Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
DUA PULUH SATU


__ADS_3

Segala jenis obrolan basa-basi sepenuhnya ditiadakan selama perjalanan pulang. Segara fokus menyetir, sambil sesekali menengok keberadaan Mikha di bangku penumpang tengah. Sementara keberadaan Lana di kursi penumpang depan sama sekali tidak dia hiraukan.


Sama seperti dirinya, perempuan itu juga tidak buka suara selain untuk mengatakan alamat tempat tinggalnya. Melalui ekor mata, Segara hanya menemukan perempuan itu sesekali menunduk, menatapi jemari tangannya yang saling bertaut.


Di luar, hujan yang semula turun deras telah berubah menjadi gerimis tipis. Dalam beberapa menit ke depan, ia mungkin akan sepenuhnya reda.


Berhubung ternyata alamat rumah Lana berlawanan dengan arah kantor, Segara akhirnya mengurungkan niat untuk melipir mengambil berkas-berkas. Selain itu, dia juga agak sangsi untuk meninggalkan Mikha hanya berdua saja dengan perempuan yang belum dia ketahui asal-usulnya ini.


“Kanan atau kiri?” tanya Segara, beberapa meter sebelum mereka mencapai pertigaan.


“Kanan.” Lana menjawab singkat. Pandangan perempuan itu bahkan masih tertuju lurus ke depan, seakan menoleh sedikit saja ke arah Segara adalah sesuatu yang terlarang.


Segara mengangguk pelan, lalu membelokkan kemudi ke kanan sesuai arahan Lana tanpa berkata apapun lagi.


Sekitar 500 meter dari tempat pertama dia membelokkan kemudi, tampak sebuah bangunan apartemen yang bisa dibilang cukup mewah di sebelah kiri jalan. Untuk memastikan bahwa kompleks apartemen ini adalah benar tempat tinggal Lana, Segara memelankan laju mobil kemudian bertanya, “Benar di sini?” sambil menoleh ke arah Lana—tepat ketika perempuan itu melakukan hal yang sama.


“Benar, Pak.” Jawab Lana.


Membuang waktu adalah hal yang paling Segara benci. Maka secepat mungkin, dia kembali melajukan mobil dan menghentikannya tepat di depan gerbang.


“Silakan.” Ucap Segara. Satu tombol ditekan, central lock terbuka sehingga memungkinkan Lana untuk segera membuka pintu dan keluar dari mobil.


Tapi, alih-alih melakukannya dengan cepat, perempuan itu malah menoleh ke belakang, ke tempat di mana Mikha duduk dengan tenang.


“Mikha, Miss pamit, ya. Maaf udah bikin kamu telat pulang.” Kata perempuan itu. Suaranya yang lembut terdengar seperti nyanyian selamat malam, hampir membuat Segara lupa bahwa mereka masih sepenuhnya asing.

__ADS_1


Si kecil Mikha mengangguk, senyum cemerlang gadis itu suguhkan untuk Miss-nya yang baru ditemui satu hari—sesuatu yang agak mengejutkan karena Mikha cukup pemilih.


Selesai berpamitan dengan Mikha, Lana kembali menoleh ke arahnya. Segara mengalami serangan jantung ringan saat tahu-tahu, perempuan itu tersenyum. Sedari pertama mereka bertemu di daycare dan selama perjalanan pulang, yang Segara temukan dari perempuan itu hanya raut murung dan kesedihan mendalam yang entah apa sebabnya. Maka senyum itu bagai serangan mendadak yang tidak bisa Segara terima begitu saja.


“Terima kasih, Pak.” Ucap perempuan itu.


Entah bisa dibilang sedang salah tingkah atau tidak, Segara tiba-tiba saja berdeham cukup keras. Padahal sebelumnya, tenggorokannya baik-baik saja. Tapi kini, dia mendadak merasakan ada sesuatu yang menyumbat tenggorokannya dan itu cukup menganggu.


“No problem. Terima kasih juga sudah menunggui Mikha sampai omnya datang menjemput.”


“Sudah menjadi kewajiban saya untuk memastikan anak-anak kembali ke orang tuanya dengan selamat.” Tutur Lana. Lalu, perempuan itu membuka pintu dan keluar dari mobil. Gerimis tipis yang menghujam tubuhnya tak perempuan itu hiraukan, karena toh tidak akan sampai membuatnya basah.


