Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
ENAM PULUH ENAM


__ADS_3

Wajah Lana sepenuhnya memerah kala netranya bertubrukan dengan milik Segara yang berada di atasnya. Entah bagaimana mulanya, ia tidak terlalu ingat. Yang terakhir kali dia tahu adalah Segara bertanya apakah ia menginginkan ‘jatah’nya atau tidak, dan ia tidak yakin apakah yang dia berikan kepada lelaki itu adalah anggukan atau gelengan kepala.


Yang jelas, ketika kesadarannya mulai kembali, Segara tahu-tahu sudah berada di atasnya, menopang bobot tubuhnya dengan kedua lengan berotot yang mengungkung Lana agar tidak bisa ke mana-mana.


“Your first time?” tanya Segara. Satu tangannya terulur, menyingkirkan helaian rambut Lana yang menyebar menutupi sebagian wajah ayunya.


“Y—yeah.” Lana tergugup. Lagipula, untuk apa Segara bertanya apakah ini adalah yang pertama untuknya atau bukan? Apakah jika ia mengatakan sudah pernah berhubungan sebelumnya, lelaki itu akan merasa kecewa karena ternyata menikahi seorang gadis bukan jaminan bahwa ia akan mendapatkan seorang virgin? “Is that matter?”


“It is.” Tangan Segara bergerak turun, menyentuh belah pipi Lana yang sudah semerah kepiting rebus. “Aku perlu tahu, supaya aku nggak salah dalam memperlakukan kamu.” Lalu sebuah usapan dia buat menggunakan jemari panjangnya yang halus.


“So, it’s not about whether I’m a virgin or not?”


“I don’t fcking care if you’re not. Semua perempuan berharga, nggak ada ceritanya mereka jadi hina cuma karena udah nggak virgin. Cuma manusia-manusia kolot yang mikir kayak gitu.”


“O—oh, okay.” Lana semakin gugup saat jemari Segara semakin bergerak turun, kini menjelajahi leher jenjangnya yang terbuka. Terus turun sampai menyentuh bahunya yang telanjang karena outer baju tidur miliknya sudah teronggok di atas lantai, menyisakan dress dengan tali tipis yang sepertinya bisa langsung robek jika Segara bersikap agak anarkis.


“You can always tell me to stop. Kalau ada gerakan aku yang bikin kamu nggak nyaman, dan kamu nggak mau lanjut, jangan ragu buat kasih tahu aku.”


Lana tidak tahu bahwa itu adalah sebuah awal dari perjalanan panjang mengarungi malam yang penuh bunga-bunga. Sebab sebelum ia sempat menjawab, wajah Segara tahu-tahu sudah semakin dekat dengannya. Kontak mata terjadi selama beberapa detik, sampai kemudian Lana sepenuhnya membeku saat bibir Segara menjamah miliknya, menyapa dengan lembut dan penuh perasaan.


Usianya boleh saja dikatakan dewasa, tapi untuk urusan asmara, apalagi yang melibatkan skinship seperti ini, Lana masih terbilang bocah. Terbukti dari caranya membalas ciuman Segara dengan serabutan. Kebingungan menentukan ritme untuk mengimbangi gerakan Segara yang padahal sudah dibuat sedemikian lambat.


Karena gerakan serabutan ditambah kegugupannya yang semakin besar, Lana jadi lebih mudah kehabisan napas. Untungnya Segara yang sudah lebih berpengalaman dengan cepat paham, selalu menjeda tautan mereka di saat yang tepat sehingga Lana bisa mengambil napas sebelum paru-parunya kosong melompong.


“We can do it slowly. Nggak perlu buru-buru, nggak perlu mikir kalau kamu harus bisa ngimbangin aku.” Segara mengatakan itu sebelum melabuhkan kecupan di dahi Lana, sebuah langkah paling jitu yang nyatanya ampuh untuk menurunkan tingkat kecemasan Lana lebih dari separuh. “We’re going to make love, not just having s*x.”


