Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
ENAM PULUH


__ADS_3

Tenang itu apa? Setelah kematian Karenina, rasanya Segara sudah tidak akrab lagi dengan kata itu. Hari-harinya berjalan rumit, runyam, rumpang. Seperti hari ini, misalnya. Ketika dia baru saja bisa menghela napas lega karena meeting berjalan dengan lancar meski ia hampir telat datang ke kantor dan beberapa proyek yang dia kerjakan dengan bantuan Adella serta Arkana mulai terlihat berjalan baik, ia justru kembali dibuat gusar kala menemukan satu buah pesan singkat yang masuk ke dalam ponselnya, tepat ketika sebetulnya dia sudah bersiap untuk pulang.


Pesan itu dikirimkan dari sebuah nomor asing, nomor tidak dikenal yang Segara bahkan tidak bisa menebak itu milik siapa. Dan, ketika ia membaca isi pesan tersebut, resah yang dia rasakan semakin menjalar ke mana-mana. Kepalanya kembali terasa berat, napasnya tercekat dan ia nyaris tidak bisa menggerakkan ujung lidahnya untuk sekadar mengucap satu atau dua patah kata.


Di sana, seseorang yang tidak dikenal itu meminta untuk bertemu karena ada hal yang harus disampaikan terkait dengan jatuh sakitnya Papa beberapa bulan lalu. Kepada dirinya, seseorang itu mengirimkan sebuah lokasi di mana mereka harus bertemu tepat pukul 8 malam.


Masalahnya, lokasi yang diberikan oleh orang itu terletak tidak jauh dari gedung perusahaan. Di mana itu adalah sebuah tanah lapang bekas proyek yang telah mangkrak selama hampir belasan tahun. Bertemu dengan seseorang yang asing di tempat terbengkalai yang sekelilingnya hanya berisi besi-besi tua karatan dan ilalang yang tinggi menjulang hampir melebihi tinggi tubuhnya adalah tindakan yang sembrono. Bodoh jika dia mengiyakan ajakan itu hanya karena rasa penasarannya yang terlampau tinggi.


Tapi, yah, Segara bodoh. Sebab, di sinilah ia sekarang. Sudah 5 menit dia berdiri di ujung jalan, memperhatikan kerangka bangunan yang tingginya berpuluh-puluh meter menjulang. Tanaman rambat tumbuh subur membingkai kerangka bangunan yang tidak akan pernah selesai itu, menambah kesan mistis dan terbuang yang berkali-kali lipat lebih banyak.


Aroma besi berkarat bercampur dengan aroma rerumputan ketika angin berembus menerpa tubuh Segara. Dingin menyergap, namun hal itu tak cukup mampu untuk membuatnya gentar. Terlebih saat matanya menemukan sesosok manusia bergerak mendekat dari kejauhan. Ia muncul dari dalam kerangka bangunan yang gelap, berjalan mengendap-endap seperti seorang maling dengan kepala yang berkali-kali menoleh ke kanan dan ke kiri.


Semakin dekat ayunan langkah membawa orang itu kepadanya, Segara pun memberanikan diri untuk turut mengambil langkahnya sendiri. Dia berjalan mendekat dengan ayunan langkah yang seirama, baik lebar dan konsistensinya.


Hingga sampailah mereka di satu titik tengah, dengan menyisakan jarak 3 langkah dari satu sama lain. Seseorang yang berdiri di hadapannya itu kemudian membuka kupluk dari jaket yang dia kenakan, hingga nampaklah di mata Segara sorot mata ketakutan juga bibir yang bergetar hebat.


Segara berusaha untuk tetap tenang. Tarikan napasnya yang mengalun teratur membantunya untuk berpikir lebih jernih ketika tiba-tiba saja, seseorang itu membuka risleting jaket hingga menampakkan seragam yang sangat ia kenal. Seragam berwarna biru muda dengan selingan warna hitam di bagian kerah dan lipatan kancing itu adalah seragam khusus untuk para office boy dan office girl di perusahannya. Yang itu artinya, orang ini adalah bagian dari mereka yang bekerja di sana.


“Katakan,” titahnya. Melihat tubuh laki-laki yang usianya mungkin hanya beberapa tahun lebih tua darinya itu mulai bergetar, Segara tidak tega untuk mengeluarkan suara yang terlalu mengintimidasi. Selain itu, dia juga tidak ingin ketakutan lelaki itu membuatnya urung mengatakan apa yang memang sudah seharusnya dia tahu.


