
Suatu hari, ada satu percakapan yang terjadi di antara Segara dengan Karenina. Kurang lebih isinya begini, “Bagaimana jika salah satu dari kita mati lebih dulu? Apa yang akan dilakukan oleh yang tinggal?”
Hari itu, di beranda rumah, seraya menyaksikan matahari perlahan-lahan turun ke sisi barat, Segara dengan begitu percaya dirinya menjawab. “Jika kamu yang mati lebih dulu, aku akan tinggal. Aku akan menyimpan kamu di kepala aku selamanya, nggak akan menggantikannya dengan siapapun juga, nggak peduli seberapa kesepiannya aku nanti. Karena kamu harus tahu, cinta aku udah habis di kamu.”
Lantas dengan begitu saja, Karenina melontarkan pertanyaan lain. Perempuan itu bertanya, bagaimana jika seandainya Segara yang mati lebih dulu? Akankah ia berharap Karenina melakukan hal yang sama?
Dan tanpa ada ragu sedikitpun, Segara menggelengkan kepala. Dengan yakin, dengan suara beratnya yang menjadi candu tersendiri bagi Karenina sejak awal pertemuan mereka, Segara berkata, “Kalau aku yang mati lebih dulu, kamu harus menikah lagi. Kamu harus jatuh cinta lagi, bahagia lagi dengan laki-laki yang bisa kasih cinta lebih besar dan lebih hebat dari aku. Karena meskipun aku udah mati, aku tetap hidup dengan energi bahagia dari kamu. Jangan sedih, jangan sering-sering menangis, cukup ingat aku sesekali sebagai bukti bahwa keberadaan aku masih tinggal, walaupun cuma di kepala kamu.”
Sebagaimana ia mengenal Karenina, respons yang perempuan itu tunjukkan sore itu sukses membuatnya tergelak. Dengan bibir yang cemberut dan mata yang mendelik, perempuan itu melayangkan pukulan cukup keras di lengannya, mengoceh tanpa henti bahwa apa yang dia katakan adalah sesuatu paling tidak masuk akal sepanjang mereka bersama.
Karena, bagaimana bisa dia meminta Karenina menikah lagi, di saat ia sendiri tidak bersedia membuka hati seandainya perempuan itu mati lebih dulu?
Hari itu, perdebatan mereka soal jawaban yang Segara berikan masih terus berlanjut hingga matahari sepenuhnya tenggelam, meninggalkan semburat oranye yang dalam waktu singkat telah tertelan oleh pekatnya malam. Hanya untuk membawa mereka sampai pada satu keputusan bahwa, Segara tidak akan merubah jawabannya.
Saat itu, mereka belum memiliki Mikha. Percakapan itu terjadi jauh sekali sebelum anak itu lahir ke dunia, di mana satu-satunya pusat yang Segara percaya memang hanya Karenina.
Lalu, lihatlah dirinya sekarang. Ketika tahun-tahun berganti, meskipun hatinya masih begitu keras untuk tidak jatuh pada siapapun selain Karenina, ia tetap mengingkari janjinya sendiri. Ia menikah lagi, dengan perempuan yang bahkan tidak pernah terbayang olehnya akan hadir di dalam kehidupannya dan Mikha, jauh setelah Karenina meninggal dunia.
Segara tahu, dia sadar betul Karenina bukan manusia jahat yang akan betulan rela membiarkannya tenggelam dalam kesepian atas kepergiannya. Tapi tetap saja, perasaan bersalah atas ingkarnya janji itu masih sering mengusik Segara meskipun kini sudah seminggu berlalu sejak pernikahannya dengan Lana digelar.
Setiap kali rasa bersalah itu datang, Segara akan berulang kali mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia melakukan semuanya demi Mikha. Semata-mata hanya untuk membuat anaknya mendapatkan kasih sayang seorang ibu, seperti yang selalu anak itu rengekkan setiap hari.
Akan tetapi, saat dia mendapati betapa Mikha terlihat menyayangi Lana, bahkan sudah tidak pernah lagi menanyakan soal Karenina kepada dirinya, rasa bersalah yang Segara miliki justru tumbuh lebih besar. Ia takut, bagaimana jika putrinya akan tumbuh dengan melupakan segala hal tentang ibunya sendiri? Meski sejak lahir anak itu memang tak memiliki ingatan apapun tentang Karenina, tapi Segara selalu berusaha menceritakan banyak hal tentang perempuan itu. Berharap seiring dengan bertambahnya usia, akan lebih banyak pula cerita tentang Karenina yang bisa Mikha ingat seumur hidupnya.
