
Sudah tahu umur tidak lagi muda, kondisi badan juga tidak oke-oke amat, malah memutuskan untuk tidur di atas lantai yang dingin dan keras hanya dengan beralaskan selimut yang tidak seberapa besar. Alhasil, ketika bangun, Segara merasakan sekujur tubuhnya terasa ngilu dan pegal.
Seraya meregangkan otot-ototnya yang kaku, Segara juga mengerjapkan matanya berkali-kali untuk menuntaskan kantuk yang masih tersisa. Setelah berhasil tersadar sepenuhnya, Segara menoleh, lalu menemukan ranjang di sebelahnya sudah kosong. Dari arah kamar mandi, terdengar suara kucuran air dari shower yang lantas membuat Segara berasumsi bahwa Lana sedang berada di dalam sana.
Tidak ada jam dinging ataupun jam meja digital di kamar hotel ini, maka untuk mencari tahu sudah jam berapa sekarang, Segara bergerak mencari keberadaan ponselnya. Di bawah bantal, di bawah selimut, di atas nakas, bahkan di atas kasur yang kosong. Segara mencari benda pipih itu di mana-mana, namun tak kunjung ketemu juga.
Tidak mungkin hilang. Ia pasti hanya lupa menaruhnya di suatu tempat. Mungkin tertinggal di sofa? Maka Segara berjalan menuju sofa, mengintip sampai ke sela-sela dan kolong untuk memastikan apakah ponselnya ada di sana atau tidak. Tapi lagi-lagi, dia tidak mendapatkan apa pun. Ponselnya tidak ada di sana. Tidak ada di mana pun. Seakan raib, entah ke mana.
Sudah hampir menyerah, ia berpikir untuk menunggu Lana keluar dari kamar mandi supaya bisa dia mintai tolong untuk menelpon nomornya. Ia yakin ponselnya tidak dalam mode hening, jadi seharusnya itu cukup membantu.
Namun, baru saja dia mendudukkan bokongnya di sofa untuk melaksanakan rencana, telinganya mendengar sayup-sayup dering ponsel yang arahnya entah dari mana.
Dengan kemampuan seadanya, Segara berusaha menajamkan pendengaran untuk mencari tahu dari arah mana dering itu berasal. Sampai-sampai, ia pun memejamkan mata demi menambah konsentrasi.
Dapat!
Sumbernya dari arah tempat di mana dia tidur tadi. Dengan begitu saja, Segara bangkit. Ia berjalan kembali menuju posisi di mana dia menggelar selimut tadi malam. Selimut yang dia gunakan untuk alas tidur sudah dia kembalikan ke atas kasur, jadi ponselnya jelas tidak tersembunyi di bawahnya.
Semakin lama, suara dering ponselnya kedengaran semakin jelas, tetapi Segara masih tidak tahu di mana lokasi teronggoknya benda itu.
Tak habis akal, Segara berinisiatif berjongkok, lalu merundukkan tubuh untuk bisa mengintip di area bawah tempat tidur.
Dan, benar saja. Benda pipih itu ada di sana. Layarnya menyala terang, dering masih terus terdengar.
Segara menjulurkan tangan, berusaha menggapai ponsel yang entah bagaimana bisa berada cukup jauh di kolong ranjang.
Untungnya, ia memiliki tangan yang cukup panjang sehingga ponselnya itu masih bisa dijangkau. Saat hendak kembali ke posisi duduk, Segara tidak hati-hati sehingga membuat kepalanya terkantuk bagian bawah ranjang, menimbulkan suara benturan cukup keras dan pening yang lumayan di kepalanya.
Ia meringis, memegangi kepala bagian belakang yang terkantuk. Sambil berusaha meredakan pusing, Segara menggeser log ke kanan, tanpa sempat melihat siapa yang tengah meneleponnya. Yang penting, dia angkat dulu. Begitu pikirnya.
“Ha—“
“Daddy!” suara cempreng Mikha menyapa dari seberang. Kedengaran riang, tidak seperti bocah yang sedang ditinggal pergi jauh oleh ayahnya.
“Oh, hai, Baby.” Segara balik menyapa. Pusingnya seketika hilang setelah dia mendengar suara Mikha. Mungkin memang benar, tidak semua obat itu berbentuk pil. Untuk segara, itu bisa jadi hanya sesederhana mendengar suara Mikha.