“Saya Nurdin, Pak.” Si lelaki mengawali. Segara mengangguk sebagai pertanda bahwa bagian perkenalan itu boleh segera dilewati dan mereka sebaiknya segera beralih ke intinya. “Saya ... saya office boy yang sudah bekerja di kantor Bapak selama 5 tahun terakhir. Dan....”


Jeda yang cukup lama membuat Segara geregetan. Ia tidak sesabar itu, jadi dengan suara yang hanya sedikit lebih tinggi, ia memerintahkan lelaki bernama Nurdin itu untuk segera melanjutkan.


“Saya nggak tahu harus mulai dari mana, Pak, saya bingung. Tapi yang jelas, saya cuma mau kasih tahu Bapak kalau beberapa bulan sebelum Pak Damian jatuh sakit, beliau sempat meminum teh herbal yang secara rutin saya antarkan setiap pagi.”


“Teh herbal?” mulai dari saat itu, Segara memasang sikap waspada. “Teh herbal apa? Kamu dapat dari mana? Dan, kenapa kamu berani kasih itu ke papa saya?”


Nurdin menggigit bibir bawahnya dalam waktu yang cukup lama. Setidaknya cukup untuk membuat kesabaran Segara semakin tergerus habis.


“Katakan. Saya mau dengar semuanya.”


Selanjutnya, Nurdin menarik napas begitu dalam. Itu terlihat seperti ia hanya memiliki satu kali kesempatan untuk melakukannya. “Saya dapat teh herbal itu dari seseorang yang saya nggak tahu siapa. Tehnya ditaruh di dalam loker saya, beserta dengan surat dan amplop berisi uang. Waktu itu, saya memang sedang butuh uang untuk biaya berobat ibu saya, Pak. Tapi yang membuat saya mau-mau saja untuk memberikan teh itu kepada Pak Damian adalah karena katanya teh itu bagus untuk kesehatan Pak Damian. Saya ... saya lalai, Pak, saya—“


Kalimat Nurdin tidak selesai. Laki-laki berambut cepak itu tetiba menjatuhkan dirinya di hadapan Segara, berlutut meminta pengampunan dengan kepala yang tertunduk dalam. “Saya nggak tahu kalau teh herbal itu mungkin mengandung sesuatu yang justru memperburuk kondisi kesehatan Pak Damian. Berminggu-minggu setelah teh herbal itu diminum, saya lihat Pak Damian nggak kenapa-kenapa, jadi saya percaya kalau teh itu memang bagus untuk beliau. Saya tahu saya salah, Pak. Tapi, tolong, jangan laporkan saya ke polisi, ya, Pak. Nggak apa-apa saya dipecat, tapi tolong jangan libatkan polisi. Saya tulang punggung keluarga, Pak. Kalau saya di penjara, nggak ada lagi yang cari nafkah. Saya—“


“Saya nggak akan lapor polisi.” Pernyataan itu berhasil membuat Nurdin yang masih tertunduk seketika mengangkat kembali kepalanya. “Tapi, saya mau kamu bawakan teh herbal yang udah kamu kasih ke papa saya. Masih ada, kan?”


“Masih, Pak!” Nurdin menjawab dengan semangat. “Masih saya simpan di loker saya. Besok. Besok pagi saya langsung bawakan ke ruangan Bapak.”


“Satu lagi. Saya juga mau kamu bawakan surat yang kamu bilang tadi. Itu juga masih kamu simpan, kan?”

__ADS_1


“Masih, Pak. Semuanya masih saya simpan di loker saya.”


“Bagus.” Hanya itu, lalu Segara membalikkan badan. Namun, sebelum dia benar-benar melangkah pergi, Segara berbalik lagi. Hanya untuk menyuruh Nurdin yang masih berlutut segera berdiri dan bergegas pulang.


Setelahnya, Segara melangkahkan lebar, menjauhi area tersebut dengan dada yang berdebar (dalam artian buruk). Jika semuanya berjalan lancar, seharunsya jalan untuk sampai kepada seseorang yang sudah berani mengganggu hidup keluarganya akan semakin dekat.


Di sepanjang langkahnya, Segara hanya bisa terus berdoa. Merapalkan kalimat-kalimat permohonan agar Tuhan mempermudah segala urusannya mulai sekarang. Sebab ia sudah mulai lelah, sudah mulai jengah pada situasi pelik yang terus-menerus mengganggu hidupnya.


...****************...


