
Ternyata salah. TERNYATA SALAH! Biarkan Arkana menarik kembali omongannya soal bekerja di lapangan jauh lebih enak ketimbang berada di dalam ruangan. Karena oh karena, sama sekali tidak lebih baik! Matahari sialan di atas sana bersinar terik sekali, membuat kulit Arkana rasanya terbakar dan bisa saja terkelupas. Belum lagi bentrok yang terjadi antara warga yang menolak relokasi dengan petugas lapangan yang sudah bersiap dengan alat-alat berat. Sungguh, Arkana pusing sekali!
“Gue mau pulang!” rengek Arkana, persis bocah TK yang enggan ditinggal pulang oleh sang ibu dan ingin ikut pulang bersama. “Nggak kuat gue, Ga.”
Segara hanya melirik sekilas ke arah Arkana, lalu kembali berbincang dengan ketua divisi yang bertugas menangani proyek ini.
Arkana yang merasa rengekannya tidak dituruti pun semakin kesal. Dia akhirnya berjalan menjauh, mengayunkan langkahnya dengan hentakan keras menuju tenda istirahat yang memang sudah disiapkan sebelumnya.
Di dalam tenda berwarna biru tua itu, Arkana duduk di atas sebuah kursi pendek yang sama sekali tidak nyaman. Ia lantas bertopang dagu, menonton saja proses mediasi tanpa berniat membantu sama sekali. Sesekali ia menggerutu, berkomat-kamit sampai bibirnya manyun-manyun.
Selang beberapa menit dia di sana, Segara datang menyusul. Tanpa ba-bi-bu lelaki itu menyambar botol air mineral, menenggak isinya sampai tandas lalu dengan seenak jidatnya melemparkan botol kosong ke atas pangkuan Arkana. Bertambah murka lah ia, sampai-sampai ingin rasanya dia mengajak Segara duel saat itu juga. Tapi urung. Selain karena dia takut durhaka pada yang lebih tua, energinya juga tidak sebanyak itu untuk digunakan berkelahi.
Akhirnya, yang bisa Arkana lakukan adalah membuang botol kosong tadi ke tempat sampah terdekat, lalu kembali ke posisi duduknya ketika Segara sudah lebih dulu mengambil posisi di kursi yang lain.
“Gimana?” tanyanya. Walau tidak banyak membantu, setidaknya dia juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan proyek yang mangkrak terlalu lama ini. “Ada problem apa sebenarnya?”
“Biasalah,” Segara merogoh ponsel dari saku celana, lalu mulai menggulirnya sebelum melanjutkan. “Duit anggaran yang seharusnya dipakai buat kompensasi ada sebagian yang masuk ke kantong pribadi. Makanya nominal yang tertera di proposal sama yang sampai ke tangan warga jadi beda. Lumayan jauh pula bedanya.”
“Wah, bajingan.” Arkana menggeram. Kenapa, ya, selalu saja ada oknum-oknum yang gemar mencari kesempatan di tengah kesulitan orang lain begitu? Laknat sekali. “Terus, udah lo usut?”
“Udah.” Usai mengirim satu pesan kepada Lana untuk menanyakan kondisi Mikha, ponsel kembali Segara simpan. “Langsung gue tindak tegas.”
“Pecat?”
Segara menoleh ke arah Arkana dan langsung memasang wajah galak. “Ganti rugi dulu, lah, enak aja langsung pecat. Mereka harus pastiin proyek ini selesai, baru nanti gue pecat.”
“Kelamaan, lah. Emang nggak rugi lo bayar orang-orang kayak gitu? Ini proyek kan nggak bisa langsung selesai dalam satu malam.”
“Daripada gue harus keluarin budget lagi buat rekrut orang baru yang kerjanya juga belum tentu bener? Lagian, kerja mereka sebenernya oke, kok. Cuma emang serakah aja, nggak bisa ngelihat duit gede dikit bawaannya pengin nyikat.”