Kalau sudah begini? Bagaimana dia akan melanjutkan ceritanya? Kalau Mikha saja tidak terlihat ingin mendengar apapun lagi dari dirinya.
“Daddy,”
Dari ujung tangga lantai 2, Mikha memanggil namanya. Segara memutar tubuhnya, berbalik menatap bocah yang kini berjalan pelan-pelan menuruni tangga seraya menggenggam erat jari kelingking milik Lana. Rambut anak itu terlihat rapi, dikuncir satu dan hanya menyisakan beberapa helaian yang tak bisa masuk ke dalam ikatan. Dress bunga-bunga berwarna merah muda di bawah lutut yang anak itu kenakan tampak menawan, sama indahnya dengan senyum yang kini tersungging di bibir sang empunya.
“Daddy mau berangkat kerja?” tanya anak itu lagi, ketika kaki kecilnya berhenti di depan Segara.
Tak peduli sedang seberapa ribut kepalanya, Segara tahu dia tidak akan bisa menolak segala keindahan dan keimutan yang Mikha tunjukkan. Tak peduli seberapa menyebalkannya anak itu di beberapa kesempatan, ia tetaplah Mikhaela, buah cintanya dengan Karenina yang sangat dia sayangi.
Maka setelah menganggukkan kepala, Segara berjongkok di hadapan Mikha, mendaratkan sebuah usapan halus di puncak kepala anaknya. “Be a good girl, okay?” sebuah pesan yang selalu dia sampaikan kepada Mikha setiap kali ia hendak berangkat ke kantor.
Template-nya, anak itu hanya akan menganggukkan kepala, mengiyakan setiap wejangan yang ayahnya berikan lalu dengan riang menggandeng tangan ibu sambungnya, menuntunnya turut mengantarkan Segara sampai ke gerbang depan.
Tapi hari ini, Segara tidak ingin Mikha hanya berhenti pada sebuah anggukan kepala, lalu melepas kepergiannya dengan senyum cerah yang terkembang sampai ke telinga. Segara ingin setidaknya mendapatkan sebuah pelukan hangat, yang rasanya lebih sering dia dirindukan belakangan ini.
Maka tanpa bicara, ia memeluk putrinya. Pundak kecil itu menjadi pemberhentian bagi dagunya, ia bersandar di sana, begitu nyaman seolah bobot kepalanya bukanlah sesuatu yang berat untuk putrinya sangga.
Satu menit penuh. Segara bahkan menghitung setiap detik yang dia habiskan untuk memeluk putrinya, lalu melepaskan pelukan itu dengan perasaan tidak rela yang sama besarnya ketika dia harus melepaskan kepergian Karenina.
“Daddy berangkat, ya? Nggak usah diantar ke depan.” Karena Segara tidak bisa menjamin dia tidak akan putar balik untuk memeluk Mikha sekali lagi.
“Oke, Daddy. Hati-hati di jalan.” Celoteh bocah itu, lantas mendaratkan sebuah kecupan di pipi kanan Segara. Kecupan hangat yang secara ajaib berhasil menggerus kesedihan yang menumpuk di dada Segara sampai setengah banyaknya.
Tak ada lagi kalimat yang Segara bisa katakan kepada putrinya, pun untuk Lana yang berdiri di belakang tubuh Mikha, menyaksikan semuanya dalam diam.
Segara bangkit, membalikkan tubuhnya dan segera mengayunkan langkah lebar-lebar. Sepatah kata pamit basa-basi yang biasa dia katakan kepada Lana pun tak keluar pagi ini. Ia pergi begitu saja, tanpa tahu bahwa sampai ia tiba di pintu depan sekalipun, perempuan itu masih memaku tatap pada punggungnya yang layu. Sibuk bertanya-tanya, ada apa gerangan dengan suaminya itu?
...----------------...
Rutinitas di kantor masih begitu-begitu saja. Berkas demi berkas terus berdatangan, seakan tidak pernah ada habisnya. Dalam segi bisnis, itu tampak bagus. Lebih banyak berkas kontrak yang datang, bukankah berarti bahwa perusahaannya berhasil membuat lebih banyak orang menaruh percaya untuk sebuah kerja sama? Tapi dari segi kemanusiaan, itu agak terlihat kejam. Ia jadi harus sering lembur, membuat kesempatannya untuk bertemu dengan Mikha jadi semakin sedikit.
“Saya kira, sampai di sini saja meeting kali ini. Untuk beberapa hal yang sudah saya sampaikan sebelumnya, tolong kalian tindak lanjuti.” Segara menutup map berisi materi meeting dengan salah satu divisi.
