Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
ENAM PULUH TIGA


__ADS_3

Obrolan larut malam bersama Lana dan berkaleng-kaleng bir beberapa hari yang lalu berhasil membuat pikiran Segara menjadi sedikit lebih terbuka. Kini, dia tidak lagi memfokuskan pikirannya untuk mencari tahu kebenaran di balik kematian Karenina. Maksudnya, ia masih akan mengusahakan yang terbaik untuk mengungkap fakta, hanya saja dia tidak akan melakukannya secara terang-terangan seperti sebelumnya. Ia ingin tahu, sekalian mengetes apakah dengan dia bersikap begitu, di bajingan pengecut yang mengganggu ketenangan hidupnya akan berhenti mengusik orang-orang terdekat atau justru tetap saja bertindak jahat.


Urusan yang mendesak di kantor sudah dia bereskan dengan susah payah, kini dia tinggal memanen hasil kerja kerasnya dengan bersantai di balik meja kerja seraya tetap memantau jalannya proyek melalui laporan yang Adella berikan. Waktu luang yang dia miliki banyak, sehingga ia jadi lebih sering menelepon Lana untuk sekadar menanyakan keadaan Mikha.


Ah, omong-omong soal telepon, Segara punya cerita yang cukup lucu soal ponsel yang dia belikan untuk Lana. Pagi itu kan dia sedang terburu-buru berangkat ke kantor untuk menghadiri pertemuan, sehingga dia hanya asal menyodorkan ponsel yang dia beli kepada Lana tanpa bicara apa-apa. Malamnya pun kondisi menjadi tidak keruan sehingga sampai detik itu pun, ia masih belum bisa mengatakan kepada Lana bahwa ponsel tersebut ia berikan untuk istrinya itu.


Lucunya, Lana masih tidak menyentuh ponselnya sama sekali. Ponsel yang harganya setara satu unit motor matic itu dibiarkan tergeletak di atas nakas kamarnya, serupa pajangan yang memang kehadirannya hanya untuk dilihat saja. Barulah ketika Segara menanyakan mengapa ia belum kunjung bisa menghubungi Lana, perempuan itu mengatakan bahwa ponselnya masih belum selesai diperbaiki dan mereka berakhir tertawa terbahak-bahak karena Segara baru mengatakan jika ponsel yang ia berikan tempo hari adalah untuk menggantikan ponsel Lana yang rusak.


Apa? Tidak lucu? Terserah. Tapi bagi Segara, itu lucu. Lana selalu berhasil membuatnya tergelak untuk hal-hal sederhana seperti itu. Sesuatu yang tidak dia dapatkan dari orang lain sebelumnya.


“Gue mau balik ke rumah, nggak enak udah kelamaan gue tinggalin, takutnya nanti berubah jadi rumah hantu.” Baru masuk, Arkana sudah menyodorkan kalimat panjang itu kepada Segara.


Senyum tipis yang sempat mampir menghiasi wajah Segara seketika luntur saat Arkana semena-mena menyambar es Americano miliknya, menyedot cairan pekat itu kuat-kuat hingga hanya menyisakan es batunya saja.


“Kebiasaan!” Segara memukul pelan tangan Arkana sebagai hukuman atas sifatnya yang celamitan.


“Nggak lo minum juga, elah.” Arkana balik mencebik. Cup es Americano dia letakkan kembali ke atas meja, ia sodorkan ke arah sang empunya. “Tuh, gue balikin.”


“Udah habis! Nggak ada yang bisa diminum!” Segara makin kesal. Entah ya, akhir-akhir ini dia merasa Arkana semakin menyebalkan. Di rumah juga begitu, sering sekali pemuda itu mencari gara-gara, seperti sengaja untuk membuatnya marah agar ia menyuruhnya keluar dari rumah.


Oh! Keluar dari rumah? Atau jangan-jangan, memang itu rencananya?


“Lo tadi ngomong apa?” tanya Segara, menyuarakan kecurigaannya. Awas saja kalau memang terbukti benar.


