
Selama beberapa hari kemudian, Segara kembali disibukkan dengan urusan kantor. Satu persatu masalah mulai dia bereskan dari yang paling sepele sampai ke masalah paling krusial. Tentu, dia tidak akan bisa melakukannya sendirian tanpa bantuan beberapa karyawan yang berkaitan langsung dengan permasalahan tersebut.
Beberapa hari itu juga, waktu yang Segara miliki bersama Mikha semakin berkurang. Mau tidak mau, dia harus mulai bisa menaruh lebih banyak kepercayaan pada daycare tempat Mikha dititipkan. Toh, selama beberapa hari anak itu di sana, Mikha terlihat enjoy dan sejauh ini dia juga belum mendapatkan laporan yang aneh-aneh dari Grace.
Sebelumnya, dia memang sudah meminta secara khusus kepada Grace untuk memberinya laporan harian terkait kegiatan Mikha di daycare secara keseluruhan, tanpa ada satu pun yang terlewat.
Melalui informasi yang dia terima dari Grace itu pula Segara tahu bahwa putrinya telah memiliki 3 teman dekat, 2 anak perempuan dan 1 lagi laki-laki. Selain teman, Grace juga mengatakan bahwa Mikha semakin dekat dengan Miss-nya, Lana. Perempuan itu mengatakan Mikha jauh lebih banyak menaruh atensi pada Lana, begitu pula sebaliknya. Kata Grace, itu adalah hal baik, jadi Segara tidak keberatan.
Sore ini, rencananya Segara akan datang menjemput Mikha di daycare sekalian mengajak anak itu pergi jalan-jalan sebelum pulang ke rumah. Ini hari Jumat, jalanan akan cukup macet sehingga dia berencana pergi dari kantor lebih awal.
Namun, baru saja langkahnya sampai di luar pintu ruang kerja, ia terpaksa berhenti kala menemukan Pamela berlari tergopoh-gopoh dari kejauhan. Perempuan itu terlihat panik, kepalanya celingukan memeriksa keadaan sekitar seakan tidak ingin keberadaannya diketahui orang lain.
“Ga!” panggil perempuan itu, dengan suara setengah berbisik.
Belum juga Segara menyahut, apalagi bertanya ada apa gerangan, ia sudah dibuat tersentak saat Pamela tahu-tahu menghambur ke arahnya lalu menarik lengannya. Tubuh bongsornya tertarik, menurut saja saat perempuan itu menyeretnya kembali masuk ke dalam ruang kerja.
“Kenapa, sih, Mel?” tanya Segara bingung. Terlebih lagi saat dia melihat Pamela kembali mengintip ke belakang pintu sebelum akhirnya mengunci pintu ruang kerjanya rapat-rapat. “Mel?”
Pamela membalikkan badan cepat, nyaris membuat tubuh mereka bertubrukan kalau saja Segara tidak dengan sigap memundurkan langkah menciptakan jarak aman.
“Ga,” cicit perempuan itu.
“Iya, apa? Kenapa?” Segara mulai tidak sabaran. “Kenapa lari-lari ke sini? Kerjaan kamu udah beres?”
“Duh, jangan nagih soal kerjaan dulu deh. Mode teman, Ga, mode teman.” Cerocos Pamela. Lalu, perempuan itu kembali menarik lengannya. Namun kali ini, Segara tidak pasrah seperti sebelumnya. Ia menahan tangan Pamela, membuat langkah perempuan itu tak jadi terayun.
__ADS_1
“Tell me.” Titahnya. Alih-alih memenuhi keinginan Pamela untuk mengaktifkan mode teman, Segara malah mengaktifkan mode atasan, membuat segala perintah yang keluar dari bibirnya terdengar tak terbantahkan. “Ada apa, Pamela?”
Pamela merasakan tenggorokannya tiba-tiba saja tercekat. Air liur yang terproduksi lancar di dalam rongga mulutnya seakan membeku hanya dengan tatapan serius yang Segara suguhkan saat ini. Selama beberapa detik, kepalanya terasa kosong dan dia tidak tahu harus memulai dari mana.
Sampai kemudian, terdapat celah di kepalanya yang membuat hal mendesak yang sedari tadi dia bawa untuk disampaikan kepada Segara kembali muncul, dalam sekejap menyita seluruh atensinya.
