
Kamar hotel yang dipesan oleh Mama sudah include makan malam romantis, tetapi Lana dan Segara malah memutuskan untuk menggunakan room servis. Dan, tahu apa yang mereka pesan? Ramyeon. Iya, ramyeon alias mi instan! Jauh-jauh pergi ke Korea hanya untuk makan mi isntan, kalau bukan mereka, sepertinya tidak ada lagi pasangan di dunia ini yang mau melakukannya.
Suara mi dan kuah yang diseruput memenuhi kamar hotel yang pencahayaannya temaram. Itu ide Segara. Setelah malam tiba, sepenuhnya meninggalkan senja yang hangat, lelaki itu malah menolak menyalakan lampu utama. Malas, katanya. Sebab saklar untuk lampu utama memang letaknya jauh dari posisi duduk mereka saat ini—di atas kasur.
Yup, king size bed yang sejatinya diperuntukan sebagai tempat beristirahat bagi pasangan yang sedang dimabuk asmara itu malah mereka jadikan meja makan. Sprei berwarna putih yang rentan terkena noda seakan tidak menjadi penghalang, mereka tetap gas saja menyeruput ramyeon dengan khidmat.
“Tadi Miss Lana pergi ke mana aja?” tanya Segara usai menguyup kuah ramyeon yang gurih. Suara ahhh yang panjang keluar setelah kuah ramyeon berhasil lolos melewati tenggorokan.
“Cuma jalan-jalan di sekitaran hotel, jajan street food sambil lihatin gedung-gedung tinggi terus pulangnya mampir ke bakery.” Terang Lana. Ia juga turut menguyup kuah ramyeon miliknya, sampai benar-benar kering tak bersisa. “Seru tahu, Pak.” Imbuhnya seraya membereskan cup ramyeon yang telah kosong lalu melemparkannya ke tempat sampah.
“Ngeliatin gedung-gedung tinggi doang, seru?” Segara terlihat keheranan. Apa yang menarik dari gedung-gedung tinggi itu, padahal di Jakarta juga ada hal serupa?
“Bukan ngeliatin gedung-gedungnya yang seru,” Lana menjeda sebentar untuk menenggak air minum. “Tapi pas jajan street food-nya itu loh.”
“Emangnya enak?”
Lana manggut-manggut. “Enak. Di Jakarta juga udah banyak yang jual sih, tapi tetap beda lah dari segi rasa dan tekstur makannya.”
Tidak tahu. Segara tidak pernah mencoba jajanan Korea atau jajanan apa pun yang sedang hit di kalangan anak muda. Dia menghabiskan waktunya hanya untuk mengurus Mikha, jadi boleh dibilang dia juga sedikit ketinggalan untuk beberapa tren yang sedang berkembang.
“Besok, kalau Pak Segara nggak ada rencana mau ke mana-mana, gimana kalau kita berburu street food?” usul Lana antusias.
“Tadi kan udah, emang nggak bosan?”
“Nggak. Soalnya enak banget. BANGET.”
Segara kelepasan, dia terkekeh menanggapi keantusiasan Lana yang boleh diacungi jempol.
“Ih, malah ketawa! Mau, nggak?”
“Boleh.”
“Beneran?”
Segara mengangguk. Ia tersenyum simpul. Hilang sudah raut wajah datarnya yang dia suguhkan setiap hari di depan Lana.
__ADS_1
“Yay!” Lana berseru, mengepalkan tangan di depan dada. Tapi, sedetik kemudian, ia berhenti tersenyum. “Tapi, uangnya masih banyak?”
Melihat raut wajah Lana yang polos saat menanyakan hal itu nyatanya tetap membuat Segara tergelitik. Bukan sekadar terkekeh, kini dia tergelak begitu lepas.
Ditertawai begitu, Lana mencebik. “Kenapa, sih, Pak? Saya nanya serius loh ini. Kita 4 hari kan di sini? Kalau uangnya habis nanti susah loh kita.”
Segara meredakan tawa, menyeka air mata yang merembes di sudut mata kirinya. “Ya jangan banyak-banyak jajannya, biar awet sampai 4 hari.”
“Ngirit?”
“Iya, ngirit.”
“Ih, nggak seru.”
“Daripada kita jadi gembel di negara orang, emangnya mau?”
“Enggak sih.”
“Ya udah, ngirit.”