__ADS_1
Di meja panjang itu dia duduk di posisi center, membuatnya bisa menatap satu persatu dari 9 anggota divisi yang turut menghadiri meeting terkait pyorek terbaru mereka dengan lebih baik.
“Baik, Pak.” Anesti, yang duduk paling dekat dengan kursinya, menjawab. Perempuan itu turut membereskan berkasnya sendiri, lalu pamit undur diri disusul rekan-rekannya yang lain.
Segara masih tidak beranjak dari kursinya, mengamati satu persatu karyawannya itu keluar dari ruang meeting setelah membungkukkan badan sebagai tanda hormat.
Namun, dari 9 orang yang bergegas pergi, Segera menemukan satu yang masih bertahan di posisi duduknya, tampak tidak berniat untuk bangkit dan bergegas kembali ke ruang kerja seperti apa yang dilakukan oleh rekan-rekannya.
Orang itu adalah Pamela, yang akhir-akhir ini keberadaanya sering Segara hindari saat berada di kantor agar rumor tentang mereka tidak menyebar lebih parah.
“Ada yang ingin ditanyakan lagi?” tanyanya, saat Pamela tak kunjung melepaskan tatapan darinya. “Saya punya sisa waktu 15 menit sebelum kembali ke ruangan, jadi kalau memang ada pertanyaan, boleh ditanyakan kepada saya sekarang.”
“Ga,” alih-alih mengikuti alur sebagai seorang karyawan dan bos, Pamela malah kembali mengucapkan namanya sebagai teman. “How are you?”
Random. Tapi begitulah kadang-kadang seorang Pamela bersikap. Jangan lupa bahwa mereka adalah teman masa kecil, jadi ketika pertanyaan random seperti itu tiba-tiba keluar dari bibir Pamela, Segara sudah tidak heran. Biasanya, perempuan itu akan bertanya demikian saat suasana hatinya sedang tidak baik. Mungkin tengah merindukan ibunya, atau ada masalah lain yang Segara tidak tahu.
Maka, menyingkirkan profesionalitas yang dia jaga dengan baik selama beberapa waktu belakangan, Segara bergerak dari kursinya, berpindah ke satu kursi lain yang letaknya persis di sebelah Pamela. “Ada apa?” tanyanya.
Bukannya menjawab, Pamela malah menghambur ke dalam pelukannya, secara tiba-tiba, membuatnya nyaris kehilangan detak jantung karena saking terkejutnya.
Jika mereka sedang berada di luar, Segara tidak akan keberatan untuk memberikan Pamela sebuah pelukan. Sebab perempuan itu juga sering memberinya pelukan, terlebih di masa-masa awal kepergian Karenina. Masalahnya, mereka sekarang sedang berada di kantor, sehingga mau tidak mau, Segara terpaksa menarik diri secepat mungkin.
“Kita lagi di kantor, Mel, kamu—“ ucapan Segara tidak selesai, dibiarkan menggantung di udara sebab ia malah dibuat membisu kala menemukan wajah Pamela sudah basah akan air mata. Perempuan itu menangis, tanpa suara. “Hei, kenapa?”
Pamela tidak menjawab. Perempuan itu malah menundukkan kepala, begitu dalam untuk menyembunyikan wajah basahnya dari jangkauan pandang Segara. Tidak terdengar suara isakan sama sekali, tapi Segara bisa melihat bahu Pamela bergetar hebat.
Segara tahu, di kondisi seperti itu, tidak akan ada gunanya mendesak Pamela untuk bercerita. Maka sebagai gantinya, dia berjalan meninggalkan perempuan itu menuju pintu, hanya untuk kembali ke sisinya setelah mengunci pintu ruang meeting dan menurunkan roller blind untuk memastikan kejadian apapun yang ada di dalam ruangan ini tidak bocor ke luar.
Awalnya ragu, tapi kemudian Segara tetap mengulurkan kedua tangan, memeluk Pamela seraya menepuk-nepuk punggung perempuan itu sebagai tanda penghiburan. Ia biarkan dada bidangnya menjadi tempat di mana Pamela memuntahkan tangis, tak keberatan meski akhirnya dia merasakan kemeja berwarna biru muda yang dia kenakan menjadi basah.
Pamela yang Segara kenal jarang menangis. Dulu, di bangku SMA, saat perempuan itu pertama kali putus cinta sekalipun, tidak ada air mata yang keluar dari netra kembarnya. Jadi kalau tangisnya sampai bisa separah ini, Segara tahu masalahnya serius dan akan butuh waktu bagi perempuan itu untuk siap bercerita.
