Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
LIMA PULUH ENAM


__ADS_3

“Lah, lo mau langsung berangkat ke kantor, Ga?” Arkana dibuat terheran-heran saat melihat Segara menuruni tangga dengan pakaian rapi seraya menenteng tas kerja.


“Iya.” Segara menyahut singkat. Ia lalu menarik salah satu kursi di meja makan dan duduk di atasnya.


Segelas air putih Arkana sodorkan kepada kakak iparnya itu. “Tapi lo baru balik semalam?”


“Ya mau gimana lagi, si Adella udah cerewet banget nge-chat gue terus. Lo nggak tahu, kan, dia kalau ngomel kayak gimana? Udah kayak petasan banting, nggak diam-diam.” Setelah menjelaskan panjang lebar, Segara menenggak air yang diberikan oleh Arkana. Setelah itu, dia melirik ke arah Mikha yang sedang memainkan makanannya, tampak tidak berselera.


“Kamu kenapa lagi?” tanya Segara pada Mikha yang duduk di seberang. Yang ditanya mengangkat kepala, tapi tak kunjung menjawab, malah beringsut ke arah Lana yang duduk di sebelahnya. Untuk itu, Segara pun turut beralih menatap Lana, meminta penjelasan. “Kenapa lagi, Miss?”


Seraya menarik Mikha untuk naik ke atas pangkuan, Lana menjawab, “Minta adik.” Lalu dia berakhir meringis kala mengingat kembali betapa nelangsanya Mikha saat meminta adik kepadanya sewaktu mereka mandi tadi.


Persoalan adik itu jelas membuat Segara mendesah panjang. Ini gara-gara Mama, ia harus pergi menemui wanita itu untuk meminta pertanggungjawaban. “Daddy kan udah bilang sama kamu, nggak ada adik.”


“Ya kenapa? Kenapa nggak boleh punya adik?” Mikha agak ngegas, air mukanya berubah drastis dan kedua netra anak itu mulai tampak berair. “Kenapa, Daddy?”


“Gue nggak ikut-ikutan.” Celetuk Arkana, lalu berderap pergi karena sejujurnya dia sudah malas sekali untuk menyaksikan keributan kecil ini di pagi hari. Toh yang diributkan hanya itu-itu saja dan dia sudah tahu hasil akhirnya. Si keras kepala Segara tidak akan mengiyakan Mikha, bahkan jika hanya sekadar berpura-pura. Anak itu memang sudah menjadi lebih pintar, percuma kalau dijanjikan tapi tidak bisa benar-benar menepatinya.


Sementara di meja makan, Mikha masih menunggu jawaban yang masuk akal dari ayahnya. Kemarin, sebelum menjemput ayah dan ibunya ke bandara, Mikha sempat mampir ke rumah Leah bersama dengan Arkana. Di sana, Leah bercerita banyak hal, termasuk kabar gembira tentang ibunya yang sedang mengandung dan Leah akan segera memiliki adik dalam waktu dekat. Mikha yang awalnya sudah lupa pada permintaan soal adik jelas merasa tersulut kembali mendengar cerita Leah. Dia juga ingin punya adik. Pikirnya, kalau Leah bisa, kenapa dia tidak?


“Daddy?” anak itu masih terus menagih.


Segara membuang napas keras-keras. Kepalanya sudah pusing sekali menyusun rencana kerja untuk dilaksanakan di kantor nanti, dan permintaan aneh Mikha semakin membuat kepalanya nyaris pecah. “Nanti kira obrolin lagi, Daddy harus berangkat kerja sekarang, udah siang.” Maka dengan begitu saja, Segara melarikan diri.


Tas kerja yang tergeletak di kursi kosong dia sambar, secepat kilat dia pergi meninggalkan meja makan sebelum sempat menyentuh sarapan yang sudah disiapkan oleh Lana setelah mengecup singkat puncak kepala Mikha yang masih cemberut.


Tak dipedulikannya lagi kondisi di belakang. Ia percaya, Lana pasti bisa meng-handle Mikha untuk sekarang. Bukankah memang itu gunanya pernikahan mereka dilaksanakan?


Melewati ruang tengah, dia bertemu dengan Arkana yang sedang gegoleran di atas sofa, seperti pria pengangguran yang kerjaannya jadi beban orang tua. “Ganti baju lo, ke kantor.” Titahnya seraya melemparkan koran harian yang teronggok di atas meja dekat sofa hingga mendarat sempurna di wajah Arkana.


