Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
ENAM BELAS


__ADS_3

Matahari sudah tinggi ketika Segara menuntun Mikha menuju mobilnya. Setelah insiden mimpi buruk yang dialami, Segara perlu menemani Mikha agar gadis itu kembali tidur sampai sekitar pukul tujuh.


Di tangannya yang lain, Segara menenteng sebuah tas jinjing berkuran sedang. Di dalamnya berisi semua keperluan pribadi Mikha, mulai dari beberapa mainan favorit dan juga seperangkat kotak P3K untuk berjaga-jaga.


Arkana telah memberi tahunya bahwa fasilitas di daycare tempat ia akan menitipkan Mikha sudah sangat lengkap dan tidak ada yang perlu lagi ia kahawatirkan, tapi sebagai orang tua, Segara tidak bisa begitu saja mempercayakan putrinya kepada orang lain tanpa persiapan apa-apa.


Saat hendak membuka pintu mobil bagian tengah agar Mikha bisa segera masuk, pergerakan Segara terhenti karena kehadiran Bi Surti. Wanita paruh baya itu berjalan ke arahnya dari gerbang depan dengan raut wajah takut yang kentara. Tangannya saling meremas dan kepalanya agak menunduk demi bisa menghindari kontak mata dengannya.


Setibanya di depannya, Segara melihat Bi Surti menatap tas besar yang ia bawa dan Mikha bergantian, ada percampuran antara rasa heran dan penasaran ketika manik-manik matanya berlarian dari satu objek ke objek lainnya.


"Mikha mau dibawa kemana, Mas?" tanya Bi Surti takut-takut. Tatapannya masih tidak lepas dari tas besar yang Segara bawa.


"Mulai hari ini Mikha saya titipkan ke daycare, jadi Bi Surti fokus saja bereskan rumah. Nggak usah siapin makan malam, nanti saya yang siapin sendiri." Kata Segara tegas. Ia tidak marah pada Bi Surti, karena memang wanita itu tidak salah apa-apa. Ia hanya ingin menunjukkan bahwa keputusannya sudah bulat, dan tidak ada apapun yang bisa membuatnya goyah.


"Ini ada hubungannya sama Rudi ya, Mas? Anak itu bikin kesalahan apa sama Mas Segara?" Kini, Segara bukan lagi melihat ketakutan di mata Bi Surti ketika wanita itu mendongakkan kepala. Ia justru melihat wanita itu tampak khawatir. Entah khawatir pada anaknya, atau khawatir pada pekerjaannya yang terancam hilang.


"Nggak ada hubungannya sama Rudi." Bohong Segara. Dia memutuskan untuk menyimpan masalah ini hanya antara dirinya, Arkana dan juga Rudi. Orang lain tidak perlu tahu, sekalipun itu Bi Surti. Karena toh dia masih belum tahu banyak tentang alasan Rudi menerima perintah tersebut. "Saya cuma mau Mikha ketemu lebih banyak teman sebayanya, sekaligus bisa belajar banyak hal baru." Lanjutnya karena Bi Surti masih memasang raut khawatir yang terlalu kentara.


"Daddy," Segara menunduk, menoleh pada Mikha yang menarik-narik celananya.


"Kenapa, Sayang?" tanyanya pelan. Sejenak ia abaikan eksistensi Bi Surti yang masih enggan beranjak dari tempatnya berdiri.


"Can we go now? Panas." Rengek bocah itu. Wajahnya memang sudah memerah terkena paparan sinar matahari, jadi Segara mengangguk tanpa ragu. Dia buka pintu mobil dan segera mendudukkan Mikha di jok tengah, memasangkan seatbelt kemudian menutup pintu setelah meletakkan tas jinjing di jok samping tempat Mikha duduk.


"Saya buru-buru, harus drop Mikha ke daycare dulu sebelum berangkat kerja." Kata Segara, hanya untuk membuat wanita paruh baya di depannya menggeser tubuh demi bisa memberinya akses jalan.


Segara tidak bicara apa-apa lagi, ia langsung memutar tubuh berjalan ke sisi pengemudi dan langsung masuk ke dalam mobil tanpa menunggu Bi Surti berlalu dari tempatnya. Setelah memesang seatbelt, ia menginjak pedal gas dan mobil langsung melaju meninggalkan pelataran rumahnya.

__ADS_1


Di sepanjang perjalanan, Segara tidak sepenuhnya bisa fokus pada jalanan di depan. Beberapa kali ia sibuk melirik ke arah Mikha melalui kaca spion depan demi memerika ekspresi di wajah bocah itu.


Namun, ia tidak mendapatkan apa-apa. Terlalu sukar untuk membaca isi kepala anak itu, jadi ketika ia melirik lagi dan menemukan Mikha sedang menyandarkan kepala ke kaca jendela dan tatapannya mengarah pada jalanan yang mereka lewati, Segara cuma bisa menghela napas pelan.


Kurang lebih 20 menit perjalanan itu mereka tempuh hingga sampailah mereka di depan sebuah bangunan tiga lantai yang dengan halaman yang cukup luas. Bangunan itu dikelilingi pagar tinggi dan ada dua orang berseragam serna hitam yang berjaga di gerbang depan, secara otomatis bergerak mendekat ketika melihat mobil Segara parkir di depan gerbang itu.


Salah seorang dari mereka, yang berambut cepak dengan perawakan tinggi tegap berjalan ke sisi mobil Segara, mengetuk kaca mobilnya pelan dan langsung menyunggingkan senyum ramah ketika kaca mobil diturunkan dan tatapan mata mereka bertemu.


