Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
DUA PULUH TUJUH


__ADS_3

Canggung? Sudah pasti, karena ini adalah kali pertama ia membawa orang asing masuk ke dalam apartemennya. Meskipun demikian, Lana tetap berusaha sebaik mungkin untuk menjamu Arkana dan Segara sebagaimana layaknya seorang tamu. Semua stok makanan dan minuman yang dia punya di dalam kulkas Lana keluarkan, disuguhkan ke hadapan dua laki-laki dewasa yang duduk bersisian di sofa ruang tengah apartemennya.


“Silakan.” Ucapnya mempersilakan Arkana dan Segara untuk menikmati apa yang dia suguhkan di hadapan.


“Terima kasih.” Itu suara Segara. Sementara Arkana hanya menanggapi ucapan Lana sebelumnya dengan senyum tipis seraya meraih satu kaleng soda.


Mikha, si bocah yang sudah menjadi kesayangannya sejak hari pertama mereka bertemu, gelesotan di lantai, dekat kaki sang ayah sambil memainkan sebuah boneka kelinci yang dia berikan beberapa saat lalu. Lana tidak bisa melepaskan tatapan dari anak itu, sekalipun ia tahu dua orang lelaki dewasa yang ada di balik punggung kecil Mikha terus mengawasinya dalam diam.


“Miss,”


“Ya?” Lana bergerak mendekat. Ia melirik sebentar, pada Arkana, juga pada Segara. Masing-masing mereka mendapatkan jatah tiga detik tatapan singkat, lalu dia berjongkok di depan Mikha dan sepenuhnya mencurahkan perhatian kepada anak itu.


“Miss Lana mau nggak jadi mommy-nya Mikha?”


“Uhuk!!!” terdengar suara batuk yang berasal dari dua orang di saat yang hampir bersamaan. Meskipun ia sendiri juga terkejut dengan penuturan Mikha, tetapi Lana menemukan Arkana dan Segara menampakkan raut terkejut yang lebih-lebih daripada dirinya.


“Mikha jangan ngawur.” Segara meletakkan kembali kaleng soda yang isinya belum sempat dia telan dengan benar. Dari ekor matanya, dia melirik Arkana yang tampaknya sama terkejut dengan dirinya. “Jangan ngomong yang aneh-aneh sama Miss Lana.”


Diberitahu begitu, Mikha malah cemberut. Boneka kelinci yang sedari tadi disayang-sayang, tiba-tiba dicampakkan begitu saja di atas lantai, membuat sang empunya menatap kasihan pada benda tak berdosa itu.


“Mikha cuma nanya.” Si bocah berusaha mengelak. “Nggak apa-apa, kan, Miss, kalau cuma nanya?” sambungnya seraya menatap Lana dengan mata bulatnya yang menggemaskan.


Lana yang ditodong pertanyaan seperti itu, plus tatapan ngeri dari Arkana dan Segara, jelas tidak tahu harus menjawab apa. Itu mungkin memang kedengaran seperti pertanyaan random yang datang dari seorang anak berumur 4 tahun, dia bisa menganggukkan kepala untuk sebuah pemakluman. Tapi melihat reaksi terkejut dari dua lelaki di hadapannya, Lana jelas tahu bahwa ini bisa menjadi masalah yang cukup serius jika dia salah berbicara.

__ADS_1


“Eung—“ Lana menggantungkan ucapannya, ia bergerak refleks menggigit bibir bawahnya sendiri sewaktu kepalanya sibuk memikirkan jawaban apa yang harus dia berikan untuk Mikha, yang bisa memuaskan mereka semua.


“Miss Lana nggak nyaman, jadi kamu harus stop di sini.”


Kepala Lana terangkat, tatapannya seketika bertemu dengan Segara yang kini menampakkan raut serius.


“Daddy nggak pernah ajarin kamu untuk bikin orang lain nggak nyaman, betul?” lembut, tapi kedengaran tegas. Kira-kira begitulah Lana akan mendeskripsikan bagaimana cara Segara berbicara dengan Mikha saat ini.


Yang diberitahu tidak menjawab, malah mengerucutkan bibir sembari memainkan jemari mungilnya dengan kepala yang menunduk.


“Mikha? Dengar Daddy ngomong apa?”


“Dengar.” Sahut si bocah. Tapi tatapannya masih dibawa turun, menatapi jemari tangannya sendiri yang kini semakin sibuk bergerak tidak pasti.


“I’m sorry, Miss. Mikha janji nggak akan nanya kayak gitu lagi.” Ucap Mikha dengan suara setengah berbisik.


Entah bagaimana menjelaskannya, tapi Lana merasa hatinya sakit saat melihat Mikha menampakkan raut murung itu di hadapannya. Sejak hari pertama mereka bertemu, ini adalah kali pertama baginya melihat Mikha yang ceria menjadi seperti itu.


“It’s okay, Mikha.” Ini adalah salah satu bagian bodoh dari seorang Kelana Larasati. Bisa-bisanya, dia secara impulsif meraih tangan mungil Mikha, yang mana masih berada di dalam genggaman Segara, sehingga tangan lelaki itu juga turut tersentuh olehnya.


“Oh, maaf!” Lana berseru seraya melepaskan tangannya cepat-cepat. Tak seperti bayangannya di mana dia akan menemukan lelaki di hadapannya itu marah, Lana justru menemukan ia tidak bereaksi apa-apa. Dengan begitu santainya, seolah tidak terjadi apa-apa, Segara melepaskan genggamannya di tangan Mikha.


“Di sini boleh merokok?” tanya Segara tiba-tiba, pas sekali ketika tatapan mereka bertemu.

__ADS_1


Kelana Larasati bukan tipikal yang mudah terpesona, tidak peduli seberapa tampan laki-laki yang dia temui selama hidupnya. Tapi di momen ketika tatapannya dengan milik Segara bertemu dalam waktu terlama sepanjang mereka mengenal, Lana merasa manik kelam itu memiliki daya tarik tersendiri yang mampu membuatnya tenggelam. Ia bahkan nyaris lupa pada keberadaan Mikha dan juga Arkana yang mendadak senyap.


“Oh, kebetulan, saya nggak merokok, jadi—“ Lana tidak melanjutkan ucapannya. Entahlah, lidahnya mendadak kelu saat lagi-lagi Segara menatapnya semakin intens.


“Jadi? Nggak boleh?”


“Maaf,” lirih Lana. Jujur saja, dia benci asap rokok. Semasa hidup, ayahnya tidak pernah merokok dan semua teman yang dia temui hampir tida ada yang merokok.


“It’s okay,” ucap Segara, lalu lelaki itu kembali menatap putrinya yang sempat terabaikan. “Daddy mau keluar sebentar, mau merokok. Kamu di sini sama Om Ar, bisa?”


Mikha hanya mengangguk.


“Good. Daddy nggak akan lama, jadi kamu jangan nakal. Ingat, jangan menanyakan yang aneh-aneh ke Miss Lana lagi, mengerti?”


“Mengerti, Daddy.”


Segara mengusak rambut Mikha. “Good girl,” pujinya. Lalu, lelaki itu bangkit dan berjalan menuju pintu keluar. Meninggalkan putri dan adik iparnya bersama Lana.


“Miss,”


Sebuah bisikan mengudara. Lana menoleh, dan ternyata itu berasal dari Arkana. “Bisa kita bicara sebentar?”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2