Korban lemparan koran itu jelas mencak-mencak. Arkana praktis menegakkan tubuh, melotot ke arah Segara seraya melempar kasar lembaran koran kembali ke atas meja. “Eh, gue udah ke kantor gantiin lo selama empat hari berturut-turut ya, Segara Adhitama! Nggak ada, ini harinya gue istirahat. Pusing anjir ngerjain kerjaan kantor.” Keluh si pemuda yang kini rambutnya sudah tumbuh hampir menyentuh leher.


“Nggak ada alasan, mandi buruan! Gue tunggu lo di kantor. Sampai jam 10 nggak dateng, gaji lo bulan ini plus bonus-bonusnya nggak akan gue turunin.” Segara mengancam.


“Dih, mana bisa gitu?! Jangan seenak jidatnya sendiri dong!”


Tak peduli, Segara bergegas pergi. Pusing sekali kepalanya, maka alangkah lebih baiknya kalau dia segera keluar dari rumah ini.


“Bajingan!” Arkana mengumpat, mumpung tidak ada Mikha di sekitar. Sungguh, pekerjaan yang harus ditangani Segara begitu banyak dan memusingkan kepala. Hanya empat hari dia membantu di sana, kepalanya sudah serasa akan pecah. Ya bayangkan saja, dia dibayar untuk merakit program keamanan data perusahaan, tapi selama empat hari kemarin, dia disuruh pergi ke banyak pertemuan yang materinya hanya bisa dia pelajari selama semalam. Sudah gila!


Tapi meskipun begitu, Arkana tetap menyeret langkahnya pergi. Kalau dibiarkan mengerjakan semuanya sendiri, kasihan juga si Segara Adhitama itu. Yang ada nanti dia makin uring-uringan dan makin susah juga untuk mendapatkan mood memberikannya keponakan baru.


Hah... Demi Mikha. Demi membuat bocah itu mendapatkan adik, Arkana akan mencoba yang terbaik.


...****************...


Doengggg!

__ADS_1


Segara merasakan kepalanya seperti baru saja ketiban durian runtuh, alias, PUSING SEKALI KAWAN! Bagaimana tidak? Baru saja dia sampai di lobi, Adella sudah menyambutnya dengan raut wajah garang dan rentetan omelan yang siap meluncur melalui bibir tipisnya yang hari ini dipulas menggunakan lipstik merah cetar membahana yang seolah mempresentasikan betapa semangatnya perempuan itu untuk mengomel hari ini.


“Nggak bisa, ya. Lain kali Bapak nggak boleh seenaknya aja ambil cuti dadakan. Tahu, nggak? Gara-gara Bapak ajuin cuti dadakan, saya jadi harus reschedule banyak meeting penting supaya bisa kasih Pak Arkana waktu buat pelajarin berkas-berkasnya. Udah gitu, Pak Arkana mah lemotnya minta ampun, ngeluh mulu! Kalah saya, baru mau ngomong satu kata, dia udah nyerocos 100 kata. Capek, Pak, saya capek.”


Telinga Segara rasanya pengang sekali. Semua kalimat itu Adella ucapkan dalam satu kali tarikan napas, membuat Segara yang hanya mendengarnya pun turut merasa engap.


“Kamu ternyata cerewetnya minta ampun, ya, Del, nyesel saya dulu pernah mikir kalau kamu itu anaknya baik hati, lemah lembut dan tidak sombong.” Setelah sekian lama, akhirnya Segara mampu mengeluarkan unek-unek yang sudah dia pendam sendirian. Memang benar, dulu saat pertama kali bergabung ke perusahaan, dia pikir Adella ini sosok yang mengayomi dan bisa membantu pekerjaannya.


Well, untuk bagian membantu pekerjaan, itu memang benar. Segara berani bertaruh, kesempatan untuk mendapatkan karyawan yang cekatan seperti Adella ini, dia harus mencarinya di antara 1000 lebih orang. Tapi ya, cerewetnya itu loh yang nggak nahan!


Diprotes begitu, Adella mendelik. Sambil manyun, perempuan itu memencet tombol lift menuju lantai di mana ruang kerja Segara berada. “Kalau nggak cerewet, kerjaan nggak akan ada yang beres. Kalau nggak beres, ujung-ujungnya siapa yang kena salah? Saya, Pak. Nanti pasti ada protes, ‘itu gimana sih si Adella nggak bener banget kerjanya. Bukannya bantuin biar kerjaan cepet beres, malah ikutan lelet!’ kalau udah gitu, gimana?”


Ting!


Lift terbuka, mereka berjalan keluar, masih dengan Adella yang sibuk mengomel. “Saya tuh rasanya kayak mau resign aja tahu, Pak. Tapi kalau saya resign pas perusahaan lagi genting, kok kesannya kayak nggak bertanggungjawab.”


