
Arkana kebakaran jenggot. Seluruh penjuru bangunan terbengkalai tempat Lana disekap telah dia susuri, namun sama sekali tak dia temukan jejak keberadaan Pamela yang membuatnya semakin yakin bahwa sebenarnya perempuan itulah dalang di balik semua bencana ini.
Mobil yang dikendarai Dharma sudah pergi sejak tiga jam yang lalu, membawa serta Segara dan Kelana karena mereka harus pergi ke rumah sakit untuk memastikan bahwa Lana baik-baik saja, tidak mengalami masalah kesehatan apa pun setelah disekap selama 24 jam lebih. Sementara Arkana di sini bersama dua anak buah Dharma, sebab empat yang lain sudah diperintahkan pergi ke markas besar untuk mengurus para penculik.
“Area ini benar-benar udah clear, nggak ada siapa pun lagi.” Beno, salah seorang anak buah Dharma buka suara. Atas permintaan Arkana, dia sudah mengecek area di sekitar sekali lagi, namun hasilnya tetap saja nihil. Perempuan bernama Pamela itu tidak meninggalkan jejaknya di sini.
“Kita ke markas, gue mau nanya langsung sama para bajingan itu buat memastikan.” Titah Arkana, yang tentu saja tak dibantah sama sekali oleh Beno. Graha, satu anak buah Dharma yang lain pun turut mengiyakan. Secepat kilat ia melompat ke balik kemudi, menyalakan mesin dan siap untuk melajukannya melewati jalanan malam yang sepi.
Setelah ketiganya duduk di kursi masing-masing, Graha segera tancap gas. Jalanan yang lengang adalah keuntungan tersendiri karena dia bisa mengemudi dengan leluasa tanpa takut akan menimbulkan kekacauan.
Di kursi penumpang belakang, Arkana kembali menggulir layar ponselnya. Begitu ia menemukan nama Dharma di sana, Arkana langsung melakukan panggilan.
Nada tunggu terdengar sebanyak sembilan kali sebelum akhirnya Dharma menjawab.
“Gimana?” tanyanya.
Mengerti, Dharma pun menjawab, “Kondisinya oke, Cuma sedikit dehidrasi, tapi udah ditangani sama dokter. Bayinya juga baik-baik aja, nggak ada masalah.”
Mendengar itu, Arkana menghela napas lega. Syukurlah mereka tiba tepat waktu sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap Lana dan bayinya.
“Syukurlah kalau gitu. Tolong tetap berjaga di sana dulu sampai gue tiba, sekarang gue mau on the way dulu ke markas buat ketemu sama para bajingan yang lagi ditangani sama anak buah lo.”
__ADS_1
“Gue suruh anak buah gue yang lain aja buat jaga di sini nggak apa-apa, kan? Gue juga mau nyusul ke markas, mau ngeliat lo nendang muka para bajingan itu secara live.” Tutur Dharma dengan nada bercanda. Tapi sebetulnya, lelaki itu tidak sedang bercanda sama sekali. Dia betulan ingin melihat Arkana mereog, karena sudah lama itu tidak terjadi. Selain itu, dia juga ingin memberi pelajaran kepada para berandalan yang beraninya cuma menyakiti wanita yang lemah dan tak berdaya.
Gurauan yang Dharma lemparkan membuat Arkana mendengus, namun tak urung tetap mengiyakan. “Taruh minimal 4 orang, ya, pastiin yang oke punya.” Pintanya.
Terdengar suara tawa yang keras dari seberang, Arkana sudah bisa membayangkan betapa merah wajah Dharma sekarang saking kerasnya lelaki itu tertawa. “Gampang, tapi bayarannya jadi empat kali lipat juga, ya.”
“Sepuluh kali lipat juga gue kasih asalkan keluarga gue aman di sana.” Arkana menyanggupi, sebab nominal bukanlah masalah besar baginya.
Sekali lagi, Dharma tergelak. Kemudian lelaki itu mengiyakan dan menutup teleponnya dengan ucapan yang lebih terdengar serius dan meyakinkan.
Setelah telepon ditutup, Arkana kembali fokus memperhatikan jalanan, sambil menyusun rencana untuk membuat para penculik yang sedang balik disekap di markas besar milik Dharma itu mau buka suara.
...----------------...
“Mommy!!!” bocah perempuan itu, Mikha, langsung menghambur ke dalam pelukan Lana yang tengah berbaring di atas brankas. Lana pun menyambut tubuh kecil Mikha, tak terganggu dengan adanya selang infus yang menancap di punggung tangan kirinya.
“Mommy dari mana aja? Mikha kangen....” adu si bocah.
Lana melirik ke arah Segara, memberi kode kepada sang suami untuk membantu menaikkan Mikha ke atas brankar selagi ia sendiri akan berusaha mendudukkan diri.
Tanpa berniat membuang waktu, Segara mengangkat tubuh Mikha, mendudukkannya di atas brankar setelah Lana berhasil duduk bersandar.
__ADS_1
“Sini.” Lana menepuk pahanya, meminta Mikha untuk naik ke pangkuannya.
Akan tetapi, Segara dengan cepat menghentikan. “Perut kamu,”
“Aman.” Lana berusaha meyakinkan. “Sini, Sayang, naik.”
Mulanya, Mikha kelihatan galau, namun karena rindunya kepada sang ibu yang sudah membuncah, ia pun naik ke atas pangkuan Lana. Kembali ia memeluk tubuh ibunya, menempelkan kepalanya di dada perempuan itu.
“Mikha kangen Mommy.” Adu anak itu lagi.
“Iya, Mommy juga kangen sama kamu. Maaf, ya, Mommy udah pergi ninggalin kamu. Janji nggak akan kayak gitu lagi.” Lana berucap lembut.
Mikha kemudian tidak bertanya lagi, asyik memeluk Lana seakan hanya itu satu-satunya cara untuk melepaskan kerinduannya.
Sementara di tempatnya duduk, Segara hanya bisa diam mengamati interaksi mereka. Hingga kemudian, fokusnya tercurah lebih banyak pada pernyataan Arkana sebelum mereka berpisah.
“See? Pamela nggak ada di sini, Ga. Perempuan itu bukan korban, dia justru adalah dalang di balik semua hal yang menimpa hidup lo selama ini.”
Pamela memang tidak ada di lokasi, tetapi Segara masih menolak percaya bahwa Pamela adalah dalang di balik semua kekacauan yang terjadi. Masalahnya, dia mengenal Pamela bukan hanya satu atau dua tahun, melainkan 20 tahun lebih. Rasa-rasanya mustahil kalau teman yang dia kenal sebaik itu bisa bertindak sampai sejauh ini. Dan lagi, apa juga alasannya? Dia tidak merasa Pamela memiliki alibi yang masuk akal untuk melakukan semuanya.
Lagi pula, tidak adanya Pamela di lokasi penyekapan tidak serta-merta membuat perempuan itu menjadi tersangka, kan? Bukankah masih ada kemungkinan jika Pamela sengaja dihilangkan dari TKP atas kemauan seseorang yang merupakan pelaku aslinya?
__ADS_1
Tapi masalahnya, ke mana Pamela pergi? Di mana Segara harus mencari untuk memastikan bahwa perempuan itu tidak bersalah?
Bersambung