
Berbicara tentang Korea, salah satu hal yang tidak bisa lepas dari pikiran Lana adalah street food-nya yang enak. Setiap kali pergi berkunjung bersama kedua orang tuanya, Lana akan melipir mengunjungi gerobak-gerobak yang menjajakan berbagai penganan khas negeri gingseng tersebut. Odeng, Tteokbokki, Bungeoppang, Sundae, Twigim dan masih banyak lagi. Semuanya akan dia beli, dia borong untuk kemudian dia makan di sepanjang perjalanan kembali ke hotel atau ke lokasi yang hendak mereka sambangi selanjutnya.
Berhubung dia juga cukup lapar karena setelah tiba di hotel belum makan apa-apa, maka Lana mengayunkan langkahnya lebih jauh, mencari keberadaan kedai street food yang biasanya tersebar di banyak tempat. Tidak sulit untuk menemukannya, hampir di setiap titik pun ada.
Pilihannya akhirnya jatuh pada kedai yang pertama kali dia lihat, dijaga oleh seorang wanita paruh baya berambut pendek sebahu. Kedai itu tidak terlalu ramai, mungkin karena masih sore.
Lana mengorder Odeng, Tteokbokki dan Twigim masing-masing satu porsi dengan kuah pedas. Sesungguhnya, lebih enak kalau dia bisa sekalian memakan pesanannya di kedai itu. Karena jika dia hendak menambah pesanan, itu akan lebih mudah. Tapi berhubung dia masih ingin keluyuran lebih jauh, Lana akhirnya mengorder semua itu untuk bisa dimakan sembari jalan-jalan.
Pesanannya selesai dalam waktu singkat karena semuanya memang sudah dalam keadaan matang, tinggal menuangkannya saja ke dalam wadah, melumurinya dengan saus pedas dan selesai. Lana menerima pesanannya lalu membayar, melebihkan uang yang dia berikan hingga menimbulkan senyum sumringah di wajah sang pemilik kedai.
Asap mengepul dari bungkus makanan yang dia bawa. Semilir angin mulai berembus, sedikit mengobati perasaan gersang akibat teriknya sinar matahari yang bertahta sejak siang. Posisi sang surya kini sudah ada di barat, tak berapa lama lagi akan tenggelam.
Sembari berjalan menikmati pemandangan gedung tinggi di sekitar, Lana mulai memakan jajanannya. Panas yang menyengat lidahnya saat satu potong Tteokbokki masuk ke dalam mulut tidak berpengaruh banyak, karena memang di situ letak nikmatnya makan jajanan berbahan dasar tepung beras tersebut. Kalau sudah dingin, teksturnya akan berubah keras dan susah untuk dikunyah, jadi memang harus dimakan selagi panas.
Potongan demi potongan masuk ke dalam mulut, pedas mulai menjalar memenuhi rongga di dalam sana, membuat Lana tersadar bahwa dia baru saja melakukan kesalahan.
Air minum. Ia lupa tidak membelinya.
Celingukan ia mencari keberadaan vending machine agar dia bisa membeli minuman. Di Korea, vending machine juga merupakan hal yang umum. Maka, tidak butuh waktu lama untuk Lana menemukan satu.
Di depan vending machine itu, Lana berdiri cukup lama. Dia sedang menimbang minuman apa yang harus dia beli dari sana. Kebetulan, tidak ada air mineral di dalam daftarnya. Hanya ada soft drink dan berbagai merek kopi. Dua-duanya tidak terlalu Lana sukai, tetapi pada akhirnya dia menjatuhkan pilihan pada soft drink karena dirasa lebih aman untuk lambungnya yang baru saja digempur makanan pedas.
Satu kaleng soft drink menggelinding dari dalam vending machine setelah Lana melakukan transaksi. Ia lantas meraih kaleng tersebut, membukanya dengan mudah karena dia memang bukan tipikal menye-menye yang membuka kaleng minuman saja tidak bisa. Yaa, tidak tahu kalau nanti dia sudah bertemu dengan laki-laki yang love languange-nya act of service garis keras. Mungkin saat itu, dia akan mulai berakting menjadi gadis lemah lembut.
Segar menginvasi seluruh bagian lidahnya dengan cepat setelah cairan dari dalam kaleng soft drink masuk ke dalam mulutnya, mengusir rasa pedas yang sudah menari-nari di sana sejak tadi. Seperti seseorang yang telah lama kehausan, Lana menghabiskan soft drink itu dalam sekali minum.