“Tapi nggak ada jaminan mereka bakal tetap bener kerjanya setelah ketahuan korupsi, kan?”
Segara menarik napas sekali, mengembuskan cepat-cepat. “Ada. Gue udah minta mereka tanda tangan surat perjanjian. Kalau proyek ini nggak beres dan mereka nggak bisa menuhin tanggung jawab, gue bakal bawa kasus ini ke jalur hukum.”
Tahu-tahu, Arkana bertepuk tangan. Heboh sekali, sampai-sampai beberapa pekerja yang kebetulan lewat berhenti mengayunkan langkah dan menatap mereka berdua keheranan. “Segara Adhitama emang the best! Pantes aja Papa Damian nggak ada ragu-ragunya nunjuk lo buat gantiin posisi dia.”
“Sementara.” Segara meralat. “Awal tahun gue udah harus balik lagi ke rutinitas semula, ngurusin Mikha.”
“Sama bikin anak, ya?” celetuk Arkana. Sontak saja, dia mendapatkan lirikan tajam plus pukulan keras di kepala bagian belakang sebagai hadiahnya. “Sakit, anjing!”
__ADS_1
“Mulut lo kayak nggak pernah sekolah.”
“Ya lagian, kenapa main mukul kepala gue?! Kalau gue gegar otak gimana?!” suara Arkana melengking. Lagi-lagi menarik perhatian orang di sekitar.
Segara sampai harus menundukkan kepala minta maaf dan meminta yang lewat untuk berlalu saja, tak usah menghiraukan Arkana yang sudah mulai bertingkah gila. “Makanya jangan mulai. Anak, anak, sembarangan aja kalau ngomong.” Omel Segara setelahnya.
“Ya apa salahnya, coba? Lo sama Miss Lana udah resmi menikah, ya, Segara Adhitama. Apa salahnya suami istri bikin anak? Wait, lo nggak berniat buat nyeraiin Miss Lana setelah lo balik ngurusin Mikha nanti, kan?”
Segara tidak berkomentar, tapi justru hal itu yang membuat Arkana semakin kehebohan. “Really?! Lo beneran mau cerai sama Miss Lana?! Dude, are you kidding me?!”
Sudah heboh begitu, tetap saja dia tidak mendapatkan tanggapan yang layak dari Segara. Lelaki itu malah hanya geleng-geleng kepala, seakan lelah melihat tingkahnya yang ekstra. Lalu tanpa pamit, Segara ngeloyor begitu saja.
“Mau ke mana?!” teriak Arkana masih dari posisinya duduk di saat Segara nyatanya sudah berada hampir 5 meter di depannya.
“Balik ke kantor. Lo kalau masih mau di sini, ya silakan!” seru Segara.
Wooo, tentu tidak. Untuk apa juga Arkana berdiam diri di sini? Mau jadi tumbal proyek? No, thanks. Dia masih ingin hidup lebih lama. Paling tidak, sampai dia menikah dan punya anak-anak yang lucu.
Maka sebelum Segara semakin menjauh, Arkana bergegas menyusul. “Tungguin!”
...****************...
Sungguh, tidak sia-sia membayar mahal untuk pekerjaan yang sempurna ini.
“Tadi ada yang ke sini,” ujar Adella seraya meletakkan dua box kotak makan siang yang dia beli dari layanan delivery ke atas meja kaca di ruang kerja Segara.
“Siapa?”
“Perempuan sama anak kecil sekitar usia 4 tahun. Kalau nggak salah namanya Lana dan—“
“Mikha,” Arkana menyela. Sebenarnya dia sedang keceplosan, jadi setelah sadar, dia langsung mengatupkan kembali bibirnya.
“Iya, Mikha, yang anak kecil namanya Mikha.” Adella membenarkan.
“Ngapain mereka ke sini?” tanya Segara penasaran. Sampai sekarang, pesan yang dia kirimkan kepada Lana belum juga dibalas, tapi perempuan itu malah datang ke sini? Untuk apa?
