
Lampu yang bersinar terang di atas meja makan menjadi objek yang menarik perhatian Segara sejak tadi. Ia berdiri di pembatas ruang tengah dengan dapur, memperhatikan bagaimana lampu itu seakan turut memandang balik ke arahnya, menampakkan kembali kepadanya bayangan wajah marah Arkana semalam saat pemuda itu menceritakan tentang Lana yang rela menaiki tangga demi mengganti bohlam lampu yang telah rusak.
Segara menarik napas begitu dalam, menahannya cukup lama sebelum mengembuskannya pelan-pelan. Ia kemudian berjalan mendekat, pada Lana yang kini sibuk mencuci piring bekas sarapan mereka berempat. Dari arah halaman belakang, suara Mikha yang berteriak menjadi musik latar selain suara air yang mengalir dari keran di wastafel. Segara tidak memedulikan teriakan Mikha, sebab dia tahu anak itu hanya sedang bereaksi pada kelakuan Arkana—entah apa yang kali ini pemuda itu lakukan.
Tiga langkah di belakang Lana, Segara berhenti. Ia menyilangkan kedua lengan, masih diam memperhatikan Lana yang cekatan menggeser piring dan gelas yang telah selesai dicuci ke rak di sebelah kanannya. Barulah ketika perempuan itu selesai dan tampak mengelap tangannya menggunakan tisu yang tersedia, Segara bersuara.
“Miss,” panggilnya, membuat Lana membalikkan tubuh.
“Ya?”
“Saya mau bicara sebentar.” Ucapnya.
Satu alis Lana terlihat naik, perempuan itu sedang bertanya-tanya kesalahan apa yang dia perbuat melihat betapa seriusnya raut wajah Segara sekarang. Meskipun begitu, ia tetap menganggukkan kepala, lalu berjalan mendekati Segara yang kemudian langsung menuntunnya menuju ruang tengah.
Di atas sofa panjang, Segara mengambil posisi duduk di ujung, seakan hendak mempertegas bahwa antara dirinya dan Lana haruslah ada jarak yang cukup jauh, agar mereka tidak saling bersinggungan satu sama lain.
Lana tidak keberatan pada hal itu, ia pun turut mendudukkan dirinya di ujung yang lain, dengan posisi sedikit menyerong agar mereka tetap bisa bertatapan selagi bicara.
“Kemarin Bis Surti nggak datang ke sini untuk beres-beres rumah?” tanya Segara. Sejak semalam, dia sebenarnya sudah gatal ingin menanyakan soal ini. Sayang saja Lana sudah terlanjur tidur sehingga dia harus membawa pertanyaan itu sampai esok harinya.
“Datang.” Lana menjawab apa adanya. Kemarin, Bi Surti memang datang ke sini. Sudah 3 hari berturut-turut wanita paruh baya itu kembali bekerja setelah pulang dari rumah sakit. “Kenapa, Pak?”
“Kalau ada Bi Surti, kenapa Miss Lana kerjain sendiri semua pekerjaan rumah? Saya dikomplain sama Arkana, katanya saya keterlaluan udah biarin Miss Lana kerja kayak pembantu.”
Lana terdiam. Salahkah memangnya jika dia membantu mengerjakan pekerjaan rumah? Toh, bukan pekerjaan yang terlalu berat karena hampir semuanya dilakukan menggunakan alat. Hanya mencuci piring dan mengganti bohlam lampu saja yang dia lakukan tanpa bantuan perangkat elektronik.
“Saya menikahi Miss Lana bukan buat jadi pembantu,” Segara menyilangkan kaki kanan di atas kaki kirinya, menautkan kedua tangannya di atas paha. “Tugas Miss Lana cuma urus Mikha, itu aja.”
