Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
DELAPAN BELAS


__ADS_3

Di kantor, Segara sudah sibuk sejak pagi. Sejak menginjakkan kakinya di gedung perusahaan, ia sudah ditodong jadwal pertemuan dengan beberapa klien untuk membahas berbagai proyek yang sempat tertunda karena jatuh sakitnya Papa. Selain klien, Segara juga harus bertemu dengan karyawan dari berbagai divisi yang berbeda demi membahas masalah internal lain terkait pergantian kepengurusan di perusahaan.


Saking sibuknya, Segara sampai tidak sempat makan siang. Ia bahkan lupa pada rencana awal untuk menelepon Mikha di sela-sela kegiatannya demi memastikan apakah putrinya aman dan nyaman di tempat barunya atau tidak.


Saat ini, Segara masih duduk di kursi kerjanya, berkutat dengan berkas-berkas yang perlu ia teliti sebelum membubuhkan tanda tangan ke atasnya. Sekarang sudah pukul setengah 4 sore dan dia terlalu malas untuk turun ke bawah demi mencari sesuatu untuk dia makan. Selain karena tidak biasa makan di jam-jam yang bukan jam makan, ia juga tidak berselera memasukkan apapun ke dalam mulutnya sebab tumpukan berkas di mejanya sudah cukup mampu membuat perutnya terasa mual.


Setelah membubuhkan tanda tangan di salah satu berkas, Segara memutuskan untuk berhenti sejenak. Ia melepaskan kacamata baca yang sedari tadi bertengger di hidungnya dan melemparnya asal ke atas meja lalu bangkit dari kursinya. Kemudian, ia berjalan ke arah jendela kaca besar di ruang kerjanya yang mengarah langsung ke jalanan.


Pandangannya berpendar, pada jajaran gedung tinggi di seberang gedung perkantoran tempatnya berpijak kini dengan pikiran yang melayang-layang. Apakah orang-orang yang ada di gedung-gedung itu memiliki isi kepala yang sama riuhnya dengan dirinya? Apakah dari banyaknya orang yang berlalu-lalang di dalam sana, ada satu atau dua yang mengalami nasib buruk seperti yang sedang dia alami sekarang? Atau, dari sekian banyaknya orang yang bekerja di sana, adakah yang terpaksa duduk di kursi yang dari awal sama sekali tidak mereka inginkan, persis seperti dirinya yang terpaksa menggantikan posisi Papa karena terdesak keadaan?


Riuh di kepala kian menjadi, hela napas lolos berkali-kali tanpa Segara sadari. Pada akhirnya, yang berhasil membawa Segara keluar dari riuh isi kepalanya saat ini adalah ketukan yang dilabuhkan berkali-kali ke pintu ruang kerjanya.


Ia menoleh, menunggu beberapa saat sampai pintu cokelat tua itu terbuka dan menampilkan sosok karyawan perempuan dengan beberapa map yang berada di dalam pelukan.


Melihat tumpukan map itu membuat Segara tersenyum miris. Ia melirik tumpukan map lain yang masih menghuni meja kerjanya. Dari semua berkas yang ada, baru sebagian kecil yang berhasil ia pelajari dan proses lebih lanjut. Sisanya masih teronggok tak berdaya menunggu giliran untuk dijamah.

__ADS_1


Dan sekarang, map-map lain berdatangan kepadanya, membuat kepalanya semakin terasa penuh. Apa memang begini yang Papa rasakan setiap harinya? Dengan umur yang sudah tidak lagi muda, apa Papa setiap hari berkutat dengan hal yang sama? Atau, memang dasarnya dia saja yang tidak becus mengurus perusahaan sehingga segala pekerjaan yang kini dia tangani jadi terasa berat?


Pertanyaan itu berhenti di sana, tak ia lanjutkan sebab karyawan perempuan yang tadi sudah berdiri di depan meja kerjanya. Dengan senyum basa-basi, karyawan itu meletakkan tumpukan map di pelukan ke atas meja. Mata kecilnya menatap Segara yang masih berdiri di dekat jendela besar, tampak enggan membuka mulut lebih dulu sebelum si bos kembali ke meja kerjanya.


"Del," panggil Segara pelan. Ia berjalan menuju meja kerja setelah mendengar karyawan perempuan bernama Adella itu menyahuti panggilannya.


"Kamu bisa bantuin saya handle beberapa pekerjaan lagi nggak?" tanyanya setelah berdiri di sisi dalam meja kerjanya, tangannya terulur membuka salah satu map yang berada di tumpukan paling atas.


"Bapak mau saya bantu handle kerjaan yang mana?" tanya Adella dengan suara ramah.


Segara duduk di kursinya, menarik satu map dari tumpukan map yang sebelumnya mendiami meja kerjanya. Ia buka map itu kemudian mengeluarkan beberapa lembar kertas berisi semua dokumen perihal proyek yang sedang mereka bicarakan. Sejak awal, proyek satu itu memang paling menarik perhatiannya karena prosesnya terbilang lambat jika dibandingkan dengan proyek-proyek lain yang sudah mulai digarap.


"Kalau soal itu, saya rasa kita perlu diskusikan langsung dengan bagian pelaksana. Kalau dari yang saya lihat, sepertinya ada miskomunikasi antara pihak kita dengan pihak warga. Saran saya, Bapak bisa cek ulang proposal yang sebelumnya untuk di kroscek langsung dengan proses yang sedang berjalan."


Segara mendengarkan setiap penjelasan yang Adella sampaikan dengan sungguh-sungguh. Matanya tak beralih dari Adella ketika perempuan itu berbicara lebih banyak. Sesekali ia menganggukkan kepala untuk menanggapi penjelasan Adella, sesekali ia mengajukan pertanyaan ketika ada satu atau dua bagian yang tidak terlalu bisa ia pahami.

__ADS_1


Sampai akhirnya, ia merasa cukup. Informasi yang dia dapat dari Adella sudah sedikit banyak memberinya pencerahan dan dia tahu harus melakukan apa sekarang.


"Oke, Del, makasih. Kamu boleh kembali ke ruangan kamu. Nanti, kalau saya butuh bantuan kamu lagi, saya akan panggil kamu, ya?" ucapnya.


"Baik, Pak. Bapak bisa panggil saya untuk diskusikan apapun. Pak Damian juga biasanya seperti itu." Kata Adella dengan senyum yang tak luntur.


"Thanks."


"Sama-sama, Pak. Kalau gitu saya permisi." Pamit Adella. Segara hanya menanggapinya dengan anggukan kepala dan perempuan itu betulan berlalu.


Setelah tubuh Adella menghilang di balik pintu, Segara kembali memfokuskan pandangan pada lembaran kertas di hadapan. Setelah ini, ia harus pergi ke lokasi pembangunan untuk melihat langsung apa yang sebetulnya sedang terjadi. Tapi nanti, ia harus mencari waktu yang tepat karena pekerjaan lain juga menunggu untuk ia selesaikan. Mungkin ia baru akan pergi ke sana besok atau lusa.


Tanpa terasa, waktu berlalu kian cepat saat Segara kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Ponselnya beberapa kali menyala, mengindikasikan adanya beberapa pesan dan panggilan yang masuk. Tapi karena terlalu fokus dengan pekerjaannya dan ponsel itu dalam keadaan mode hening, maka ia tidak menyadari adanya aktifitas di ponsel yang ia tinggalkan di atas meja lain dekat sofa.


Segara benar-benar tenggelam, hingga lupa bahwa dia punya Mikha yang sedang menunggu untuk dijemput dari daycare.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2