Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
EMPAT PULUH TUJUH


__ADS_3

“Penerbangannya besok subuh, jadi malam ini, Mama bawa Mikha pulang! Oh, ya, sama Arkana juga sekalian! Kamu sama Lana siap-siap aja, packing! Bye Segara!”


Segara hanya bisa melongo kala telepon dimatikan secara sepihak oleh Mama. Ia menatap nanar layar ponselnya, hatinya terasa patah, seperti dia baru saja masuk ke dalam tahap jatuh cinta yang menggebu-gebu, lalu sang pujaan hati memutuskan hubungan begitu saja, tanpa alasan yang jelas.


Untuk pertama kalinya, ia berkeinginan untuk menghilang dari dunia. Kalau tidak bisa menghilang, setidaknya ia ingin cosplay menjadi debu jalanan, yang akan beterbangan ke mana pun angin membawanya pergi.


Hanya sebentar, dia hanya meninggalkan Mikha untuk mandi sebentar karena cuaca begitu terik dan dia merasa kegerahan. Namun saat ia kembali ke ruang tengah, masih dengan kondisi rambut yang setengah basah, anak itu sudah diculik oleh neneknya sendiri. Parahnya lagi, Arkana selaku om malah membantu pelaksanaan penculikan tersebut.


Astaga, Tuhan... Adakah yang akan lebih absurd ketimbang situasi yang ia hadapi sekarang?


“Pak, kertas.” Telapak tangan Lana tersuguh di depan wajahnya, membuatnya terpaksa menoleh. “Kertas yang tadi, udah selesai ditulis, belum?”


Boro-boro ditulis, entah ada di mana kertas itu sekarang. Kepala Segara sekarang penuh dengan ocehan Mama tentang honeymoon dan memiliki bayi. Ah, rasanya seperti akan pecah. “Belum. Saya nggak tahu mau nulis apa.” Jawabnya lesu, lalu ia kembali mengarahkan pandangan ke depan.


Melalui layar televisi di depannya yang kini dalam kondisi padam, Segara bisa melihat refleksi dirinya sendiri. Yang tampak lemah, menyedihkan. Harusnya bukan perkara sulit untuk menolak permintaan Mama, tapi kenyataannya, dia tetap tidak bisa berbuat apa-apa.


“Miss,” panggilnya pelan setelah beberapa saat terdiam. Tatapannya masih terarah ke depan, sementara napasnya sudah sejak kapan menjadi tidak lancar. “Ke atas gih, packing baju buat terbang besok.”


“Loh, kita jadi berangkat?” Lana menggeser duduknya lebih dekat, hanya untuk membuat lelaki di sampingnya menoleh seraya mengembuskan napas panjang. “Pak Segara mau saya coba ngomong sama Bu Margaretha? Siapa tahu aja beliau mau dengar kalau saya yang ngomong.”


“Nggak usah, Miss. Nggak perlu buang-buang waktu.” Sebab Segara tahu, Mama tidak akan berubah pikiran. Kecuali kalau besok kiamat dan mereka harus memikirkan cara untuk selamat, maka mungkin saja Mama akan melupakan obsesinya untuk memiliki cucu lagi. “Semuanya udah disiapin sama mama saya, belinya juga pakai uang yang nggak sedikit, sayang kalau dibiarin hangus gitu aja.”


Delapan detik penuh, Lana terdiam. Lalu, karena dia tahu Segara sudah sangat pusing dengan keinginan ibunya, maka ia tidak ingin menambah beban pikiran lelaki itu.


Melupakan soal kertas peraturan yang seharusnya sudah Segara buat, Lana pamit undur diri. Ia melangkah pendek-pendek menaiki tangga menuju kamarnya.


Di belakang, di sofa tempatnya duduk, Segara kembali mendesah pelan. Lalu tak lama setelah sosok Lana sepenuhnya menghilang dari pandangan, ia turut beranjak.


...****************...


Tak banyak yang Segara siapkan di koper berukuran sedang itu. Hanya beberapa potong kemeja dan kaus santai, celana jeans dan celana bahan, underwear dan beberapa peralatan mandi khusus yang sudah ditata rapi di dalam travel kit. Sebelum packing, dia sudah mencari tahu di Korea sedang musim apa sekarang, untuk menghindari terjadinya salah kostum karena dia sama sekali tidak berniat untuk belanja pakaian kalau-kalau yang dia bawa tidak sesuai. Kebetulan, sekarang sedang musim panas, jadi dia bisa membawa pakaian santai sehari-hari, tidak terlalu repot.


Pukul 8 malam, masih terlalu sore untuk pergi tidur, sementara ia juga merasakan perutnya keroncongan. Maka, setelah mendorong kopernya ke pojok kamar dekat lemari pakaian, Segara berjalan keluar dari kamar.

__ADS_1


Pas sekali ketika tubuhnya muncul dari balik pintu, ia menemukan Lana juga baru saja keluar dari kamarnya yang berada di seberang. Mereka lalu bertatapan selama beberapa detik, sebelum akhirnya Lana mengambil inisiatif untuk berjalan mendekat.


