
Adelia kembali menatap serius suaminya.
“Katakan...jangan membuatku mengulang kata – kataku tadi.” Ucap Adelia.
Reqy memejamkan matanya sejenak. Rasanya berat sekali untuk bisa jujur pada istrinya, namun sekarang sudah terlambat. Adelia sudah tahu semuanya. Hanya kejujuran yang Adelia inginkan darinya. Dengan terpaksa, ia harus mengakui perbuatannya pada Adelia.
Ia pun membuka matanya, menatap mata istrinya, kemudian menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan istrinya tadi.
Plakk....satu tamparan langsung mendarat di pipi Reqy. Tubuh Adelia semakin gemetar sehabis memukul suaminya. Ia sangat marah melihat pengakuan Reqy. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, menangis, menggelengkan kepalanya sambil berjalan mundur menjauhi Reqy.
Kedua tangannya yang menutup mulutnya terlihat sangat gemetar. Bahkan ia hampir tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya yang ingin jatuh. Tubuhnya terasa lemas mendengar kenyataan yang sangat menyakitkan. Dengan sigap Reqy memegang lengan Adelia agar tak jatuh, namun Adelia menghempaskan tangan suaminya.
“Jangan sentuh aku...” Teriak Adelia sambil memukul – mukul tangan Reqy yang terus berusaha memegang tubuhnya. “Pergi..jangan sentuh aku.”
“Sayang...aku mohon jangan marah.” Ucap Reqy dengan suara pelannya.
Adelia semakin berjalan mundur untuk menjauhi Reqy, namun Reqy langsung memeluk erat tubuh istrinya sambil memejamkan matanya di sana. Merasa bersalah dengan semua yang terjadi pada Adelia sekarang. Ia berusaha menenangkan Adelia yang terus menjauhinya.
“Hiks....hiks.....hiks.....lepaskan....” Teriaknya. Adelia menangis berteriak sambil meronta – ronta agar ia bisa lepas dari pelukan erat suaminya, namun Reqy semakin memeluknya dengan erat tak ingin melepaskan Adelia dari pelukannya itu.
“Maafkan aku sayang. Aku salah padamu. Tolong maafkan aku, karena sudah menyembunyikannya darimu”
Adelia mengumpulkan semua tenaganya untuk lepas dari Reqy. Ia sekuat tenaga mendorong Reqy sampai akhirnya ia terlepas dari suaminya. Ia kembali menampar wajah suaminya setelah ia lepas dari Reqy.
“Kau pria tidak punya hati.” Teriak Adelia.
Reqy hanya diam memejamkan matanya, membiarkan Adelia terus mengeluarkan semua isi hatinya, membiarkan istrinya melakukan apapun padanya, jika memang itu bisa membuat Adelia merasa lega.
Adelia memegang kemeja suaminya dengan kedua tangannya, menarik – nariknya dengan kasar.
“Kenapa kau melakukannya....hah...kenapa by, kenapa...hiks...hiks.” Tanya Adelia diikuti dengan suara tangisannya.
Seketika ia berteriak. “Aaaaaa.....hiks.....hiks....hiks... kenapa kau menyembunyikannya dariku. Hah...kenapa kau melakukan itu?” Tanya Adelia sambil menundukkan kepalanya dengan kedua tangannya yang masih memegang kemeja suaminya.
Reqy hanya bisa diam sambil terus memejamkan kedua matanya.
Ia kemudian menjawab pertanyaan istrinya saat Adelia terus menangis di depannya. “Karena aku ingin menikahimu Del.” Jawab Reqy.
__ADS_1
Adelia langsung mengangkat kepalanya, menatap wajah Reqy.“Kau...kau,” Dengan suara yang terdengar gemetar. “Jadi dari awal kau sudah merencanakannya. Kau sengaja ingin menghancurkan pernikahanku dengan Rian, Begitu. Kau sengaja menculik Rian di hari pernikahanku. Semuanya sudah kau rencanakan. Dan kau selamanya akan menutupinya dariku dengan membawaku ke luar negri. Begitu?”
Reqy tampak diam memejamkan matanya mendengar semua yang di katakan istrinya. Adelia terlihat marah melihat kebisuan Reqy.