Tidak ada lagi menginap. Setidaknya, itu yang Segara pikirkan ketika dia memarkirkan mobilnya persis di tempat yang sama seperti kemarin malam. Namun lagi-lagi, ia dipaksa mengalah.


Mikha tidak ada di sana. Si kecil kesayangannya itu rupanya dibawa pergi oleh kakek dan neneknya ke suatu tempat, entah di mana karena Lana selaku satu-satunya orang yang ditinggalkan di rumah sama sekali tidak diberi tahu.


“Mereka pergi dari jam berapa?” tanya Segara seraya melangkah mendekat ke ruang tengah. Tangannya bergerak sewot melepaskan dasi abu-abu tua yang melekat di kerah kemeja. Setelah berhasil, benda itu dia gulung-gulung dengan gerakan yang tidak kalah sewot sebelum dia banting ke atas meja.


“Lima belas menit sebelum Pak Segara datang.” Lana menjawab dengan takut-takut. Dia sudah tahu reaksi seperti ini yang akan muncul, tapi tetap saja hatinya tidak siap untuk melihat betapa ketus dan dinginnya Segara dalam menghadapi situasi yang menurutnya tidak menyenangkan.


Segara membuang napas keras-keras. Efeknya, itu semakin membuat nyali Lana menciut. Ia tidak berani mengangkat kepalanya lagi, memilih mendunduk menatapi jari-jari kakinya yang beralaskan slippers berwarna merah muda.


“Sebelum pergi, Mikha udah makan?”


“Miss Lana—“


“Saya juga udah.” Percaya diri sekali dia saat menjawab begitu. Padahal belum tentu apa yang hendak Segara tanyakan persis sama seperti yang dia pikirkan. Tapi melihat tidak adanya penyangkalan, sepertinya dia tidak salah sasaran. “Pak Segara sendiri, udah makan?” dan pertanyaan itu hanyalah pengalihan. Hanya supaya ia memiliki alasan untuk menoleh pada suaminya.


Sebuah gelengan diterima, disusul kalimat untuk mendukung tidak yang semula hanya berupa gerakan. “Saya ada urusan di luar, jadi nggak sempat makan malam.”


“Mau makan sekarang? Biar saya siapin.”


Biasanya, Segara akan menolak dengan kalimat andalannya; “Terima kasih, saya bisa sendiri”. Tapi entah ada angin apa, lelaki itu malah menganggukkan kepala, disusul kalimat; “Iya. Tolong, ya, Miss.” Yang lantas membuat Lana segera tancap gas menuju dapur tanpa bicara apa-apa lagi.


Segara yang ditinggalkan begitu saja tidak sebodoh itu. Dia paham kalau Lana sedang salah tingkah, meski dia tidak tahu apa tepatnya yang membuat perempuan itu merasa demikian.


Hanya senyum tipis yang bisa Segara persembahkan pada punggung Lana sebelum benar-benar menghilang ditelan belokan. Lalu satu kalimat pendek menyusul kala sosok itu sepenuhnya hilang.


“Istri baru aku lucu, Ren.”


...****************...


“Mama sama Papa nginep di hotel, kamu sama Lana jagain rumah. Tenang aja, cuma semalam kok.”

__ADS_1


Tidak perlu berekspektasi banyak. Sebab Segara pun tidak berani melakukannya. Ia bahkan tidak berusaha menjawab perkataan Mama karena dia tahu, sebelum suaranya keluar melewati kerongkongan, wanita tua itu pasti akan lebih dulu menutup teleponnya.


“Terserah, deh. Bawa aja sana, bawa. Ke mana kek, terserah.” Akhirnya, dia hanya bisa mengomel pada layar ponsel yang padam. Lalu benda tak berdosa itu berakhir teronggok di atas kasur lantai yang sudah dia gelar sebagai persiapan untuk tidur.


“Nggak pulang, ya, Pak?”


Segara menjawab pertanyaan Lana itu dengan anggukan kepala, lalu ia menoleh ke arah ranjang di mana perempuan itu sedang duduk bersila menghadap ke arahnya. Karena agenda menginap malam ini jauh sekali dari dugaan, Lana terpaksa mengenakan kaus dan celana training miliknya. Untungnya ada yang muat. Yah, walaupun masih tetap saja sedikit kebesaran.


“Besok pagi saya minta Arkana buat jemput ke sini kalau Mikha udah pulang, biar nanti sorenya saya bisa langsung pulang ke rumah. Capek saya kalau harus tidur di atas kasur lantai terus, nggak nyaman.” Tuturnya.


