Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
DUA PULUH SEMBILAN


__ADS_3

Hari berlalu, permintaan soal ibu tak lagi keluar dari bibir Mikha, dan seharusnya hal itu membuat Segara lega. Namun, ia justru mendapati masalah lain yang lebih serius, karena semenjak pulang dari kediaman Lana minggu lalu, Mikha berubah 180 derajat. Anak itu tidak lagi seceria biasanya, tak banyak bertanya ini itu, pun dengan kehidupannya di day care yang seperti tak lagi menyenangkan seperti ketika pertama kali anak itu datang ke sana.


Melalui Grace, barulah Segara mendapatkan informasi bahwa Mikha lebih banyak terlihat murung. Makan siang yang disipakan oleh koki khusus di sana juga tak banyak anak itu sentuh, hanya dimakan beberapa sendok sedangkan sisanya dimainkan sebelum akhirnya ditinggalkan begitu saja.


Dalam hal berteman, sikap Mikha juga berubah drastis. Leah dan Nala yang biasa mengekor pada gadis kecil itu ke mana saja juga seolah diberi batas untuk tidak berjalan lebih dekat. Alhasil, Mikha pun sendirian, lebih banyak menghabiskan waktu untuk duduk diam di pojok ruangan sembari memperhatikan teman-temannya yang lain bermain dan belajar.


Siang ini, setelah menyantap makan siang yang melenceng jauh dari jamnya, Segara bergegas pergi meninggalkan kantor. Dia berniat absen, pulang lebih cepat demi menyambangi day care tempat Mikha dititipkan guna melihat sendiri bagaimana keadaan anak itu di sana. Segala urusan pekerjaan sudah dia percayakan kepada Adella, sehingga seharusnya, tidak ada yang perlu dia khawatirkan.


Di sepanjang langkahnya, mulai dari saat dia keluar dari ruangannya, sampai kini dia berjalan melewati koridor untuk sampai ke lift, Segara beberapa kali mendengar selentingan soal dirinya dan Pamela. Iya, kabar hubungan diam-diam yang terjalin antara dirinya dan Pamela merebak begitu cepat, menjadi topik hangat yang masih terus diperbincangkan hingga sekarang.


Segara tidak mau ambil pusing, toh apa yang mereka gosipkan itu semuanya tidak benar. Hal itu juga tidak berdampak banyak pada hubungan pertemanannya dengan Pamela. Mereka hanya perlu menerapkan batas ketika berada di kantor, seperti sebagaimana mestinya bos dan karyawan bersikap profesional.


Di luar itu, dia dan Pamela masih berteman seperti biasa. Dia bahkan tidak keberatan untuk mengangkat telepon dari perempuan itu di jam setengah 2 dini hari, hanya untuk tahu bahwa perempuan itu sedang mabuk dan berakhir meracau tidak jelas selama lebih dari 1 jam sebelum akhirnya jatuh tertidur.


Semuanya masih baik-baik saja, itu yang Segara tahu.


Sampai di basement, ia mendapatkan kesulitan untuk mengeluarkan mobilnya karena ternyata ada satu mobil yang parkir terlalu dekat dengan pintu mobil bagian pengemudi. Kesal, jangan ditanya lagi. Dia sedang terburu-buru, tapi selalu ada saja hal-hal remeh yang akhirnya membuat langkahnya yang terburu-buru menjadi tersendat.


Untuk mencari siapa pemilik mobil itu dan memintanya memindahkan pada posisi yang benar memang bukan sesuatu yang sulit. Dia hanya tinggal pergi ke pos pengamanan, meminta petugas memberikan pengumuman kepada si empunya mobil agar parkir dengan benar. Akan tetapi, itu membutuhkan waktu, yang mana Segara tidak memilikinya.


Maka dengan perasaan kesal yang mulai semakin bertambah besar, Segara mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil. Dia memutuskan untuk berjalan menyusuri basement yang sepi, menaiki tangga menuju salah satu pintu keluar lalu melangkah lebar menuju gerbang depan perusahaan.


“Pak Segara!”


Ia menoleh, ketika seorang pria berseragam satpam berlarian tergopoh-gopoh menghampiri dirinya. “Mau ke mana, Pak?” tanya si satpam. Satu tangannya berada di atas dahi, berusaha melindungi matanya dari silau cahaya matahari.


“Saya ada urusan di luar. Kenapa?” tanyanya.

__ADS_1


“Itu ... di depan ada yang nyariin Bapak, katanya dari day care.”


Day care? Segara tidak pikir lama ketika memutuskan untuk membalikkan langkahnya. Buru-buru dia berlarian menuju lobi gedung perusahaan, meninggalkan satpam tadi yang cengo di tempatnya berdiri.


Belum mencapai pintu, Segara sudah melihat keberadaan sosok perempuan yang berdiri di depan meja informasi. Ia tampak berbicara dengan karyawan perempuan yang berjaga di sana, mungkin sedang bernegosiasi untuk bisa dipertemukan dengan dirinya.


Kembali Segara ayunkan langkah lebih lebar. Sampai beberapa meter di belakang sang perempuan, ia bersuara. “Miss Lana?” panggilnya, membuat perempuan yang sedang beradu argumen dengan karyawan perempuan itu sontak menolehkan kepala.


“Pak Segara.” Lana bergerak mendekat, disusul karyawan perempuan yang berlarian hendak menahan laju Lana sebelum sampai di hadapannya.