Menit demi menit berlalu, hingga pada akhirnya tangis Pamela perlahan-lahan mereda. Segara masih tidak melepaskan pelukannya, membiarkan tubuh mereka tetap berdempetan sampai kemudian Pamela lah yang menarik diri lebih dulu.
Saat Pamela mengangkat wajahnya, di situlah Segara menemukan perempuan itu dalam keadaan paling kacau sepanjang hidupnya. Netranya masih berair, kini terlihat bengkak dengan warna yang memerah. Bibir bagian bawah terluka, mengeluarkan titik darah yang membuat Segara yakin perempuan itu telah menggigit bibirnya sendiri untuk meredam suara isakan.
“Lain kali jangan kayak gini.” Segara meringis kala tangannya menyentuh bibir Pamela yang berdarah. Itu pasti perih, sudah tidak perlu diragukan lagi. “Nggak masalah kalau suara isakan kamu menuhin ruangan ini, Mel. Toh, cuma aku yang bakal dengar."
“Aku malu.” Cicit Pamela, seraya mengusap sisa air mata yang masih menggenang di pipinya.
Segara mengembuskan napas pelan, ikut-ikutan membantu Pamela mengusap jejak air mata menggunakan telapak tangan besarnya yang dingin. “Malu kenapa, sih? Aku nggak akan ngeledekin kamu cuma karena kamu nangis.” Selepas itu, Segara menarik tangannya kembali.
“Tetap aja, aku malu. Di mata kamu, kan, aku ini wonder woman, nggak pernah nangis.”
“Kata siapa?” Segara menyela. “Kalaupun iya, tetap nggak masalah kok buat kamu nangis. Jangankan kamu yang perempuan, aku sebagai laki-laki aja sering nangis. Yeah, kamu juga yang sering lihat sewaktu aku nangis, kan?”
“Aku masih pengin nangis,” aku Pamela usai terdiam selama beberapa detik setelah mendengarkan penuturan Segara.
“Ya udah, nangis lagi aja. Mau dipeluk lagi?” Segara menawarkan seraya merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, namun Pamela malah menggelengkan kepala.
“Aku harus balik ke ruangan, nggak enak sama yang lain.”
Dengan begitu saja, Segara kembali menurunkan lengannya. “Kamu yakin mau balik sekarang? Muka kamu masih jelek tuh.” Ia berkata seraya menunjuk wajah Pamela yang tidak keruan bentuknya.
Yang ditunjuk tidak terima, seketika mencebik dengan mata yang mendelik. “Emang ada orang habis nangis masih cantik?!” sewotnya.
“Ada, Karenina.” Celetuk Segara.
__ADS_1
Lagi-lagi Karenina. Batin Pamela, lalu makin-makin saja dia mencebikkan bibirnya. “Dasar bucin.” Cibirnya.
Atas cibiran itu, Segara terkekeh. Dia lega karena setidaknya Pamela sudah bisa mencibirnya, bukankah itu pertanda bahwa kondisi hatinya sudah jauh lebih baik? “Ya udah, sana balik, tapi cuci muka dulu biar nggak ketahuan habis nangis.”
Pamela bangkit tanpa bicara apa-apa, jadi Segara pikir perempuan itu akan melakukan seperti yang dia arahkan sebelumnya. Namun, alih-alih keluar dan pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya, Pamela malah meraih satu botol air mineral yang ada di atas meja, satu botol yang masih tersegel itu kemudian dia bawa menuju jendela kaca besar di sisi yang berseberangan. Tanpa banyak bicara, perempuan itu membuka jendela lalu membasuhkan air mineral ke wajahnya, membiarkan sisa air matanya luntur bersamaan dengan air yang terjun bebas ke jalanan.
Segara hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Pamela yang demikian. Lalu saat perempuan itu kembali ke sisinya, meletakkan botol air mineral yang setengah kosong kembali ke tempat semula, ia menghela napas.
“Jorok.”
“Biarin.”
“Kamu cuma tinggal keluar, terus jalan dikit ke kiri udah ketemu toilet, Pamela.”
“Jauh. Kalau pas keluar aku ketemu sama orang gimana? Apa nggak malu aku kalau ada yang lihat muka aku habis nangis?”
“Alasan aja, emang dasar kamu tuh jorok.”
