
Tujuh jam perjalanan yang ditempuh akhirnya selesai juga. Segara menggiring Lana keluar dari pintu kedatangan di Incheon Internasional Airport. Dua koper dia handle sendiri, tak membiarkan Lana repot-repot menggeret koper yang berukuran lebih besar ketimbang miliknya itu.
Dari bandara, mereka berangkat menuju hotel dengan menggunakan taksi. Letak hotel mereka tidak terlalu jauh, hanya sekitar 25 menit dari bandara. Mungkin Mama memang sengaja memesan yang dekat karena tahu mereka akan sangat kelelahan begitu tiba di Korea. Apalagi, mereka tiba ketika tengah hari bolong, di mana matahari bersinar begitu terik seakan bisa membakar apa saja yang dia terpa melalui sinarnya yang panas.
Selama di dalam taksi, mereka tidak terlibat percakapan apa pun. Segara hanya mendengar Lana sesekali bertukar suara dengan sang sopir, menggunakan bahasa Korea. Yeah, dia juga baru tahu kalau Lana ternyata bisa berbahasa Korea. Makin-makin saja dia merasa bersalah karena nyatanya perempuan bernama lengkap Kelana Larasati ini memang banyak sekali bisanya.
Sopir taksi mengantarkan mereka sampai ke depan lobi hotel, membantu menurunkan dua koper dari bagasi dan menawarkan untuk dibawakan sampai ke dalam, namun Segara menolak.
Usai serah terima koper, Segara bergegas melesat ke pintu masuk, di mana seorang pria bertubuh tegap tampak stand by di sana. Wajahnya khas orang Korea. Ya, maksudnya, mirip dengan aktor-aktor yang sering dia lihat di layar kaca. No, Segara tidak suka dengan segala hal berbau Korea, baik musik atau pun dramanya. Tapi Karenina suka. Jadi sesekali, dia akan ikut nimbrung saat perempuan itu sedang asyik menonton drama.
Lama dia ayunkan langkah, baru sadar bahwa Lana tidak mengekor di belakang. Ketika dia menoleh untuk memastikan, dia menemukan perempuan itu sedang berjongkok di dekat lokasi taksi yang mengantarkan mereka tadi parkir. Ia hendak berbalik menghampiri, namun urung saat perempuan itu sudah lebih dulu berdiri.
Saat Lana berbalik, nampaklah oleh mata Segara eksistensi seekor kucing berwarna oranye di dalam gendongan perempuan itu. Dengan senyum cerah, perempuan itu berjalan menghampirinya yang masih berdiri sekitar 5 langkah dari pintu masuk hotel.
“Ngapain? Di hotel nggak mungkin boleh bawa masuk hewan.” Tandas Segara tanpa tedeng aling-aling. Lana cerdas, tapi di beberapa kesempatan, dia memang menemukan perempuan itu suka bersikap random. Bukan tidak mungkin perempuan itu berpikir untuk membawa serta si kucing oren bermuka galak itu untuk masuk ke dalam hotel, bukan? “Turunin.”
“Ih,” adalah yang pertama keluar dari mulut Lana. Tapi tetap saja, perempuan itu mengikuti arahan Segara untuk menurunkan kucing oren dari gendongannya. “Saya juga tahu kalau di hotel nggak boleh masukin hewan.” Ucap perempuan itu seraya bersungut-sungut. Si kucing oren masih ada di sana, duduk santai seakan tidak memiliki dosa.
“Terus?” Segara menaikkan sebelah alisnya. Pegangannya pada kedua gagang koper dilepas, sebab dia lebih tertarik untuk melipat kedua lengannya di depan dada, bersiap mendengar penjelasan yang masuk akal mengapa Lana memungut si Oren itu dan menggendongnya. “Mau diapakan kucingnya?”
“Mau saya kasih makan!” Lana berseru dengan semangat. “Di koper saya ada dry food dan wet food untuk kucing dan anjing. Saya mau kasih beberapa ke si manis ini.” Seraya menunjuk si Oren gembul yang kini malah gegoleran di dekat kaki Lana, memamerkan perut buncitnya.
Genit! Dasar kucing! Rutuk Segara. Namun demikian, dia tetap membantu Lana membongkar kopernya, mengeluarkan satu saset wet food merk ternama berukuran 85 gram lantas menyodorkannya kepada Lana.