“What is the difference between making love and having s*x?” di tengah napasnya yang masih coba diatur, Lana menyempatkan bertanya.


Segara tersenyum tipis sebelum menjawab. “Making love means we’re trynna build a bond, but having s*x means nothing. Kita cuma bisa making love sama orang yang kita sayang, but having s*x bisa dilakuin sama siapa aja karena yang terpenting dari having s*x cuma melepaskan hasrat yang ada di dalam diri.”


“S—so, we’re gonna making love? I mean—“


“Yes, to build a bond. Sebagai langkah pertama aku memenuhi kewajiban aku sebagai suami. Yaitu kewajiban untuk ngasih kamu cinta dan kasih sayang yang tulus.”

__ADS_1


Waktu mereka memang banyak, tapi jika dihabiskan untuk terlalu banyak bicara, maka mereka tidak akan sampai pada tujuan akhir yang sesungguhnya. Jadi Segara kembali mengambil langkah mendekat. Yang dia sasar kali ini adalah leher jenjang Lana. Leher seputih salju itu dia beri kecupan-kecupan hangat, membuat sang empunya sekuat tenaga menahan diri untuk tidak meloloskan suara-suara aneh yang hanya akan membuat malu nantinya.


Semakin lama, semakin banyak permukaan kulit Lana yang disambangi oleh bibir tebal Segara. Leher, tulang selangka, bahu, hingga berakhir pada punggung tangannya yang dikecup cukup lama—lebih lama dari bagian-bagian tubuh Lana yang lain.


Titik keringat mulai bermunculan di wajah Lana, hasil dari rasa gugup juga terlalu kerasnya usaha untuk menahan diri dari racauan tidak jelas.


Segara tahu, menahan diri di saat seperti ini sangat menyiksa. Jadi dengan suara yang begitu tenang, ia berbisik persis di sebelah telinga Lana, mengatakan kepada perempuan itu bahwa tidak apa-apa untuk bersuara. Itu sebuah reaksi yang normal, bukan sebuah aib hingga harus ditahan sedemikian rupa.


“Boleh?” meski sudah menjelajah semua permukaan kulit yang terbuka, Segara masih saja meminta izin untuk menurunkan tali dress yang tersampir lemas di bahu Lana.


“Wait,” Lana menahan tangan Segara yang bahkan belum sampai menyentuh tali dress-nya. “Can we turn off the light? Aku malu.”


“Kamu maunya gitu?”


Lana mengangguk. “Boleh?”


“Sure.” Segara tidak keberatan ketika harus menjeda kegiatan mereka untuk mematikan lampu utama. Kini hanya tersisa lampu tidur berwarna kemuning yang sinarnya tidak seberapa. Sebagian cahayanya berpendar dan hanya mampu menerangi bagian wajah Lana, menambahkan kesan intim dan hangat.


Suasanya yang tercipta dari temaram lampu membuat dua insan manusia itu melupakan segala obrolan basa-basi, memutuskan untuk bergerak sedikit lebih cepat agar tidak keduluan datangnya pagi.


Semakin banyak gerakan, semakin banyak keringat yang dihasilkan, semakin kosong pula pikiran mereka.


Malam masih cukup muda, mereka juga tidak sedang diburu apa-apa. Jadi, Lana dan Segara sepakat untuk menjalani ‘malam pertama’ mereka yang terlambat dengan tempo yang sesantai-santainya.


...****************...


Senyum menjengkelkan yang Arkana suguhkan hampir-hampir membuat Segara kehilangan selera makan. Tidak tahu juga kenapa si kunyuk itu bisa mengendus adanya aktivitas ‘panas’ di dalam kamarnya semalam. Padahal menurutnya, tidak ada yang berbeda ketika dia turun ke meja makan untuk menikmati sarapan.


“Beda,” seperti bisa membaca pikiran, Arkana nyeletuk begitu. “Aura lo beda, kayak orang yang habis menang lotre.” Sambung pemuda itu, lalu melirik ke arah Lana yang sibuk menyuapi Mikha di kursi seberang.