Malam itu menjadi kali pertama obrolan di antara mereka berlangsung lama. Walaupun apa yang mereka obrolkan jauh sekali dari yang namanya berbobot. Bayangkan saja, mereka bahkan sempat menyinggung soal presiden Korea Utara, Kim Jong Un. Menjulidi apakah lelaki berbadan gempal itu tidak ingin mengganti potongan rambutnya yang sudah jadul.
Memang masih jauh untuk mereka bisa saling menerima satu sama lain, tapi melalui obrolan acak malam itu, mereka berharap hal-hal baik akan datang kemudian.
...****************...
Kesepakatan yang sudah dibuat soal Lana yang akan tidur di sofa akhirnya dilanggar. Tidak ada satu pun di antara mereka yang akhirnya tidur di sana. Keduanya tidur di kasur, menerapkan batas cukup jauh hingga masing-masing dari mereka tidur jauh di pinggiran kasur. Bergerak barbar sedikit saja, mereka akan terjungkal.
Sudah lewat tengah malam, lebih tepatnya sudah pukul 1 dini hari, namun tak satu pun di antara mereka yang bisa tidur. Air conditioner sudah disetel pada suhu paling rendah, tapi anehnya mereka masih saja merasa kepanasan.
Tidak tahan, Segara akhirnya melompat turun dari kasur. Gerakannya yang tiba-tiba membuat Lana yang semula berbaring memunggungi sontak berbalik dengan cepat, takut terjadi sesuatu.
“Kenapa, Pak?” tanya Lana seraya mendudukkan diri di atas kasur.
Segara yang berdiri di sisi ranjang menyahut, “Panas.” Keluhnya, seraya mengibaskan tangan di depan wajahnya.
__ADS_1
Lana melirik ke arah air conditioner, sudah paling mentok, tidak bisa diturunkan lagi suhunya. Pintu akses ke balkon juga disegel, memang merupakan kebijakan hotel untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, sehingga mereka tidak bisa berharap mendapatkan sedikit embusan angin dari sana.
Kalau sudah begitu, mereka harus berbuat apa agar tidak kepanasan?
Lama keduanya terdiam, sama-sama sibuk memikirkan solusi terbaik agar mereka bisa tidur malam ini.
Sampai akhirnya, Segara mendesah pelan. Tidak tahan, tidak ada cara lain lebih baik untuk mengusir rasa gerah itu selain...
“Miss, saya boleh buka baju, nggak?”
Uhuk! Saliva yang berkumpul di dalam rongga mulut Lana seketika nyasar, membuatnya terbatuk-batuk tanpa bisa ditahan.
“H—hah? Apa, Pak?”
“Ini, saya mau buka.” Seraya menarik bagian depan kaus yang dia kenakan. “Gerah, saya nggak betah. Nanti saya tidur di sofa deh, atau saya gelar selimut aja buat saya tidur di atas lantai.”
Duh, piye iki?
“Duh, Miss, saya nggak kuat. Merem aja deh merem, saya mau buka baju.” Tanpa aba-aba, Segara melepaskan kausnya yang sudah basah oleh keringat. Dia lemparkan saja kaus itu asal, yang pada akhirnya mendarat di atas sofa.
Lana, apa kabarnya perempuan itu? Dia syok. Sudah terlambat untuk menutup mata karena perut kotak-kotak milik Segara sudah terlanjur terpampang nyata di depan matanya.
Dan seperti yang lelaki itu katakan sebelumnya, ia betulan menggeret selimut, membentangkannya di atas lantai lalu segera membaringkan tubuhnya di sana.
“Pak,” panggil Lana.
Segara mau tidak mau kembali bangkit, “Apa?”
“Bantal.” Ucap Lana seraya menyodorkan bantal kepada Segara. Ia tidak berani menatap langsung ke arah lelaki itu, jadi dia sedikit mendunduk.
“Oh, terima kasih.” Segara meraih bantal pemberian Lana, menatanya di atas selimut lalu segera kembali membaringkan tubuh.
Nah, begini lebih baik. Tanpa ba-bi-bu, Segara memejankan mata, meletakkan kedua tangannya yang saling bertaut di atas perut yang telanjang.
“Good night, Miss.” Ucapnya, meninggalkan semburat merah yang muncul perlahan-lahan di belah pipi Lana, tanpa ia tahu.
__ADS_1
Bersambung