“Thank you,” Lana berucap riang. Wet food tadi dia sambar, lalu dia lanjut menyambar tubuh si Oren lantas membawa hewan berbulu itu menjauh, mencari spot terbaik untuk memberi makan.
Segara hanya bisa diam menyaksikan bagaimana Lana tidak terlihat kesulitan membawa si Oren yang gendut—yang anehnya sama sekali tidak mereog—ke sebuah area yang ditanami beberapa pepohonan. Di sana, perempuan itu lalu menuangkan wet food yang dia bawa, mempersilakan si Oren menikmati makan siangnya.
Memang tidak kedengaran istrinya itu mengatakan apa kepada si Oren, tetapi kalau kepalanya boleh sedikit berimajinasi berdasarkan bagaimana cara perempuan itu berkomunikasi selama ini, kurang lebih isi ucapannya mungkin adalah begini: “Ini, silakan dimakan. Nikmati makan siangmu pelan-pelan, ya, manis, jangan sampai tersedak. Aku nggak bawa air minum, jadi nanti kamu cari sendiri, ya.”
Sialan! Begitu saja, Segara terkekeh geli. Bisa-bisanya dia membayangkan Lana betulan berkata demikian. Lebih didukung lagi saat ia menyaksikan Lana masih berjongkok di dekat si Oren yang makan dengan lahap seraya mengusap-usap kepala hewan itu.
Melalui pemandangan itu, Segara menemukan satu sisi lain lagi dari seorang Lana. Dia agaknya mulai mengerti, alih-alih berkomunikasi dengan sesama manusia, perempuan itu sepertinya memang lebih senang berkomunikasi dengan hewan.
Disclaimer saja, Segara tidak akan menghakimi. Memang ada beberapa orang yang seperti itu. Ada golongan orang-orang yang lebih nyaman bertegur sapa dengan hewan karena menurut mereka manusia itu membosankan—dan menyeramkan sesekali. Kalaupun Segara dianugerahi oleh Tuhan kepekaan dan kasih sayang terhadap hewan-hewan itu, dia juga mungkin akan melakukan hal yang sama.
Sayangnya, dia tidak begitu. Bukan benci. Dia tidak pernah berpikiran untuk melakukan hal yang buruk pada hewan-hewan liar yang ada di sekitarnya. Entah kucing, anjing, ayam atau hewan apa pun itu. Hanya saja, dia juga tidak ingin terlibat lebih dekat dengan mereka. Dia hanya... tanpa alasan yang jelas tidak terlalu menyukai mereka. Menurutnya, hewan-hewan itu cukup dibiarkan saja hidup sebagaimana keinginan mereka, tidak perlu untuk saling bersinggungan karena manusia dan hewan memang memiliki kehidupan yang berbeda.
Ah, soal keinginannya untuk terlahir sebagai babi saja, tolong dilupakan. Dia hanya sedang emosi, tidak betulan ingin lahir menjadi hewan berwarna merah muda itu.
Cukup lama Segara berdiri seperti orang bodoh di posisinya, menunggu sampai akhirnya Lana berlarian menghampiri dirinya setelah puas memberi makan si Oren—yang kini entah sudah berlari ke mana.
“Udah?” tanyanya.
__ADS_1
Lana mengangguk dengan semangat yang masih terpancar melalui kedua netranya. “Ayo, masuk.” Ajak perempuan itu. Satu koper diambil alih, dan Segara tidak bisa mencegah karena gerakan tangannya kalah cepat.
Keadaan mereka kini berubah. Dialah yang kini digiring oleh Lana memasuki hotel. Perempuan itu berjalan dengan kepercayaan diri penuh menuju meja resepsionis, berbicara dengan petugas perempuan yang tersenyum ramah—masih menggunakan bahasa Korea. Karena toh dia tidak mengerti, Segara memutuskan untuk diam saja, menunggu sampai proses check in yang sedang diurus oleh Lana selesai.
Tak butuh waktu lama, kunci akses untuk kamar yang sudah dipesankan oleh Mama telah berpindah ke tangan Lana. Seorang bellboy yang tadi menyambut mereka dari pintu depan dan mengantar ke resepsionis mengambil alih koper, menggiring mereka untuk sampai ke kamar yang telah dipesan.