“Yang mana?” nah, mulai lagi kan.


Segara berdecak sebal, tapi tetap ia perjelas pertanyaannya. “Yang tadi, pas lo baru masuk. Lo mau apa? Pulang ke rumah?”


Arkana membulatkan mulutnya, lalu manggut-manggut. “Iya, gue mau pulang ke rumah. Lagian nggak etis banget gue tinggal di rumah pengantin baru. Bikin kalian jadi nggak bisa—aw!”


Sebuah pukulan mendarat mulus di lengan Arkana. Cukup keras, hingga ketika pemuda itu melepaskan jaketnya nanti, ia mungkin bisa menemukan jejak tangan Segara di lengan kekarnya.


“Kenapa sih demen banget KDRT!”


“Karena mulut lo selalu asal kalau ngomong.”


“Asal gimana, sih? Kan, bener. Lo sama Miss Lana pengantin baru, kan?”


“Poin pengantin barunya bener, tapi—“


“Tapi apa?” Arkana menyela. Muka songongnya seakan menantang. “Apa, hmm?”


Segara mendecih. Malas sudah dia menanggapi ocehan Arkana soal ini. Karena apa? Karena ujung-ujungnya dia akan dibuat kicep dengan berbagai nasihat tentang rumah tangga yang padahal bocah tengik itu pun belum sempat mengalami bagaimana rasanya menikah. Jauh lebih goblok lagi karena Segara tidak bisa memberikan bantahan.


Sebab apa yang Arkana katakan adalah sebuah kebenaran.


Ketika pemuda itu mengatakan kepadanya soal hak nafkah lahir batin yang harus diterima seorang istri, misalnya. Segara tidak bisa membantah sedikit pun karena dia sendiri tahu itu adalah benar. Meski dia sempat berkilah dengan mengatakan bahwa kesepakatan sejak awal dengan Lana memang agar mereka tidak saling berhubungan, ujung-ujungnya dia tetap dibuat terdiam saat Arkana menodongnya dengan pertanyaan, “Emang lo yakin Lana nggak butuh?” yang jelas-jelas tidak bisa dia jawab.


“Kalau lo kayak gini karena takut sama perasaan ‘berkhianat’ yang lo pupuk gede banget di hati sama pikiran lo, mending berhenti. Kakak gue bukan orang jahat, Ga, dia nggak akan men-judge lo berkhianat cuma karena lo menikah lagi dan tidur sama istri sah lo yang baru. Kalau lo selingkuh, baru, itu namanya lo berkhianat. Kalau gitu ceritanya sih, bukan cuma Kak Ren yang bakal murka, tapi gue juga.”


Ada benarnya. Tapi, tidak semudah itu juga untuk bisa dia terima. Masalahnya, dia tidak ingin Lana berpikir bahwa dirinya adalah sosok laki-laki yang tidak bisa dipercaya. Jika tiba-tiba saja dia datang kepada Lana untuk meminta ‘jatah’ setelah dari awal mereka sepakat untuk tidak melakukannya, bukankah Lana akan mulai melihatnya dengan cara yang berbeda? Lebih dari itu, Segara tidak ingin melakukan apa pun yang Lana sendiri juga tidak kehendaki.


“Kalau dia mau, gue akan kasih.” Akhirnya, itu senjata terakhir yang bisa Segara keluarkan sebab kepalanya sudah kadung buntu.


“Ya nggak akan mungkin lah dia minta duluan!” Arkana sewot sendiri. “Selama lo nikah sama Kak Ren, pernah gitu Kak Ren yang nyosor duluan ke lo? Enggak, kan? Karena apa? Ya karena perempuan itu gengsinya gede! Lo kalau mau nunggu sampai Lana yang minta duluan mah yang ada kalian keburu jadi kakek nenek.”

