
Mungkin karena ini bukanlah pernikahan yang benar-benar dia inginkan dari lubuk hatinya, Segara tidak merasakan kecemasan apapun saat kakinya melangkah memasuki gereja, di mana tamu undangan telah duduk di kursi masing-masing, siap menjadi saksi atas terikatnya dua sejoli dalam restu Tuhan yang abadi.
Di depan seorang pendeta yang sudah siap menuntun pengucapan janji suci, Segara berdiri dengan punggung yang tegap. Sesekali ia menoleh ke belakang, memeriksa keberadaan Mikha yang duduk anteng diapit Mama dan Papa. Persis di sebelah mereka, Pamela dan ayahnya turut mendudukkan diri, senyum terpancar di wajah keduanya meskipun Segara tahu ada makna yang berbeda dari senyum mereka masing-masing. Arkana tidak ada di sana, dia ditugaskan untuk mengantar Lana ke Altar, nanti, beberapa saat yang akan datang.
Selagi menunggu prosesi berjalan, pikiran Segara kembali melayang. Beberapa adegan dari masa lalu bertandang, membuatnya merasa senang sekaligus resah di saat yang bersamaan. Ia merindukan Karenina, hanya itulah yang terpikirkan olehnya ketika ia bersitatap dengan pria berusia 50-an di hadapannya.
Dulu, di gereja ini, pemberkatan pernikahannya dengan Karenina juga dilakukan, dibimbing oleh pendeta yang sama pula, dengan suasana dan dekorasi yang nyaris serupa. Yang berbeda benar-benar bagaimana perasaan Segara. Betapa tiada perayaan megah di dalam hatinya seperti ketika dulu ia mengikat janji suci dengan Karenina.
Setelah menunggu selama beberapa menit, ia mendengar dua langkah kaki yang bersahut-sahutan dari arah belakang. Segara lantas membalikkan badan, menemukan dirinya kehilangan kata-kata saat sosok Lana berjalan mendekat dengan veil yang menutupi kepala dan wajahnya. Di tangan perempuan itu, terdapat sebuket Baby’s Breath dan Peony putih yang tampak digenggam erat, sementara di sampingnya, Arkana berdiri sigap dalam balutan jas berwarna hitam dan dasi kupu-kupu.
Lana dibawa berjalan mendekat, lalu mereka berdiri berdampingan menghadap ke arah pendeta yang bersiap menuntun mereka menuju pengucapan janji suci yang ditunggu-tunggu oleh semua orang—mungkin selain dirinya.
Segara menjadi yang pertama mengucapkan janji sucinya. Dengan suara yang bergetar—sebab ia kembali mengingat Karenina—ia berkata, “Di hadapan teman, keluarga, dan Tuhan, saya menjadikan kamu untuk menjadi istri saya. Saya berjanji dengan bantuan Tuhan untuk menjadi suami yang setia, berbakti, dan penuh kasih di sepanjang hari-hari kehidupan kita.”
Selesai dengan janjinya, Segara meringis. Dadanya terasa sesak, perasaan bersalah menyelimuti, berkembang lebih besar daripada yang sebelumnya dia duga. Ternyata, ia ketakutan. Sebab tanpa sadar, dia telah mempermainkan sebuah pernikahan yang sakral. Ia sadar dirinya tidak akan bisa menjadi sosok suami seperti yang dia ucapkan, tetapi dia tetap melakukannya atas nama kasih sayangnya terhadap Mikha.
Dan, sesak itu semakin menjadi-jadi saat Lana yang berdiri di sampingnya turut mengucapkan janji yang dia tulis sendiri. “Saya berjanji untuk mencintaimu di atas segalanya dan menghargai kamu dalam hidup saya sebagai anugerah yang berharga. Saya berharap untuk membesarkan keluarga kita dan membangun hubungan kita di bawah pemeliharaan dan bimbingan Tuhan. Saya berjanji untuk berdiri di sampingmu sebagai istri dan teman dalam sakit atau sehat, di saat-saat kemakmuran dan kemunduran, dalam damai dan kekacauan, selama kita berdua masih hidup.”