Kaleng kosong dia lemparkan ke dalam tong sampah, lalu memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya dengan sisa jajanan yang masih hangat di tangannya.
Semakin lama, langkah kaki membawanya semakin jauh dari hotel. Dia tidak takut tersesat, tapi kemudian teringat pada pesan Segara untuk tidak pergi terlalu jauh.
Maka, sebelum langkahnya semakin jauh lagi, Lana segera putar balik. Jajanan yang tersisa dia makan dengan sedikit tergesa-gesa, membuatnya beberapa kali nyaris tersedak.
Saat tengah asyik mengunyah potongan terakhir Twigim yang dia miliki, Lana malah salah fokus pada keberadaan bakery di seberang jalan. Bangunannya yang didominasi kaca dan kayu berwarna cokelat tua serta dihiasi lampu-lampu berwarna kemuning yang sudah menyala meskipun hari masih terang membuat Lana tertarik. Seakan terhipnotis, dia berjalan menyeberangi jalan, menyambangi bakery itu setelah memastikan makanan di dalam mulutnya habis.
Uang yang diberikan oleh Segara masih tersisa 150 ribu won, seharusnya masih bisa dia pakai untuk membeli beberapa kue dari sana, untuk dia nikmati nanti di dalam kamar hotel.
__ADS_1
Kedatangannya disambut senyum cerah oleh sang pemilik bakery yang merupakan seorang perempuan kisaran usia 30-an. Kepadanya, perempuan itu menunjukkan beberapa menu rekomendasi. Menjelaskan secara rinci apa-apa saja yang ada di dalam kue-kue yang terpajang di dalam etalase itu dan membantu Lana menemukan kue mana yang hendak dia beli.
Meskipun sempat mendapatkan kesulitan untuk menentukan mana saja yang ingin dia beli, Lana akhirnya memutuskan untuk membungkus 2 potong croissant, 2 potong puff dan 3 slice cheesecake. Kenapa cheescake-nya dibeli 3? Karena dia suka. Sesimpel itu.
Semua pesanan yang dia sebutkan dibungkus dengan rapi oleh sang pemilik bakery. Karena Lana merupakan turis yang belum tentu akan datang lagi dalam waktu dekat, perempuan berambut hitam lurus sepunggung itu juga memberikan esktra, sepotong aple pie yang baru keluar dari dala oven.
Sudah puas berbelanja, Lana pun melenggang pergi meninggalkan bakery, menenteng kotak berisi semua pesanannya dengan hati yang riang. Langkahnya terayun ringan, malah cenderung seperti melompat-lompat kecil saking girangnya.
Matahari masih menyisakan sedikit sinarnya ketika Lana tiba kembali di hotel. Masih dengan perasaan senang, ia berjalan memasuki lift, bersenandung riang selama dalam perjalanan naik mumpung lift juga dalam keadaan sepi, hanya ada dia seorang di sana.
Ting!
Pintu lift terbuka lebar, selebar senyum yang kini tersungging menghiasi wajah cantik Lana. Ia pun melangkah keluar, berderap menuju kamarnya yang terletak sedikit di bagian ujung lorong.
Tapi kemudian, senyumnya pudar saat dia ingat, ketika pergi tadi dia tidak membawa serta kunci akses. Maka dengan berat hati, dia terpaksa mengeluarkan ponselnya, menelepon Segara untuk minta dibukakan pintu.
“Halo? Kenapa? Butuh sesuatu? Miss di mana sekarang?”
Rentetan pertanyaan itu tidak Lana duga sama sekali. Lebih mengejutkan lagi karena Segara mengangkat teleponnya bahkan sebelum masuk dering ketiga.
“A—ah... Saya udah di depan, Pak. Minta tolong bukakan pintu, ya, saya lupa nggak bawa kunci aksesnya tadi.” Lana menjelaskan langsung pada intinya.
Tidak ada jawaban dari seberang telepon, namun tidak lama berselang sejak dia mengatupkan kembali bibirnya, pintu di hadapan terbuka. Muncul sosok Segara dengan keadaan rambut setengah basah, aroma sabun menguar memenuhi indra penciuman Lana ketika lelaki itu membuka pintu lebih lebar. Lana menduga, lelaki itu baru selesai mandi.
“Mau berdiri di situ aja? Nggak mau masuk?”
