Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
TIGA PULUH EMPAT


__ADS_3

Ketukan yang berlabuh beberapa kali di kaca mobil membuat Segara tersadar dari lamunan. Bagai sebuah keajaiban yang datang di tengah keputusasaan seorang insan, ia menemukan Lana di sisi mobilnya, membungkuk demi bisa mengintip kondisinya di dalam mobil.


Perlahan, Segara menurunkan kaca jendela, hingga nampaklah oleh matanya wajah Lana yang terlihat jauh lebih baik ketimbang yang dia temui pagi tadi. Perempuan itu tersenyum, dan Segara baru menyadari ada satu cacat cantik di pipi sebelah kiri ketika sudut-sudut bibir perempuan itu tertarik ke atas—sebuah lesung pipi.


“Pak Segara sudah lama di situ?” tanya Lana, masih dari posisinya yang setengah membungkuk.


Tidak enak melihat perempuan itu seperti sedang memujanya, Segara pun bergerak turun dari mobil. Sekali ia berdeham, sekali bergerak membetulkan dasi yang mengalung di lehernya, lalu dia berdiri tegak di depan sang perempuan. “Sudah sekitar ...” Segara melirik jam di pergelangan tangan kiri. “Lima belas menit, mungkin. Atau lebih? Entahlah,” sambungnya seraya kembali menatap Lana.


“Ada perlu dengan saya? Atau mungkin Bapak perlu bertemu kenalan yang kebetulan juga tinggal di sini?”


“Err—itu....” Segara menggigit bibir bawahnya, tampak ragu untuk menyampaikan niat sebenarnya mengapa ia ada di sini sekarang. Ia merasa, sudah mulai berlebihan ketika selalu melibatkan Lana untuk memenuhi keinginan Mikha. Bukan apa-apa, dia hanya takut perempuan itu merasa tidak nyaman.


Tapi pada akhirnya, Segara mengembuskan napas panjang saat sadar dirinya tidak pandai dalam hal berbohong. Jadi, dia dengan jujur berkata, “Saya ke sini untuk ketemu Miss Lana, atas permintaan Mikha.”


Saat nama Mikha disebut, Segara menemukan senyum Lana terasa lebih lembut. Maka gugur sudah ketakutannya tentang Lana yang mungkin merasa risi karena Mikha. Tampaknya, perempuan itu senang berada di sekitar putrinya.


“Arkana chat saya, dia kasih tahu kalau Mikha mau ketemu sama Miss. Jadi, kalau Miss Lana nggak keberatan dan nggak sedang sibuk juga, boleh saya bawa Miss Lana ke rumah?” tanyanya dengan sopan. Sampai di sini, dia hanya akan bersikap senormalnya seorang ayah yang ingin memenuhi keinginan putrinya yang baru sembuh dari sakit, tidak lebih.


Lana tersenyum lagi, kali ini disusul anggukan pelan sebagai tanda persetujuan. “Kebetulan saya juga mau kasih Mikha beberapa mainan yang baru saya beli di perjalanan pulang dari day care. Tapi mainannya masih ada di dalam apartemen saya, jadi, boleh Bapak tunggu sebentar sementara saya masuk ke dalam untuk mengambilnya?”


Kepala Segara mengangguk tanpa dikomando, seperti sudah disetel otomatis. “Saya tunggu, nggak perlu terburu-buru.” Padahal malam semakin merangkak naik, tapi bisa-bisanya dia berkata seperti itu.


Tidak ada kalimat yang keluar lagi dari mulut Lana. Perempuan itu segera berbalik, setengah berlari memasuki gedung apartemen sementara Segara betulan menunggu di tempatnya. Iya, benar-benar di tempatnya, karena sampai perempuan itu kembali 15 menit kemudian, Segara sama sekali tidak beranjak.


Perjalanan menuju rumah ditempuh dalam atmosfer yang canggung luar biasa. Ini kali pertama Segara membawa seorang perempuan di dalam mobilnya, hanya berdua, tanpa adanya sosok Mikha.

__ADS_1


Di kursi penumpang, Lana tidak banyak melakukan hal. Tatapan perempuan itu tertuju lurus pada jalanan di depan mereka, dengan senyum tipis yang seolah memang tidak akan pudar entah apapun yang terjadi. Sedangkan Segara mulai gelisah, menggenggam kemudi lebih erat saat lagi-lagi bayangan wajah Karenina muncul di pelupuk matanya.


Apa sebenarnya yang hendak perempuan itu sampaikan kepadanya dari kehadirannya yang lebih sering? Demi Tuhan, Segara tidak mengerti.


“Pak Segara sudah makan malam?” tanya Lana tiba-tiba, setelah hening mengungkung mereka cukup lama.


Segara masih setengah melamun ketika pertanyaan itu dilontarkan, jadi yang keluar pertama kali dari bibir lelaki itu adalah hah?! yang berujung membuatnya tampak seperti orang bodoh ketika Lana justru menyunggingkan senyum tipis seraya mengulangi pertanyaannya.