“Saya cuma bantu-bantu, Pak. Bi Surti kelihatan masih belum sehat sewaktu datang kemarin, jadi saya suruh beliau pulang lebih cepat untuk istirahat.” Karena memang begitu kenyataannya. Hampir tengah hari, Lana menemukan Bi Surti terduduk di ambang pintu belakang, dekat tempat cuci baju. Wajahnya pucat, keringat dingin tampak turun membasahi wajahnya yang sudah mulai dihiasi keriput.
Sebagai seseorang yang masih memiliki hati nurani, tentu saja Lana tidak akan tega membiarkan Bi Surti tetap bekerja dengan kondisi seperti itu, kan? Tapi, apakah hal itu kemudian menjadi masalah untuk Segara? Apakah membiarkan asisten rumah tangga yang sedang kurang sehat untuk mengambil waktu istirahat adalah sesuatu yang tidak Segara sukai?
Lana tidak tahu. Dia masih tidak mengerti seperti apa sosok laki-laki yang dia nikahi ini. Jadi saat menjelaskan kronologi dari awal dia menemukan Bi Surti sampai saat dia meminta wanita itu pulang, Lana mengatakannya dengan hati-hati. Sekali lagi, dia berusaha mengingat bahwa dirinya di sini menumpang, hanya tamu yang tidak berhak melewati batas yang memang sudah ditentukan oleh sang Tuan rumah.
“Saya nggak keberatan Miss Lana minta Bi Surti untuk pulang, malahan, saya berterima kasih untuk itu. Tapi, bukan berarti Miss Lana harus menggantikan pekerjaannya, kan? Dan lagi, soal lampu di dapur, kenapa Miss Lana nggak minta tolong sama saya atau Arkana buat gantiin? Kenapa malah nekat manjat tangga sendiri? Nggak takut jatuh?”
Rentetan kalimat itu terlalu panjang, membuat Lana tidak tahu harus menjawab yang mana dulu. Haruskah dia menanggapi soal kenapa dia menggantikan pekerjaan Bi Surti, atau dia jelaskan saja perihal bohlam lampu yang dia pasang sendiri? Tolong beri saran, Lana harus menjawab yang mana dulu?
“Miss?”
Lana menghela napas pelan, “Pertama, itu bukan pekerjaan yang berat, jadi kenapa saya harus ragu untuk melakukannya? Maksudnya, pekerjaan yang Bi Surti tinggalkan. Toh, saya juga nggak mengerjakan itu dengan menelantarkan Mikha. Saya tetap urus Mikha, kok, Pak. Saya jagain dia, nggak lepas dari perhatian saya barang sedetik pun selagi saya mengerjakan semuanya.”
__ADS_1
“Kedua, soal bohlam lampu, itu juga bukan perkara besar. Di apartemen saya, kalau ada bohlam yang mati, saya biasa ganti sendiri. Naik tangga? Itu bukan masalah. Selagi saya hati-hati, seharusnya nggak ada masalah, kan?”
“Tetap aja, jangan begitu.” Segara merubah posisi duduknya lagi. Kali ini dia turunkan kakinya yang menyilang, menyerong lebih banyak karena dia mulai merasa gemas pada Lana yang punya banyak sekali alasan. “Semua udah punya tugas masing-masing. Segala pekerjaan rumah tangga adalah tanggung jawab Bi Surti, kalau beliau sedang nggak memungkinkan untuk datang? Ya tinggal panggil jasa cleaning dari aplikasi. Miss Lana tugasnya mengawasi Mikha, maka selihai apapun Miss Lana menyambi melakukan pekerjaan yang lain, saya tetap mau Mikha jadi prioritasnya. Soal lampu mati, saluran air yang mampet, keran macet, itu bisa diurus oleh saya dan Arkana selaku laki-laki di rumah ini. Mari kita bekerja sama untuk bertanggung jawab atas desk job masing-masing, Miss.”
