
Empat hari liburan yang dirancang sedemikian rupa oleh Mama akhirnya usai juga. Segara lega, karena akhirnya dia bisa kembali ke tanah air untuk bertemu dengan Mikha. .
Sama seperti Segara, Lana pun turut merasakan kelegaan itu. Sebab setelah insiden ia terbangun dalam posisi berada di pelukan Segara, Lana menjadi kesulitan untuk bisa mengendalikan detak jantungnya yang tiba-tiba menggila saat sedang berbicara dengan Segara. Apalagi kalau sampai terjadi kontak fisik yang bahkan sesederhana tangan mereka tidak sengaja bersinggungan saat hendak mengambil sesuatu. Beuh, jantung Lana rasanya hampir meledak saja.
“Arkana jemput sama Mikha.” Segara berbagi informasi itu kepada Lana ketika mereka berjalan keluar dari terminal kedatangan bandara Soekarno-Hatta.
Lana yang tadinya sibuk menekuri ponselnya sendiri untuk mengecek beberapa hal lantas menoleh, lalu mengangguk paham.
Tak berselang lama setelah usainya interaksi singkat itu, terdengar suara cempreng Mikha yang memanggil-manggil dari kejauhan. Segara mengedarkan pandangan, lantas menemukan Mikha sedang berada di atas pundak Arkana, melambaikan tangan dengan semangat seraya tersenyum lebar.
“Mommy!!! Mommy, Mikha di sini!!!” teriak anak itu lagi.
Segara tersenyum kecut setelah sadar bahwa sedari tadi Mikha memang hanya menyerukan kata mommy tanpa menyertakan daddy. Seakan yang ditunggu-tunggu oleh anak itu memang hanya Lana seorang dan ia hanyalah seonggok sampah tak berguna yang tak dianggap.
“Mommy!!!” setelah mereka berdua tiba di hadapan Arkana dan Mikha, si bocah 4 tahun itu langsung meminta diturunkan.
Dengan semangatnya setelah kaki kecilnya kembali menapak ke lantai, bocah itu menghambur ke dalam pelukan Lana, memeluk kedua kaki ibu sambungnya itu dengan erat seolah tidak ingin ditinggal pergi lagi.
“Mikha kangen Mommy.” Ujar si bocah.
Kasihan melihat Mikha harus mendongak begitu tinggi untuk sekadar bisa bertatap muka dengannya, Lana pun merubah posisinya menjadi jongkok. Posisi itu membuat Mikha bukan cuma bisa bertatap muka secara sejajar dengan dirinya, tetapi juga sekalian bisa memeluk tubuhnya.
“Mommy juga kangen sama Mikha.” Lana membalas pelukan Mikha.
Adegan melepas rindu itu seharusnya merupakan pemandangan yang mengharukan, tapi bagi Segara yang keberadaannya mendadak dilupakan oleh putrinya sendiri, itu menjadi sebuah pemandangan yang menyebalkan. Arkana yang tidak tahu apa-apa pun sampai terkena imbasnya. Sekonyong-konyong, Segara mendorong koper miliknya ke arah Arkana hingga membuat lelaki itu memekik karena roda koper yang keras menghantam ujung sepatunya.
“Sakit, anj—“ umpatan Arkana tidak selesai karena dia sadar masih ada Mikha. Selain itu, dia juga mendadak ciut setelah melihat Segara melirik tajam ke arahnya.
“Kunci mobil, gue mau nyetir.” Segara menengadahkan tangan, namun Arkana segera menggeleng, menolak memberikan kunci yang ia minta. “Buruan.” Ia memaksa.
“Nggak ada. Lo lagi emosi gini, yang ada nanti kita bertiga malah mati di jalan gara-gara lo bawa mobilnya kebut-kebutan.”
“Siapa yang emosi?!” Segara berusaha mengelak, tapi nada suaranya yang tinggi justru mempertegas bahwa statement yang Arkana berikan sebelumnya adalah benar.
“Daddy kenapa?” tanya si polos Mikha yang masih belum sadar kalau sumber bad mood Daddy-nya adalah dia. “Kok marah-marah sama Om Ar?”