“Pak Segara udah selesai packing?” tanya perempuan itu.


“Udah.” Jawab Segara. Ada jeda selama beberapa detik, memberikan ruang bagi keheningan untuk datang walau hanya sejenak. Kemudian, suara yang berasal dari dalam perutnya yang keroncongan membuat Segara ingat pada tujuan awalnya untuk mencari makan. Ia lalu kembali menoleh ke arah Lana. “Miss Lana lapar, nggak?”


“Sedikit.” Lana menjawab seraya menunjukkan gestur seperti sedang mencubit sesuatu. Tidak bermaksud apa-apa, itu hanya sebuah gestur refleks karena dia terbiasa mempraktekkan apa pun yang dia katakan dengan gerakan tangan, masih terbawa kebiasannya ketika berbicara dengan anak-anak di day care.


“Mau cari makan di luar, nggak? Saya ada langganan nasi goreng gila di kompleks depan. Paling 10 menit lah dari sini.” Segara menawarkan.


Berhubung Lana juga belum memasukkan makanan apa pun ke dalam mulutnya sejak tadi siang, ia pun mengangguk setuju. “Sebentar, saya ambil dompet dulu.”


“No.” Segara mencegah sebelum tangan Lana berhasil menyentuh kenop pintu. “Saya udah bawa.” Sambungnya, seraya menepuk-nepuk saku celana pendek yang dia kenakan.


“Oh, okay.” Sahut Lana, lalu ia membuntuti Segara yang berjalan lebih dulu menuruni tangga.


Sampai di garasi, Segara berjalan mendekati motor beat warna putih yang parkir di area paling pojok. Motor itu sudah lama sekali tidak dia gunakan. Selain karena akhir-akhir ini sering turun hujan, dia juga masih sedikit trauma karena pernah nyungsep di lapangan kosong depan kompleks bersama Arkana. Waktu itu Arkana yang menyetir, dia membonceng di belakang sehingga tidak terlalu tahu bagaimana kronologi sehingga motor yang Arkana kemudikan bisa berakhir nyungsep di sana. Sakit sih tidak, mereka bahkan tidak menderita luka sama sekali. Hanya saja, malunya itu loh!


Masalahnya, kejadiannya sore hari, di hari Sabtu ketika para penghuni kompleks sedang berjalan-jalan di luar untuk sekadar menghirup udara segar. Dan yeah, dari sekian banyak orang yang berlalu-lalang sore itu, didominasi oleh ibu-ibu. Tahu sendiri, kan, bagaimana ibu-ibu kalau sudah menjadi saksi mata dari sebuah kejadian? Yang harusnya yang melihat secara langsung hanya beberapa orang, kabar itu akhirnya menyebar ke seluruh area kompleks sehingga terkenal sudah lah ia dan Arkana sebagai sepasang kakak adik yang nyungsep di lapangan kosong.


“Kita naik motor?”


Segara menoleh sebentar, lalu mengangguk. “Dekat, kok. Ribet kalau pakai mobil.” Sambil ia menuntun motor itu keluar dari garasi.


“Kalau dekat, kita jalan kaki aja, Pak.” Usul Lana, tapi Segara tidak setuju. Ia terlalu malas untuk berjalan kaki. Takut tiba-tiba pingsan juga di jalan karena teralu lapar. “Naik motor aja biar cepat.” Finalnya. Tahu-tahu, dia sudah nangkring saja di atas jok motor, padahal dia belum cek juga apakah motornya bisa menyala atau tidak karena sudah terlalu lama tidak digunakan.


Sementara Lana, tidak punya pilihan selain ikut naik ke jok belakang. Harusnya, dia bisa tetap menerapkan jarak dengan punggung Segara karena jok motor matic kan terhitung luas. Tapi gara-gara kaki Segara yang panjang, jarak yang tercipta di antara mereka hanya sedikit. Kalau Segara mengerem dengan sedikit mendadak saja, tubuh mereka akan bertubrukan tanpa Lana diberi kesempatan untuk mengantisipasi.


Tapi, yah, mau bagaimana lagi? Segara sendiri juga tak punya pilihan selain agak memundurkan posisi duduknya. Karena kalau dia nekat maju, yang ada dengkulnya akan mentok.


“Udah?” Segara bertanya setelah menyalakan mesin motor. Untungnya masih bisa distater, tidak perlu repot-repot mengengkol.


Lana menjawab “Sudah.” lalu motor pun dilajukan.

__ADS_1


Malam minggu, ternyata kondisi jalanan cukup ramai. Agak macet juga sehingga Segara sedikit kesulitan untuk menyeberang. Dan yang lebih menyebalkan, ada satu unit motor dengan knalpot brong yang suaranya berisik minta ampun, belum lagi asap yang keluar dan menerpa wajah Segara secara langsung. Begitu saja, dia menyesal karena tidak menggunakan helm.


“Siapa sih yang pertama kali ide buat kini knalpot kayak gitu? Nggak manusiawi.” Gerutunya.


