
Di sebuah ruangan yang dingin dan pengap, Lana dibiarkan sendirian. Para perampok yang kejam itu mengurungnya di sana tanpa makan dan minum selama hampir 24 jam.
Pamela tidak ada di sana. Ketika mereka sampai, Lana melihat Pamela ditarik paksa menuju ke ruangan yang lain. Ia melihat bagaimana perempuan itu meronta, berusaha melepaskan diri dari seorang laki-laki bertubuh tinggi besar yang memegangi kedua lengannya. Dan tentu saja, usaha itu berakhir sia-sia karena postur tubuh dan tenaganya masih kalah besar.
Pada akhirnya, Lana hanya bisa melihat Pamela pasrah meninggalkan dirinya sendirian di sana. Air mata perempuan itu sudah mengalir deras membasahi wajah sebelum tubuhnya menghilang di balik tembok penyekat.
Lana tidak tahu pasti lokasi di mana dia berada sekarang. Karena setelah dia dan Pamela diseret masuk ke dalam mobil Van hitam dengan kaca jendela yang sepenuhnya gelap, mata mereka ditutup menggunakan kain sehingga mereka tidak bisa mengenali rute mana yang para penjahat itu ambil. Mulut mereka juga dilakban, kedua tangan mereka diikat ke belakang sehingga tidak ada lagi perlawanan yang mampu mereka berikan. Penutup mata, lakban, dan ikatan itu baru dilepaskan ketika mereka sudah sampai ke tempat penyanderaan ini.
"Nak, sabar ya." Lana menyentuh perutnya yang masih rata. Tenggorokannya yang kering terasa sangat menyiksa, membuatnya khawatir sang jabang bayi yang tengah tumbuh di rahimnya pun turut merasakan sakitnya.
Sejenak, Lana mengitarkan pandangan. Ruangan sempit tempat dia disekap itu sama sekali tidak memiliki celah untuk dia bisa kabur. Tidak ada jendela, tidak ada ventilasi udara di atas langit-langit ruangan, dan pintu yang handlenya sudah karatan itu jelas dijaga ketat dari luar.
Di saat seperti ini, Lana sudah tidak lagi mampu untuk bersikap tenang. Alih-alih nyawanya sendiri, dia benar-benar lebih merasa khawatir pada kondisi buah hatinya. Tidak menerima asupan apa pun selama hampir 24 jam pasti akan berpengaruh banyak pada tumbuh kembangnya di dalam perut.
Tahu tidak banyak yang bisa dia lakukan—bahkan jika dia lelah menangis sekalipun, Lana akhirnya hanya bisa berdoa. Tidak putus-putus. Terus menyambung dari satu doa ke doa lain yang dia ucapkan secada berulang-ulang.
Dia tidak ingin mati dulu.
Brakkk!!!
Lana tersentak kala pintu di belakangnya didobrak, lalu seorang pria bertubuh besar dengan tato ular di leher menerobos masuk sambil membawa satu botol air mineral dan selembar roti tawar.
"Nih, makan!" suruh pria itu. Jangan pikir kalau botol air mineral dan roti tawar tadi aka diulurkan dengan baik-baik. Tentu saja tidak. Kedua benda itu dilemparkan dengan kasar hingga mengenai lengan Lana, menimbulkan benturan cukup keras yang membuat Lana meringis kesakitan.
"Lo belum boleh mati sebelum bos kami kasih perintah." Tutur si pria ketus, disertai mata yang melotot galak.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, pria tadi pergi. Pintu ditutup kembali dan Lana sekali lagi dibiarkan sendirian bersama sunyi yang tak kunjung menepi.
Lana menarik napas dalam-dalam guna memenangkan diri. Kemudian, botol air mineral tadi dia raih, dia buka tutupnya menggunakan sisa tenaga yang dimiliki.
Ingin rasanya Lana menenggak semua air itu hingga tandas agar dahaganya dibayar lunas. Akan tetapi, hal itu urung dia lakukan karena dia tidak yakin apakah para penjahat itu akan memberinya kesempatan untuk minum lagi atau tidak nantinya.
Hanya empat teguk yang kemudian Lana ambil, sisanya dia simpan dan dia jaga baik-baik.
Selembar roti tawar yang turut dilemparkan bersama botol air mineral tadi tidak dibungkus apa pun. Benar-benar hanya selembar roti tawar yang kemudian mendarat mengenaskan di atas lantai yang kotor. Lana tidak tega untuk memakannya. Karena meskipun dia kelaparan, dia tidak mungkin memberikan makanan kotor pada bayinya.
Roti tawar itu kemudian dia ambi, untuk dia singkirkan ke sudut ruangan. Dia tahu, itu tetap akan bisa mengundang semut, tetapi dia tidak benar-benar bisa menaruhnya di tempat lain karena ruangan tempatnya dikurung ini sangat sempit.
Lana kemudian melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Sudah lewat tengah malam. Dia seharusnya pergi tidur, namun dalam kondisi yang seperti ini, memejamkan mata rasanya sangat mengerikan. Dia seperti sedang menyerahkan nyawanya untuk diambil kapan saja.
"Pakai terus jam tangannya. Itu anti air, jadi even lo lagi mandi sekalipun, jam itu tetap haru lo pakai."