“Maaf, Pak. Mbak ini memaksa untuk ketemu, padahal saya sudah bilang kalau Pak Segara sedang sibuk dan tidak bisa diganggu.” Ruli, karyawan perempuan yang tadi menunduk meminta maaf, masih berusaha menahan Lana agar tidak bergerak lebih dekat.


“Nggak apa-apa, dia kenalan saya. Kamu kembali bekerja saja.” Titah Segara. Mendengar itu, Ruli pun menurut. Perempuan itu mengangguk patuh seraya melepaskan tangannya dari lengan Lana, lalu kembali ke mejanya.


“Kenapa Miss Lana bisa ada di sini? Ada masalah apa?” tanya Segara to the point. Karena tidak mungkin perempuan itu akan rela beradu otot dengan karyawannya kalau tidak ada sesuatu yang benar-benar penting.


...****************...


Segara berlarian tunggang-langgang seturunnya ia dari taksi. Gerbang yang baru dibukakan sedikit dia terobos begitu saja, membuat petugas keamanan yang membukakannya nyaris terjungkal karena ia terlalu kuat mendorong gerbang besi itu.


Dengan napas yang ngos-ngosan, Segara masih terus berlari memasuki gedung day care yang tampak sepi dari luar. Ia kemudian berhenti di depan meja resepsionis, menemukan seorang perempuan berjaga dan dengan sigap berdiri menyambut kedatangannya.


“Ada perlu apa ya, Pak?” tanya perempuan itu.


“Saya mau ketemu anak saya.” Kata Segara. Tak terlalu dia perhatikan raut wajah perempuan itu, sebab dia mulai sibuk mencari di mana kira-kira keberadaan Mikha.


Tadi, Lana memberitahukan kepadanya bahwa Mikha menolak makan sama sekali. Anak itu malah mengasingkan diri di pojok ruangan, menolak bicara dengan siapapun termasuk Lana yang notabene adalah orang terdekatnya selama di day care.

__ADS_1


Hal itu membuat semua orang panik, termasuk Grace yang akhirnya terpaksa meminta Lana datang ke kantornya untuk memberitahukan soal itu langsung kepada dirinya, karena ternyata ponselnya mati sehingga Grace tidak bisa menelepon.


“Saya mau ketemu Mikha, anak saya.” Kata Segara lagi.


Perempuan yang tadi masih tampak kebingungan, serba salah antara membiarkan Segara masuk atau tetap menahannya sebagaimana peraturan ketat di day care yang melarang siapapun masuk ke dalam bangunan kecuali atas izin Grace selaku owner. Tapi masalahnya, Grace tidak sedang ada di sana untuk dimintai izin.


“Sebelah sini, Pak.”


Dari belakang tubuh Segara, muncul sosok Lana yang terlihat sama-sama kepayahan. Helaian rambut perempuan itu sudah banyak yang keluar dari dalam ikatan, bukti betapa bersusah payahnya ia untuk sampai di tempatnya berpijak saat ini.


“Tapi, Miss, kata Bu Grace—“


“Ini permintaan langsung dari Bu Grace,” sela Lana. Lalu tanpa mendengarkan bantahan apapun dari bibir perempuan tadi, Lana sekonyong-konyong menarik lengan Segara untuk segera ikut bersamanya. Tak dihiraukannya jarak atau status di antara mereka, karena dia kepalang panik akan kondisi Mikha dan membawa Segara untuk bertemu dengan anak itu adalah prioritasnya saat ini.


Segara sendiri juga tidak ambil pusing soal tangannya yang dipegang tanpa izin oleh Lana. Karena lagi-lagi, yang dia pikirkan juga hanya soal Mikha.


Ternyata, Lana membawanya ke dalam ruang kerja Grace, di mana Mikha sudah duduk diam di atas sofa sementara Grace tampak berjongkok di hadapannya. Melihat kedatangannya dan Lana, Grace pun bangkit dan segera mengisyaratkan kepadanya untuk mendekat.


Segara mengangguk lamat-lamat, lalu berjalan ke arah sofa. Gerakannya itu otomatis membuat pegangan Lana yang tidak terlalu erat terlepas, meninggalkan sensasi kosong aneh yang sempat mengganggu pikiran Segara selama beberapa saat. Namun, dia tidak memikirkannya lebih jauh ketika kini dia sudah berjongkok di hadapan Mikha, menggantikan posisi Grace yang sebelumnya.


“Hey, anak cantik Daddy, kenapa Sayang?” tanyanya lembut. Digenggamnya tangan kecil Mikha, seraya menatap mata anak itu yang tampak berair. “Kenapa nggak mau makan, hmm? Mikha ada masalah apa, Sayang?”


Alih-alih menjawab, Mikha malah melompat, lalu menghambur ke dalam pelukannya. Tangis anak itu pecah, tumpah ruah di dadanya yang bidang, membuatnya ikut merasakan sakit yang sulit sekali untuk dijelaskan.


“Okay, Sayang. Kamu boleh nangis sekarang, Daddy nggak akan larang.” Segara mengusap kepala anaknya itu penuh sayang. Air matanya sendiri mungkin akan tumpah, jika saja dia tidak sedang berada di luar rumah. “It’s okay, keluarkan aja semuanya.”


Selagi Segara menenangkan tangis Mikha, dua perempuan dewasa yang menyaksikan adegan dramatis di depan mata mereka itu hanya bisa dengan sabar menunggu. Mereka sadar, mereka adalah orang asing yang tidak layak mendapat penjelasan apa-apa, jika Segara ataupun Mikha memang tidak mau memberikannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2