
Lana tidak terbiasa bangun siang, sekalipun itu adalah hari libur. Sebab sedari kecil, kedua orang tuanya telah mengajarkan untuk bangun lebih pagi supaya bisa berdoa dan berolahraga ringan sebelum memulai aktivitas. Kebiasaan itu terbawa sampai dia dewasa, dan itu bukan sesuatu yang merugikan sehingga Lana berpikir tidak apa-apa untuk terus melakukannya.
Hari ini, Lana berencana untuk menghabiskan hari liburnya dengan membaca buku. Tepat di sebelah kamarnya, ada sebuah ruang baca kecil di mana dia menyimpan puluhan buku yang ia koleksi sejak masih di bangku SMA dulu. Jenisnya beragam, mulai dari novel, komik, bahkan sampai jurnal ilmiah pun dia punya. Oh, jangan lupakan juga buku resep masakan yang dia beli beberapa bulan lalu, yang berakhir dibiarkan berdebu karena dia belum memiliki waktu untuk membaca dan mempraktekkan resep masakan yang ada di dalamnya.
Langkahnya baru akan terayun menuju ruang baca, ketika ponsel yang dia tinggalkan di atas nakas berdering dengan begitu nyaringnya. Lana tersentak, karena biasanya dia akan mengaktifkan mode senyap ketika sedang berada di daycare. Ia hanya mengaktifkan mode dering ketika berada di rumah, itupun sebagai bentuk antisipasi kalau-kalau ada seseorang dari daycare yang membutuhkannya sewaktu-waktu. Sejauh ini, tidak pernah ada yang menelepon di luar jam kerja, jadi dia agak bingung ketika mendapati sederet angka di layar ponselnya.
Jenis telepon seperti itu biasanya akan Lana abaikan tanpa banyak berpikir. Dia tidak memiliki begitu banyak teman, bukan juga tipikal orang terkenal yang nomor kontaknya akan dicari-cari, dia sadar itu. Maka telepon semacam ini kebanyakan dia anggap datang dari penipu, atau sales yang hendak menawarkan produk terbaru mereka. Sebab itulah dia mengabaikannya.
Tapi entah bagaimana, jarinya malah keseleo saat hendak menekan tombol merah untuk menolak telepon tersebut. Alhasil, tersambunglah telepon itu, sehingga dia mau tidak mau harus menempelkan ponselnya ke telinga. Tidak lama, biasanya hanya akan dia tunggu selama beberapa detik untuk tahu apakah itu adalah telepon iseng, atau justru telepon penting yang datang dari orang tak terduga.
“Halo,” sapanya. Ia tidak yakin suaranya terdengar seperti apa di seberang telepon, ia tidak peduli.
Alih-alih telepon penipuan, atau sales, atau apapun itu, Lana malah mendapati suara anak kecil menyapanya balik dari seberang telepon. Selama beberapa saat, dia terdiam, mencoba mengenali suara yang kedengarannya tidak asing itu.
“Miss Lana! Ini Mikha!”
“Mikha?” mendadak, suara Lana meninggi. Bukan jenis suara tinggi karena marah, melainkan suara tinggi yang datang dari keantusiasan tak terduga. “Ada apa, Sayang? Kamu butuh sesuatu?”
“Miss Lana ada di rumah atau nggak?”
__ADS_1
“Ada, kok. Kenapa?” tanpa berusaha menyembunyikan keberadaannya, Lana menjawab pertanyaan Mikha dengan jujur. “Kamu butuh apa, Sayang?”
“Mikha mau main ke rumah Miss Lana sekarang, boleh?”
“Mikha mau main ke rumah Miss?” Lana mengulangi permintaan Mikha, hanya sebagai cara untuk meyakinkan diri bahwa dia tidak salah dengar. “Sekarang?”
“Iya! Boleh atau nggak?”
Tidak butuh waktu lebih lama untuk Lana berkata “Boleh.” Dengan seulas senyum yang terukir begitu indanya. Tiga hari lalu, dia memang sempat menawarkan kepada Mikha untuk datang berkunjung kalau-kalau anak itu merasa bosan. Siapa sangka kalau anak itu akan datang berkunjung secepat ini? Lana merasa senang, tidak usah ditanya lagi.
Untuk Lana sendiri, Mikha seperti sebongkah berlian yang dia temukan di perjalanan pulang. Sesuatu yang berharga, yang ingin dia jaga. Sinar yang terpancar dari kedua bola mata bulat anak itu seakan memberikan Lana penerangan, membantunya kembali berjalan setelah sebelumnya dia berhenti karena dikungkung gelap yang begitu jahanam.