“E—eh, iya, ini mau masuk.” Lana menarik diri dari lamunan, setengah salah tingkah menerobos tubuh tegap Segara dan masuk ke dalam kamar hotel.
Pemandangan kelopak bunga yang sebelumnya sudah hilang, bahkan tak satu pun kelopak yang tersisa di atas seprai berwarna putih itu.
“Saya beresin bunga-bunganya, soalnya nggak nyaman dipakai rebahan kasurnya. Nggak apa-apa, kan?”
Lana menoleh, “Ya nggak apa-apa, Pak. Memang nggak berguna juga, cuma bikin kotor.”
Segara mengangguk setuju. “Nanti malam biar saya aja yang tidur di sofa, Miss Lana tidur aja di kasur.” Ucap lelaki itu.
__ADS_1
Sontak saja, Lana menggelengkan kepala. “Jangan, Pak, saya aja yang tidur di sofa. Pak Segara kan tinggi, susah kalau harus meringkuk di atas sofa. Nggak nyaman juga pasti.”
“Nggak apa-apa.”
“No.” Lana masih menolak keras ide itu. “Saya aja yang tidur di sofa. Titik.” Tidak ada takut-takutnya sama sekali dia, berani memberikan keputusan final di hadapan Segara yang aura dominannya bahkan bisa membuat lawan meleyot tak berdaya.
Hela napas berat yang datang dari Segara menjadi indikasi bahwa lelaki itu keberatan, tetapi tak punya cukup tenaga untuk mendebat lebih jauh. Maka untuk mengalihkan pembicaraan, Lana menyodorkan kotak kue yang dia tenteng sejak tadi.
Segara menunduk menatapi kotak berwarna putih dengan aksen bunga-bunga berwarna merah muda itu, lalu menaikkan pandangan kembali ke arah Lana. “Ini apa?” tanyanya.
“Kue. Saya ada beli croissant, puff sama cheesecake. Saya nggak tahu Bapak suka apa, jadi saya beli yang sekiranya aman aja buat dimakan semua orang hehe.”
“Oh, oke. Jadi ini buat saya?” Segara memastikan.
“Buat kita.” Lagi-lagi diakhiri cengiran.
Kotak kue itu lantas berpindah ke tangan Segara. Gerakan sepihak sih, karena Lana yang memaksa melepaskan genggamannya pada pegangan kotak kue sehingga mau tak mau Segara harus mengambil alih.
“Bapak makan aja dulu, saya mau mandi, udah bau matahari.” Ucapnya sambil mengendus bau tubuhnya sendiri. Benar, memang bau matahari.
Segara hanya menganggukkan kepala, lalu melesatlah Lana masuk ke dalam kamar mandi.
Suara gemericik air yang jatuh dari shower menjadi musik latar yang menemani Segara mengunyah sepotong puff sambil duduk di atas sofa. Tatapannya jatuh pada layar televisi yang padam, lagi-lagi memandangi pantulan dirinya sendiri di sana.
Lalu, setelah sekian lama tidak tandang, wajah Karenina tiba-tiba muncul di sana, menggantikan refleksi dirinya. Perempuan itu masih mengenakan gaun yang sama, agaknya memang tidak akan pernah ganti. Senyumnya terkembang, ketulusannya merambat sampai ke mata, pertanda bahwa senyum itu bukan sekadar pura-pura.
Tidak ada percakapan yang terjadi. Bibir ranum itu tidak bicara apa-apa, hanya terus tersenyum selama berpuluh-puluh detik lamanya.
Biasanya, dia akan merasa sesak saat melihat wajah Karenina. Tapi sore itu, tepat ketika matahari terbenam dan semburat oranye yang semula nampak cantik di atas langit tergantikan dengan warna kelabu berpadu dengan biru tua yang cantik, Segara ikut tersenyum. Dia, untuk pertama kalinya, membalas senyum yang Karenina sunggingkan. Seakan dia sudah mulai sadar bahwa sebanyak apa pun dia merutuk atas apa yang terjadi, bayangan wajah Karenina itu hanya akan menjadi sesuatu yang semu.
Jadi alih-alih merasa sedih, dia akan mencoba untuk menyunggingkan senyum lebih banyak. Siapa tahu saja, dengan ia lebih banyak tersenyum seperti itu, Karenina akan jauh lebih sering bertandang dengan perasaan bahagia, kan?
“I know. Aku juga mau kamu berbahagia, Ren.”
Bersambung
__ADS_1