
🌹SELAMAT MEMBACA🌹
Selesai memberikan hukuman pada Nerissa di lantai 2, ia kembali naik ke lantai 3 kamar pribadinya tanpa di dampingi lagi dengan Pak Osmar. Ia masuk ke dalam kamar pribadinya untuk mandi di sana, menghilangkan bau rokok di tubuhnya sebelum bertemu dengan istrinya.
Tak lama setelah mandi, ia keluar dari kamar mandinya menuju ruang ganti pribadinya.
Sebenarnya, hari ini ia berencana untuk mulai bekerja lagi di kantornya. Tapi karena suasana hati istrinya sedang buruk, ia kembali mengurungkan niatnya untuk bekerja, dan hanya tinggal di rumah menemani Adelia.
Selesai berpakaian santai, ia keluar dari kamar pribadinya menuju ruang lukis istrinya. Adelia memang lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang lukis di banding melakukan hal lain selama masa kehamilannya itu.
Di depan ruang lukis, Reqy masih melihat Emir berjaga di depan pintu ruang lukis Adelia.
“Tuan Muda.” Emir menyapa Reqy sambil membungkuk hormat.
“Apa dia tidak pernah keluar ruangannya?” Tanya Reqy dengan serius.
“Belum tuan, nyonya masih ada di dalam. Sepertinya dia masih melukis di dalam.” Jawab Emir dengan sopan.
Reqy kemudian memegang gagang pintunya di sana untuk masuk ke dalam ruang lukis istrinya. Tiba – tiba ia menghentikan dirinya untuk membuka pintunya ketika teringat akan sesuatu yang harus ia perjelas pada istrinya.
Ia menengok kembali ke arah Emir yang masih berdiri di dekatnya.
“Oh ya. Apa kau tahu apa yang paling di sukai wanita?” tanya Reqy dengan serius menatap Emir.
“Apa Anda mau memberikan sesuatu pada nyonya?” Tanya Emir. Ia tidak menjawab pertanyaan tuan mudanya itu, karena ia tahu kalau yang di maksud Reqy pasti Adelia. Ia hanya memperjelas apa yang ada dalam pikirannya sekarang.
“Iya.”
“Kalau dari sifat lembut nyonya, nyonya pasti sangat menyukai bunga, tuan.” Ucap Emir.
“Kalau begitu, kau pesan semua jenis bunga yang cantik.” Pinta Reqy dengan serius.
“Baik tuan.”
“Terus, bunga apa yang biasa di berikan seseorang saat mengungkapkan perasaannya?” Tanya Reqy. Ia berencana untuk mengungkapkan perasaannya pada Adelia. Ia ingin mempejelas pada istrinya kalau selama ini, ia sudah jatuh cinta padanya. Apalagi ketika Nerissa mengatakan hal – hal yang membuat Adelia sakit hati.
“Bunga mawar merah tuan.” Jawab Emir.
“Kenapa kau tahu semua tentang hal seperti itu?” Tanya Reqy sambil mengerutkan keningnya.
Emir tersenyum menatap Reqy.
“Saya selalu melihat orang – orang zaman sekarang memberikan bunga mawar kalau ingin mengatakan cinta pada lawan jenisnya tuan.” Jawab Emir dengan santai.
“Apa benar seperti yang kau katakan itu. Kau tidak berbohong padaku kan?” Tanya Reqy yang tidak percaya dengan kalimat yang di ucapkan Emir. Dalam pikiran Reqy kalau semua wanita menyukai benda – benda mahal dan berkilau seperti berlian bukan benda yang gampang layu seperti bunga.
“Iya tuan.”
“Bukannya semua wanita itu suka berlian, mobil mahal, rumah mewah.”
“Iya tuan, kebanyakan wanita memang seperti itu. Tapi yang biasa di lakukan orang – orang itu, memberikannya bunga mawar. Menurut mereka, bunga mawar lebih romantis kalau ingin mengungkapkan perasaan. Kalau ingin memberikan benda mahal seperti yang Anda sebutkan tadi, Biasa di berikan di hari ulang tahun atau di saat melamar seseorang.” Jelas Emir dengan serius.
