Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
LIMA PULUH SEMBILAN


__ADS_3

Lana dibuat terbengong-bengong selama beberapa saat kala Segara dengan santainya menyodorkan satu box ponsel keluaran terbaru kepadanya. Setelahnya, lelaki itu melenggang pergi tanpa mengatakan apa-apa. Tidak menjelaskan ponsel itu untuk apa, untuk siapa, bahkan tidak juga berkata ia hendak ke mana. Apakah turun untuk ikut sarapan, atau justru bergegas berangkat kerja karena jam sudah menunjukkan pukul 07:15 pagi.


Di luar, matahari bersinar terik sekali. Cahayanya yang menerobos masuk melalui celah ventilasi udara menyorot tepat ke tubuh Lana, membuatnya tampak seperti tokoh utama dalam sebuah drama, di mana adegannya dia sedang dibuat tidak bisa berkata-kata karena ulah tokoh utama yang lainnya.


Ha... Masih pagi, kenapa dia sudah terlihat seperti orang bodoh begini?


Lana menunduk dengan gerak lambat, menatap box ponsel di tangannya masih dengan pertanyaan yang sama; Ini untuk apa? Untuk siapa?


Satu-satunya yang bisa menjawab pertanyaan itu adalah Segara, maka sebelum lelaki itu menghilang entah ke mana, Lana bergegas. Buru-buru dia melangkah, setengah berlari keluar dari dalam kamar Segara, menuruni anak tangga dengan tergesa hingga nyaris jatuh berguling-guling dengan dramatis. Hanya untuk dibuat melenguh kecewa sebab ketika ia tiba di lantai bawah, suara deru mobil menggema memenuhi indra pendengarannya.


Segara sudah pergi. Lelaki itu sudah berangkat ke kantor dengan meninggalkan dirinya masih seperti orang bodoh.


Bahu Lana jatuh terkulai, bagai baru saja ada sesuatu dengan kekuatan super besar yang menyerap energinya hingga habis, tak ada lagi sisa untuk dia gunakan menjalani sisa hari ini.


“Mommy!”


Bahkan untuk menyahuti teriakan riang Mikha yang muncul dari arah dapur sekalipun, Lana tidak sanggup. Ia hanya membalikkan tubuhnya pelan, kemudian menarik paksa ujung-ujung bibirnya kala bocah yang rambutnya kini tengah digerai itu berlarian ke arahnya, tertawa riang dengan si Zero (anjing peliharaan keluarga Segara) berlari mengejar di belakang.


“Help me! Mommy, help me! Ada Zero!” Mikha berseru histeris, disusul gelak tawa yang membahana kala langkah kakinya kalah cepat dengan si pudel kecil berwarna putih yang sudah lebih dulu menerkam kaki kecilnya. “Oh, no! Zero! Don’t bite me!” kalau tidak ada gelegar tawa sesudahnya, tidak akan ada yang tahu kalau dua makhluk kecil yang sama-sama menggemaskan itu hanya sedang bermain-main.


Gelak tawa dan teriakan riang semakin terdengar meriah, sementara Lana masih hanya bisa menjadi penonton sebab energinya yang dibawa pergi belum kunjung kembali juga.

__ADS_1


Sampai kemudian, Mikha yang kepepet karena terus diserang oleh Zero tiba-tiba nemplok ke kakinya, membuat tubuhnya yang lunglai hampir terjengkang ke belakang.


“Helppppp....!!!”


“Zero, stop.” Lana mengatakan itu kepada si anjing, yang ajaibnya, dimengerti dengan baik. Bocah bulu yag semula agresif sekali bermain dengan Mikha itu kini duduk diam, menggerakkan ekornya seraya menatap Lana dengan mata bulatnya yang lucu serta lidah yang menjulur keluar. “Good boy.” Pujinya, sebagai apresiasi karena Zero mendengarkan dengan baik.


“Thank you, Mommy.”