“Cuma nitip sesuatu. Sebentar, saya ambil dulu.” Adella kemudian berjalan menuju meja kerja Segara, lalu kembali tak lama kemudian seraya membawa sebuah amplop berwarna putih. “Ini, Pak. Tadi perempuan itu cuma nitip ini.”
Segara menerima amplop itu, lalu membukanya. Ternyata isinya adalah selembar kertas. Sebelum membuka lembaran kertas itu, Segara mengangkat kepalanya, menatap Adella. “Oke, makasih, Del. Kamu boleh balik ke ruangan kamu.” Titahnya.
__ADS_1
“Baik, Pak.” Adella pun pamit undur diri, tak lupa menutup pintu ruang kerja Segara rapat-rapat.
Selepas menghilangnya Adela, barulah lembaran kertas yang dia yakini adalah surat itu dia buka.
Pelan-pelan, Segara membaca satu demi satu kata yang tertulis rapi di sana.
Pak, maaf saya datang ke kantor Bapak tanpa izin. Saya cuma mau bilang kalau ponsel saya jatuh ke kolam renang dan sekarang mati total, jadi saya nggak bisa mengabarkan kondisi Mikha ke Bapak. Fyi, saya nggak hafal nomor Bapak kalau harus menghubungi menggunakan telepon rumah.
Jadi melalui surat ini, saya cuma mau menyampaikan kepada Bapak kalau saya dan Mikha akan pergi ke rumah orang tua Bapak, soalnya Pak Damian bilang kangen sama cucunya. Sopir Pak Damian yang datang menjemput kami. Kalau nggak keberatan, sepulang dari kantor nanti, boleh susul kami?
Udah sih, Pak, gitu aja informasi yang mau saya sampaikan.
Oh iya, hampir lupa, Mikha tadi tidur siang selama 30 menit, makan siangnya juga nggak lewat. Terus, yang terpenting, dia udah nggak rewel soal adik, jadi Bapak jangan khawatir lagi, oke?
Segitu aja, Pak, terima kasih udah mau meluangkan waktu untuk membaca.
Salam,
Kelana.
“Apaan, Ga?” si kepo Arkana bertanya penasaran.
Segara melipat kertas yang sudah selesai dia baca, lalu memasukkamnya kembali ke dalam amplop. “Surat.” Jawabnya singkat, lalu dia mengeluarkan ponsel untuk memeriksa pesan yang terakhir kali dia kirimkan kepada Lana saat masih berada di lokasi proyek. Benar saja, rupanya gelembung pesan yang dia kirim hanya berakhir centang satu.
“Surat apaan? Surat cerai?”
Lagi-lagi, celetukan itu membuat Arkana dilempari tatapan tajam. “Lo kalau ngomong bisa nggak dipikir dulu? Jangan asal kebuka aja itu mulut.”
“Kan cuma nanya! Kalau enggak ya tinggal bilang enggak!” si Arkana malah sewot.
Perut kosong memang menjadi faktor terbesar yang menyebabkan seseorang menjadi emosional. Jadi sebelum mereka berakhir baku hantam, Segara menyodorkan satu box kotak makan siang dan meminta Arkana untuk segera memakannya. Dia pun melakukan hal yang sama.
“Lo nanti balik duluan aja, gue mau nyusul Mikha ke rumah Mama.” Ucapnya setelah menyuapkan sesendok makanan.
“Iye.” Arkana menyahut singkat. Masih kesal karena pertanyaannya soal surat apa yang Segara terima tidak dijawab dengan benar.
Di tengah-tengah kegiatannya menyendok makanan, Segara kembali melirik ke arah amplop putih yang dia letakkan ke atas meja. Ia tersenyum tanpa sadar. Ia tidak menyangka saja, kok ya bisa-bisanya Lana kepikiran untuk menulis surat dan mengantarkannya jauh-jauh ke sini.
“Miss, Miss ... ada-ada aja.”
__ADS_1
Bersambung