
Sesuap nasi hampir masuk ke dalam mulut Segara, namun urung karena sendok yang belum sempat menyentuh ujung bibirnya itu segera dia turunkan saat mendapati Rudi berlarian tunggang-langgang ke dalam rumahnya. Remaja laki-laki itu datang dengan keringat yang membanjiri tubuhnya, wajahnya pucat, napasnya tersengal. Di belakangnya, menyusul Arkana yang memang tadi berjalan ke depan untuk membukakan pintu.
Segara bangkit dari kursi, bergegas menghampiri Rudi yang tampak membungkuk, sedang mengatur napasnya yang kepayahan.
“Dia tiba-tiba aja nerobos masuk, gue nggak sempat cegah.” Adu Arkana, takut dilimpahi kesalahan karena membiarkan Rudi masuk begitu saja.
Seakan mengerti, Segara mengangkat tangan, menunjukkan gestur bahwa ia mengerti. Selanjutnya, menepikan soal Arkana yang tampaknya masih menyimpan curiga begitu banyak terhadap Rudi, ia bergerak lebih dekat ke arah remaja itu lantas bertanya dengan suara pelan, “Ada apa, Rud?”
Rudi mengangkat kepala seraya menegakkan punggungnya. Napasnya masih terlihat payah, tapi sudah jauh lebih baik ketimbang sebelumnya.
“Ada apa?” Segara bertanya ulang.
“Tolongin saya, Mas. Ibu ... Ibu ...” suara Rudi putus-putus, matanya terlihat berair, hendak menangis.
“Ibu kamu kenapa? Coba bilang sama saya, pelan-pelan aja.” Segara berusaha menenangkan. Lalu ia menoleh ke arah meja makan, berniat meminta tolong kepada Lana untuk membawakan air minum ketika nyatanya perempuan itu sudah berderap ke arahnya, membawakan segelas air yang bahkan belum sempat dia minta. “Terima kasih,” ucapnya kepada Lana, lalu mengangsurkan gelas itu kepada Rudi.
“Ini, minum dulu.”
Rudi menerima gelas itu, menenggak air di dalamnya sampai benar-benar tandas, lalu ia kembali menatap Segara. Bertepatan dengan tatapan mereka yang bertemu, air mata remaja itu luruh, ia betulan menangis. “Ibu, Mas. Ibu pingsan di kamar mandi. Saya ... saya nggak tahu harus gimana. Tolong, Mas.”
Mendengar itu, tanpa pikir panjang, Segara langsung menarik lengan Rudi, mengajaknya bergegas. “Ar, siapin mobil!” perintahnya kepada Arkana selagi langkahnya sudah terayun bersama Rudi.
Arkana tidak punya pilihan selain mengiyakan. Maka ia segera berlarian naik ke lantai dua untuk mengambil kunci mobil miliknya.
Sementara itu, yang tersisa di meja makan hanyalah Lana dan Mikha, yang sama-sama masih tidak mengerti sedang ada apa. Mereka sedang bersiap untuk sarapan ketika bel di pintu depan berbunyi. Arkana mengajukan diri untuk membukakan pintu, dan inilah yang terjadi.
“Mommy...” panggil Mikha.
Lana yang semula terpaku menatapi kepergian Segara sambil mencoba mencerna situasi sontak berbalik dan secepat mungkin kembali ke sisi Mikha. “Ya, Sayang?”
“Ada apa?” tanya si bocah.
Lana cuma bisa menggeleng, sebab ia masih tidak mengerti apa-apa.
__ADS_1
Tak berapa lama, Arkana kembali, sudah membawa kunci mobil dan mengenakan jaket. Langkahnya yang terayun lebar direm, hanya untuk berkata, “Miss Lana sama Mikha lanjutin aja sarapannya, saya sama Segara keluar dulu sebentar.” Kemudian berlalu begitu saja, berlarian menyusul Segara yang entah sudah berada di mana.
...****************...
“Pasien mengalami serangan jantung, beruntung nyawanya masih bisa tertolong karena dibawa ke rumah sakit di saat yang tepat. Karena kalau terlambat sedikit saja, nyawa pasien bisa tidak selamat.”
Ucapan dokter itu membuat tubuh Rudi luruh ke lantai. Ia bersandar ke tembok rumah sakit yang dingin, hatinya sesak, matanya sudah banjir air mata.
Pagi tadi, saat mereka seharusnya sarapan bersama, Rudi malah menemukan ibunya tergelak tak berdaya di lantai kamar mandi rumah mereka. Padahal sebelum dia tinggal membeli nasi uduk di gang depan, ibunya itu masih terlihat baik-baik saja. Mereka bahkan sempat bersenda gurau bersama, seperti rutinitas yang memang mereka lakukan sehari-hari.
“Nggak apa-apa, ibu kamu udah baik-baik aja.” Rudi merasakan bahunya diusap berkali-kali. Tidak perlu mengangkat kepala untuk tahu bahwa pemilik tangan besar itu adalah Segara, orang yang hidupnya sudah sempat dia usik meskipun bukan atas kemauannya sendiri.
Sebenarnya, Rudi ragu-ragu saat hendak berlari ke rumah Segara tadi. Mengingat apa yang sudah dia lakukan kepada lekaki itu di waktu yang lalu, ia sempat ragu kalau Segara akan sudi membantunya. Tapi lihatlah sekarang, bukan cuma membantu membawa ibunya ke rumah sakit demi mendapatkan pertolongan, lelaki itu juga bahkan berusaha menenangkan dirinya. Padahal kalau mau, lelaki itu bisa saja bersikap acuh.
