
Sontak saja membuat Adelia sangat syok mendengar perkataan dokternya kalau suaminya sudah tiada begitu pula dengan semua orang yang mendengarnya saat itu. Mereka tidak menyangka kalau Reqy tidak bisa di selamatkan lagi.
“Tidak mungkin. Suamiku baik – baik saja. Dia bilang tidak akan meninggalkanku.” Ucap Adelia sambil melihat semua orang yang berdiri memperhatikannya. Ia kembali melihat dokternya, memegang lengan dokternya dengan isak tangisnya yang tiada henti. “Dokter...kumohon, tolong periksa lagi. Tolong periksa lagi. Dia tidak mungkin meninggalkanku. Dia bilang kalau dia akan terus berada di sampingku. Ku mohon selamat kan dia.” Adelia memohon – mohon di depan dokternya dengan wajahnya yang terlihat menyedihkan.
“Maaf nyonya....kami sudah berusaha tadi. Tapi nyawanya tidak tertolong lagi.” Balas dokternya meminta maaf pada Adelia.
“Aaaaaaa......tidaaaaakk.” Adelia langsung berteriak histeris. “Aku tidak terima. Aku tidak terima.” Teriak Adelia sambil mengguncang - guncang tubuh si dokternya.
Nerissa ikut menangis ketika mendengar teriakan Adelia. Begitu pula dengan Pak Osmar yang menyaksikan itu. Mereka berdua sangat terpukul atas meninggalnya Reqy. Mereka tidak menyangka Reqy bisa meninggal begitu saja. Darel, Rian dan kedua orang tua Darel sangat syok mendengar kabar Reqy yang meninggal. Mereka semua ikut terpukul mendengar itu.
Bu Susan langsung menghampiri Adelia saat melihat Adelia begitu sangat terpukul mendengar kabar suaminya.
Ia menarik tangan Adelia untuk melepaskan kedua tangannya dari dokternya yang terus ia pegang itu.
“Adelia tenangkan dirimu nak.” Ucap Bu Susan berusaha menenangkan keponakannya.
Adelia menoleh ke arah Bu Susan. “Tidak bibi. Suamiku belum meninggal. Aku harus melihatnya sendiri. Aku harus melihatnya bi. Hiks....hiks....hiks.” Ucap Adelia diiringi dengan isak tangisnya di depan Bu Susan.
Adelia melepaskan tangan Bu Susan darinya, kemudian menerobos masuk ke dalam ruang operasi.
“Nyonya....” Panggil dokternya ketika melihat Adelia masuk ke dalam ruang operasi.
__ADS_1
Namun, Adelia sama sekali tak peduli. Ia berlari masuk ke dalam dengan isak tangisnya yang terus terdengar di sana.
Saat di dalam, Adelia mengubah langkah kaki cepatnya menjadi pelan sambil melihat keadaan suaminya di sana.
Salah satu dokter ingin menahan Adelia untuk menghampiri Reqy, namun dokter yang tadi bicara dengan Adelia menyuruh mereka untuk membiarkan Adelia mendatangi suaminya. Toh....Reqy juga sudah meninggal.
Adelia langsung memegang tangan suaminya saat ia sudah berada di samping Reqy. Ia terus menangis dengan tangan gemetar memegang dan menyentuh seluruh tubuh Reqy yang terbaring kaku.
“By...” Panggil Adelia sambil memegang tangan suaminya dengan tangan gemetarnya itu. Seketika ia menjatuhkan kepalanya di wajah suaminya sambil memeluk kepala suaminya.
“By...hiks....hiks....by. Apa kamu sedang marah denganku, sampai kamu menjadi begini. Aku minta maaf. Aku minta maaf sudah mengatakan hal yang membuatmu marah. Tolong bangun lah by....aku mohon bangun...hiks....hiks....”
Para dokter yang menyaksikan adegan itu hanya bisa diam kaku sambil menghela nafasnya melihat Adelia yang terus menangis di depan mayat suaminya.
Adelia semakin memegang erat tangan suaminya, kemudian mengangkat kepalanya menatap wajah kaku suaminya.