__ADS_1


“Ya gue juga harus mulainya dari mana, anjir?” Segara kelihatan frustrasi. “Masa gue harus dateng ke Miss Lana, terus tiba-tiba minta ‘jatah’? Nggak mungkin, lah! Nanti apa yang bakal dia pikirin soal gue? Lagian, kalau gue beneran minta, dia pasti nggak akan nolak karena nggak enak. Dan gue nggak mau kayak gitu, Ar. Gue nggak mau maksain apa pun.”


Duh, Arkana geregetan sekali. Padahal dia belum pernah menikah, sementara Segara sudah menikah sebanyak dua kali. Tapi kok ya masih goblok saja kelihatannya. Masa iya, dia yang jomblo abadi ini harus memberikan tutorial bagaimana caranya meminta ‘jatah’ kepada istri? Kan, aneh!


“Gila, ya, perkara beginian aja gue juga harus ikutan mikir.” Arkana menggerutu. Dia ini ingin sekali membantu Segara agar bisa cepat melupakan kesedihannya atas kepergian Karenina, tapi kalau Segaranya sendiri tidak tahu harus berbuat apa, bagaimana ia bisa membantu banyak?


“Ya udah sih, biarin aja mengalir. Lagian gue juga bukan manusia gragas yang asal sosor cuma buat menuhin kebutuhan. Lagian nih lo ribet banget deh, mau gue sama Miss Lana tidur bareng atau nggak itu harusnya bukan urusan lo nggak sih? Rahasia dapur orang itu, anjir, jangan ikut campur.” Itu adalah kali pertama Segara akhirnya bisa membuat Arkana terdiam cukup lama. Biasanya, dia yang dibuat kicep oleh adik iparnya itu.


“Serah lo deh, serah.” Arkana menyerah. Bodo amat. Biar Segara mengurus semuanya sendiri. “Yang penting gue mau pulang ke rumah. Terserah deh lo mau ngapain sama Lana di rumah itu, nggak peduli gue.”


“Ya udah.”


“Ya udah!”


...****************...


Gara-gara omongan Arkana, pikiran Segara yang tadinya adem ayem malah kembali runyam. Yang biasanya ketika pulang ke rumah dia akan langsung fokus pada Mikha, sekarang fokusnya malah bercabang menjadi dua. Dia jadi sering memperhatikan Lana, lalu berpikir apakah memang Lana membutuhkan ‘jatah’ yang Arkana sebut-sebut setiap saat.


Tapi kembali lagi, masalahnya hanya satu; bagaimana caranya dia tahu?


“Daddy,”


“Hmm?”


“Malam ini, Mikha mau tidur bertiga lagi. Boleh, nggak?”


Bukannya langsung menjawab, Segara malah melirik Lana yang sedang mengupas buah apel untuk Mikha. “Boleh, nggak, Mommy?” Ew—rasanya aneh sekali saat dia harus menyebut kata ‘mommy’. Tapi Arkana bilang, dia harus mencoba mulai dari hal-hal kecil seperti itu.


Arkana percaya bahwa cinta itu ditumbuhkan, bukan dicari. Maka dengan—sok—bijaksananya, pemuda itu menasihati dirinya untuk mulai menumbuhkan benih-benih cinta itu sendiri. Entahlah, dari mana datangnya pemikiran itu.


“Kok tanya saya? Kan itu kamar Ba—“


Lana tidak tahu mengapa Segara tiba-tiba memintanya begitu, jadi dia hanya diam tak menyahut selama beberapa saat. Dan selama itu pula, ia malah sibuk memaku tatap dengan Segara.


“Ih,” Mikha menyela lagi. “Jadinya boleh atau enggak? Kenapa Momy sama Daddy malah liat-liatan gitu, sih?”


“Tanya Mommy, kalau Mommy mau, berarti boleh. Kalau enggak, ya enggak.” Seakan tidak ingin kebagian tanggung jawab, Segara melemparkan keputusan ke tangan Lana. “Kalau Daddy sih nggak masalah.” Dan kalimat itu dia susulkan dengan suara lebih pelan. Meski tetap saja suaranya itu masih sampai juga ke telinga Lana dan membuat perempuan itu kebingungan.


