Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
DUA PULUH LIMA


__ADS_3

Ujung-ujungnya, yang Segara bisa lakukan adalah diam. Dia membiarkan Mikha berguling-guling di lantai, sampai lelah, sampai akhirnya jatuh terlelap bersama Hechi di dalam pelukannya.


Dengan gerakan yang teramat hati-hati, Segara menurunkan tubuh Mikha ke atas kasurnya. Setiap pergerakan yang ia buat benar-benar diperhitungkan, agar tak sedikitpun ada kesempatan untuknya membuat anak itu terbangun dan memulai kembali aksi ngambek yang entah kapan akan berakhir.


Untuk beberapa lama, Segara terdiam di posisi duduknya di pinggiran kasur. Dipandanginya wajah lelap Mikha yang masih terdapat gurat cemberut sisa aksi ngambeknya beberapa saat lalu. Ada banyak sekali kesempatan ketika dia menemukan anak ini begitu keras kepala, tapi yang kali ini, ia tidak tahu bagaimana cara menghentikannya.


Menikah lagi. Itu adalah sebuah hal yang sama sekali tidak pernah terlintas di kepala Segara, bahkan setelah bertahun-tahun lamanya Karenina mati. Baginya, Karenina adalah cinta pertama dan terakhir, tempat di mana hatinya jatuh untuk pertama kalinya dan dia telah menghabiskan semua cinta yang dia miliki di sana. Karenina adalah dermaga, yang bukan hanya menjadi tempat bersandar, tetapi juga tujuan dia pulang.


Maka sekali lagi, penyesalan datang menghampiri atas kecerobohannya mengiyakan permintaan Mikha tempo hari. Ia telah salah menilai Mikha, berpikir bisa mencari jalan keluar untuk mengingkari janji yang telah dibuatnya, padahal sudah jelas jalan itu nyaris tidak ada.


“Kenapa harus tiba-tiba minta mommy sih, Mikha? Kenapa kamu nggak minta yang lain aja, yang bisa Daddy belikan dengan uang yang Daddy punya?” ia bertanya dengan suara yang begitu lirih. Tidak tahu kenapa, tapi dia merasakan dadanya begitu sesak. Seperti ada sesuatu yang mengimpit dadanya sehingga membuatnya kesulitan menarik napas. Rasanya hampir sama seperti ketika dia mengantarkan Karenina untuk pulang ke rumah barunya.


“Cari istri sewaan aja, Ga.”


Dan sialnya, usulan itu sama sekali tidak membantu. Segara adalah manusia realisastis. Dia tidak percaya pada hal-hal drama semacam itu karena lebih dari apapun, dia tahu kehidupan ini adalah sebenar-benarnya drama yang asli.


Dia tidak akan punya fantasi tentang mencari istri bayaran, menawarkan surat kontrak untuk ditandatangani selama beberapa tahun, menjalin komitmen untuk tidak saling menyinggung satu sama lain, lantas berpisah dan sepenuhnya menjadi orang asing setelah semua kesepakatan itu berakhir. Tidak, dia tidak punya waktu untuk membangun fantasi sekompleks itu.


Lantas, kalau dia saja tidak bisa, mengapa pikiran itu terlintas di kepala Arkana? Padahal pemuda itu yang paling tahu betapa ia telah jatuh untuk Karenina, betapa tidak ada satu perempuan pun di dunia ini yang mampu menarik kembali perhatiannya sepeninggal Karenina, betapa hatinya telah mati dan ikut terkubur bersama jasad perempuan itu selama 4 tahun lamanya.


Tapi lebih dari itu, Arkana seharusnya menjadi yang paling tahu bahwa ia tidak akan mengijinkan perempuan mana pun tidur di atas ranjangnya dan Karenina.

__ADS_1


Pada akhirnya, ketika malam semakin larut dan sayup-sayup dia bisa mendengar suara televisi yang disetel begitu nyaring dari arah ruang tengah, Segara hanya bisa menghela napas panjang sebelum akhirnya bangkit dari kasur.


Dikecupnya kening Mikha dua kali, satu kali hanya kecupan singkat, sedangkan satu kali lagi dia biarkan bibirnya terdiam di kening anak itu hampir sepuluh detik penuh. Ia hanya ingin mentransfer kerinduannya yang menumpuk, menghaturkan doa paling tulus untuk putri semata wayangnya itu agar malam ini tidak ada mimpi buruk yang tandang ke dalam tidur lelap sang buah hati. Juga, harapan semoga esok hari ketika anak itu membuka mata, rengekan soal meminta ibu itu sudah hilang terbawa angin.


...****************...


Sialnya, harapan yang dia langitkan malam-malam tak pernah menjadi kenyataan. Dia sadar akan hal itu ketika kini, di depan matanya, Mikha justru lebih sukarela berada di pelukan Arkana ketimbang bersama dirinya. Rentangan tangannya diabaikan, dan anak itu seakan tidak menyadari eksistensinya.


“Mikha mau jalan-jalan.” Si bocah merengek. Lagi-lagi, rengekan itu tertuju untuk Arkana, bukan dirinya.