Segara melirik sinis ke arah Mikha, ingin berterus terang kepada putrinya tapi tidak tega. Akhirnya, dia tidak menjawab, malah meraih kembali kopernya dan menggeret benda itu menjauh dari 3 orang tang menatap kebingungan ke arahnya.
“Mommy, itu Daddy kenapa?”
Lana yang memang tidak tahu hanya bisa menggelengkan kepala. Lha wong tadi masih tidak apa-apa, kok. Segara malah kelihatan happy sekali karena mau bertemu dengan Mikha.
“Kena sawan itu, udah cuekin aja.” Celetuk Arkana. Ia lantas mengambil alih koper Lana, lalu menggiring Lana dan Mikha untuk menyusul Segara sebelum lelaki itu semakin ngereog.
...****************...
__ADS_1
Selama dalam perjalanan pulang, Segara tidak bicara apa-apa. Lelaki itu hanya duduk diam di kursi penumpang depan dengan tatapan yang dibuang ke luar jendela.
Arkana tidak punya ide untuk mengajak Segara bicara lebih dulu, jadi dia pun ikut-ikutan diam dan hanya fokus menyetir. Sementara Lana dan Mikha yang sama kebingungan dengan sikap Segara yang aneh juga hanya bisa saling tatap tanpa melanjutkannya ke tahap diskusi berbentuk suara.
Setibanya di rumah pun, Segara langsung saja keluar dari mobil. Koper miliknya ditinggalkan begitu saja di bagasi, membuat Arkana menggerutu kesal karena dia jadi harus menurunkan dua koper dan membawanya ke dalam rumah.
“Biar saya bawa koper saya sendiri, Pak.” Lana menawarkan bantuan, namun Arkana menolak.
“Miss Lana ajak Mikha masuk aja gih, biar saya yang urus kopernya.”
Lana pun mengiyakan saja. Dia gendong Mikha lalu diajak masuk ke dalam rumah karena kondisinya angin malam berembus semakin kencang. Baru pukul 7, tapi langit sudah kelihatan pekat, mungkin pertanda hujan akan turun dalam waktu dekat.
Setelah melewati pintu utama, Lana menghentikan langkahnya kala menemukan Segara sedang duduk di atas sofa ruang tamu. Televisi di depan lelaki itu menyala, menayangkan sinetron yang sedang digandrungi eh ibu-ibu sejagad Indonesia Raya. Tapi Lana jelas tahu bahwa Segara yang kini bersedekap dengan air muka yang kusut itu tidak benar-benar mencurahkan perhatian pada layar televisi tersebut.
“Daddy kenapa aneh banget sih, Mommy?” Mikha berbisik persis di telinga Lana, seperti paham bahwa diskusi tentang hal apa yang menyebabkan tingkah laku ayahnya berubah aneh itu tidak boleh dilakukan dengan suara yang keras.
Lana masih tidak memiliki ide, jadi dia hanya menggeleng lalu melanjutkan langkah.
“Daddy!” Mikha berseru, tapi anehnya Segara seakan tuli. Lelaki itu tetap saja menatap lurus ke depan, tidak menoleh atau sekadar melirik sama sekali.
“Ihhhh, Daddy kenapa, sih?” tanya Mikha mulai gemas. Anak itu kemudian meminta turun dari gendongan Lana, langsung saja melompat naik ke atas pangkuan sang ayah. “Look at me, Daddy kenapa?” tanyanya lagi seraya menangkup wajah Segara menggunakan tangan kecilnya.
Barulah di saat itu, Segara sudi melakukan kontak mata. Tapi bukan berarti dia langsung mau buka suara. Tidak, bibirnya masih saja bungkam.
“Daddy kenapa? Daddy marah sama Mikha? Kenapa? Mikha salah apa sama Daddy? Ayo, Daddy, bilang.” Awalnya hanya menangkup wajahnya, tangan kecil Mikha sekarang juga *******-***** pipi Segara pelan, membuat pertahanan sang empunya akhirnya jebol juga.
“Daddy, don’t bite me!” Mikha berontak. Tapi Segara tidak peduli. Ia masih terus menggigit pipi Mikha. Hanya main-main kok, tidak aka. Sampai membuat pipi anak itu betulan terluka.
“Daddy!”
“Ihhhh, Daddy awas!”
“Daddy!!!”