Lana beralih menatap Mikha yang masih bergelendot di kakinya. Ia tersenyum, box ponsel yang telah membuatnya kebingungan setengah mati itu lantas dia letakkan begitu saja di atas lantai kala dia berjongkok untuk meraih tubuh Mikha ke dalam gendongan. “Hmm ... udah wangi. Mau ke mana pagi-pagi udah mandi?” tanya Lana kala hidungnya mengendus aroma bedak dan minyak telon yang menguar dari tubuh Mikha.


“Opa mau ajak Mikha jalan-jalan,” terang Mikha dengan begitu semangatnya.


“Opa? Sama Oma juga?”


“Papa bakal balik ke kantor? Kirain Pak—oh, Segara, kirain Segara bakal terus gantiin Papa.” Ia dan Margaretha lalu berjalan beriringan menuju ruang tengah. Box ponsel sudah dilupakan. Margaretha yang sempat melewatinya pun agaknya tidak menyadari keberadaan benda tersebut.


“Segara mana mau disuruh permanen gantiin Papa. Itu anak kalau bukan karena papanya jatuh sakit, nggak akan mau masuk ke perusahaan. Dari dulu, cita-cita dia itu mau jadi bapak rumah tangga, kerja dari rumah biar bisa sambil ngurusin anak. Entahlah, Mama sendiri nggak ngerti kenapa dia bisa punya pemikiran kayak gitu.” Margaretha bercerita panjang lebar.


Di sela percakapan itu, terkenang kembali oleh Margaretha bagaimana terkejutnya ia kala anak semata wayang yang dia harapkan untuk menjadi penerus di perusahaan malah datang kepadanya dan suaminya, meminta izin untuk menikah hanya beberapa bulan setelah lulus kuliah. Ia tahu putranya telah menjalin hubungan serius dengan kekasihnya, tetapi tidak pernah terpikirkan oleh Margaretha bahwa itu akan menjadi awal dari tercetusnya sebuah ide untuk menikah muda.


Kala itu, di bawah naungan langit senja yang berwarna keemasan, Margaretha terdiam cukup lama sebelum memberikan jawaban disertai helaan napas cukup panjang. Segara itu keras kepala, persis dirinya. Jadi kalaupun ia dan suaminya berkata tidak, anaknya itu tetap akan menikah seperti yang dia inginkan. Daripada meminta izin, ucapan Segara sore itu memang lebih terdengar seperti sebuah pemberitahuan. Mau tidak mau, terima tidak terima, Margaretha dan Damian hanya perlu mendengar dan menelannya saja. Tidak ada bantahan, tidak ada penolakan. Begitulah mereka akhirnya membiarkan putra semata wayang mereka menyandang status sebagai seorang suami dalam beberapa bulan kemudian.

__ADS_1


“Segara sama mendiang istrinya, Karenina, udah pacaran sedari mereka kuliah. Selama menjalin hubungan, ada banyak sekali sikap Segara yang berubah, dalam artian baik, tentu aja. Makanya, sewaktu Segara minta izin untuk menikah, Mama sama Papa nggak punya pilihan selain mengiyakan. Karenina orang baik. Meskipun tumbuh tanpa kasih sayang orang tua, dia tetap mampu tumbuh menjadi manusia. Arkana adalah buktinya. Dia berhasil membesarkan Arkana seorang diri, merangkap peran sebagai ayah dan ibu.”


Lana tidak tahu kenapa Margaretha tiba-tiba saja membuka obrolan tentang Karenina, tapi dia bersyukur karena sejak awal dia memang penasaran pada sosok perempuan yang berhasil meluluhkan hati suaminya itu. Yang Lana yakini hanya sebatas bahwa Karenina adalah orang baik, meski dia tidak bisa secara spesifik mengetahui seberapa baik sisi yang ada di dalam perempuan itu.