Lalu, tepat setelah perempuan di sampingnya itu selesai berbicara, Segara meraih tangan kanannya, untuk kemudian menyematkan sebuah cincin bertahtakan satu pertama kecil yang tak tampak berkilauan ke jari manisnya. Lana pun melakukan hal yang sama kepada dirinya.
Serangkaian acara terus berjalan. Lantunan doa diucapkan, diamini oleh semua hadirin yang datang sebagai tamu undangan. Secara garis besar, itu tampak seperti acara pernikahan pada umumnya. Secara kasat mata, kedua mempelai itu tampak bahagia ketika mata mereka saling bertemu setelah serangkaian acara selesai dilaksanakan.
Bedanya, sore itu, di dalam gereja yang suci dan disaksikan beberapa pasang mata, tidak ada ciuman yang mendarat di kening ataupun bibir Lana. Mereka berdua hanya saling menggenggam tangan masing-masing, menyunggingkan senyum untuk semakin mendukung peran mereka sebagai manusia yang baru saja dinyatakan sah sebagai sepasang suami istri.
“Ren, I feel like I’m cheating on you.”
__ADS_1
“Mama dan Ayah lihat? Lana sudah menikah, jadi mulai sekarang, nggak ada lagi yang perlu Mama dan Ayah khawatirkan dari atas sana.”
...****************...
Langkah yang Lana ayunkan terhenti di ujung tangga. Ia mengurungkan niat untuk menyusul Segara yang sudah lebih dulu naik ke lantai 2 dengan membawa koper berisi pakaian miliknya. Penyebabnya satu, karena tatapannya bertemu dengan sebuah pigura foto besar yang menampakkan sosok Segara dan istrinya terdahulu, Karenina.
Lana tahu ia tidak berhak untuk menyingkirkan apapun yang sebelumnya ada di rumah ini, sebab dia adalah tamu yang harus kapan saja angkat kaki ketika sang empunya rumah menghendaki. Maka alih-alih merasa benci, ia justru terpaku cukup lama di depan pigura foto itu, mengangumi betapa cantik sosok Karenina di dalam balutan gaun pengantin berwarna putih. Betapa cerah senyum yang perempuan itu tunjukkan, secerah milik suaminya yang tampak memandang penuh puja ke arahnya.
Satu kesimpulan yang Lana dapatkan hanya dengan memandang foto pernikahan tersebut: Segara begitu mencintai Karenina.
“Miss.” Panggilan yang masih belum berubah itu membuat Lana menarik diri dari kekagumannya terhadap sosok Karenina. Ia menoleh, sedikit mendongak ke atas untuk menemukan Segara yang berdiri di lantai 2 seraya menatap lurus ke arahnya. “Kamar Miss ada di sebelah kiri, saya udah bereskan, jadi Miss bisa langsung istirahat nanti."
Lana tersenyum tipis, lantas mengangguk. Sebagaimana ia hanyalah tamu, sang Tuan rumah pun memperlakukannya demikian. Jauh-jauh hari setelah mereka sepakat untuk menikah, ia dan Segara memang sudah membicarakan soal kamar yang terpisah.
Untuk Segara, alasannya adalah jelas karena lelaki itu masih belum bisa melupakan mendiang istrinya. Sementara untuk Lana, itu hanya sesederhana bahwa dia tidak akan berkontak fisik dengan siapapun tanpa memiliki perasaan. Yah, sampai sejauh ini, dia masih memandang Segara dengan cara yang sama, hanya seorang ayah dari bocah yang kebetulan berhasil mencuri perhatiannya, tidak lebih.
“Boleh.” Lana menjawab disertai senyum tipis.
Lalu tiba-tiba, suara teriakan Mikha membuat keduanya menoleh ke arah lantai bawah. Mereka memang pulang lebih dulu menggunakan satu mobil yang sama, sementara Mikha ikut dengan Arkana beserta Papa dan Mama.
“Mommy Lana!” seru anak itu lagi. Kaki kecilnya terayun lebar, berlari menghampiri Lana yang berdiri di tengah-tengah tangga.