Kabar buruknya, penuturan itu disalahartikan oleh Lana sebagai bentuk ketidaknyamanan sehingga tiba-tiba saja, perempuan itu melompat turun dari atas ranjang.


Segara jelas kebingungan. Ia menatap Lana yang kini malah beralih duduk di atas kasur lantai yang sejatinya akan dia tiduri lagi malam ini.


“Saya aja yang tidur di sini malam ini. Gantian.” Ujar perempuan itu.


Hari ini, sepertinya Segara memang harus lebih banyak menghela napas. Entah sudah berapa kali dia lakukan, dan dia masih merasa tidak baik-baik saja.


Hei, bukan itu. Sungguh bukan maksud hati ingin membuat Lana bertukar posisi dengannya malam ini. Ia hanya ingin mereka bisa pulang ke rumah mereka sendiri, tidur di atas kasur masing-masing yang pastinya akan jauh lebih nyaman karena tidak perlu khawatir akan kehadiran Mama dan Papa. Hanya itu, Tuhan. Tapi kenapa sampai di telinga Lana menjadi sesuatu yang lain?


“Duh, maksud saya nggak gitu.” Tiba-tiba, Segara berjongkok, membuat wajahnya dan wajah Lana menjadi sejajar dan hanya terpisah jarak yang tidak banyak. “Ini kasur lantai udah lama banget nggak dipakai, udah keras. Kalau saya aja nggak nyaman makainya, apa lagi Miss Lana.” Ujarnya seraya menepuk-nepuk kasur lantai.


“Saya nggak masalah kok tidur di sini. Masih empuk.” Lana ikut-ikutan menepuk, tapi dia malah berakhir meringis karena ternyata kasur lantai yang akan dia tiduri itu memang sudah tidak seempuk kelihatannya.


“Nggak ada, Miss Lana nggak usah aneh-aneh.” Tanpa permisi, Segara menyentuh pergelangan tangan Lana. Lalu tanpa izin juga, ia menarik lengan perempuan itu, membuatnya mau tidak mau berdiri secara tiba-tiba hingga... Yah, klise, tubuh Lana limbung lalu terjadilah adegan yang sinetron abis. Murahan! Tapi adegan seperti itu memang paling masuk akal dan bisa terjadi kepada siapa saja.


Memang bukan yang pertama tubuh mereka saling menempel seperti itu. Tapi dalam keadaan sadar, ini jelas yang pertama dan mereka mungkin tidak akan pernah melakukannya jika bukan tanpa sengaja.


Tapi anehnya, sudah tahu posisi berpelukan seperti itu membuat mereka sama-sama tidak nyaman, tetap tidak ada satu di antara mereka yang berinisiatif untuk menjauhkan diri lebih dulu. Yang ada, mereka malah saling pandang dalam diam seraya meresapi detak jantung masing-masing.


Mungkin, kalau ponsel Segara yang tercampak tidak tiba-tiba berbunyi, mereka akan bertahan di posisi itu sampai pagi. Sampai Mama dan Papa kembali, lalu memergoki mereka dan berpikir bahwa mereka adalah sepasang pengantin baru yang sedang dalam kondisi sayang-sayangnya.


Ponsel yang masih meraung-raung itu lalu Segara sambar setelah dia melepaskan pelukannya dengan gerakan pelan. Bukan apa-apa, dia hanya tidak ingin terkesan terlalu anti pada Lana kalau dia melepaskan dekapan mereka dengan gerakan tiba-tiba. Tidak, lah. Segara masih punya hati nurani untuk tidak membiarkan Lana berpikir buruk tentang dirinya sendiri.


“Saya angkat telepon dulu, Miss Lana tidur aja duluan. Di atas, ya, jangan di sini.” Ujarnya, lalu berderap keluar dari kamar dan mulai sibuk berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.


Segara sudah pergi, suaranya pun tidak terdengar lagi. Namun efek yang ditinggalkan dari kontak fisik mereka masih membuat tubuh Lana membeku di tempat. Detak jantungnya semakin tidak terkendali, serasa seperti ada seseorang yang sengaja memasang bom waktu dan sisa yang dia miliki hanya tinggal beberapa detik sebelum bom itu meledak, meluluhlantakkan segalanya.


Bersama hitungan mundur yang masih terus berjalan, Lana ambruk. Terduduk tak berdaya di atas kasur lantai, hanya untuk mendatangkan sebuah pertanyaan di dalam kepala; Beginikah yang dinamakan jatuh cinta? Atau dia hanya sedang bersikap berlebihan saja?


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2