Sampai di depan kamar, Lana tahu-tahu menyodorkan telapak tangan, menodong Segara yang tidak tahu apa-apa.
“Bagi uang, buat tip.” Ujar perempuan itu setelah Segara tidak kunjung bergerak.
Sambil menghela napas, Segara merogoh saku celana, mengeluarkan beberapa lembar uang won dan menyerahkannya kepada Lana. Biar saja perempuan itu yang pikirkan harus seberapa banyak bellboy yang membantu mereka itu harus diberi tip.
Alih-alih mengambil semua yang disodorkan, Lana hanya mengambil 2 lembar pecahan 10 ribu won, lantas mengangsurkannya kepada si bellboy.
Serah terima koper dan uang tip selesai dalam waktu singkat. Bellboy tadi pamit undur diri seraya membungkukkan tubuhnya sebagai tanda penghormatan. Lana balas membungkuk, sedangkan Segara yang memang tidak terbiasa dengan kultur di negeri gingseng tersebut hanya diam saja.
Setelah itu, Lana yang memegang kunci akses pun segera bergerak membuka pintu. Dan betapa terkejutnya mereka berdua saat menemukan pemandangan tak terduga di dalam sana.
Sebuah kamar tipe Honeymoon Suites dipesan untuk mereka. Satu kasur King Size bed yang dihias sedemikian rupa dengan bebungaan yang bertabur di atasnya menjadi sesuatu yang paling menarik perhatian mereka berdua. Ini... seperti mereka benar-benar sedang berbulan madu.
“Ugh,” Lana melenguh tanpa sadar, membuat Segara serta-merta menoleh ke arahnya. “Pak Segara nggak keberatan tidur di kamar kayak gini? I mean...”
“Mau coba pesan satu kamar lagi?” usul Segara tanpa pikir panjang. Yang dia tangkap dari ekspresi Lana adalah ketidaknyamanan. Maka yang dia bisa tawarkan adalah sebuah jalan keluar.
Oh, Lana hanya tidak ingin membuang lebih banyak uang untuk menyewa satu kamar lagi. Honeymoon Suites ini saja pasti sudah memakan biaya yang tidak sedikit. No way, meskipun bukan terlahir dari kalangan miskin, Lana tetap tidak tega untuk menghambur-hamburkan uang. Lagipula, tubuhnya kecil, muat lah kalau harus tidur di sofa panjang itu. Bukan masalah besar.
Setidaknya, itu yang Lana pikirkan. Iya, dia hanya sedang menghibur diri. Kalian diam saja.
Keputusan akhirnya, mereka terima nasib saja. Dengan langkah gontai yang serasi, keduanya masuk ke dalam kamar hotel sambil menggeret koper masing-masing.
Seperti yang sudah Lana bilang, tujuannya adalah sofa beludru. Langsung saja dia daratan bokongnya di sana sementara Segara memilih duduk di atas kasur yang penuh hamparan kelopak bunga.
Ketika telapak tangan Segara menyentuh selembar kelopak bunga di sana, ia meringis. Perasaan, dulu saat dia pergi honeymoon bersama Karenina ke Bali, mereka mengurus semuanya sendiri. Kamar yang mereka pilih pun bukan tipe seperti ini, sebab Karenina lebih suka menjelajah ke luar daripada hanya berdiam diri di dalam kamar hotel. Membayar mahal sebuah kamar hanya untuk ditiduri di malam hari setelah lelah menjemur tubuh di pantai? Karenina tidak akan melakukannya.
Kelopak bunga yang mengganggu tangannya Segara singkirkan dengan gerakan agak sewot. Lalu dia iseng melirik Lana yang kini tampak bermuram durja seraya melayangkan tatapan ke jendela. Memandangi pepohonan rindang yang mengayun ke sana kemari tertiup angin.
Detik itu, yang terpikirkan oleh Segara hanyalah satu; apa yang ada di kepala Lana ketika setuju untuk menikah dengannya waktu itu?
...----------------...
Menjelang pukul 4, Lana sudah tidak tahan hanya berdiam diri saja di dalam kamar. Apalagi suasananya makin aneh. Kelopak bunga yang bertaburan di atas ranjang masih ada, Segara mungkin terlalu malas untuk menyingkirkannya. Sementara selama berjam-jam setelah kedatangan mereka, hanya ada beberapa kali obrolan yang terjadi dan semuanya tidak bertahan lebih dari 2 menit.