Seperti biasa, Segara menemukan perempuan itu menyambut Mikha dengan sukacita. Ia melihat Lana berjongkok, merentangkan tangan lebar-lebar lantas mendekap Mikha begitu erat saat gadis kecilnya itu akhirnya sampai di hadapan. Gaun pengantin yang menyebar menutupi anak tangga juga seolah tidak menjadi halangan bagi Lana. Perempuan itu bisa dengan mudahnya kembali bangkit berdiri dengan Mikha yang sudah berpindah ke dalam gendongannya.
“Mikha, Miss—errr, Mommy Lana mau mandi dulu, kamu turun dulu ya.” Tegur Segara pelan.
__ADS_1
Mikha sama sekali tidak keberatan, anak itu segera turun, lalu menggandeng tangan Lana menapaki anak tangga yang tersisa. “Mikha juga mau mandi, bareng Mommy Lana.” Cerocosnya. Segara iya-iya saja, dia persilakan dua orang itu berlalu, meninggalkan dirinya yang kini menjadi objek perhatian bagi Arkana, Mama dan Papa yang masih berdiri di lantai satu.
Sadar dirinya sedang diperhatikan sedemikan rupa, Segara pun berjalan menuruni tangga. Ia menggiring kedua orang tuanya untuk duduk di ruang tengah, sementara Arkana dia biarkan tertinggal, tak dia anggap sebagai tamu yang harus dipersilakan duduk lebih dulu.
“Mama sama Papa mau nginep, ya,” celetuk Mama tiba-tiba, membuat Segara tersedak ludahnya sendiri. “Kan, kamu mau malam pertama sama Lana. Mama mau jagain Mikha, biar nggak gangguin malam pertama kalian.”
Malam pertama apanya? Ringis Segara dalam hati. “Kamar tamu dipakai sama Arkana, nggak ada kamar kosong lagi.” Segara beralasan.
“Masih ada satu lagi, kan? Nggak apa-apa deh kecil,” Mama masih bersikeras.
“Nggak ada. Kamar yang itu udah Segara jadiin gudang.” Bohongnya. Padahal, ya di kamar yang Mama maksud itulah dia akan mengurung Arkana mulai malam ini. Sebab kamar tamu yang utama akan digunakan sebagai kamar Lana.
Mama memberengut, menampakkan raut cemberut yang sama sekali tidak merepresentasikan usianya yang hampir masuk kepala 5. “Pelit.” Gerutunya.
Segara tidak menanggapi hal tersebut, ia beralih menatap Papa yang memang lebih banyak diam. “Papa oke?” tanyanya.
Papa mengangguk mantap, menyunggingkan senyum sebagai jaminan bahwa kondisinya memang sudah baik-baik saja. “Tapi belum bisa ke kantor, Ga. Maaf, ya,” terlihat jelas raut tidak enak itu di wajah ayahnya.
Segara menggeleng pelan, “It’s okay, urusan kantor udah Segara handle kok, ada Arkana juga yang sedia bantu-bantu. Iya, kan?” ia menoleh ke belakang, melirik Arkana yang lebih memilih berdiri di belakang tubuhnya.
“Aman, Pa.” Sahut Arkana.
Mendengar itu, raut wajah Papa Damian terlihat lebih lega. “Makasih, ya, anak-anak Papa.”
Segara dan Arkana hanya mengangguk seraya mengulaskan senyum tipis.
Perbincangan yang terjadi di antara mereka selanjutnya tidak jauh-jauh dari soal pekerjaan. Cuma Mama yang sesekali menyeletuk dengan topik-topik yang melenceng, seperti berapa anak yang Segara dan Lana rencanakan untuk miliki ke depannya, atau mereka hendak honeymoon ke mana. Haih... Anak? Honeymoon? Sama sekali tidak terpikir oleh Segara atas dua hal tersebut.
__ADS_1
Maka pertanyaan-pertanyaan nyeleneh dari Mama tidak dia tanggapi, ia biarkan saja wanita itu menggerutu sesuka hati.
Bersambung