Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
EMPAT PULUH DELAPAN


__ADS_3

Sudah kenyang, Lana dan Segara pun bergegas pulang. Malam semakin merangkak naik dan udara dingin juga semakin gencar menerpa tubuh mereka. Jadi sebisa mungkin, mereka harus segera sampai di rumah sebelum bencana masuk angin melanda.


Biasanya, perjalanan pulang akan selalu terasa lebih cepat jika dibandingkan dengan perjalanan ketika berangkat ke suatu tujuan, apalagi jika kita baru pertama kali pergi mengunjungi tempat tersebut. Tapi anehnya, Segara justru merasa motor matic yang dia kendarai tidak kunjung sampai di rumah meskipun dia merasa sudah menarik tuas gas sedalam yang dia bisa.


Hanya mengenakan kaus dan celana pendek, tidak mengenakan helm. Memang sebuah keputusan yang salah karena kini, Segara mulai kedinginan. Tubuhnya bergidik kala angin berembus menerpa tengkuknya yang terekspos. Gara-gara hal itu, dia refleks menggeliat, membuat pegangannya pada stang motor sedikit oleng dan mereka nyaris nyungsep ke atas aspal yang keras.


Nasib baik, keseimbangan tubuhnya cukup oke, sehingga adegan nyungsep dari 7 bulan lalu itu tidak memasuki bagian kedua.


Setelah melalui beberapa drama, mereka akhirnya sampai juga di rumah. Dengan penuh pengertian, Lana turun dari motor, mengajukan diri untuk membuka gerbang agar motor yang Segara kendarai bisa masuk.


Tak menunggu lama, Segara langsung tancap gas, melajukan motor ke garasi lantas memarkirkannya asal dan dia segera melompat turun. Sementara Lana, seperti tidak merasa kedinginan sama sekali, perempuan itu bergerak begitu lambat menutup gerbang lalu berjalan pelan menghampiri.


“Lari, Miss, dingin!” seru Segara seraya memeluk dirinya sendiri. Telapak tangannya yang padahal juga dingin digesek-gesekkan ke lengan, berharap itu cukup efektif untuk menghangatkan tubuhnya yang sudah seperti akan beku.


Menanggapi hal itu, Lana tersenyum tipis lantas sedikit mempercepat langkahnya.


“Miss Lana nggak kedinginan?” tanya Segara ketika Lana sampai di depannya. Dilihat-lihat, perempuan itu terlihat baik-baik saja, jauh berbeda dengan dirinya yang sudah seperti dikurung dalam istana es selama bertahun-tahun. Oke, itu lebay, lupakan saja.


Lana menggeleng, “Udah biasa.”


“Udah biasa kedinginan?”


“Udah biasa naik motor malam-malam.” Lana mengoreksi.


Bodohnya, Segara manggut-manggut seperti bocah idiot. Padahal mulutnya sudah nyerocos terus mengatakan kalau dia kedinginan, tangannya juga masih terus mengusap-usap lengan. Tapi bukannya segera masuk, dia malah berdiri di tempat.


Beruntungnya, Lana itu pengertian. Alih-alih ikutan berdiam diri, perempuan itu berinisiatif untuk melangkah masuk lebih dulu. Sebenarnya dia juga tidak mengerti kenapa Segara yang ribut sekali bilang kedinginan malah bengong seperti patung. Mungkin tidak enak hendak meninggalkannya, makanya Lana lah yang mulai mengayunkan langkah lebih dulu.


Bagai seekor anak itik yang tidak mau ditinggalkan oleh induknya, Segara mengekor di belakang Lana. Ayunan langkahnya setara dengan milik perempuan yang memimpin di depannya itu, tidak lebih lebar ataupun lebih pendek. Ia seperti sedang napak tilas, mengais jejak yang ditinggalkan oleh sandal yang Lana kenakan walaupun jejaknya tidak kasat mata. Lantai keramik di rumahnya berwarna gelap, memang sengaja dibuat begitu supaya tidak mudah terlihat kotor.

__ADS_1


Segara masih terus membuntuti Lana, tidak berniat menyalip karena toh dia sudah tidak lagi merasa kedinginan sekarang.


