
Seorang gadis berusia pertengahan 20-an sedang sibuk membereskan beberapa berkas di meja kerjanya ketika seorang perempuan muncul dari balik pintu dan berjalan menuju kubikelnya. Kelana Larasati, atau yang kerap disapa Lana itu mengerutkan kening sewaktu mendapati Grace selaku owner daycare tempatnya bekerja datang bersama seorang anak perempuan di dalam gendongan. Padahal katanya pendaftaran sudah ditutup beberapa bulan yang lalu dan tidak akan ada tambahan anak lagi yang masuk ke daycare ini.
"Miss Lana, perkenalkan anggota baru kita, namanya Mikha." Kata Grace dengan senyum yang mengembang.
Lana memang baru bekerja selama dua bulan di daycare ini, dan selama kurun waktu tersebut, ia hampir tidak pernah melihat Grace tersenyum selebar dan setulus ini sebelumnya. Senyum yang selalu Lana lihat dari perempuan berusia pertengahan 30-an itu adalah senyum basa-basi yang sudah selayaknya dia sunggingkan kepada para orang tua dan wali dari anak-anak yang dititipkan di daycare ini.
Jadi, melihat Grace bisa tersenyum selebar itu membuat Lama bertanya-tanya tentang siapa anak yang perempuan itu bawa sekarang.
"Halo, Mikha." Walau begitu, ia tetap menyapa gadis kecil itu dengan ramah. Kalau Grace memperkenalkan gadis itu kepadanya, itu artinya usia bocah ini antara 4-6 tahun, sesuai dengan anak-anak yang biasa ia ajar sehari-hari.
Tanpa diduga, si gadis dalam gendongan Grace tersenyum kepadanya. Jenis senyum polos nan lugu yang dalam sekejap berhasil membuat hatinya menghangat. Lana berjalan lebih dekat, mengulurkan tangan, menunjukkan telapak tangannya ke depan wajah Mikha yang langsung ditanggapi oleh gadis mungil itu.
"You can call me Miss Lana." Katanya memperkenalkan diri.
"Miss Lana." Si gadis kecil melafalkan namanya dengan cara yang lucu hingga membuatnya tergelak.
"Ya, Miss Lana." Lana menganggukkan kepala dengan senyum yang lebar.
"Mikha dititipkan kepada kita secara khusus oleh salah satu kenalan saya, jadi tolong berikan dia lebih banyak perhatian."
__ADS_1
Lana mengalihkan pandangannya ke arah Grace. Akhirnya pertanyaannya sebelum ini terjawab juga. Ia akhirnya tahu mengapa Grace begitu antuasias memperkenalkan Mikha kepadanya.
"Yes, Ma'am." Lana mengangguk paham.
Kemudian, tidak ada percakapan lebih lanjut setelah tubuh kecil Mikha beralih ke dalam gendongannya dan Grace berlalu dari sana. Beberapa staf pengajar lain yang ada di ruangan yang sama dengannya tampak memperhatikan Mikha denga binar di manik-manik mata mereka. Senyum tipis tersungging kala Lana membawa Mikha untuk berkenalan dengan mereka satu persatu.
Ajaibnya, Mikha juga tampak antusias untuk mengenal semua orang yang ada di dalam ruangan ini. Sama sekali tidak terlihat canggung dan takut pada orang-orang baru yang ditemuinya untuk pertama kali.
"Cantik banget sih kamu Mikha."
"Mikha umur berapa?"
"Pinter banget sih nggak nangis."
"Mikha anteng banget sih."
Dan berbagai kalimat lain terucap silih berganti dari bibir-bibir mereka, membuat senyum Lana kian lebar karena diam-diam dia mengamini setiap kalimat yang keluar dari bibir-bibir rekan sesama staf pengajar.
Kemudian setelah acara perkenalan singkat itu selesai, Lana bergerak keluar dari ruang kerja. Ia bawa Mikha menuju ruangan di mana anak-anak lain sedang bermain sembari diawasi oleh staf pengasuh. Seperti yang sudah bisa ia duga, Mikha terlihat begitu senang saat mereka sampai di ambang pintu dan gadis kecil itu melihat teman-teman seusianya sedang asik bermain.
__ADS_1
Total ada tujuh anak di dalam ruangan itu, tiga laki-laki dan empat perempuan. Dua di antaranya (semuanya perempuan) berusia 4 tahun, sama seperti Mikha. Jadi Lana langsung bergerak mendekati dua anak perempuan yang kini sedang asyik bermain masak-masakan itu demi memperkenalkan Mikha.
Lana menurunkan Mikha dari gendongan, seketika berjongkok demi bisa menyejajarkan posisi tubuhnya dengan anak-anak yang sedang bermain itu.
"Halo, Leah. Halo Nala. Perkenalkan, ini Mikha, teman baru kita." Kata Lana dengan suara riang.
Dua anak perempuan yang sedang asyik bermain itu pun menoleh, menatap Mikha sebentar sebelum mengulurkan tangan secara berbarengan. Mikha yang mendapati dua uluran tangan yang datang kepadanya secara berbarengan tampak bingung untuk memutuskan uluran tangan siapa yang mau lebih dulu ia raih. Dan hal itu membuat Lana terkekeh pelan.
"You can start with this girl." Kata Lana sembari menunjuk ke arah anak perempuan yang berambut hitam pendek sebahu. "Namanya Nala, you can start with her."
Mikha menurut. Gadis kecil itu menjabat tangan Nala sebentar kemudian beralih kepada anak perempuan lain berambut cokelat sebahu yang bernama Leah.
"Leah, Nala, tolong ajak Mikha main, ya?" kata Lana dengan senyum yang kian melebar.
Kedua anak perempuan itu mengangguk serempak. Kemudian Lana mengalihkan perhatiannya kepada Mikha yang kini masih berjongkok di hadapan kedua teman barunya.
"Mikha, kamu bisa main sama Leah dan Nala. Be a good girl, okay?" katanya.
Mikha mengangguk dan dalam sekejap bocah itu sudah berbaur dengan kedua teman barunya. Lana tersenyum tipis memandangi tiga anak perempuan di hadapannya yang kini asik berceloteh, membicarakan segala sesuatu yang hanya bisa dipahami oleh sesama anak-anak sebelum akhirnya dia bangkit. Dia harus kembali ke ruang kerjanya untuk menyiapkan materi yang akan diajarkan kepada anak-anak seusai mereka bermain.
__ADS_1
"Saya titip Mikha, ya." Ucapnya terakhir kali kepada seorang staf pengasuh sebelum benar-benar pergi dari sana.
Bersambung