Dari seberang telepon, Lana bisa mendengar Mikha berbicara dengan seseorang, mungkin ayahnya. Lalu tak kama kemudian, anak itu kembali bersuara dengan mengatakan mereka akan tiba kurang dari satu jam ke depan. Telepon pun terputus setelah itu, dan Lana semakin tidak bisa menahan senyumnya saat membayangkan betapa cerahnya raut wajah Mikha sekarang.
...****************...
Oh. Hanya itu yang keluar dari mulut Segara untuk pertama kalinya ketika Arkana menjelaskan tentang perempuan bernama Lana kepada dirinya. Dengan cara yang sederhana, pemuda itu memilih kalimat “Miss-nya Mikha yang lo anterin pulang tempo hari.” Sebagai alternatif untuk tidak membuang banyak waktu.
Ada banyak pertanyaan yang sebenarnya muncul setelah itu, namun Segara memutuskan untuk menyimpannya sendiri sebab dia tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan ini untuk membuat Mikha lupa soal keinginannya terdahulu—tentang memiliki seorang ibu.
__ADS_1
Pukul sepuluh, masih terlalu pagi untuk berkunjung ke rumah seseorang yang mereka bahkan tidak akrab. Tapi demi meredam gejolak yang membuat Mikha uring-uringan tak keruan, Segara pada akhirnya berhasil menepikan mobilnya di depan gerbang kompleks apartemen milik Lana.
Tak berapa lama setelah mobilnya berhenti, seorang perempuan berambut sepunggung dan sedikit ikal tampak berlarian dari arah dalam pintu gerbang. Helaian rambutnya yang dibiarkan tergerai beterbangan tertiup angin, tapi perempuan itu sama sekali tidak terlihat keberatan, malah tersenyum begitu lebar saat kaca mobil dia turunkan sehingga terlihatlah eksistensi Mikha di kursi penumpang.
Kelemahan Segara hanya mengingat nama, bukan rupa. Dan berdasarkan ingatannya dari sore beberapa hari lalu, perempuan yang kini berdiri di sisi mobilnya, menautkan jemari dengan milik Mikha itu tampak berbeda dari yang terakhir kali dia lihat. Mungkin karena pakaian yang digunakan serta bagaimana perempuan itu menata rambutnya. Waktu itu, perempuan itu mengenakan setelan kemeja semi formal dan celana bahan panjang dengan rambut yang diikat rapi. Kali ini, perempuan itu tampil dalam balutan kaus yang sedikit kebesaran berwarna putih dan celana training warna hitam, dan yah, seperti yang sudah terlihat, rambut perempuan itu dibiarkan tergerai begitu saja.
“Saya bisa parkir mobil di mana?” tanya Segara setelah memastikan Mikha dan Arkana turun dari mobil. Iya, Arkana juga turut serta, sebab Mikha menolak keras jika harus pergi hanya berdua dengannya.
“Di depan ada parkir khusus tamu, Pak, parkirkan saja di sana.” Lana menjawab sembari menunjuk halaman depan yang luas.
Segara mengangguk paham, lalu melajukan kembali mobilnya memasuki gerbang yang masih dibukakan oleh seorang satpam. Ia menyempatkan diri melemparkan senyum kepada satpam tersebut, sebagai bentuk sopan santun terhadap sesama manusia.
Sementara itu, Arkana yang tertinggal bersama Mikha dan Lana di luar gerbang mulai mengayunkan langkahnya setelah Lana melakukannya lebih dulu. Dia mengekor di belakang perempuan itu, dengan sabar menahan diri untuk tidak menyalip langkah pendek Lana karena perempuan itu terlalu sibuk bercanda dengan Mikha yang berada di dalam gendongannya.
Awalnya, Arkana hanya membiarkan dirinya tertinggal dua langkah di belakang Lana. Tapi kemudian, dia malah membuat dirinya berhenti melangkah ketika tiba-tiba saja, dia seperti melihat sosok Karenina, bukannya Kelana.
“Sumpah, Kak, gue merasa perempuan itu mirip sama lo, dan gue nggak tahu kenapa.” Gumamnya seorang diri.
Teriakan Segara yang kemudian menggema menjadi alarm bagi Arkana untuk tidak melamun lebih lama. Buru-buru dia ayunkan kembali langkahnya, menyusul Segara yang sudah melambaikan tangan sebagai isyarat agar dia cepat datang.
__ADS_1
Bersambung