“Terserah.” Dan begitulah cara Pamela mengakhiri perdebatan mereka. Selalu kata terserah, sama saja seperti perempuan kebanyakan. “Aku balik dulu ke ruangan. Kamu stand by, ya, takutnya aku pengin nangis lagi nanti pas pulang kerja.”
Perintah itu menjadi yang terakhir, sebagai penutup yang mengantarkan Pamela pergi meninggalkan ruang meeting yang seketika hening setelah kebergiannya.
Beberapa menit berselang, Segara juga turut pergi. Pekerjaannya masih banyak, dia harus segera selesaikan kalau tidak mau lembur lagi.
...----------------...
“Lo dari mana?” adalah pertanyaan yang ditodongkan kepadanya begitu Pamela sampai di ruang kerjanya. Datangnya dari Prawira, si paling rempong yang gemar sekali merecoki hidupnya. Doni pernah bilang kalau Prawira melakukan itu karena menyukainya, tapi Pamela tidak percaya. Lagipula, kalaupun benar, ia juga tidak peduli.
“Rooftop, ngerokok.” Jawab Pamela selengkap mungkin karena dia terlalu malas untuk menjawab pertanyaan Prawira yang lain. Kemudian, ia berjalan menuju kubikelnya dan langsung duduk di atas kursi, kembali memandangi layar komputer yang menampilkan deretan angka.
“Mana, nggak bau asap rokok, tuh!” Pamela tersentak, refleks mendorong rubuh Prawira menjauh ketika lelaki itu sekonyong-konyong menunduk, memajukan wajahnya untuk mengendus lekuk leher Pamela dari jarak beberapa senti.
“Jangan kurang ajar!” Pamela sewot. Ia sampai berdiri lagi dari kursinya, siap meninju wajah Prawira yang kali ini sikap isengnya sudah keterlaluan.
“Santai, kali, cuma gitu doang. Gue bukannya mau nyium lo atau apa.” Bukannya merasa bersalah dan minta maaf, Prawira malah mengatakan itu dengan entengnya, membuat Pamela meradang dan nyaris betulan melayangkan tinju mentah kalau saja Anesti tidak segera datang melerai.
Perempuan itu pasang badan, menjadi penengah sebelum adegan baku hantam betulan terjadi di dalam ruang kerja yang diisi 5 orang itu. “Udah jam 4, better selesaiin kerjaan kalian biar bisa pulang tenggo.” Ujar perempuan itu seraya merentangkan kedua lengan ke samping, mencegah Pamela ataupun Prawira untuk saling mendekat ke arah satu sama lain.
Pamela mendengus sebal, tatapannya dilayangkan tajam ke arah Prawira yang masih saja tidak terlihat merasa bersalah. Dasar kurang ajar!
“Mel, duduk.” Perintah Anesti. Oh, tidak, itu mungkin hanya sebuah saran karena Anesti mengatakannya dengan suara pelan. Sementara kepada Prawira, nada suaranya naik beberapa tingkat. “Lo juga, balik sana ke meja lo! Jangan gangguin Pamela terus!”
Prawira kembali ke meja kerjanya seraya menggerutu. Makin kelihatan kesal saat Selly dan Doni turut menatap ke arahnya. Dijadikan pusat perhatian untuk sesuatu yang tidak baik, siapa memangnya yang akan senang?
“Apa? Mau gue ***** lo berdua, hah?!” ketusnya, lalu menghempaskan bokongnya ke kursi, lantas sok sibuk dengan menekan mouse berkali-kali.
Sementara dari kursinya, Pamela juga masih kesal. Kalau ada kesempatan untuk melayangkan tinju ke wajah Prawira, dia tidak akan menyia-nyiakannya.
“Udah, balik kerja lagi. Si kutu kupret itu biar gue yang urus.” Bisik Anesti, lalu perempuan itu itu berlalu.
Benar saja, seperti kalimat yang dia bisikkan, Pamela melihat perempuan itu melabuhkan pukulan keras di bahu Prawira sebelum dia duduk di kursinya sendiri. Setelah itu, entah perdebatan seperti apa yang terjadi di antara mereka karena Pamela tak lagi menaruh peduli.
Layar komputer di depannya masih menampakkan deretan angka, dan karena itu membuat kepalanya kembali pusing, Pamela memutuskan untuk menutup file Excel tersebut lalu membiarkan komputernya berada pada tampilan paling awal.
Kembali bekerja apanya? Dia hanya akan menggolekkan kepala di atas meja, menanti jam pulang datang supaya dia bisa melanjutkan tangisnya di pelukan Segara. Tak sampai 2 menit, Pamela memejamkan mata.
Bersambung
__ADS_1