"Ah," Lana tiba-tiba menyadari sesuatu. Dia perhatikan lagi jam tangan itu, kemudian otaknya mulai bekerja lebih keras untuk memunculkan berbagai macam kemungkinan.
"Aku nggak tahu apa maksud kamu minta aku buat selalu pakai jam tangan ini, Ar. Tapi aku yakin, ini pasti bisa membantu aku saat ini." Gumamnya kemudian. Entah penyadap atau perangkat GPS, yang mana pun itu, Lana yakin Arkana sudah memasang sesuatu di dalam mesin jam tangan yang saat ini dia gunakan.
Berkat itu, Lana menjadi sedikit lebih tenang. Dia berharap jam tangan itu betulan bisa membantu Arkana dan Segara agar bisa segera menemukan keberadaan dirinya dan Pamela, sebelum terjadi hal-hal yang lebih buruk kepada mereka berdua.
...****************...
Berbanding terbalik dengan Lana yang diasingkan ke dalam sebuah ruangan yang sempit yang lebih layak digunakan sebagai tempat penyimpanan, Pamela malah dibawa ke sebuah kamar dengan fasilitas yang lengkap. Kasur, sofa, set televisi, bahkan toilet. Dia jadi tidak terlihat seperti seorang korban penculikan oleh sekelompok perampok random yang menyatroni kediaman kawan lama yang kebetulan sedang dia sambangi.
__ADS_1
Akan tetapi, bukan berarti Pamela bisa merasa tenang. Dia tetap saja merasa gelisah karena tidak tahu bagaimana nasib dirinya dan Lana ke depannya.
Oke, dia memang membenci Lana karena perempuan itu telah merebut kesempatannya untuk bisa mendapatkan hati Segara. Dia juga sempat memikirkan hal-hal buruk untuk dilakukan kepada perempuan itu. Akan tetapi, bukan berarti dia ingin Lana betulan celaka. Karena dia tahu, jika Lana kenapa-kenapa, dia akan melihat Segara hancur untuk yang kedua kalinya. Dan dia tidak ingin hal itu terjadi.
Cinta Pamela kepada Segara itu besar. Dia rela melepaskan banyak hal hanya untuk membuat lelaki itu bahagia. Membiarkan Segara menikah dengan Karenina di saat dia sebenarnya bisa mencegah agar perempuan mereka tidak pernah terjadi juga merupakan pengorbanan yang besar. Butuh hati yang lapang untuk membiarkan lelaki itu memilih jalan kebahagiaannya sendiri.
Lalu soal Lana. Mudah juga bagi Pamela untuk menyingkirkan perempuan itu kalau dia mau. Tapi sekali lagi, tidak ia lakukan karena tahu hal itu akan menyakiti Segara lagi.
Pamela menarik pandangan dari set televisi yang padam ketika pintu kamar terbuka. Pria bertubuh tinggi besar dengan tindik di alis sebelah kiri (yang tadi memisahkannya dengan Lana) datang membawa sekotak makan dari salah satu restoran cepat saji.
Pria itu tidak mengatakan apa pun, hanya meletakkan kotak makan beserta air minum ke atas nakas kemudian berbalik cepat untuk pergi.
Namun sebelum langkahnya terayun, Pamela mencekal lengannya sehingga pria itu pun berhenti.
"Kalian ini disuruh sama siapa sebenarnya?" tanya Pamela tanpa basa-basi. Setelah menggunakan waktu untuk merenung, dia mulai ragu kalau komplotan perampok ini hanya orang-orang random yang kemudian menculik dirinya dan Lana untuk meminta uang tebusan. Yah, mana ada penculik yang mau berbaik hati menyekap sanderanya di dalam kamar yang bagus seperti ini?
"Nggak usah banyak tanya. Lebih baik terima aja apa yang udah disediakan. Lo juga harusnya bersyukur karena ditempatkan di ruangan yang lebih layak, nggak kayak teman lo yang harus mendekam di ruangan kotor dan sempit." Sahut si pria, lalu tangan Pamela diempaskan begitu saja. Pria itu kemudian bergegas keluar, pintu ditutup dan suara kunci yang diputar dua kali menandakan bahwa tidak ada kesempatan bagi Pamela untuk melarikan diri.
"****!" Pamela mengusak rambutnya frustrasi. Ia menjadi lebih khawatir pada kondisi Lana sekarang. Apalagi perempuan itu serang mengandung anak Segara—yang berarti, harus turut dia jaga.
Memaksa keras otaknya untuk bekerja demi bisa menemukan siapa dalang di balik semua peristiwa ini, Pamela menyerah. Dia betulan tidak tahu siapa orangnya. Dia tidak tahu orang gila macam apa yang tega sekali menghancurkan hidup seseorang, dan apa motif di baliknya. Kalau dendam, dendam karena apa? Apa yang sudah Segara lakukan di masa lalu sehingga bisa memicu hadirnya segala bencana ini di dalam kehidupannya?
Makin dipikirkan, Pamela makin tidak bisa menemukan jawabannya.
Bersambung
__ADS_1
Siapa yang udah suudzon sama Pamela???
Minta maaf gih, ternyata bukan dia impostornya🤣🤣