Selama beberapa detik kemudian, keadaan kembali senyap. Ketika mereka memutuskan untuk duduk di sofa panjang ruang tengah dan membiarkan Mikha kembali bermain dengan Zero, Lana tahu obrolan mereka akan berlangsung lebih lama, menguak lebih banyak fakta.


“Lana,” Margaretha mengalunkan namanya begitu pelan, terdengar anggun. Lalu ketika telapak tangan wanita itu menyentuh punggung tangannya yang berada di atas pangkuan, Lana seperti dibawa kembali ke satu masa di mana ia masih memiliki ibu. Tatapan yang diberikan oleh ibu mertuanya itu semakin membuatnya hanyut, membuatnya tidak lagi merasa kesepian setelah sekian lama. “Karenina baik. Karenina hebat. Karenina memiliki segala hal yang ingin Segara dapatkan dari sisi seorang manusia. Untuk Segara, ia sempurna.” Di akhir, ada helaan napas pelan yang Lana tidak mengerti apa artinya.


Meski begitu, Lana tetap diam. Ia masih bersedia mendengarkan. Apa pun itu. Sebanyak apa pun fakta soal Karenina yang akan dibeberkan kepadanya. Lana akan menerima dengan senang hati, menyimpannya di dalam kepala sebagai pengingat bahwa; ia sempurna.


“Cinta Segara tumpah ruah untuk Karenina. Saking banyaknya, mungkin dia sendiri berpikir udah nggak ada sisa untuk diberikan kepada orang lain. Tapi, Lana, dengan adanya kamu di sini, itu udah cukup menjadi bukti kalau sebenarnya cinta yang Segara punya itu masih banyak. Dia cuma nggak menyadarinya. Dia cuma menolak percaya kalau hatinya masih muat untuk diisi oleh orang lain, selain Karenina.”


“Mama emang nggak tahu kalian pertama kali ketemu di mana, kapan kalian mulai tertarik satu sama lain, dan apa yang akhirnya membuat Segara memutuskan untuk menikahi kamu. Yang Mama tahu, Segara jadi kelihatan hidup setelah itu. Dia kehilangan separuh nyawanya setelah kematian Karenina, dan semenjak ada kamu, separuh nyawa yang hilang itu pelan-pelan berkumpul lagi. Cuma butuh waktu untuk bikin dia kembali penuh.” Tangan Margaretha yang semula hanya berdiam di atas miliknya mulai bergerak, memberikan usapan-usapan pelan yang menenangkan.


“Kamu pasti bingung, ya, kenapa Mama tiba-tiba ngomong panjang lebar gini?” wanita itu terkekeh setelah bertanya, sementara Lana dengan jujur menganggukkan kepala.


Kekehan itu berakhir dengan terbitnya sebuah senyuman tipis yang tulus. “Jangan berkecil hati.” Ujar wanita itu setelahnya, tidak cukup untuk menjawab pertanyaan yang sebelumnya ia lontarkan sendiri. “Segara mungkin keliatan cinta mati sama Karenina, tapi bukan berarti dia nggak bisa kasih cinta yang sama hebatnya untuk kamu. Ngeliat dia mau menikah lagi aja udah bikin Mama yakin kalau cinta yang dia punya untuk kamu bisa jadi sama—atau bahkan lebih hebat daripada yang sebelumnya.”


Mendengar itu, bibir Lana menipis. Sorot mata Margaretha terlihat berharap, seperti akhirnya lega karena putra yang dia cinta berhasil menemukan kembali semangat hidupnya setelah sekian lama.


Tapi, apa jadinya jika Margaretha tahu yang sebenarnya? Bagaimana jika wanita itu tahu bahwa alasan putranya menikah hanya semata-mata demi Mikha? Agar anak itu tidak lagi merasa kesepian dan merindukan sosok seorang ibu?

__ADS_1


Pagi di mana akhirnya Lana mendapatkan kembali energi yang menguap entah ke mana, ia malah menemukan ada sudut hatinya yang terasa nyeri—entah karena apa.


Bersambung


__ADS_2