Sekali lagi, Lana menghela napas. Ini hanya perkara mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang sepele, kenapa jadi panjang begini? “Maaf kalau saya udah bersikap semaunya sendiri.” Hanya itu yang akhirnya Lana bisa katakan kepada Segara. Percuma saja dia mendebat, lelaki itu juga pasti tidak akan mendengarkan apapun yang dia katakan. Ia akan mengingat lebih banyak, bahwa dia hanyalah TAMU dan mulai sekarang, semua hal yang hendak dia lakukan di rumah ini harus seizin sang TUAN. Baiklah, aturan itu akan dia patri di dalam kepala, supaya tidak lupa.
Lana kemudian bangkit, berlalu begitu saja tanpa mengucapkan apa-apa, membuat Segara yang merasa obrolan mereka belum selesai praktis melongo di tempatnya.
Akan tetapi, tak berselang lama kemudian, Lana muncul lagi dengan membawa selembar kertas dan pena. Ia duduk lagi di tempat yang tadi, lalu menyurukkan kertas dan pena itu ke atas meja, menggesernya ke sisi Segara. “Tolong tuliskan apa aja yang boleh dan yang nggak boleh saya lakukan di rumah ini, supaya saya nggak seenaknya sendiri lagi.” Kata-katanya sebagai perwakilan yang menjawab kebingungan di raut wajah Segara.
“Bapak tulis dulu, deh, saya mau nyusul Mikha dulu ke belakang. Kalau udah selesai, tolong kasih ke saya kertasnya, biar saya baca dan pelajari.” Dengan begitu saja, Lana kembali berlalu, meninggalkan Segara dengan selembar kertas kosong yang padahal lelaki itu sendiri tidak tahu harus diisi dengan apa.
...----------------...
Pernah mendengar istilah tersambar petir di siang bolong? Segara sering mendengarnya, tapi dia tidak benar-benar tahu seperti apa rasanya. Amit-amit, dia juga tidak ingin mencoba sendiri merelakan tubuhnya disambar oleh petir. Mau itu di siang bolong, atau bahkan di tengah hujan badai sekalipun. Tidak, dia masih ingin hidup. Yang lama, sampai dia melihat Mikha tumbuh dewasa, sampai dia mengantarkan anak itu berjalan ke altar—melangsungkan pernikahan.
Meskipun begitu, ketika 2 lembar tiket pesawat ke Korea disodorkan kepadanya, oleh Mama yang datang di tengah hari bolong dengan senyum cerah yang ngalah-ngalahin terangnya sinar matahari di luar sana, Segara agaknya tahu apa yang orang-orang bilang dengan tersambar petir di siang bolong.
Sekejap saja, ia merasakan kepalanya berat, matanya berkunang-kunang, jantungnya berdetak tidak keruan dan dia sulit bernapas.
“Honeymoon?” Segara mengulangi kata keramat yang beberapa saat lalu Mama ucapkan. Anggukan kepala Mama menimbulkan satu lagi dentuman keras di kepala, memperparah beban berat yang terasa di sana. “Segara sibuk, Mama.” Keluhnya, tapi Mama tidak terlihat percaya.
“Arkana juga punya kerjaannya sendiri, jangan bebanin dia.”
“Anaknya aja nggak protes.” Mama kekeuh. Sialannya, Arkana, si bocah tengik yang nasibnya sedang dia bela itu malah menganggukkan kepala menyetujui pernyataan Mama. Agaknya otak pemuda itu sudah rusak. “Udah deh nggak usah banyak alasan. Tinggal berangkat doang. Tiket pesawat, hotel, semuanya udah Mama urus.”
“Segara nggak mau ninggalin Mikha.”
Mama berdecak sebal, “Mikha dijagain sama Mama, sama Papa, sama Arkana.”
“Nanti anaknya rewel.”
“Nggak akan, Mama udah bilang kok sama Mikha. Dia iya-iya aja.”
Tidak mungkin. Mustahil. Impossible. Mana ada dalam sejarah, Mikha mau ditinggal lama-lama oleh ayahnya? Mama sepertinya harus lebih baik jika hendak membual. Sangat tidak natural!
“Nggak percaya? Tanya aja sama Mikha langsung.” Tantang Mama.