“Oh, belum. Saya datang langsung dari kantor, terjebak macet selama 2 jam dan—“ Segara berhenti ketika dia sadar apa yang dia katakan terlalu berlebihan. Kalau kata anak zaman sekarang, too much information dan itu tidak baik. Sekali lagi, ia berdeham untuk menghilangkan kecanggungan. “Miss Lana mau mampir beli makan malam? Mikha dan Arkana mungkin juga belum makan, kita bisa sekalian belikan untuk mereka.”


“Saya mau masak makan malam, kalau Pak Segara nggak keberatan.”


Oh, wow. Entah kenapa, kata itu yang tiba-tiba saja muncul di kepala Segara. Entahlah, respons macam apa itu, ia sendiri pun tidak mengerti. “Saya nggak tahu apakah masih ada bahan masakah di kulkas saya.”


“Masih ada.” Sahut Lana, kembali membuat Segara terpaksa menolehkan kepala di tengah kegiatannya menyetir. “Tadi pagi, saya dan Pak Arkana mampir ke supermarket untuk mengisi stok bahan makanan.”


“Boleh?”


“Boleh.” Final Segara. Lalu tak ada lagi percakapan di sisa perjalanan mereka yang tinggal beberapa kilometer lagi.


...----------------...


Sudah lama sekali sejak Segara menemukan meja makan di rumahnya disiisi oleh lebih banyak orang. Terkahir kali, mungkin sekitar 7 bulan yang lalu, ketika Mama dan Papa datang berkunjung dan mereka makan malam bersama untuk merayakan ulang tahunnya di sini. Setelahnya, seperti yang sudah-sudah, hanya akan ada 2 kursi yang ditarik keluar. Satu miliknya, satu lagi milik Mikha.


Entah bagaimana Segara harus mendeskripsikan perasaannya saat ini. Yang jelas, dia merasa hatinya menghangat saat menemukan Mikha begitu lahap menerima suapan dari Lana, sedangkan Arkana yang duduk paling dekat dengan mereka pun tampak puas dengan makanan yang dia suapkan ke dalam mulutnya sendiri.

__ADS_1


Segara meletakkan sendok yang semula dia pegang, lalu membawa kedua tangannya ke atas meja untuk dijadikan tumpuan selagi matanya tak lepas dari memperhatikan tiga orang yang sesekali saling melemparkan candaan.


“Mereka bahagia.”


Segara menoleh, mencari dari mana arah sumber suara yang berbisik lembut di telinganya. Rupanya, ia berasal dari sosok Karenina. Tidak seperti yang sebelumnya, malam ini perempuan itu tampil dalam balutan dress berwarna peach, duduk di sebelahnya seraya melakukan hal serupa dengan yang dia lakukan sejak tadi—memandangi tiga orang di seberang mereka.


“Lakukan, Ga. Demi Mikha.” Begitu kata sosok Karenina setelahnya. Saat tatapan mereka bertemu, Segara bersumpah, itu adalah momen di mana dia merasa bahwa sosok itu adalah nyata, bukan sekadar halusinasi seperti yang dia temukan di hari-hari sebelumnya.


“Anak kita bahagia, maka aku pun sama.” Setelah kalimat itu, sosok Karenina perlahan-lahan berubah menjadi transparan, lalu sepenuhnya memudar. Suara lembutnya tak lagi terdengar, menyisakan keriuhan megah yang berasal dari Mikha, di mana gadis kecil itu tengah terbahak-bahak, entah untuk lelucon macam apa.


Setelah kematian Karenina, ia hampir menemukan dirinya tidak memiliki secuil pun kepercayaan atas Mikha kepada orang lain. Tapi malam ini, ketika dia membiarkan Lana meraih tubuh Mikha yang sepertinya sudah selesai makan ke atas pangkuannya, melabuhkan kecupan gemas di puncak kepala gadis kecil itu, Segara merasa bahwa Lana mungkin memang lah orangnya.


Bukan seseorang yang akan dia cintai selanjutnya, bukan pula seseorang yang akan merebut tahta Karenina dan menyingkirkannya dari tempat paling tinggi di hatinya, melainkan seseorang yang akhirnya bisa membuatnya percaya, membuatnya cukup yakin untuk membiarkan perempuan itu memberikan kasih sayang yang layak untuk Mikha.


“Ren, aku izin menjadikan Miss Lana sebagai ibu sambungnya Mikha, boleh?”


“Boleh.”


“Aku janji, nggak akan jatuh cinta.”


“Jatuh cintalah, nggak masalah. Hidup kalian harus berlanjut, dan akupun akan selalu ada di sisi kalian untuk menemani setiap lembar baru yang kalian balikkan dalam buku kehidupan kalian.”


“Kamu nggak cemburu?”


“Nggak sama sekali. Selama dia baik, aku akan merestui.”

__ADS_1


Semua percakapan itu terjadi di dalam benak Segara, seakan Karenina benar-benar sedang menjawabnya. Yang jelas, berkat percakapan itu, Segara memantapkan niatnya. Ia akan membujuk Lana sekali lagi, agar perempuan itu bersedia menjadi ibu sambung untuk Mikha.


Bersambung


__ADS_2