“Lah, jangan resign dong. Nanti saya nggak ada yang bantuin.” Segara panik sendiri mendengar penuturan Adella soal resign.


“Ya makanya, Pak Segara juga jangan seenaknya sendiri dong. Kita harus kerja sama biar segala proyek yang lagi kita handle bisa selesai dengan baik. Kalau kerjaan beres kan kita juga yang enak.” Sambil berkata begitu, Adella membukakan pintu ruangan untuk Segara. “Yang kemarin itu pokoknya kali terakhir Pak Segara ambil cuti, ya. Saya nggak mau sampai Pak Segara ambil cuti lagi sampai akhir tahun nanti.” Final Adella, seperti dia lah yang memegang kendali atas semua peraturan di perusahaan ini.


Tapi Segara sama sekali tidak keberatan. Dia manggut-manggut saja menerima keputusan Adella. Lalu omelan perempuan itu berubah senyap setelah mereka mengambil posisi duduk dan sama-sama sudah memegang berkas yang hendak dipelajari masing-masing.


Ini adalah salah satu kelebihan bekerja dengan Adella. Mulutnya memang cerewet sekali, tapi perempuan itu tahu kapan waktunya untuk berhenti. Kalau tidak ada Adella... ah, entahlah bagaimana nasib Segara di perusahaan ini.


...****************...


Tempat pertama yang Arkana tuju jelas adalah ruangan Segara. Berdasarkan jadwal yang Adella berikan kepadanya kemarin, hari ini tidak ada pertemuan dengan klien. Mereka hanya perlu membahas beberapa hal terkait proyek yang terakhir kali masih mangkrak. Si Segara Adhitama itu sudah merencanakan untuk meninjau lokasi, tapi sampai detik ini ada saja insiden yang membuat jadwal kunjungan itu terus mundur.


“Misi, Bang!” masih sempat Arkana ngelawak ketika mengetuk pintu ruangan Segara. Saat pintu dibuka, dua orang di dalamnya serempak menoleh dengan tatapan yang serius.


“Masuk, buruan.” Titah Segara, lalu lelaki itu kembali melanjutkan diskusinya dengan Adella.


Arkana pun berjalan mendekat, mengambil posisi duduk di sebelah Adella setelah menerima beberapa lembar berkas dari perempuan itu.


“Ini masih soal proyek pembangunan apartemen yang itu?” tanyanya, mulai menyisir barisan kalimat yang ada di dalam kertas.


“Iya.” Segara menyahut. Setelah membaca selembar berkas lagi, dia melanjutkan. “Hari ini gue mau turun ke lapangan. Lo temenin gue, biar Adella handle yang di kantor.”


Itu adalah sebuah perintah mutlak yang tidak bisa dibantah, maka Arkana mengangguk pasrah. Turun ke lapangan sepertinya juga tidak buruk-buruk amat, kok. Daripada dia harus terkurung di dalam ruang kerja yang penuh dengan berkas, ughhh, sesak.


Ketiganya lantas tenggelam dalam khidmat, menekuri berkas miliknya masih-masing sambil sesekali melakukan diskusi untuk mencari jalan keluar terbaik.


...****************...


“Emangnya bikin adik bayi itu susah, ya, Mommy?”


Lana yang sedang membantu Bi Surti menyiapkan makan siang lantas berhenti dari kegiatannya. Ia lalu menoleh ke arah Mikha yang kini duduk anteng di lantai, bermain dengan Hechi yang kali ini dipakaikan dress putih dengan renda-renda dan bando berwarna merah muda. Padahal sebelumnya, Mikha sendiri yang mengatakan kalau Hechi itu laki-laki.

__ADS_1


“Ya... susah.” Jawab Lana setelah menimbang selama beberapa saat.


“Sesusah apa, sih, sampai Daddy nggak mau coba?” rasa penasaran itu terpancar jelas dari netra bulat Mikha, membuat Lana akhirnya menyerah pada kegiatannya bersama Bi Surti dan memilih untuk bergabung saja dengan Mikha.


Lana kemudian berjongkok di depan Mikha, merapikan helaian rambut anak itu yang menjuntai menutupi mata. “Susah banget, Mikha. Walaupun udah nyoba terus, tapi kalau Tuhan belum mau kasih, ya nggak akan dapat.” Ucapnya berusaha memberikan pengertian.