Segara berinisiatif untuk menurunkan sedikit kaca mobil di bagian penumpang tengah demi memberi kesempatan agar Mikha bisa melambaikan tangan kepada Miss-nya untuk yang terakhir kali. Dan, Mikha betulan melakukannya.


Lambaian tangan yang saling berbalas itu kemudian diakhiri dengan naiknya kembali kaca mobil. Segara membunyikan klakson sekali sebagai tanda pamit, lalu dia menginjak pedal gas setelah menemukan perempuan yang berdiri di depan pagar itu mengangguk pelan.


“Kenapa, Sayang?” tanya Segara sambil melirik Mikha melalui kaca spion tengah. “You need something?”


“Can I have a mommy?” tanya gadis kecil itu begitu polosnya.


Mikha tidak tahu, kalau pertanyaannya itu berhasil membuat Segara mendapatkan serangan jantung kecil yang kedua kalinya malam ini. Lelaki itu refleks menginjak pedal rem, membuat laju mobil yang semula cukup kencang mendadak berhenti dan tubuh mereka berdua sedikit terhuyung ke depan.


“Apa?” tanya Segara, berusaha memastikan bahwa dia tidak sedang salah dengar. “Kamu mau apa tadi?” sambungnya seraya menatap lekat sang putri.


“Mikha mau punya Mommy, boleh?”

__ADS_1


Mommy? Oh Tuhan ... cobaan apa lagi ini? Segara merintih di dalam hati. Setelah kematian sang ibu, Mikha nyaris tidak pernah merengek untuk hal-hal seperti ini. Jadi, kenapa putri kecilnya yang manis ini tiba-tiba meminta seorang ibu? Apa yang sudah terjadi di daycare selama seharian ini? Apa kiranya yang telah meracuni pikiran putri kecilnya ini?


“Boleh?” tagih sang bocah.


Segara perlu waktu untuk menenangkan diri dari keterkejutan. Tapi sebanyak apapun dia mengambilnya, kata tidak sama sekali tidak semudah itu untuk dia katakan.


Bagaimana caranya menjelaskan kepada Mikha bahwa seorang ibu tidak bisa diberikan kepadanya begitu saja? Bagaimana caranya membuat anak itu mengerti, bahwa meminta ibu tidak sesederhana meminta dibelikan sepeda atau hal-hal yang lainnya. Bagaimana ... Argghhhh kepala Segara rasanya seakan ingin pecah hanya untuk menemukan alasan yang pas untuk membuat putrinya mengerti.


“Nggak boleh, ya?” suara Mikha terdengar lesu, seirama dengan raut wajahnya yang mendadak berubah sayu.


Dari sekian banyak hal, itu adalah salah satu kelemahan Segara. Dia tidak suka melihat putrinya bersedih, sehingga tiba-tiba saja, secara impulsif, lelaki itu berkata “Boleh.” Seakan dia benar-benar bisa memenuhi keinginan putrinya.


Satu kata itu nyatanya berhasil membuat rona di wajah Mikha kembali. Bocah itu bahkan terlihat begitu girang hingga bergerak heboh di kursinya. Senyumnya lebar sekali, sehingga tampak deretan gigi kecilnya yang masih terbebas dari noda kecokelatan khas bocil-bocil yang gigi susunya nyaris tanggal.


“Beneran boleh?” tanya anak itu lagi.


Segara menghela napas rendah, kemudian mengangguk. “Boleh. Tapi kamu harus jadi anak yang pintar dulu, oke? Baru nanti kita cari Mommy buat kamu.”


“Oke, Daddy! Mikha janji akan jadi anak yang pintar!” seru Mikha seraya mengeluarkan jari kelingkingnya yang kecil mungil.


Segara tak kuasa menyambut kelingking itu dengan kelingkingnya yang panjang. Maka, sah sudah perjanjian di antara mereka walau tanpa hitam di atas putih.


“Thank you, Daddy!”


Segara hanya bisa tersenyum tipis, lalu meringis diam-diam karena sekarang, dia harus mencari cara untuk mengingkari janjinya sendiri.

__ADS_1


Lihat nih anak kamu, Ren. Dia minta ibu, katanya. Mau cari di mana aku padahal kamu jelas-jelas udah nggak ada?


Bersambung


__ADS_2