"Ada perlu apa ya, Pak?" tanya si pria yang Segara perkirakan usianya sekitar awal 30-an.


"Saya mau antar anak saya. Ini hari pertama dia masuk." Jelas Segara, yang sontak mengundang kerutan di kening pria itu.


"Atas nama siapa ya, Pak? Biar saya konfirmasi dulu ke bagian administrasi, karena setahu saya, pendaftaran sudah ditutup sejak tiga bulan yang lalu dan nggak ada tambahan kuota lagi." Kata si pria, masih dengan nada ramah dan senyum yang masih terpatri.


"Allena Mikhaela Adhitama. Nama wali Segara Adhitama." Kata Segara.


Perempuan itu tampak berbicara kepada pria tadi, dan Segara hanya bisa menyaksikan semua adegan itu dalam diam. Sampai akhirnya si pria mengangguk dan perempuan yang tadi berjalan ke arah mobilnya.


"Pak Segara?" tanyanya memastikan.


Segara mengangguk. Ia buru-buru melepaskan seatbelt dan turun dari mobil agar bisa bicara lebih leluasa dengan perempuan berambut pendek sebahu itu.


"Saya Grace, owner daycare ini." Kata si perempuan memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangan dan tersenyum ramah.


Segara meraih uluran tangan itu, menjabatnya sebentar disertai senyum basa-basi kemudian segera menarik tangannya kembali.


"Semalam Ar menghubungi saya, setelah sekian lama. Saya pikir dunia pasti hampir kiamat karena anak itu akhrinya mau menghubungi saya lagi. Ternyata, dunia bukannya mau kiamat, tapi anak itu sedang berusaha menjaga dunianya yang baru." Kata perempuan itu sembari melirik Mikha yang masih duduk anteng di jok tengah.

__ADS_1


Dahi Segara jelas berkerut saat mendengar penuturan perempuan di hadapannya ini. Karena dia sama sekali tidak mengerti maksudnya. Tentang Ar dan kehidupan pribadinya sama sekali tidak pernah menjadi ranah yang berani ia masuki. Walaupun telah menjadi dekat seiring degan berjalannya waktu dan hubungannya dengan Karenina yang kian serius sebelum memutuskan untuk menikah, Segara tidak pernah mendengar Arkana bercerita tentang perempuan manapun kepadanya.


Dan lagi, perempuan ini terlihat lebih dewasa jika dia hendak mengasumsikan perempuan ini sebagai seseorang yang mungkin menjalin hubungan khusus dengan Arkana. Perempuan ini mungkin sudah berumur 30-an, dan Segara tidak yakin Arkana punya ketertarikan terhadap perempuan yang lebih tua.


"Ar dulunya mahasiswa saya, Pak. Dalam beberapa kesempatan, kami sering menghabiskan waktu untuk mendiskusikan banyak hal. Sampai akhirnya dia terbang ke Kanada untuk study lanjutan dan anak itu sama sekali nggak menghubungi saya lagi." Jelas si perempuan, seolah bisa membaca tanda tanya besar yang ada di kepala Segara. Senyumnya masih merekah.


Segara terdiam cukup lama setelah mendengar penjelasan perempuan itu. Ragu yang tadi di sepanjang perjalanan masih menghantui dirinya perlahan-lahan pudar seiring fakta yang terungkap bahwa perempuan ini memiliki relasi yang baik dengan Arkana. Mendadak ia merasa bersalah pada anak itu karena sudah secara tidak langsung meragukan rekomendasi yang anak itu berikan.


"Saya boleh bawa Mikha masuk sekarang?" tanya perempuan bernama Grace itu lagi ketika Segara tak kunjung mengatakan sesuatu.


Segara mengangguk setelah kesadarannya terkumpul kembali. Dengan cekatan ia berjalan ke sisi mobil bagian tengah, membuka pintu dan segera meraih tubuh kecil Mikha ke dalam gendongan. Tak lupa juga ia bawa serta tas jinjingnya yang langsung disambut oleh Grace yang rupanya mengekorinya di belakang.


"Terima kasih." Kata Segara saat tangan perempuan itu mengambil alih tas jinjingnya.


Grace hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Lalu tatapannya turun pada Mikha yang tampak tenang digendongan sang ayah. Tidak ada ketakutan yang terpancar di kedua manik bulat bocah itu, mengundang keheranan yang teramat di benak Grace karena kebanyakan anak-anak yang pertama kali datang ke daycare pasti akan merengek pada orangtuanya karena takut ditinggalkan sendirian.


Tapi Mikha benar-benar lain. Bahkan saat tangan Grace terulur ke depan, bocah itu tanpa ragu mencondongkan tubuhnya ke arah Grace sehingga ia bisa dengan mudah mengambil alih Mikha ke dalam gendongannya.


"Mohon bantuannya." Ucap Segara sambil mengusap pelan kepada Mikha.


Grace mengangguk. Senyumnya masih terpatri sempurna, bahkan kian lebar ketika Segara mendaratkan kecupan manis di pipi gembil Mikha sebelum pamit undur diri.


"Daddy tinggal kerja dulu ya, Sayang, kamu jagan nakal." Ucapnya yang langsung dibalas dengan anggukan oleh Mikha.


Setelah itu, Segara betulan pamit undur diri. Tubuh tegapnya bergerak cepat masuk kembali ke dalam mobil dan tanpa menunggu lama mobil pun bergerak menjauhi area daycare. Segara masih sempat melirik melalui kaca spion untuk memastikan Grace telah membawa Mikha masuk ke dalam, barulah ia tancap gas karena sebetulnya ia sudah telat untuk datang ke kantor.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2