
Bertahun-tahun lamanya, Segara sudah tidak pernah lagi menyentuh yang namanya alkohol. Meski hanya seteguk, meski hanya sebagai formalitas ketika ia sedang menghadiri pertemuan dengan beberapa kolega. Kegigihannya untuk menjaga Mikha dan memastikan anak itu senantiasa aman telah membuat Segara menjadi seseorang yang jauh lebih sehat dan teratur.
Namun malam ini, saking kusutnya isi kepala dan ia sudah tidak tahu lagi harus berbicara dengan siapa sejak Arkana memutuskan pergi untuk mengurus masalahnya sendiri, Segara tidak memiliki pilihan selain menenggak satu kaleng bir yang dia beli dalam perjalanan pulang setelah mengantarkan Pamela ke apartemen barunya.
Ruang kerja tempat ia menenggak bir dalam keadaan gelap gulita. Lampu kemuning yang biasa dia gunakan untuk setidaknya membantunya agar tetap bisa membaca tulisan di dalam berkas sama sekali tidak dia sentuh sakelarnya. Seakan ingin mengasingkan diri, Segara benar-benar membiarkan kegelapan mendekapnya begitu erat.
Bir di dalam kaleng masih sisa setengah, sengaja dia tenggak pelan-pelan agar tidak cepat habis karena jika itu terjadi, dia harus membuka yang baru. Segara tidak ingin itu terjadi, sebab ia tidak boleh terlalu mabuk untuk menghindari hal-hal lain yang di luar kendali.
Siang tadi, Segara pergi ke pemakaman Nurdin, ikut menyaksikan kala jasad lelaki itu yang telah dikafani diangkat oleh beberapa orang lantas dimasukkan ke dalam liang lahat. Selama prosesi pemakaman, ia juga disuguhi adegan sedih di mana ibunda Nurdin yang duduk di kursi roda meratap pilu, meratapi kepergian anak sulung tempat ia menggantungkan hidup. Sementara adik Nurdin yang jumlahnya ada 3 orang (semuanya perempuan) yang masing-masing berumur 21, 18, dan 13 tahun hanya bisa terduduk lemas di samping pusara lelaki itu. Mata mereka semua sembab, namun air mata sudah tidak lagi mengucur karena sepertinya sudah mereka peras habis.
Segara mengusap wajahnya kasar, berharap adegan menyedihkan dari pemakaman tadi siang bisa ikut enyah dengan sekaan yang dia buat berkali-kali. Kematian Nurdin memang berada di luar kehendaknya, namun ia tetap merasa berdosa. Kalau lelaki itu tidak memutuskan untuk buka suara, ia mungkin masih hidup sampai sekarang.
Seandainya, ini hanya seumpama jika ia boleh berandai-andai saja. Seandainya ia berhenti memperjuangkan kebenaran di balik meninggalnya Karenina, apakah bajingan sialan ini akan berhenti mengganggu orang-orang di sekitarnya? Karena kalau dipikir-pikir lagi dan dia mulai mengurai benang merahnya, segala kemalangan yang menimpa Papa, teror yang datang kepada Pamela dan juga kematian Nurdin ini semuanya berawal dari kekeraskepalaannya mencari keadilan untuk mendiang istrinya.
Apakah... si bajingan ini memang hanya ingin merenggut Karenina, dan membuatnya menerima kematian perempuan itu sebagai takdir Tuhan semata, tanpa boleh untuknya mencari tahu kebenarannya?
“Pak?”
Panggilan itu membuat Segara mengalihkan pandangan ke arah Lana yang berdiri di ambang pintu ruang kerja. Pintu yang terbuka lebar itu membuat sinar lampu dari dalam kamar tidurnya berpendar masuk, mengakhiri sesi gelap-gelapan yang telah berlangsung selama hampir 3 jam lamanya.
__ADS_1
“Boleh saya masuk?”
“Silakan.” Ucap Segara seraya menganggukkan kepala. Sisa bir di dalam kaleng akhirnya dia habiskan dalam sekali tenggak, menyisakan kaleng kosong yang lalu ia genggam erat-erat.
Lana pun berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di depan meja kerja Segara yang berantakan. Beberapa berkas terlihat berserakan, pigura foto yang seharusnya terpajang rapi di bagian sudut juga sudah berada dalam posisi tengkurap, dan yang lebih membuatnya yakin bahwa kondisi Segara sedang tidak baik-baik saja adalah keberadaan kaleng bir di dalam genggaman lelaki itu.
“Udah malam, Bapak nggak mau tidur?” tanya Lana, mengawali pembicaraan setelah sekian detik hening menyerang.
“Saya belum ngantuk.” Segara menjawab dengan tatapan lurus ke arah kaleng bir di tangan. “Miss Lana tidur duluan aja.” Sambungnya.
“Udah malam, Pak. Besok Bapak harus ke kantor, jadi sebaiknya Bapak tidur sekarang. Saya akan tidur di kamar saya malam ini, jadi—“
“Bukan itu masalahnya.” Potong Segara. Akhirnya, ia mengangkat kepala. Netranya menatap lekat wajah polos Lana, memperhatikan setiap inci fitur di wajah perempuan itu dengan saksama. “Saya cuma mau minum ini, makanya ke sini.” Imbuhnya seraya mengetukkan jari pada kaleng bir yang dia genggam.