“Jawab....” Teriak Adelia. “Apa kau sama sekali tidak pernah menyesali perbuatanmu itu..hah...?”
Reqy menatap serius istrinya. “Kalau aku di beri kesempatan untuk mengulang kembali. Aku tidak akan pernah menyesal melakukannya. Kalau aku kembali dua tahun yang lalu, aku tetap melakukannya sayang. Demi kamu. Yang aku sesalkan adalah aku seharusnya menemuimu lebih awal sebelum kamu bertemu dengannya.”
Adelia semakin menangis mendengar perkataan suaminya.
“Kau bilang demi aku.” Dengan mata merah menatap Reqy. “Itu bukan demi diriku tapi demi keegoisanmu itu.” Ucap Adelia sambil menunjuk – nunjuk dada suaminya dengan telunjuknya. “Kau bahkan tidak menyesali perbuatanmu. Sungguh ironis aku bisa menikah dengan orang seperti dirimu. Aku sangat membencimu.”
“Del...aku minta maaf sudah menyakitimu. Kumohon jangan seperti ini Del. Tolong jangan benci aku.” Reqy memohon – mohon pada istrinya dengan ekspresi kasihannya.
“Sekarang dimana Kak Rian kau sembunyikan?” Tanya Adelia tanpa menanggapi ucapan suaminya.
Reqy terlihat kaget mendengar pertanyaan istrinya.
“Aku tidak tahu dia dimana. Aku tidak menyembunyikannya sayang.”
“Jangan bohong. Dulu kau bisa menculiknya lalu mencoba membunuhnya. Kau pasti bisa melakukannya lagi.” Dari cara bicara Adelia sudah terdengar keras, tidak seperti biasanya lagi yang selalu memanggil Reqy dengan sebutan hubby. Itu semua karena ia sangat marah pada suaminya.
“Lalu...aku harus melihatmu seperti apa. Suami terbaik, ayah yang baik, penyayang. begitu. Ya...aku akui. Kau adalah suami terbaik, ayah yang baik. Tapi...apa kau pria yang baik dimata orang. Sebelum kau menanyakan hal itu padaku. Kau lihat dulu dirimu. Demi kebahagiaan dirimu sendiri kau melakukan hal yang kejam. Apa kau sadar dengan semua yang kau lakukan itu. Kau menghancurkan hidup orang lain demi kepentinganmu sendiri?”
Reqy kembali diam. Ia tak bisa berkata – kata lagi mendengar semua ucapan istrinya. Begitu tidak berharganya ia sekarang di mata Adelia. Apapun yang ia katakan semakin membuat Adelia jijik padanya.
Karena tak sanggup lagi bicara panjang lebar dengan Reqy, ia pun berjalan cepat meninggalkan suaminya di sana, dengan perasaan kecewa yang sudah menutupi seluruh hatinya.
Adelia melangkah menuju kamar pribadinya, membuka pintu kamarnya, lalu memutupnya dengan rapat. Ia bersandar di pintu kamarnya, kemudian menjatuhkan tubuhnya di sana.
Ia kembali menangis, merasa sangat kecewa pada Reqy. Semua perasaannya campur aduk. Bagaimana ia bisa mengatakan pada Rian kalau ia akan hidup bahagia bersama keluarga kecilnya sementara Rian terluka gara – gara perbuatan suaminya.
Dengan berat hati, ia harus membuat keputusan. Ia memaksakan kembali tubuhnya untuk berdiri, kemudian melangkah menuju ruang gantinya. Di sana ia memasukkan sebagian pakaiannya ke dalam koper. Rasanya ia sudah tidak sanggup tinggal di rumah ini yang membuatnya sangat tersiksa.
Setelah memasukkan semua barang – barangnya, ia kembali melangkah keluar kamarnya. Ia menarik koper kecilnya untuk meninggalkan rumahnya dengan tangisan yang tiada hentinya. Buat apa ia tinggal di sana lagi. Ia merasa sangat di kecewakan oleh suaminya sendiri. Apa itu yang dinamakan cinta. Menurutnya itu bukan cinta melainkan obsesi dari suaminya.
