
Di bangku taman rumah sakit, di bawah naungan pepohonan rindang, bertemankan cahaya rembulan yang mengintip malu-malu dari balik gumpalan awan hitam, Segara duduk sendirian.
Sudah pukul 11 malam, seharusnya dia pergi beristirahat karena malam kemarin dia sama sekali tidak tidur demi menjaga Mikha yang demam tinggi. Akan tetapi, dia tidak melakukannya. Segara malah duduk di sini, membawa dirinya ke arah lebih banyak kerumitan yang dia ciptakan sendiri. Tak henti-hentinya dia berpikir tentang lebih banyak hal. Tentang Mikhaela, tentang Karenina, juga tetang perempuan bernama Kelana yang terakhir kali dia lihat sedang menggendong Mikha di lorong rumah sakit yang sepi.
Perkataan demi perkataan yang terlontar dari bibir Arkana, khususnya yang diucapkan siang tadi sebelum Lana sempat pamit undur diri, menjadi topik paling banyak diangkat oleh kepalanya sendiri. Seakan-akan rentetan kalimat itu adalah satu-satunya hal yang pernah dia dengar, yang pernah dia pelajari sepanjang 27 tahun dia hidup.
Menghela napas berkali-kali seharusnya cukup efektif untuk membantunya mengurai isi pikirannya yang serupa benang kusut, namun sekarang ini, bahkan menghela napas sebanyak apapun nyatanya tidak bisa berpengaruh banyak. Malahan, dia berakhir merogoh saku celananya, mengeluarkan sebungkus rokok beserta pemantiknya.
Di hari-hari lalu ketika kepalanya terlalu ribut, rokok akan menjadi pilihan terakhir karena dia percaya masih banyak cara lain yang bisa dia coba. Tetapi malam ini, ketika dia sudah tidak memiliki cara apapun yang terpikir untuk keluar dari labirin yang dia ciptakan sendiri, rokok menjadi pemberhentian terahirnya. Untuk sejenak berhenti, sejenak menepi, sebelum akhirnya kembali terjun ke dalam badai di dalam dirinya yang entah kapan akan berhenti.
Asap rokok mengepul di depan wajahnya dalam waktu cepat, bercampur dengan udara malam yang dingin dan sarat akan kesepian. Walaupun samar, Segara bisa merasakan ada begitu banyak kepiluan yang datang kepadanya ketika angin berembus tak terlalu kencang menerpa tubuhnya yang lesu.
Tembakau itu dia hisap berkali-kali, terkadang dalam gerak lambat, terkadang pula dengan begitu rakus seakan tidak ada hari esok untuknya menikmati lintingan tembakau itu lagi.
Di tengah riuhnya isi kepala dan asap yang keluar masuk rongga pernapasannya, Segara tiba-tiba dibuat terdiam seribu bahasa kala samar-samar, dia seperti bisa mendengar suara Karenina. Iya, Karenina yang sudah mati itu, yang jasadnya sudah dia antarkan sendiri ke liang lahat dengan tangis yang tumpah ruah tanpa bisa dicegah.
Ketika ia menoleh ke samping, Segara menemukan sosok Karenina dalam balutan gaun panjang berwarna putih tengah ikut duduk bersamanya, menatapnya dengan sorot mata paling teduh serta senyum tulus yang tak pernah kehilangan ciri khasnya. Malam begitu pekat, tidak ada bintang-bintang dan sinar rembulan yang samar di atas mereka menjadi satu-satunya penerang selain lampu taman yang tampak sudah perlu diganti. Namun di dalam pandangannya, Karenina tampak bersinar. Seluruh tubuh perempuan itu dikelilingi cahaya, yang terangnya bahkan mampu membuat Segara lupa pada sebatang rokok yang terselip di sela jemari tangannya, perlahan-lahan semakin terbakar habis.
“Ren,” sungguh, ia tahu ini tidak nyata. Segara adalah manusia yang rasional. Dia tidak percaya pada hal-hal mistis seperti hantu atau makhluk-makhluk mitologi yang kerap kali dimunculkan untuk menakuti anak-anak. Karena kalau dia memang memiliki kemampuan untuk melihat hantu atau semacamnya, pasti sudah sejak lama dia menggunakan kemampuan itu untuk memanggil Karenina, yang tak sedetik pun dalam hidupnya pernah tidak dia rindukan. “Sayang.”
__ADS_1
Sosok Karenina hanya tersenyum. Padahal kalau boleh sedikit lancang, Segara ingin sosok itu setidaknya berbicara kepadanya. Tidak perlu yang muluk-muluk, cukup gaungkan namanya dengan suaranya yang lembut nan menenangkan. Tapi yang namanya sosok itu hanya halusinasi, Segara tidak bisa menuntut lebih banyak.
Detik ketika Segara memutar tubuhnya agar bisa memandang Karenina dengan lebih dekat, rokok di tangannya sudah sepenuhnya terlupakan. Benda yang awalnya menjadi pelarian itu kini teronggok tak berdaya di atas rerumputan, menanti ajalnya menjemput ketika nanti bara yang membakar habis dirinya itu sepenuhnya padam.