Oke, Segara tidak takut. Dia bangkit dari sofa ruang tengah, berderap menghampiri Mikha yang sedang disuapi makan siang oleh Lana di dapur. Saat dia tiba, bocah itu kebetulan sudah selesai dengan suapan terakhirnya.
“Mikha, Daddy mau nanya sesuatu sama kamu.” Todongnya langsung, enggan menunggu sampai Mikha menenggak air minumnya.
__ADS_1
“Apa?” tanya si bocah dengan polosnya.
“Oma ada bilang sama kamu kalau Daddy mau pergi?”
Mikha mengangguk. “Perginya sama Mommy, kan?”
“Iya, terus kamu jawab apa ke Oma? Kamu nggak bilang mau ikut atau—“
“Enggak.” Mikha memotong. Geleng-geleng kepala lucu membuat rambutnya yang dikuncir dua tampak tuing-tuing seiring gerakannya.
“Kenapa enggak?” tanya Segara heran. Ini ada apa sebenarnya? Mau kiamat kah atau apa? Kenapa Mikha makin lama makin aneh saja sikapnya? Anak itu harusnya merengek, mengemis pada Mama agar rencana perjalanan itu dibatalkan, atau setidaknya ia dibiarkan ikut serta. “Kenapa nggak bilang mau ikut, Mikha? Kenapa nggak rewel minta Daddy jangan pergi?”
“Soalnya Oma bilang, pas pulang nanti, Daddy sama Mommy bakal kasih Mikha adik bayi.”
Gempa! Segara merasakan lantai yang dia pijak bergoyang, membuat tubuhnya limbung dan nyaris ambruk jika saja tangannya tidak dengan cepat meraih meja makan sebagai tumpuan.
Adik bayi apanya?! Kenapa makin aneh saja?! Tolong!
“Oma bilang begitu?” suara lembut Lana membuat Segara melirik ke arah perempuan itu, sambil masih berusaha agar tubuhnya tidak ambruk. Sungguh, kepalanya terasa berputar-putar sekali sekarang.
“Iya.” Tidak ada ragu-ragunya sama sekali Mikha menjawab. Ya Tuhan... Mama, kenapa bisa kepikiran bicara begitu pada bocil seperti Mikha? Bagaimana kalau Mikha betulan merengek minta adik? Mau ia Carikan di mana adik itu?!
Lana agaknya menyadari Segara yang panik bukan main. Oh, dia juga sebenarnya terkejut. Dia juga tidak tahu kalau kedatangan ibunya Segara ke sini adalah untuk mengatakan omong kosong seperti itu kepada Mikha.
“Adik bayi itu bikinnya nggak gampang, Mikha. Nggak bisa langsung jadi,”
“Berarti Oma bohong?”
“Eng—“
“Nggak apa-apa! Dicoba aja dulu, Mommy. Siapa tahu berhasil! Hihihi.”
Sialan! Sialan! Sialan! Kalau bukan anaknya, Segara mungkin sudah mengangkat tubuh Mikha, memasukkannya ke dalam karung lalu melemparkannya ke dalam truk sampah agar diangkut sampai jauh. Sayang seribu sayang, ia tidak bisa melakukannya karena rasa cintanya yang begitu besar terhadap anak itu.
Oke, sebagai gantinya, dia akan melampiaskan kekesalannya kepada Mama. Kapan sebaiknya dia merealisasikan keinginannya itu? Sekarang, tentu saja!
Dengan langkah yang sempoyongan karena dia masih merasa seperti sedang ada gempa, Segara berjalan kembali ke ruang tengah. Sambil melangkah, dia berteriak. “Mamaaaaaaa!!!” hingga suaranya memenuhi seisi rumah.
Sementara Lana hanya bisa menghela napas panjang. Mikha lain lagi, bocah itu malah terlihat sumringah, membayangkan akan ada adik bayi di dalam rumahnya ini. Hah! Pasti seru!
Bersambung
__ADS_1