Sementara ayah dan anak itu masih berperang, Arkana muncul dari balik pintu seraya menggeret dua koper yang berat. “Tinggalin aja, Miss. Mendingan Miss Lana naik ke kamar, mandi terus istirahat. Mereka kalau udah jadi satu emang suka freak.” Celotehnya yang lantas membuat Lana menoleh.
“Tapi Pak Segara kenapa, ya, Pak? Padahal selama perjalanan di pesawat masih oke-oke aja, tuh, malah kelihatan happy soalnya mau ketemu sama Mikha.”
“Nggak tahu juga sih. Udahlah, biarin aja, emang suami Miss Lana itu suka aneh kelakuannya.” Arkana si kompor meleduk. Untung saja Segara sedang asyik bersama Mikha dan suara teriakan Mikha yang melengking mampu meredam suara celetukannya. Kalau tidak, dia pasti sudah digebuk oleh Segara. “Udah, ayo naik, saya bawain koper Miss Lana sampai depan pintu kamar.”
Karena toh tetap tidak mendapatkan jawaban dan dia juga tidak bisa membantu banyak, Lana pun akhirnya menuruti perkataan Arkana. Dia mengikuti langkah lelaki itu menaiki tangga menuju lantai dua.
Kembali ke pertarungan sengit antara Mikha dan ayahnya...
Lelah menjerit dan meronta, Mikha akhirnya pasrah saja. Dia bahkan tidak menolak ketika ayahnya mengecupi seluruh bagian wajahnya, membuatnya menjadi basah.
__ADS_1
Sementara bagi Segara, kepasrahan Mikha adalah pertanda bahwa dia harus segera berhenti. Lagipula, kenikmatan sesungguhnya dari menjahili anak itu adalah ketika dia bisa mendengar suara teriakannya yang melengking. Kalau itu sudah tidak ada, tidak akan seru lagi.
“Tahu nggak kenapa Daddy ngambek?” tanyanya usai mengelap pipi Mikha yang basah akibat perbuatannya. Mikha yang memang tidak tahu pun menggeleng dengan polosnya, mengundang senyum terbit di bibir Segara.
“Daddy cemburu, soalnya kamu cuma manggil Mommy pas di bandara tadi. Padahal kan Daddy juga kangen sama kamu.”
“Daddy cemburu?”
Segara mengangguk, “Iya, Daddy kesel soalnya kamu cuma kangen sama Mommy.”
“Mikha juga kangen kok sama Daddy.”
“Bohong, ah. Buktinya, yang dipanggil cuma Mommy, Daddy enggak.”
“Mikha panggil Daddy juga kok, Daddy aja yang nggak dengar.”
Mendengar alasan itu, Segara mencebik. “Nggak usah bohong ya kamu, jelas-jelas Daddy dengar kamu cuma manggil Mommy.”
Ketahuan bohong, Mikha cengengesan. “Hehehe, maaf ya Daddy.” Seraya menunjukkan deretan giginya yang rapi.
“Ada syaratnya kalau mau Daddy maafin.”
“Apa?”
“Malam ini, kamu harus tidur sama Daddy, di kamar Daddy.”
“Sama Mommy juga?”
Segara menggeleng keras. “Cuma kamu sama Daddy.”
“Kenapa nggak sama Mommy?”
Alih-alih menjawab kenapa Lana tidak diikutsertakan, Segara malah mengeluarkan kalimat andalan. “Mau dimaafin, nggak?” yang lantas membuat Mikha tidak berkutik.
“Iya, iya, mau.” Sepasrah itu Mikha menjawab.
Segara terkekeh, lalu mencubit gemas pipi gembil Mikha. “Ya udah, ayo kita ke kamar Daddy. Tunggu Daddy mandi dulu, ya, nanti baru kita tidur.” Ucapnya seraya bangkit lalu mulai berjalan dengan Mikha di dalam gendongan.
“Oke, Daddy. Tapi nanti bacain Mikha dongeng, ya?”
“Boleh. Mau berapa dongeng?”
“Tiga!”
Gelak tawa tak terbendung, bahu Segara sampai berguncang dibuatnya. “Boleh, boleh. Nanti Daddy kasih bonus satu dongeng sampai kamu tidur, ya.”
__ADS_1
“Yayyyy!!!”
Bersambung