“Ren,” panggilnya sekali lagi. Ia mengulurkan tangan, hendak menyentuh pipi pualam Karenina yang tampak berseri. Tapi sentuhannya tidak pernah sampai, karena sebelum ia benar-benar menggerakkan tangannya lebih jauh, Segara memutuskan untuk berhenti. “Maaf, aku masih serindu itu sama kamu.” Lirihnya seraya menurunkan kembali tangannya yang sempat melayang di udara.
Semilir angin malam menjadi saksi ketika senyum sumir terbit menghiasai wajah Segara yang kelihatan sekali betapa lelahnya. Mengasuh anak seorang diri, masih harus mengurus segala persoalan di perusahaan, ditambah misi-misi lain untuk menemukan siapa pelaku di balik ketidaktenangan hidup keluarga kecilnya bukan perkara mudah untuk dilakukan. Sejauh ini, Segara masih bisa bertahan, tapi bukan berarti dia tidak kelelahan.
Maka, malam itu, bersama bayang-bayang Karenina yang hanya bisa menatapnya dalam diam, Segara menumpahkan tangisnya sekali lagi. Dia rapuh, jauh lebih lemah daripada apa yang dia tunjukkan kepada orang-orang.
Sementara hanya berjarak 10 meter dari tempatnya terisak, Arkana berdiri mematung dengan sebatang rokok yang belum sempat dinyalakan.
Maka Arkana pikir, keputusan untuk membawa seseorang masuk ke dalam hidup Segara adalah cara paling ampuh, untuk membantu lelaki itu segera sembuh dari rasa kehilangannya. Atau setidaknya, ketika kesedihan itu kembali datang menyapa, lelaki itu akan punya bahu untuk bersandar. Agar ia tidak perlu lagi menangis sendirian seperti yang malam itu Arkana saksikan.
...****************...
Tiga hari dirawat, dokter akhirnya mengizinkan Mikha untuk dibawa pulang. Kondisi anak itu sudah membaik, malah jauh lebih cepat daripada yang dokter perkirakan sebelumnya. Obat-obatan yang diresepkan untuknya pun belum semuanya habis, tapi anak itu sudah terlihat ceria kembali, apalagi saat ia melompat dari ranjang pasien lalu masuk ke dalam dekapan hangat Lana yang sejak tadi ikut sibuk mengurusi kepulangannya.
“Miss Lana nggak ke day care?”
__ADS_1
Lana membalikkan tubuhnya, menatap Arkana yang barusan muncul dari balik pintu sambil menenteng kantong plastik transparan berisi 3 buah sterofoam yang ditumpuk.
“Saya izin datang siang.” Lana mengatakan itu dengan senyum tipis yang terulas sempurna. Dari balik punggung Arkana, selang beberapa detik setelah ia selesai berbicara, Segara muncul dalam balutan kemeja berwarna biru muda yang lengannya digulung sampai sebatas siku. Rambut lelaki itu tertata rapi, jauh berbeda dengan penampilannya yang tampak kacau selama 3 hari ini.
“Gue harus ke kantor, ada meeting sebentar.” Kata lelaki itu, dari tatapannya yang tertuju pada Arkana, sudah jelas kepada siapa lelaki itu berbicara. “Tolong lo jagain Mikha sebentar. Sebelum jam makan siang, seharusnya meeting-nya udah kelar dan gue bisa pulang.”
Arkana hanya mengangguk. Tak banyak pula yang bisa dia katakan kepada Segara karena sejujurnya, dia kembali teringat pada adegan di mana Segara menangis terisak-isak di taman rumah sakit malam kemarin. Tiba-tiba saja, Arkana merasakan dadanya sesak. Ia tidak tahu seberat apa menjadi Segara karena dia memang tidak pernah ada di posisi laki-laki itu, tapi kalau mau sedikit sok tahu, rasanya pasti sangat tidak mudah.
“Miss Lana mau bareng saya? Saya bisa drop Miss ke day care sebelum berangkat ke kantor.”
Ditawari begitu, Lana menggeleng seraya tersenyum sopan. “Saya izin masuk siang, Pak. Nanti, setelah mengantar Mikha pulang, baru saya berangkat ke day care.” Ia mengulangi kalimatnya karena sepertinya Segara memang tidak mendengar apa yang dia katakan kepada Arkana sebelum ini.
“Oh, oke kalau begitu.” Lalu Segara berjalan mendekat, hanya untuk melabuhkan kecupan di pipi gembil Mikha yang masih mendekap Lana erat. “Daddy ke kantor dulu, ya, Sayang. Kamu sama Om Ar dulu, jangan nakal, jangan sakit lagi.”
“Oke, Daddy!” Mikha berseru seraya mengangguk paham. Sungguh, tidak sedikit pun tersisa wajah pucat yang selama 3 hari ini menghantui Segara. Ia bersyukur untuk itu, tentu saja.
Segara gemas, jadi dia mengusak rambut Mikha sebelum akhirnya pamit berangkat ke kantor, meninggalkan euforia yang terjadi di belakang punggungnya semakin berkembang seiring semakin jauhnya langkah yang dia ambil.
“Ren, kamu nggak cemburu kan kalau anak kita dekat dengan perempuan lain yang bukan kamu?” Segara membisikkan kalimat itu di dalam hati, berharap apapun itu—entah angin, hujan, bahkan terik matahari—bersedia menyampaikan pertanyaan itu kepada sang tercinta, Karenina, lalu kembali kepadanya membawa sebuah jawaban.
__ADS_1
Bersambung