“Oh, jadi adik bayi itu Tuhan yang kasih?” tanya Mikha polos. Nasib Hechi yang mulanya dijadikan bahan percobaan dalam permainan fashion ala-ala kini bahkan jauh lebih tragis. Boneka beruang itu ditinggalkan begitu saja, teronggok tak berdaya di atas taburan tepung yang berceceran di lantai. Sebelum bermain dengan beraneka model baju untuk Hechi, Mikha memang lebih dulu main masak-masakan. Yup, dengan tepung asli. Jadilah lantainya masih kotor.


“Iya, adik bayi itu Tuhan yang kasih. Jadi, kalau Mikha emang mau banget punya adik bayi, Mikha rajin-rajin aja deh berdoa sama Tuhan biar dikasih. Tapi ingat, nggak boleh maksa apalagi sampai marah-marah, ya. Pokoknya kalau belum dikasih, ya berdoa aja terus sampai nanti Tuhan mau kasih.” Menurut Lana, itu cara paling aman. Sekalian membiasakan agar Mikha lebih sering berdoa kepada Tuhan. Supaya anaknya jadi hamba yang taat dan dekat dengan sang pencipta juga.


Sejenak, Mikha terdiam. Otaknya yang masih terus berkembang sedang berusaha mencerna setiap kalimat yang ibunya sampaikan. Lalau ketika dia merasa sudah paham, ia pun bangkit dari posisi gelesotan. “Oke, mulai hari ini, Mikha akan rajin berdoa sama Tuhan!” anak itu berseru dengan penuh semangatnya.


Bibir Lana menipis mendengar itu semua. Batinnya juga merasa sedikit berdosa, sebab percuma saja berdoa sampai mulut berbusa kalau tidak pernah ada usaha yang turut dilakukan setelahnya. Tapi mau bagaimana lagi? Hanya itu satu-satunya cara yang terpikirkan olehnya untuk menenangkan Mikha, setidaknya untuk saat ini.


“Ya udah, sekarang kamu lanjut main dulu gih. Tuh, kasihan Hechi kamu tinggalin sendirian gitu.” Lana berkata seraya menunjuk Hechi yang kondisinya sudah mengenaskan.


Mikha turut menoleh, lalu dengan dramanya bocah itu menarik Hechi dari atas lantai, memeluknya erat seraya mengusap-usap bagian kepalanya seolah boneka tak bernyawa itu sedang terluka. “Oh, Haechi, you okay? I’m so sorry. Forgive me, pleaseee.”


Lana terkekeh geli melihat akting Mikha yang patut diacungi jempol. Gemas sekali, pasti mirip mendiang ibunya. Nggak mungkin mirip ayahnya karena... Ya sudah tidak perlu dijelaskan lagi kan seperti apa manusia bernama Segara Adhitama itu?


“Baju kamu kotor tuh karena meluk Hechi yang berlumuran tepung.”


Bukannya panik, Mikha cuma cengengesan. “Hehehe nanti aja ya Mommy ganti bajunya, nanti kalau udah mau tidur siang.” Ucapnya memberikan penawaran.


“Nggak ah, nanti kalau Daddy video call pas jam makan siang, terus lihat kamu cemong begitu nanti yang ada Mommy kena omel. Ayo, ganti baju dulu kita.” Lana menggandeng tangan Mikha, mengajak anak itu untuk bangkit bersamanya.


“Ishh ... Daddy suka galak ya kalau sama Mommy?”


“Dikit.”


“Tenang, Mommy, nanti biar Mikha yang omelin Daddy supaya nggak galak lagi sama Mommy.”


Begitu saja, Lana kembali tergelak. “Emang Mikha nggak takut Daddy marah balik sama Mikha?”


“Enggak dong. Kalau Mikha nggak nakal, Daddy nggak akan marah kok.”


“Iya?”


“Iya! Pokoknya Mommy tenang aja, Mikha akan belain Mommy terus!”


Dan gelak tawa itu membahana memenuhi seluruh sudut rumah yang semula sepi. Rumah yang sudah bertahun-tahun lamanya dirundung pilu dan tidak ada keceriaan sama sekali.


Bi Surti, sebagai salah seorang saksi yang melihat bagaimana perubahan suasana di rumah ini diam-diam mengulum senyum. Kehadiran Lana adalah anugerah, ia bersyukur perempuan itu dibawa masuk ke dalam rumah ini sehingga kelabu yang semula tampak bertahta kukuh di atas atap, kini perlahan mulai menyingkir sebab Lana berhasil membawa serta warna-warna pelangi seiring dengan kedatangannya ke sini.


“Bu, rumah jadi adem lagi berkat ada Bu Lana. Jadi sekarang, Bu Karen nggak usah khawatir lagi, ya. Semuanya akan baik-baik aja.” Bisik Bi Surti pada sosok Karenina yang entah di mana keberadaannya sekarang.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2