Mikha cenderung cerewet kalau sedang ingin sesuatu, jadi untuk meminimalkan risiko anak itu berubah menjadi reog, Lana segera mengangguk mengiyakan.


“Yeay!” seperti biasa, jika keinginannya berhasil dituruti, Mikha akan berteriak kegirangan.


“Jangan banyak gerak, nanti kamu jatuh.” Segara memperingatkan Mikha agar tidak bergerak terlalu heboh di atas kursi. “Makan dulu tuh apel kamu, habis itu sikat gigi terus masuk kamar.”


Mikha menurut. Karena semangatnya yang begitu besar untuk bisa tidur bertiga dengan ayah dan ibunya, anak itu memakan apel dengan tergesa, sampai-sampai memasukkan dua potongan apel sekaligus ke dalam mulutnya yang kecil.


“Pelan-pelan aja, Mikha, nanti kamu keselek.”


Kali ini, Mikha tidak mendengarkan. Tetap saja ia melakukan apa yang dia inginkan, membuat Lana pasrah menerima kelakuan anak sambungnya itu seraya menghela napas pelan.


Selagi menunggu Mikha menyelesaikan apelnya, Lana kembali melirik ke arah Segara yang mulai asyik dengan ponselnya. Belakangan ini, lebih tepatnya setelah mereka minum bersama beberapa hari yang lalu, ia memang menyadari kalau sikap Segara mulai berubah. Ibarat es di kutub Utara yang jumlahnya banyak sekali, Lana merasa Segara mulai mencair sedikit demi sedikit. Entah itu pertanda baik atau buruk, yang jelas, Lana merasa perubahan sikap Segara itu cukup merepotkan. Sebab sejak saat di mana Segara mulai mencair, Lana jadi harus ekstra mengatur detak jantungnya agar tidak menggila setiap kali mereka bersama.


...****************...


Tidur bertiga yang Mikha cetuskan akhirnya hanya menjadi wacana. Tahu kenapa? Karena bocah itu tiba-tiba saja mengubah rencananya di tengah jalan. Persis setelah mereka bertiga sudah berbaring di atas ranjang milik Segara yang luas dan bersiap untuk tidur, anak itu tiba-tiba saja melompat turun dari kasur dan mengatakan ingin tidur di dalam kamarnya sendirian.

__ADS_1


Tidak menunggu persetujuan, Mikha langsung saja berlarian tunggang-langgang memasuki kamarnya, mengunci pintu lalu naik ke atas kasur dan membenamkan diri di dalam selimut.


Alhasil, kepergian Mikha meninggalkan bunyi krik krik yang nyaring di kepala Segara dan Lana. Kecanggungan tercipta lebih dahsyat daripada sebelumnya hingga membuat mereka tak bisa berkata apa-apa dan hanya berakhir terdiam selama bermenit-menit dalam posisi rebah bersebelahan.


Suara detak jarum jam kedengaran lebih nyaring malam itu, beradu dengan detak jantung milik mereka yang seakan berpacu dengan waktu. Bahkan hanya begini saja, tidak melakukan apa-apa, tapi kenapa jantung mereka serasa akan meledak dalam waktu dekat?


“Nggak bisa begini,” tiba-tiba saja, Segara bangkit dari posisi rebah, duduk di atas kasur lalu menatap Lana yang beringsut duduk mengikutinya. “I want to ask you a question. Mungkin akan kedengaran nggak sopan, but I need to know the answer sebelum pertanyaan itu bikin kepala saya makin penuh.”


Lana kebingungan karena itu terlalu tiba-tiba, namun dia tetap mempersilakan Segara untuk menyuarakan pertanyaan yang dia maksud.


Sejenak, Segara tampak ragu. Benarkah dia harus menanyakan hal ini kepada Lana, secara terang-terangan? Sopankah?