“Daddy, kok gelap? Mikha mau lihat muka Daddy!”
Hah? Apa maksudnya? Oh!
Segara lantas menjauhkan ponsel dari telinga, lalu nampaklah olehnya sosok Mikha yang sedang duduk berdampingan dengan Arkana di sofa ruang tengah. Ah... Mereka sudah kembali ke rumah rupanya.
Tapi, ada yang aneh. Setelah ia menunjukkan wajahnya kepada Mikha dan Arkana, keduanya malah menampakkan raut wajah aneh yang sepenuhnya berbeda. Mikha tampak kebingungan, sementara Arkana malah senyum-senyum sendiri seperti orang sinting.
“Kenapa?” tanya Segara heran.
__ADS_1
“Daddy kenapa nggak pakai baju?”
Hah?!
Refleks, Segara memandangi tubuhnya sendiri. Ah, rupanya dia lupa belum mengenakan kembali kausnya. “Oh... itu, tadi malam di sini panas, jadinya Daddy nggak pakai baju.” Ia menjawab jujur, bukan? Tetapi agaknya jawaban itu tidak terdengar meyakinkan untuk Arkana karena lelaki itu malah semakin melebarkan senyumnya.
Sementara Mikha, anak itu hanya ber-ooh panjang seraya menganggukkan kepala.
“Daddy,”
“Apa, Nak?” Segera bergerak mengambil kaus yang teronggok di atas sofa. Untuk bisa mengenakannya tanpa menginterupsi panggilan video, dia meletakkan ponselnya di atas meja, menggunakan botol air minum sebagai sandaran sehingga ia tetap bisa menunjukkan dirinya di depan Mikha selagi memakai baju.
Tapi sayangnya, keputusan itu sepertinya salah. Sebab tidak lama setelah kaus berhasil dia kenakan, Arkana semakin menatap curiga kepadanya. Saat Segara mencari tahu apa gerangan yang membuat pemuda itu semakin menjadi-jadi, ia hanya bisa menghela napas rendah karena ternyata Lana barusan keluar dari dalam kamar mandi dengan kondisi kepala yang dibalut oleh handuk.
Segara paham sekali apa yang ada di kepala Arkana saat ini. Pemuda itu pasti sedang berpikir yang macam-macam tentang dirinya dan Lana. Hah... Dasar menyebalkan.
“Nggak kayak yang lo pikir.” Cegahnya, sebelum Arkana menyuarakan apa yang ada di kepalanya.
“Loh, emangnya gue mikir apaan? Perasaan dari tadi gue diam aja, deh.” Arkana berkilah.
Segara memutar bola mata malas. Ada saja alasannya bocah tengik satu itu. Menyebalkan. Super duper menyebalkan.
“Mikha, ya, Pak?”
Segara menoleh ke arah Lana, terdiam sebentar lalu mengangguk. Tanpa diminta, ia segera meraih ponselnya, menyodorkan benda pipih itu kepada Lana agar perempuan itu bisa bertatap muka dengan Mikha.
“Mommy,”
“Ya?”
“Adik kecilnya udah ada belum?”
Doeng! Lana sontak menoleh ke arah Segara, persis ketika lelaki itu pun melalukan hal yang sama.
“Nggak ada adik bayi, Mikha, nggak usah dengerin Oma.” Segara menyela karena sepertinya Lana kesulitan untuk menjawab pertanyaan nyeleneh dari Mikha.
“Ih, Daddy nggak asik!”
Segara mengembuskan napas pelan. Makin lama, kelakuan Mikha jadi makin ada-ada saja. Inilah kenapa dia tidak suka membiarkan putrinya itu bergaul dengan om dan omanya terlalu banyak. Mereka aneh!
“Anak gue rusak gara-gara lo.” Protesnya pada Arkana.
Yang dituduh merusak tidak terima, langsung mendelik. “Enak aja! Gue nggak ada ajarin apa-apa, ya! Emang anaknya yang mau punya adik! Iya, kan, Mikha?”
“Iya! Iya, Daddy! Mikha mau punya adik!”
__ADS_1
“Nggak ada adik.”
“Iiiihhh, Daddy jahat! Mikha bete!”