Barulah ketika langkah mereka sampai di lantai 2, mau tidak mau Segara bergeser ke sisi kanan sementara Lana berbelok ke kiri.


“Penerbangannya jam berapa, Pak?” tanya Lana, merujuk pada rencana mereka terbang ke Korea esok hari.


“Jam 5 lewat 20. Kita otw ke bandara jam 3 atau setengah 4 aja, biar nggak terlalu buru-buru.”


Lana manggut-manggut, “Kalau gitu, saya tidur duluan, ya, Pak.” Pamitnya.


Gantian Segara yang mengangguk. Dia menunggu sampai Lana berbalik, membuka pintu lalu tubuhnya menghilang di balik pintu yang tertutup. Barulah Segara juga ikut masuk ke dalam kamarnya.


Baru setengah 10, belum terlalu malam dan dia juga belum terlalu mengantuk. Jadi, setelah sampai di dalam kamar, yang pertama kali dia lakukan adalah membuka laci nakas, mengeluarkan tablet dari sana lalu membawa benda itu ke atas kasur. Dia akan bekerja sebentar, mengecek pekerjaan yang masih dia kerjaan via online sebelum dia tidak akan bisa mengakses internet selama beberapa jam besok.


...****************...


Melenceng dari jadwal, keberangkatan ke bandara molor sampai jam 4. Segara berlarian tunggang-langgang, menggeret 2 koper, 1 miliknya dan 1 lagi milik Lana. Sementara di belakangnya, Lana pun turut berlarian seraya berkali-kali merapatkan kardigan yang membalut tubuhnya.


Sayang seribu sayang, itu hanya ada di dalam angan-angan.


Gara-gara bangun kesiangan, ia dan Lana jadi tidak sempat berbenah. Sekadar mencuci muka dan berganti pakaian pun tidak. Lana masih menganakan baju tidur dan dibalut lagi menggunakan kardigan, sedangkan Segara masih mengenakan kaus dan celana pendek yang dia kenakan semalam. Kaki mereka juga hanya terbalut sandal jepit. Ugh! Benar-benar. Mereka lebih mirip gelandangan ketimbang sepasang suami istri yang hendak pergi bulan madu.


Untungnya Mama cukup pengertian. Wanita itu telah menyiapkan 2 tiket pesawat first class sehingga mereka tidak perlu repot antre ataupun mengurusi soal koper serta bagasi. Mereka bisa langsung masuk ke dalam pesawat, duduk manis menunggu pesawat take off.


“Duh, maaf, ya Miss, gara-gara saya bangun kesiangan kita jadi harus lari-larian.” Sesal Segara usai keduanya duduk di kursi masing-masing.


Napas Lana masih ngos-ngosan, jantungnya juga berpacu lebih cepat sehingga yang dia bisa lakukan untuk merespons permintaan maaf Segara hanyalah mengangguk.


Lalu hening. Sebenar-benarnya hening sebab tidak ada lagi percakapan yang terjadi di antara keduanya. Bahkan ketika salah seorang staf pramugari bertandang untuk menanyakan keperluan mereka selama di dalam pesawat, Segara menjadi satu-satunya yang menjawab. Lana tidak buka suara sama sekali, hanya memperhatikan bagaimana suaminya bertukar suara dengan sang pramugari cantik yang senyumnya cerah sekali.

__ADS_1


Keterdiaman mereka masih berlanjut bahkan sampai pesawat akhirnya take off. Segara lebih memilih menekuri layar LCD yang tersedia di depannya, menikmati film yang diputar di sana dengan headphone yang menempel di kedua sisi telinga. Tak jauh berbeda, Lana pun melakukan hal yang sama. Bedanya, dia tidak menonton film, melainkan siaran berita.


Perjalan yang akan mereka tempuh kurang lebih memakan waktu 7 jam. Cukup lama untuk sebuah perjalanan yang sebenarnya tidak mereka kehendaki. Meskipun begitu, mereka tetap berusaha menikmati perjalanan, memanfaatkan semua fasilitas yang disediakan pihak maskapai agar tidak rugi telah membayar mahal. Well, bukan mereka sih sebenarnya yang membayar semuanya.


