ke kamar mandi, dia malah duduk di atas closet sambil melamun, merenungi perbuatannya yang sudah seenaknya sendiri memeluk Lana.
Sementara Lana, perempuan itu kembali membaringkan tubuhnya, menarik selimut sampai menutupi hingga ke kepala. Ia bersembunyi di bawah naungan selimut, menyembunyikan rona merah yang ia yakin sudah bermunculan di pipi karena kini dia merasakan pipinya memanas.
Bersambung
__ADS_1