“Apa kamu begini, karena kamu mengira kalau aku akan pergi. Tidak by....aku tidak akan pergi kemana – mana.” Adelia menggelengkan gelengkan kepalanya melihat wajah suaminya. “Aku akan tetap disini bersamamu. Aku sama sekali tidak membencimu by. Aku tidak menyalahkanmu atas semua yang sudah terjadi. Aku hanya marah, karena kamu menyembunyikan semuanya dariku. Kalau kamu bangun, kita akan pergi ke Inggris seperti yang kamu inginkan. Hem...tolong kasihanilah aku dan Ikrar. Aku harus bagaimana kalau kamu tidak ada. Aku dan Ikrar sangat membutuhkanmu. Kami berdua hanya mencintaimu. Tolong bangun lah demi Ikrar. Kalau kamu tidak ada, dia tidak akan bisa merasakan kasih sayang seorang ayah. Aku juga tidak bisa hidup bahagia kalau kamu tiada. Hiks....hiks....hiks..”
Tanpa di duga, Reqy tiba – tiba saja mengeluarkan air mata di ujung matanya. Adelia kaget melihat suaminya mengeluarkan air matanya di sana. Ia langsung menoleh kepada dokter yang sejak tadi berdiri menyaksikannya itu.
“Dok....kenapa dia mengeluarkan air matanya?” Tanya Adelia menatap dokternya dengan wajah kagetnya.
__ADS_1
Sontak saja membuat para dokternya tadi kaget. Mereka langsung berlari menghampiri Reqy. Dan salah satu dokter menarik Adelia dari sana.
Tampak di wajah Adelia bingung melihat para dokternya kembali memeriksa keadaan suaminya. Namun, tiba – tiba saja penglihatannya mulai kabur. Tubuhnya terasa sangat lemah. Ia memegang kepalanya disana berusaha untuk menghilangkan penglihatan kaburnya itu. Namun, ia sama sekali tidak bisa menahan tubuh lemahnya, dan akhirnya ia jatuh pingsan. Untung saja ada salah satu perawat yang menahan tubuhnya sampai tidak terjatuh ke lantai.
“Nyonya....nyonya.” panggilnya sambil menepuk – nepuk pipi Adelia.
Namun Adelia sama sekali tidak sadarkan diri. Perawat itu pun berusaha memegang tubuh Adelia untuk keluar dari ruang operasinya.
Memang sejak tadi Adelia sudah merasa lemah, namun ia tidak bisa lagi menahan tubuhnya yang sangat lemah sampai ia pingsan di sana.
Saat perawat tadi sudah berada di luar sambil memegang tubuh Adelia, Darel dengan sigap berlari menghampiri adiknya itu. Ia langsung memegang adiknya yang sudah tidak sadarkan diri.
“Ada apa dengannya?” Tanya Darel dengan panik melihat Adelia.
“Nyonya Adelia jatuh pingsan tuan.” Jawab si perawatnya itu.
Semua orang ikut panik melihat keadaan Adelia yang tidak sadarkan diri. Namun, Darel berusaha menenangkan mereka dengan mengatakan kalau Adelia hanya butuh istirahat.
Darel kemudian menggendong Adelia menuju sebuah kamar pasien yang letaknya tak jauh dari ruang operasi Reqy diikuti Bu Susan, sedangkan yang lainnya masih berada di depan operasi ketika Darel menyuruh mereka untuk tetap di sana. Darel dengan cepat meletakkan Adelia di atas kasur, kemudian memeriksa nadi adiknya. Sesaat setelah memeriksa adiknya, ia berjalan keluar memanggil dokter kandungan yang ada di rumah sakit itu.
Salah satu dokter datang untuk memeriksa Adelia di dalam kamar pasiennya itu. Beberapa saat kemudian, dokter selesai memeriksa keadaan Adelia. Ia mengatakan kepada Bu Susan dan Darel kalau Adelia tengah hamil muda. Dan kondisinya sekarang sedang lemah yang mengakibatkannya jatuh pingsan.
__ADS_1
Darel dan Bu Susan merasa lega mendengar Adelia hamil, namun mereka berdua juga khawatir melihat keadaan Adelia yang terlihat lemah.