“Miss, no—better call you Lana from now on,” Segara memulai dari yang paling dasar, menyingkirkan embel-embel ‘miss’ di depan nama Lana agar kedengaran lebih akrab. “Okay, I’ll start. It’s a simple, yet hard question. Lana, do you mind if I touch you?”


“Hah?!” Ini... dalam konteks apa? “Gimana maksudnya, Pa—“


“Segara. Call me by my name from now on, just like what i do.”


“Oke, Segara,” susah payah Lana menyebut nama Segara tanpa awalan ‘pak’ seperti biasa. Untungnya bisa. “Maksudnya gimana, ya? Touch me? Like... what?”


“Like this,” Segara menyentuh pipi Lana menggunakan jari telunjuknya. “Or this.” Lalu beralih menyentuh lengan Lana yang terbuka masih juga menggunakan telunjuk yang sama.


“Y-yeah, I think it’s okay to touch me there.”


“And what about this?” jemari nakal itu beralih naik, tertuju pada belah bibir ranum milik Lana. Tapi, ia tidak benar-benar menyentuhnya, hanya berhenti beberapa mili di depannya. “Boleh juga? Or, can you tell me how far I can touch you?”


“Kenapa ... tiba-tiba nanya begitu?” Lana mulai merasa gugup.


“Supaya saya tahu di mana batasnya dan nggak kurang ajar melewati batas itu.”


“I mean....” Lana menggantungkan ucapannya di udara, beradu dengan angin dingin yang berembus dari air conditioner yang disetel pada suhu paling rendah.


“Forget it,” Segara menarik kembali tangannya, mengibaskannya di depan wajah Lana seraya merutuki dirinya sendiri. Kenapa juga dia harus sejauh ini bertanya kepada Lana sehingga membuat istrinya itu kebingungan? Ini semua gara-gara Arkana dan ocehan omong kosongnya! “Saya cuma habis dengar ocehan aneh dari Arkana, makanya jadi ikutan ngelantur.”


“Ocehan aneh apa?”


“You wanna know?”


Lana mengangguk ragu-ragu. Dia penasaran, seaneh apa memangnya sampai bisa membuat Segara juga ikutan bersikap aneh?


“Well, uhmm ... he's talking about nafkah lahir batin.” Segara mengigit bibir bawahnya sendiri usai bicara, merasa cringe dan geli sendiri jadinya. “Aneh, kan? Lebih aneh lagi karena saya dengerin omongan dia.”


“Pak Arkana—“


“Panggil aja Arkana. Bocah gemblung itu nggak perlu dipanggil dengan sebutan ‘bapak’.” Salah satu kebiasaan Segara ketika gugup adalah selalu memotong ucapan lawan bicaranya. Kalau Lana tahu, perempuan itu mungkin akan tertawa terbahak-bahak.


“Arkana kenapa bisa ngomongin soal itu?”


“Karena otak dia nggak waras? I dunno.” Seraya mengendikkan bahu. “Gara-gara omongan dia, saya jadi ngerasa bersalah aja, takut kalau ternyata kamu ... hah ... nggak usah saya perjelas lah, ya? Lagian saya juga nggak mau kamu jadi mikir yang aneh-aneh. I swear, saya nggak punya pikiran sama sekali untuk minta ‘jatah’ if you don’t really want the same thing cuz having s*x was never be my priority.”


“Well,” Lana menarik selimut untuk menutupi kaki sampai sebatas paha. “Kalau kamu khawatir soal ‘kebutuhan’ saya, better stop. Cuz I’m totally fine. Let’s do that when we both want to.”


“So, uhm ... udah clear, ya?”


Lana terkekeh pelan, lalu kembali mengangguk. “My mom always told me that everything takes time. Kita nggak perlu terburu-buru, kan? Masih banyak waktu.”

__ADS_1


Untuk yang itu, Segara setuju. "Yeah, masih banyak waktu."


Bersambung


__ADS_2