Pamela menarik napas sekali, menahannya cukup lama di rongga dada sebelum mengembuskannya dengan cara yang dramatis. Kemudian, dia mengeluarkan ponsel dari saku blazer. Untuk beberapa lama, perempuan itu menekuri ponselnya dan seakan tidak menganggap keberadaan Segara yang masih menanti jawaban darinya. Sampai kemudian, benda pipih itu dia sodorkan kepada Segara tanpa berkata apapun.
Segara yang masih tidak mengerti situasinya hanya bisa menatap Pamela kian bingung, tapi tak urung tetap dia ambil ponsel milik perempuan itu lalu mencoba memeriksanya untuk tahu, apa yang sekiranya hendak perempuan itu sampaikan kepadanya dengan begitu susah payah.
Seketika itu juga, Segara merasakan kepala bagian belakang terasa berat. Seakan ada beban berat yang ditumpukan ke pundaknya hingga nyaris membuatnya terjengkang jatuh tak tertolong, kala menemukan sebuah unggahan di laman web khusus karyawan yang berisi foto dirinya dan Pamela sedang berjalan berdua di basement kantor.
Foto itu saja sudah bisa menimbulkan kegaduhan, ditambah lagi narasi ngawur yang datang menyertai foto tersebut.
“Skandal kencan bulan ini?” begitulah narasi itu dibuat.
“Kembali ke ruang kerja kamu. Mulai sekarang, jangan asal naik ke ruangan saya kalau tidak ada kepentingan.” Titahnya seraya mengulurkan kembali ponsel milik Pamela kepada sang empunya.
Untuk pertama kalinya setelah Segara bekerja di perusahaan, Pamela mendengar lelaki itu menyebutkan dengan tegas status mereka sebagai bos dan karyawan. Hal itu jelas membuat Pamela sedikit syok sehingga tidak bisa langsung menyahuti perkataan lelaki itu.
“Astarina Pamela Wijaya, kamu dengar apa yang saya bilang?” Segara kembali berucap dengan nada tegas.
Pamela pun segera bangun dari keterkejutannya, lalu mengangguk patah-patah tanda dia mengerti.
“Kembali ke ruangan kamu.” Titah Segara lagi.
__ADS_1
Sadar bahwa lelaki itu tidak akan menerima penolakan apapun, Pamela pun segera pamit undur diri. Buru-buru dia berlarian menuju pintu, grasak-grusuk membuka pintu itu lalu menyelinap keluar masih dengan kepala yang celingukan waspada.
Di dalam ruangannya selepas kepergian Pamela, Segara berjalan cepat menuju kursi kerjanya. Secepat kilat, dia menyambar telepon, memencet tiga digit nomor lalu menunggu dengan tidak sabar sampai telepon itu tersambung.
“Halo?”
“Cek website khusus karyawan. Saya mau kamu hapus unggahan terbaru yang berisi foto saya, lalu cari tahu siapa yang sudah mengunggahnya. Setelah dapat, segera beri tahu saya.” Titahnya tanpa basa-basi.
“B-baik, Pak.” Sahut karyawan bagian penanggung jawab web resmi perusahaan dengan sedikit terbata-bata. Selama masa kepemimpinannya, memang baru kali ini Segara menelepon dan meminta sesuatu seperti ini. Wajar bila dia merasa gugup.
Setelah tahu perintahnya diterima dengan baik, Segara langsung menutup telepon. Gagang telepon dia kembalikan ke tempat semula dengan gerakan sedikit membanting, efek dari emosi yang sudah meluap-luap memenuhi dadanya.
Berpuluh-puluh detik Segara berdiam diri di posisinya, berusaha meredam emosinya karena dia tetap harus pergi menjemput Mikha. Dia tidak ingin datang kepada anak itu dalam kondisi emosi yang buruk karena hal itu bisa berakibat tidak baik untuk kesehatan mental putrinya.
Tapi, sebanyak itu waktu yang dia ambil untuk menenangkan diri, Segara masih tidak berhasil juga. Akhirnya, mau tak mau, dia terpaksa mengeluarkan ponselnya, lalu menelepon Arkana.
“Tolong jemput Mikha, Ar. Ada problem di kantor, gue harus beresin dulu.” Ucapnya pada adik iparnya itu.
“Oh, oke. Gue jalan sekarang.” Sahut Arkana, sama sekali tidak keberatan.
“Thanks, Ar.”
“No prob.”
Setelah telepon ditutup, suasana kembali hening. Yang ribut hanya tinggal isi di dalam kepala Segara, carut-marut tak keruan mencari jalan keluar paling baik agar tidak merugikan siapa-siapa.
__ADS_1
Bersambung.