“Oke, mau jalan-jalan ke mana?” tawar si Om yang senantiasa menjadi kesatria bagi si bocah yang merajuk terhadap ayahnya.


Di satu sisi, Segara senang karena itu artinya dia tidak perlu merasa khawatir bahwa Mikha akan sendirian. Yah, semacam pemikiran acak kalau-kalau saja dia mati lebih dulu. Pikirnya, Arkana bisa jadi pengganti untuknya. Meskipun dia tidak benar-benar ingin mati cepat dan meninggalkan putri kecilnya sendirian.


“Ke rumah Miss Lana.”


Tanpa dikode, Segara dan Arkana serempak saling pandang ketika nama itu tiba-tiba saja keluar dari bibir Mikha.


Bagi Segara, nama itu masih terlalu asing. Sebab utamanya adalah karena dia sebetulnya cukup kesulitan untuk mengingat nama orang lain, apalagi jika orang itu tidak terlalu banyak berinteraksi dengan dirinya.


Sementara bagi Arkana, kebingungan itu datang lantaran dia masih mengingat betul siapa perempuan yang namanya Mikha sebutkan tadi. Kejadian sore lalu, ketika perempuan itu jatuh pingsan di dalam dekapannya tentu tidak akan semudah itu untuk dia lupakan. Terlebih saat dia menemukan betapa ketakutannya perempuan itu ketika pertama kali membuka mata dan menemukan dirinya serta Mikha tengah menatap khawatir ke arahnya. Tanpa alasan yang jelas, perempuan bernama Lana itu tiba-tiba saja mengingatkannya pada sosok Karenina. Maka ketika melihatnya menangis tersedu-sedu sore itu, Arkana seperti ikut merasakan kesedihannya.

__ADS_1


“Miss Lana?” suara itu berasal dari Segara. Kerutan di dahinya tampak jelas, karena sampai detik ketika dia bertanya, tidak satupun bagian di otaknya yang berhasil menangkap siapa pemilik nama tersebut. Dia hanya berasumsi bahwa itu adalah nama Miss-nya Mikha di daycare, tapi dia tidak tahu pasti yang mana orangnya. Karena setelah terakhir kali menyusul Mikha dan Arkana, dia tidak lagi menemukan Mikha ditunggui oleh orang lain selain Grace.


Mikha mengangguk, sepertinya sempat lupa bahwa dirinya masih dalam mode merajuk. Sehingga ketika dia mengingatnya, tatapan itu tak lagi dia tujukan kepada Segara, tapi langsung dialihkan kembali ke arah Arkana. “Miss Lana bilang, Mikha boleh main ke rumahnya kalau bosan. Dan sekarang, Mikha sedang bosan.”


Arkana melirik Segara sekali lagi. Dilihat-lihat, lelaki itu sepertinya tidak tahu banyak soal perempuan yang sekarang sedang mereka bicarakan. Terlihat dari kerutan di keningnya yang tak kunjung menghilang. “Tapi kita harus tanya dulu ke Miss Lana, apakah hari ini dia ada di rumah atau nggak, dan apakah dia bersedia rumahnya kita kunjungi. You know, kita nggak bisa asal datang ke rumahnya meskipun dia udah bilang nggak apa-apa.” Arkana berkata setelah kembali menatap Mikha yang ada di dalam gendongannya.


“Kalau gitu, Om Ar telepon Miss Lana sekarang.” Titah si bocah, bagai perintah resmi yang turun langsung dari sang ratu, dan sebagai ajudan, Arkana tak punya pilihan selain mematuhinya.


Tapi masalahnya adalah, dia tidak memiliki nomor telepon perempuan itu. Pertemuan mereka sore itu terlalu singkat, bisa dibilang juga tidak meninggalkan kesan yang terlalu baik. Jadi jangankan bertukar nomor telepon, kemungkinan mereka akan bertemu lagi pun sama sekali tidak terpikirkan oleh Arkana.


“Om Ar nggak punya nomor telepon Miss Lana.”


Dan kalimat itu disambut lenguhan kecewa yang begitu panjangnya. Mikha jelas cemberut, kembali memajukan bibir serta menggembungkan kedua belah pipinya yang gendut. “Payah.” Sempat-sempatnya, anak itu mencibir, lalu kembali mengatupkan bibir rapat-rapat.


“Coba tanya Grace,” usul Segara, setelah sekian lama.


Arkana kembali menoleh ke arahnya, lalu tampak berpikir sejenak. Apakah tidak masalah jika dia meminta nomor kontak perempuan itu kepada Grace? Arkana tahu Grace akan dengan senang hati memberikannya, jika dia benar-benar memintanya sekarang. Tapi, apakah perempuan itu tidak akan keberatan?


“Ar,”


Didesak terus oleh dua pihak membuat Arkana berhenti dari perdebatan batinnya sendiri. Pada akhirnya, dia merogoh kantong celana, meraih ponsel lantas menekan nomor Grace.

__ADS_1


Semoga saja, itu adalah keputusan yang tepat


Bersambung


__ADS_2