Entah sudah berapa lama pesawat terbang di udara. Tontonan yang tersaji melalui layar LCD di hadapan mereka juga sudah tidak terlihat mengasyikkan lagi untuk mengusir kebosanan.


Di kursinya, Segara sudah menguap berkali-kali. Selain pertanda bahwa ia sudah bosan, itu juga merupakan reaksi alami karena sesungguhnya dia memang kurang tidur.


Perlahan, Segara melepaskan headphone yang ada di telinga, iseng menoleh ke sebelah untuk melihat kondisi Lana. Ia tidak menyiapkan dialog apa pun kalau-kalau ketika dia menoleh nanti, Lana pun turut melakukan hal yang sama. Palingan, mereka hanya akan saling tatap selama beberapa detik kemudian sama-sama membuang muka dengan kecanggungan yang kentara.


Namun, saat Segara betulan berhasil menoleh, ia malah menemukan Lana sudah terlelap. Headphone yang dikenakan masih terpasang, layar LCD di depannya juga sepertinya masih menyala.


Melihat hal itu, Segara bukannya ikut-ikutan tidur, tetapi malah diam saja, mematung memandangi wajah polos Lana yang sama sekali tanpa polesan make up.


Cantik. Segara harus mengakui bahwa Lana cantik. Perempuan itu juga cerdas, baik secara emosional maupun intelektual. Itu terlihat dari bagaimana Lana selalu memiliki cara untuk menenangkan Mikha, juga memberikan jawaban-jawaban logis untuk setiap pertanyaan yang Mikha lontarkan.


Tapi, tidak peduli seberapa cantik dan cerdasnya ia, di mata Segara, dia tetaplah Kelana, perempuan yang dia nikahi hanya untuk menjadi ibu sambung bagi putrinya. Ia bukan Karenina, dan Segara tidak yakin bisa merubah cara pandangnya terhadap perempuan itu.


Segara mengambil napas dengan susah payah karena tiba-tiba saja dia kembali merasa sesak. Jika di hari-hari yang lalu dia hanya merasa bersalah pada Karenina karena telah mengingkari janji untuk setia, maka hari ini, untuk pertama kalinya dia juga merasa bersalah kepada Lana.


Bagaimana, ya? Dia hanya merasa, dengan segala kelebihan yang Lana miliki, perempuan itu seharusnya berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Menikah dengan laki-laki yang dia cintai dan mencintai dirinya, memiliki anak-anaknya sendiri, membangun keluarga yang layak, yang benar-benar tumbuh atas dasar keinginan bersama. Bukan semata-mata demi memenuhi keinginan seorang anak yang ditinggal mati oleh ibunya.


Andai bisa memutar waktu, dia mungkin akan memikirkan kembali untuk tidak melaksanakan pernikahan ini. Bukankah seharusnya ada cara lain untuk menenangkan Mikha tanpa mengorbankan siapa pun di antara mereka berdua?


Tapi sayangnya kan dia tidak bisa melakukannya. Jadi untuk sekarang, dia mungkin akan mencoba untuk bersikap lebih baik kepada Lana. Seperti yang pernah Arkana katakan kepadanya, dia mungkin harus mulai berusaha untuk setidaknya menjadi suami yang baik. Mulai memperhatikan apa saja yang Lana sukai dan tidak, apa saja kebiasaan perempuan itu, apa ketakutannya, apa hal-hal besar yang ingin dia capai mulai hari ini. Hanya sebatas itu dulu. Seharusnya itu sudah cukup, kan? Setidaknya, dengan bersikap begitu, mungkin bisa mengurangi rasa bersalahnya terhadap perempuan ini.


Pesawat terbang semakin jauh, menerobos gumpalan awan, mengarungi langit yang mulai terlihat terang. Semakin lama, semakin jauh, semakin hilang pula arah yang Segara miliki. Ia berakhir membiarkan dirinya hanyut, ikut saja ke mana takdir membawa dirinya pergi.


“Ren, ini cuma seumpama. Kalau suatu hari nanti aku ternyata nggak bisa memenuhi janji untuk jatuh cinta cuma sama kamu, tolong ampuni aku, ya.”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2