Tuuttt tuuttt tuuttt
Wah, teleponnya dimatikan? Sejak kapan Mikha jadi anak yang tidak sopan? Aduh, Segara pusing sekali!
“Pak,”
“Miss Lana udah mandi? Mau ke mana kita hari ini?” Segara menyela. Sengaja dia raih ponsel dari tangan Lana tanpa mau melihat ekspresi di wajah perempuan itu. Malas kalau dia harus membahas lebih lanjut soal adik yang Mikha minta. Lagipula, itu sama sekali tidak penting.
Belum juga Lana menjawab, ia sudah kembali berbicara. “Kalau gitu saya juga mandi deh, nanti kasih tahu aja kita jadinya mau ke mana hari ini.” Lalu ngeloyor ke kamar mandi dengan membawa serta ponselnya.
Lana no comment, dia diam saja membiarkan Segara berlalu. Benar-benar tidak tahu harus bereaksi apa untuk permintaan Mikha soal adik.
“Ya Tuhan ... ada-ada aja.” Ia menggelengkan kepala pelan, lalu berjalan menghampiri kopernya untuk mencari pengering rambut.
...****************...
Menjelang pukul 3 sore, mereka baru bergerak keluar. Tadinya, mereka mau pergi jalan-jalan sebelum jam 12, tetapi karena matahari tenyata bersinar terlalu terik, mereka akhirnya mengurungkan niat.
Seperti yang sudah direncakan, mereka hanya pergi jalan-jalan ke sekitar hotel. Jajan street food seperti yang diusulkan Lana, lalu memakan hasil buruan mereka di sepanjang jalan sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah taman. Di sana cukup ramai, beberapa turis asing tampak berkeliaran, asyik menikmati pemandangan hijau yang tersuguh di depan mata. Beberapa dari mereka mengeluarkan ponsel, mengambil beberapa gambar sebagai kenang-kenangan.
Melihat hal itu, Segara juga jadi terpancing. Ia ikut-ikutan mengeluarkan ponsel dari saku celana, mengarahkan kamera kepada objek yang dia rasa menarik. Beberapa gambar diambil, dan untuk mengambilnya, ia harus berhenti melangkah. Hingga jadilah ia tertinggal cukup jauh di belakang Lana sebab perempuan itu masih terus saja mengayunkan kakinya seraya mengunyah Tteokbokki berlumur saus pedas.
Kamera ponsel milik Segara kembali terarah ke satu objek, tapi sang empunya malah salah fokus pada objek lain yang tidak sengaja ikut masuk ke dalam frame.
Tanpa sadar, objek yang pertama kali hendak Segara potret malah terlupakan, ia sepenuhnya fokus pada objek yang baru, yaitu Lana yang entah sejak kapan sudah mendudukkan dirinya di atas rerumputan, seakan tidak peduli kalau dress yang dia kenakan akan kotor.
Segara bukan tipikal tidak sopan yang akan mengambil gambar tanpa seizin sang empunya, tapi sore itu, dia tidak bisa menahan diri memotret tampak belakang Lana yang sore itu menggerai rambut panjangnya—cantik.
Foto itu lantas dia amati untuk waktu yang cukup lama, sebelum akhirnya dia simpan di dalam ponselnya dan dia berjalan menghampiri Lana yang semakin terlihat nyaman di posisi duduknya.
“Basah nggak sih?” tanyanya memastikan sebelum ikutan duduk di sebelah Lana.
Perempuan itu menoleh, lalu tersenyum tipis. “Nggak kok, aman.” Jawabnya.
Segara akhirnya betulan ikut duduk. Sisa jajanan yang masih ada kemudian mereka nikmati bersama sembari menunggu senja dan sesekali mengobrolkan hal-hal random yang terlintas di kepala.
Tidak ada pembahasan soal Mikha. Tidak ada obrolan yang menyinggung soal status pernikahan mereka. Seakan keduanya sama-sama sepakat untuk menjalani semua dengan pelan-pelan. Tak perlu terburu-buru, karena mereka tidak sedang dikejar apa pun.
Sore itu, keduanya sama-sama telah memutuskan untuk berjalan mendekat secara perlahan. Memulai semuanya dari fase paling dasar, sebagai teman.
Bersambung
__ADS_1
Yoo yang ijo, yang ijo...