Tak disangka, Lana yang sedari tadi anteng duduk di jok belakang, menyahut. “Itu kalau mereka disuruh menghirup asap dari knalpot mereka sendiri juga pasti nggak mau.”


Segara mengangguk setuju. Manusia memang kadang suka begitu. Suka seenaknya saja, tetapi tidak ingin mendapatkan perlakuan yang sama seperti bagaimana menyebalkannya mereka memperlakukan orang lain. Tamak. Egois. Apa lagi? Entah. Kadang-kadang, Segara berpikir alangkah lebih baik jika dirinya terlahir sebagai babi.


Setelah melewati drama hanya untuk sebuah perjalanan yang sejatinya hanya memerlukan waktu 10 menit, Segara akhirnya bisa bernapas lega kala aroma bumbu yang beterbangan bersama udara malam menyentuh indra penciumannya.


Motor dia parkirkan di area yang sudah disediakan, lalu dia menggiring Lana berjalan menuju tenda yang tersedia di belakang gerobak nasi goreng.


“Mau dua, ya, Pak. Satu pedas banget, satu lagi—“ Segara melemparkan sisa orderannya kepada Lana yang berdiri di sisi kiri tubuhnya.


Peka, perempuan itu langsung menyahut. “Yang satu sedang aja. Makasih, Pak.”


Bapak penjual nasi goreng mengangguk, mempersilakan mereka duduk di kursi yang masih kosong.


Segara mengitarkan pandangan, memindai spot mana yang lebih oke untuk diduduki. Total ada 6 kursi kosong. Dua berada dekat dengan gerobak nasi goreng, langsung dia eliminasi karena asap panas dari penggorengan hanya akan membuatnya cepat berkeringat. Dua kursi lagi ada di tengah-tengah, diapit sekumpulan mas-mas berseragam PT yang Segara sendiri juga tidak tahu itu PT apa. Jelas, tidak akan dia ambil spot itu karena khawatir Lana akan merasa tidak nyaman.


Akhirnya, dia memilih spot yang paling akhir dia temukan. Dua kursi kosong yang letaknya paling jauh dari gerobak, di pojok, di mana dia bisa sekalian mengintip area danau buatan yang terletak beberapa puluh meter dari sini.


Tanpa sadar, Segara menarik lengan Lana untuk ikut dengannya menuju ke kursi itu. Ia masih tidak sadar dengan apa yang dia lakukan bahkan sampai mereka berdua duduk berdampingan, menunggu pesanan mereka tiba.


Selain karena pernikahan mereka hanya didasari pada rasa sayang mereka terhadap Mikha, baik Segara maupun Lana juga bukan tipikal orang yang bisa memulai percakapan basa-basi dengan orang yang belum akrab. Jadi selama menunggu, keduanya malah sibuk dengan ponsel masing-masing. Segara sibuk membalas pesan yang Adella kirimkan, menanggapi dengan sabar saat perempuan itu marah-marah karena izin cutinya ternyata sudah disampaikan oleh Papa pagi tadi. Sementara Lana, ia hanya menggulir layar ke kanan dan ke kiri, tidak menemukan sesuatu yang cukup menarik untuk dia tekuri.


Sekitar 10 menit kemudian, pesanan mereka datang. Seperti dikomando, keduanya mengucapakan terima kasih secara bersamaan, mengundang senyum sang bapak penjual nasi goreng. Senyum yang sebenarnya mencurigakan, tapi baik Segara maupun Lana memutuskan untuk tidak ambil pusing. Nasi goreng yang masih mengepulkan asap itu jelas lebih menarik untuk mereka sekarang.


Di tengah-tengah kegiatan makan, Segara tiba-tiba saja bertanya. “Enak?” yang lantas dijawab oleh Lana dengan anggukkan kepala.


Lana pikir, sudah selesai sampai di sana. Namun ternyata ia salah. Usai menyeruput teh panas miliknya, lelaki itu kembali berkata. “Dulu saya sering makan di sini sama mendiang istri saya. Dulu banget sih, sebelum ada Mikha.” Seulas senyum tersungging ketika lelaki itu mengakhiri kalimatnya.


Dengan begitu saja, Lana kemudian dibuat mengerti. Memang sebesar itu rasa cinta Segara terhadap mendiang istrinya. Bahkan hanya dengan mengingat kembali hal-hal yang pernah mereka lakukan di masa lalu saja sudah bisa menghadirkan senyum setulus itu. Lana jadi penasaran, sebaik apa sosok perempuan bernama Karenina itu sehingga bisa dicintai sebegitu hebatnya, bahkan sampai tubuhnya sudah menyatu dengan tanah?

__ADS_1


Satu-satunya cinta yang pernah Lana terima dengan besar hanya dari kedua orang tuanya. Untuk urusan asmara, dia memang sudah payah sejak dulu. Maka saat dia diperlihatkan sosok suami yang begitu mencintai mendiang istrinya seperti ini, dia sedikit merasa iri. Bukan sebuah perasaan iri yang buruk. Ia hanya sedikit mempertanyakan, bisakah dia juga memiliki laki-laki yang mencintai sehebat ini suatu hari nanti?


Bersambung


__ADS_2