“Miss,”
“Ya?” Lana melepaskan pandangan dari kaleng bir, kembali menatap Segara.
“Mau temani saya minum?” seraya mengeluarkan dua kaleng bir lagi dari dalam laci.
__ADS_1
...****************...
Delapan kaleng bir mereka habiskan berdua di ruang kerja Segara. Bertemankan sepi yang begitu akrab, diselingi cerita-cerita sedih dari hari-hari mereka yang pedih di masa lalu.
Segara menenggak 5 kaleng, tapi anehnya, dia sama sekali tidak merasa mabuk. Bahkan ketika waktu telah menunjukkan pukul 4 pagi dan ia seharusnya pergi ke kamar untuk tidur walaupun hanya beberapa jam, ia malah betah duduk di atas lantai, mendengarkan cerita yang Lana bagikan untuk pertama kalinya setelah mereka menikah.
“Awalnya saya juga marah, Pak. Saya nggak terima sewaktu polisi menutup kasus kecelakaan yang menimpa saya dan orang tua saya dengan alasan tersangkanya juga turut meninggal dunia.” Lana menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. “Tapi, seiring berjalannya waktu, saya mulai pasrah. Saya mulai menggeser sedikit sudut pandang saya, berpikir bahwa nggak ada satu pun orang di dunia ini yang mau ada di posisi sopir itu. Semuanya terjadi begitu aja, tanpa adanya unsur kesengajaan, bikin saya akhirnya mikir kalau yah ... memang sudah begitu jalannya. Umur kedua orang tua saya memang hanya sampai di hari itu, dan kebetulan caranya emang harus lewat si sopir yang mengantuk itu.”
“Apa yang bikin Miss Lana bisa sampai di titik itu? I mean, titik di mana Miss Lana mulai bisa menerima semuanya dan berpikir bahwa semua yang terjadi hanya sesederhana bahwa takdirnya memang sudah begitu?”
Pertanyaan itu membuat sudut bibir Lana tertarik sedikit. “Sebagai satu-satunya orang di dalam mobil yang selamat, saya menderita trauma yang begitu hebat. Untuk mengatasinya, saya harus rajin pergi ke psikiater dan konsumsi berbagai macam obat dengan dosis yang berbeda-beda. Tiap malam di bulan-bulan tertentu, saya akan rutin mimpi buruk. Sementara di hari-hari yang mendekati hari peringatan kematian kedua orang tua saya, saya akan terlalu sensitif dengan yang namanya hujan dan petir.” Di hari-hari lalu, mengingat kembali soal fase terburuk dalam hidupnya itu akan membuat Lana menangis. Tetapi malam ini, ia justru seperti sedang membiarkan dirinya berjalan ke arah pintu keluar yang dia cari-cari selama ini.
“Bertahun-tahun saya kayak gitu, Pak. Sampai suatu hari, psikiater saya bilang begini; ‘Yang tinggal harus tetap bertahan. Yang masih bernapas harus tetap hidup. Karena di sana, di suatu tempat yang nggak terlihat oleh mata manusia, mereka yang udah lebih dulu pergi sedang menunggu waktu untuk berkumpul kembali’. Tadinya saya menyalahartikan ucapan itu sebagai pertanda bahwa seharusnya saya lebih cepat pergi menyusul mereka, sampai kemudian psikiater saya menjelaskan bahwa itu artinya, saya harus bertahan untuk sampai di waktu di mana saya bisa ketemu kedua orang tua saya lagi. Bunuh diri itu dosa besar, dan kalau saya melakukannya, saya nggak akan bisa pergi ke tempat di mana kedua orang tua saya sudah menunggu.”
Momen ketika Lana menoleh dan tatapannya bersirobok dengan milik Segara, senyum yang terbit di bibirnya menjadi lebih tulus. “Saya mau ketemu lagi dengan orang-orang yang saya sayang, karena itu saya bertahan. Dan langkah pertama yang harus saya lakukan untuk bisa bertahan adalah dengan menerima keadaan, mencoba mengerti bahwa segala sesuatu di muka bumi ini bergerak atas kehendak Tuhan. Karena katanya, nggak ada satu tetes air pun yang bisa jatuh dari langit kalau Tuhan yang memberi izin.”
“Kehilangan orang-orang yang kita sayang emang menyakitkan, Pak. Tapi sebagaimana matahari yang masih harus kembali bersinar setelah hujan badai menerpa seharian, hidup kita juga harus tetap berjalan.”
Life must go on. Segara sudah mendengar nasihat itu sebanyak jutaan kali, kalau dia tidak salah hitung. Tapi dari sekian banyak orang dan sekian banyak bentuk penyampaian, entah kenapa justru Lana lah yang berhasil menyentuh hatinya. Entah karena mereka memiliki nasib yang sama hingga Segara tahu bahwa rasa simpati yang Lana miliki adalah jujur, atau hanya sesederhana bahwa perempuan itu memang selalu mampu menggerakkan hati orang lain dengan sikap dan kata-katanya.
__ADS_1
“Jadi, Pak, ayo kita bertahan. Ayo kita jalani hidup sebaik-baiknya demi mereka yang udah lebih dulu berpulang, juga demi mereka yang masih tinggal. Ayo kita kuat sama-sama.”
Bersambung