Secanggung itu.
__ADS_1
Bersama satu hela napas yang lolos dengan bebas, Lana mengangkat bokongnya dari sofa. Dia berjalan menghampiri koper yang sudah dia letakkan disudut ruangan, berjongkok menatapi benda kotak itu sebentar sebelum akhirnya membukanya pelan-pelan. Satu kaus lengan panjang dan satu celana training dia keluarkan dari dalam sana, lalu dia bawa setelan gembel itu ke dalam kamar mandi untuk menggantikan baju tidurnya yang sudah kusut tidak keruan.
Tak berapa lama, dia kembali keluar dari dalam kamar mandi. Baju tidur bekas pakai dia letakkan di dalam keranjang pakaian kotor yang tersedia, lalu dia berderap menghampiri Segara yang gegoleran di atas kasur.
“Pak, saya izin mau keluar sebentar, ya. Bosan di kamar terus.” Ucapnya berterus terang.
Segara praktis bangun dari posisi rebahan, menatap Lana sejenak sebelum akhirnya menggelengkan kepala. “Saya takut kamu hilang, nanti repot.” Alasannya.
Untuk itu, Lana langsung memasang tampang meyakinkan. “Saya udah biasa jalan-jalan di Korea, aman.” Sambil menepuk dadanya sendiri, berlagak sok di depan Segara yang nyatanya memang baru pertama kali menginjakkan kaki di negeri ini.
“Jangan lah, ngapain sih?”
“Saya bosan, Pak Segara,” ulang Lana. Untuk pertama kalinya, ia menyuguhkan pemandangan memutar bola mata malas pada suaminya, membuat si lelaki tertegun tak percaya. “Boleh, ya? Please... nggak akan lama kok, sebelum gelap saya udah balik lagi.”
Segara mendesah pelan, lalu mengangguk dengan mau tak mau. “Ya udah, tapi jangan jauh-jauh. Hape Miss juga jangan sampai mati, biar saya bisa hubungin Miss kalau ada apa-apa.”
“Siap!” begitu antusiasnya Lana sampai mengangkat telapak tangannya lalu meletakkannya di pelipis, memasang sikap hormat.
Itu kelihatan lucu, tidak bohong. Tetapi Segara mati-matian menahan agar tawanya tidak meledak supaya tidak menyinggung perasaan Lana.
Setelah mendapatkan izin, Lana pun bergerak pergi. Dengan begitu riangnya, ia berjalan menghampiri pintu. Namun belum sampai kakinya di ambang pintu, ia mengerem langkah lalu berbalik dengan cepat.
Wajah Segara yang terlihat kebingungan menjadi pemandangan pertama yang dia temukan. Dan raut wajah bingung itu semakin menjadi-jadi ketika ia tatu-tahu menyengir.
“Apa?” tanya Segara curiga.
Tidak enak, tapi harus tetap bilang. Maka sambil garuk-garuk leher yang tak gatal, Lana berkata, “Boleh minta uang nggak, Pak? Siapa tahu saya mau jajan.” Diakhiri kekehan canggung.
Lagi-lagi, Segara merasakan perutnya tergelitik. Entah karena Lana terlalu sering bersinggungan dengan Mikha atau bagaimana, ia merasa cara Lana meminta sesuatu kepadanya terdengar mirip dengan yang selalu dilakukan oleh putrinya.
Tak ingin membuat Lana menunggu, apalagi dengan senyum canggung itu, Segara pun bangkit dari kasur. Ia mengeluarkan lagi beberapa lembar uang won, menyodorkannya kepada Lana dan sekali lagi meminta perempuan itu memilih sendiri lembaran mana yang dia mau.
Lana tersenyum cerah, lalu mengambil 4 lembar pecahan 50 ribu dan 2 lembar pecahan 10 ribu. Sisanya masuk lagi ke dalam dompet Segara.
“Terima kasih.” Lana menyengir lagi.
Kali ini, Segara tidak bisa menahan senyum ketika menjawab, “Sama-sama.” Lalu melepaskan kepergian Lana dengan sebuah lambaian tangan dan pesan untuk berhati-hati.
Bersambung
Loooohhhhh kok gemasssssss
Oke, abaikan.
__ADS_1