Segara berusaha menulikan telinga, pura-pura tidak mendengar apa pun yang Arkana katakan dan hanya terus menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Tapi dasarnya Arkana memang usil, pemuda itu malah beringsut, lalu berbisik persis di telinganya hingga membuatnya melotot sebal.


Kata pemuda itu, “Gue request keponakan cowok, ya, biar bisa gue ajak main game bareng.”

__ADS_1


“Lo kalau ngoceh mulu gue gampar, ya, Ar.” Segara mengancam. Tidak berbisik-bisik lagi, dia mengatakannya dengan suara keras hingga membuat Lana serta Mikha menoleh.


“Daddy kenapa?” tanya Mikha dengan mulut setengah penuh.


“Om Ar tuh, ngoceh terus dari tadi, gangguin Daddy makan.” Adu Segara. Terbalik sekarang, seperti Mikha adalah seorang ibu dan ia adalah bocah empat tahun yang mengadu sedang diganggu teman saat bermain. “Omelin gih,” lanjutnya mengompori.


Tahu ayahnya diganggu, Mikha melotot galak. Karena hanya pura-pura dan terlalu memaksakan diri agar terlihat galak, Mikha malah berakhir ditertawakan oleh Arkana.


“Apa, sih, Mikha? Emang kamu pikir kalau kamu kayak gitu, Om Ar bakal takut? Nope, malah makin gemes, lah.” Lalu sebuah cubitan mendarat di pipi kiri bocah itu.


“Ih! Jangan pegang-pegang pipi Mikha! Tangan Om Ar kotor!”


“Bersih, ya! Enak aja!”


“Kotor!”


“Bersih!”


“Kotor! Tuh, ada upilnya!” Mikha menunjuk telapak tangan Arkana yang terbuka. Tidak ada upil di sana, Mikha hanya mengada-ada.


“Yeu, dasar bocil.” Enggan meneruskan perdebatan, Arkana meraup wajah kecil Mikha menggunakan tangan yang dituduh ada upilnya. “Nggak boleh fitnah, dosa.”


“Mommy! Om Ar, nih!”


“Ar, udah.” Lana menengahi.


Bagai mendengar sebaris mantra paling ajaib, Arkana betulan berhenti menggoda Mikha dan kembali ke posisi duduknya yang tenang. Tidak pakai kata-kata lagi, pemuda itu menggunakan kakinya untuk menyenggol kaki Segara berkali-kali, membuat kakak iparnya itu sekuat tenaga menahan emosi.


“Ar, sumpah, ya.” Segera berbicara dengan suara tertahan. Sepanjang hidup, ini kali pertama Arkana terlihat paling menyebalkan. Ia bahkan sudah tidak tahu lagi harus membuat adik iparnya itu berhenti.


Sementara bagi Arkana, respons sewot dari Segara tak ubahnya bahan bakar yang semakin menunjang semangatnya untuk menggoda. Ahh... Ini menyenangkan. Dia mungkin akan melakukannya seharian, semingguan, sebulanan. Sebanyak apa pun yang dia bisa!


Ini bukan semata-mata karena dia usil dan ingin mencari hiburan untuk dirinya sendiri. Tapi lebih kepada perayaan kecil-kecilan yang dia buat atas suksesnya langkah berani yang Segara telah ambil. Tahun-tahun yang dilewati dengan kesedihan atas kepergian Karenina memang sudah waktunya berakhir. Sudah waktunya Segara mulai mengisi kehidupannya dengan lebih banyak tawa, lebih banyak cinta yang dia beri dan dapatkan dari Lana. Sudah sepatutnya bahagia itu tandang, karena badai yang menerpa Segara memang sudah sedemikian hebatnya kemarin.

__ADS_1


Tanpa diketahui oleh siapa pun, Arkana adalah orang yang paling bersyukur saat ini.


Bersambung


__ADS_2