Sikap Segara yang demikian justru membuat tangis Rudi kian pecah. Rasa bersalah menggerogoti sampai ke ulu hati, membuatnya serasa sekarat dan nyaris mati mengenaskan.
“Nangis sepuas kamu, Rud, nggak apa-apa. Tapi habis ini, kamu nggak boleh kelihatan sedih di depan ibu kamu. Oke?”
Rudi masih tidak menyahut, dia sibuk menangis. Makin banyak air mata yang jatuh, dadanya makin terasa sesak dan matanya kian mengabur. Sedangkan Segara, ia tidak bisa melakukan apa-apa selain dengan sabar menunggu remaja itu menuntaskan tangisnya.
Arkana melirik ke arah Rudi yang masih tersedu-sedu, lalu ia mengembuskan napas kasar. “Telepon gue kalau mau dijemput.” Ucap Lelaki itu, lalu bergegas pergi setelah mendapati Segara mengangguk.
...****************...
Pukul 12 siang, matahari bersinar tepat di atas kepala, membuat siapapun menjadi enggan untuk berkeliaran di luar dan lebih memilih untuk mendekam di dalam rumah, gegoleran di atas lantai yang dingin seraya menyetel air conditioner pada suhu paling rendah.
Namun, hal itu tidak berlaku untuk Lana. Seakan tidak memedulikan betapa sinar matahari dengan ganas menyengat kulit tubuhnya, ia berlarian dari halaman depan menuju lobi rumah sakit, menenteng satu kotak bekal makan siang yang dia bawa khusus untuk Segara.
Awalnya, dia tidak ingin ikut campur. Ia berencana menunggu Segara pulang karena Arkana bilang lelaki itu mungkin hanya akan menunggu di rumah sakit sampai ibunya Rudi sadar. Tetapi setelah ditunggu selama berjam-jam dan lelaki itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya, Lana pun memutuskan untuk menyusul.
Aroma khas rumah sakit menyerbu indra penciuman Lana ketika perempuan itu mulai berjalan menyusuri koridor, sesekali celingukan mencari letak lift untuk dia gunakan naik ke lantai 3, lantai di mana ibunda Rudi dirawat.
Baru saja Lana menjejakkan kaki di lantai 3, matanya sudah langsung menemukan keberadaan Segara. Lelaki itu duduk sendirian di bangku tunggu, tampak menunduk seraya menautkan kedua tangannya di atas paha.
__ADS_1
Perlahan, Lana mengayunkan langkah mendekat, berusaha mengatur napasnya yang ngos-ngosan akibat berlarian tadi.
“Pak,” panggilnya, dari jarak 5 langkah dari tempat Segara duduk.
Yang dipanggil mengangkat kepala, tampak terkejut saat menemukan keberadaannya. “Miss Lana ngapain di sini?” tanya lelaki itu.
“Mengantarkan makan siang.” Terang Lana seraya mengangkat kotak makan siang yang dia tenteng sedari tadi. “Pak Segara melewatkan sarapan, jadi sebaiknya jangan melewatkan makan siang juga.”
Selama beberapa saat, Segara terdiam. Yang lelaki itu lakukan hanya menatap Lana dan kotak makan siang yang dibawa perempuan itu secara bergantian. Lalu, setelah satu embusan napas pelan, ia bangkit, lantas menerima kotak bekal makan siang yang Lana bawa sekaligus membawa perempuan itu agar ikut duduk bersamanya.
“Mikha udah makan?” tanyanya seraya menatap lurus pada kotak makan siang berwarna biru tua itu.
“Udah, Pak. Sekarang lagi tidur siang sama Pak Arkana, makanya saya bisa ke sini antar makan siang buat Pak Segara.” Jelas Lana.
Segara menoleh, menemukan tatapan yang terasa asing dari perempuan yang duduk di sebelahnya itu. “Kalau Miss Lana, udah makan juga?” tanyanya.
Lana tersenyum, lalu menggeleng. “Saya bisa makan siang nanti. Di dalam situ ada dua porsi, Bapak bisa makan bareng ...”
“Rudi.” Segara membantu melengkapi kalimat Lana yang terputus.
“Iya, Rudi. Bapak bisa makan bareng Rudi.” Sambung perempuan itu masih dengan senyum manisnya.
“Terima kasih.” Hanya itu yang bisa Segara katakan. Sedangkan Lana juga hanya bisa menganggukkan kepala sebagai tanggapan, lalu kembali hening.
Selama bermenit-menit lamanya, sama sekali tidak terjadi percakapan apapun di antara mereka. Yang terdengar di antara mereka hanyalah deru napas halus yang tak kentara, sesekali beradu dengan derap langkah kaki para perawat yang sedang melakukan kunjungan ke setiap bangsal seraya mendorong troli berisi makan siang dan obat-obatan untuk pasien.
Keheningan itu akhirnya mengusik Segara, membuatnya kembali menoleh ke arah Lana yang kini tampak menatap lurus ke depan, pada tembok rumah sakit bercat putih yang tidak menampakkan pemandangan indah apapun yang bisa ditatap sampai sebegitunya.
“Miss Lana tadi ke sini naik apa?”
Dilempari pertanyaan, Lana pun menoleh. “Taksi.” Jawabnya, lalu kembali hening selama beberapa saat.
Lagi-lagi Segara harus memutar otak untuk menciptakan sebuah percakapan, hanya untuk sampai pada sebuah kalimat yang dia sendiri tidak mengerti mengapa harus ia ucapkan.
__ADS_1
Kepada Lana, ia justru bertanya. “Makanan ini ... boleh saya dan Miss aja yang makan?”
Bersambung