Saat keluar, Reqy mendapati istrinya sedang menarik kopernya untuk pergi. Ia dengan cepat menarik koper Adelia di sana.
__ADS_1
“Del...kau mau kemana?” Tanya Reqy.
Adelia menoleh melihat suaminya. “Menurutmu...” Jawab Adelia menatap serius suaminya. “Apa kamu masih berpikir aku bisa tinggal disini. Di rumah yang seperti neraka bagiku. Rumah ini bukanlah sebuah rumah melainkan penjara. Jangan halangi aku?”
“Tidak....aku tidak akan membiarkanmu pergi. Kau tidak boleh pergi dari sini. Tolong jangan tinggalkan aku sayang. Kalau kau pergi, itu sama saja kau ingin aku cepat mati.” Ucap Reqy memohon sambil memegang koper milik Adelia.
Adelia diam tanpa mau melihat suaminya. Ia tidak tahan kalau harus melihat wajah kasihan Reqy. Hatinya akan goyah jika ia menatap mata suaminya. Ia tidak ingin menjadi orang yang egois seperti Reqy. Bahagia di atas penderitaan orang lain. Bagaimana bisa ia akan tertawa bahagia sementara Rian menderita gara – gara dirinya. Sekarang, ia lebih memilih untuk pergi. Lebih baik baginya kalau ia meninggalkan suaminya. Bahkan lebih baik baginya kalau ia hidup sendiri tanpa menyakiti siapapun.
Namun, di tengah – tengah pertengkaran mereka. Baby sisters Ikrar berlari menghampiri kedua majikannya sambil menggendong Ikrar yang terus menangis tiada henti.
“Nyonya...Tuan Muda kecil menangis terus. Sudah sejak tadi tidak mau berhenti menangis, nyonya.” Ucap si Baby Sistersnya dengan khawatir melihat keadaan Ikrar yang menangis keras.
Dengan cepat, Adelia melepaskan kopernya, kemudian mengambil anaknya. Ia memeluk erat anak semata wayangnya dengan suara tangisan yang keluar darinya.
“Hiks.....hiks.....hiks....anakku. Hiks....hiks.....hiks....anakku. Maafkan ibu.” Isak tangisnya terus tiada henti. Ia menangis sambil terus menciumi wajah anaknya. Apa yang harus ia lakukan saat melihat anaknya menangis di sana. Rasanya ia tidak tega jika harus meninggalkan anaknya yang masih kecil.
Sementara Reqy berjalan pelan menghampiri istri dan anaknya. Ia langsung memeluk istrinya dari belakang.
“Kumohon jangan pergi. Kalau kau membenciku dan tidak mau melihatku. Tidak masalah, aku akan membuat diriku tidak terlihat. Tapi aku mohon jangan tinggalkan Ikrar dan rumah ini. Rumah ini adalah milikmu dan Ikrar. Semuanya adalah milikmu. Aku juga akan menyerahkan diriku ke polisi kalau itu bisa membuatmu merasa tidak bersalah pada Rian. Kalau itu bisa membuatmu tetap disini, aku akan melakukannya.” Ucap Reqy sambil meneteskan air matanya. Lelaki arogan itu menangis memohon pada istrinya.
Bersambung.
Author: Yang setuju Reqy masuk penjara, angkat tangan.🙋🏻
Bambang: Mau gua santet online thor. Belum pernah rasakan kan.😒😒
Juminten: Gua mau angkat kaki ajah Kak Dewi. Nggak tahan gua.🙄🙄
Author: Ya tuhan...jahat sekali kamu bambang. Gua kan cuma minta pendapat kalian.🤧🤧🤧
Bambang: Coba ajah masukin ke penjara, lihat ajah besok. Gua santet luh.😏😏😏
Halimah: Ya ampun, kalian ini jahat sekali sama authornya. Biarain ajah lah si Tuan Reqy dapat pelajaran.😌😌😌😕😕
Bambang: Luh juga plin plan ya Halimah. Kemarin dukung Reqy sekarang malah suka Reqy masuk penjara. Mau gua santet juga luh.🙄🙄🙄.
Halimah: kok gua sih yg disalahin😥
__ADS_1
Author: Pasrah lah😌😌😌😌kata kalian.😥😥