Reqy tampak diam sejenak dengan wajahnya yang terlihat percaya dengan kata – kata yang di ucapkan Emir. Begitu pun dengan Emir yang diam sejenak sambil tersenyum melihat tuan mudanya yang diam percaya dengan kata – katanya.
“Kebanyakan laki – laki memang memberikan bunga mawar kalau mau mengungkapkan perasaannya. Tuan Muda saja yang kuno, tidak pernah puber. Kalau ku katakan begitu, tuan muda pasti akan tersinggung.” Dalam hati Emir.
__ADS_1
Reqy kembali bicara pada Emir.
“Kalau begitu, kau pesankan bunga. Lakukan sekarang. Aku ingin bunganya sampai dalam waktu 30 menit. Jangan lupa pesankan juga bunga mawar merah seratus tangkai.” Perintah Reqy.
“Baik tuan.” Balas Emir sambil manganggukkan kepalanya dengan sopan. “Saya permisi tuan.”
“Eem.”
Emir melangkahkan kakinya meninggalkan Reqy yang masih berdiri di sana.
Sesaat setelah Emir pergi, Reqy membuka pintu ruang lukis istrinya, dan sudah melihat istrinya tengah tertidur di sofa tidur yang bentuknya cukup besar dan nyaman. Ia berjalan pelan menghampiri istrinya yang sudah tidur lelap di sana.
Ia berdiri sejenak di depan Adelia, menatapnya sambil menghela nafasnya dengan pelan melihat Adelia yang tidur pulas di sofa.
“Aku pikir dia masih melukis, ternyata dia tidur di sini.” Gumamnya.
Ia kemudian ikut berbaring di sofa, tepat di samping istrinya. Memang sofa yang di tempatinya itu cukup luas untuk dua orang bersantai. Reqy menatap wajah istrinya sambil mengelus lembut pipi istrinya di sana. Dan tanpa sadar, Reqy ikut memejamkan matanya di samping istrinya.
Setelah beberapa menit, Emir sudah selesai melakukan semua yang di perintahkan Reqy tadi. Ia sudah membawa semua jenis bunga yang di pesan di sebuah toko bunga terbesar di Kotanya itu.
Emir mengetuk – ngetuk pintu ruangan Adelia. Seketika Reqy membuka matanya mendengar suara ketukan pintu Emir. Ia langsung bangun dari sofa, kemudian berjalan pelan untuk membuka pintu ruangannya.
Saat membuka pintu, Reqy melihat Emir berdiri di depan pintu sambil memegang bunga mawar merah seratus tangkai dengan puluhan jenis bunga buket keranjang yang sudah ia letakkan di lantai, tepat di depan ruang lukis Adelia.
“Tuan Muda, saya sudah membawa semua jenis bunga yang Anda pesan.” Ucap Emir.
“Kerja bagus.”
“Ini bunga mawar yang Anda pesan tadi.” Ucap Emir. Ia menyerahkan bunga mawar merahnya di depan Reqy.
Saat itu, Reqy langsung meraih bunga mawar merahnya di tangan Emir.
“Baik tuan.”
Emir pun pergi meninggalkan tempatnya itu, dan kembali turun ke bawah meninggalkan semua bunga yang di bawanya tadi.
Tanpa Reqy sadari kalau istrinya sudah bangun dan berjalan dengan pelan ke arahnya.
“Hubby.” Panggil Adelia dengan suaranya yang terdengar serak akibat habis bangun tidur.
Tentu saja Reqy terkejut mendengar panggilan istrinya yang tengah berjalan ke arahnya. Ia langsung membalikkan badannya ke arah Adelia sambil menyembunyikan bunga yang sudah ia pegang. Karena bunga yang Reqy pegang itu sangat besar, membuat Adelia menyadari dan melihat bunga yang di pegang suaminya.
“Sayang, kau sudah bangun, kapan kau bangun?” Tanya Reqy sambil tersenyum pada istrinya.
Ia merasa canggung sendiri melihat Adelia, ia masih belum menyusun kalimat yang akan di katakannya pada Adelia yang membuatnya secara relfeks menyembunyikan bunganya. Ia belum siap mental mengutarakan perasaannya sekarang. Apalagi itu pertama kali baginya untuk mengutarakan perasaannya pada seorang wanita.
“Aku sudah bangun dari tadi.” Jawab Adelia tanpa melihat suaminya. Ia hanya fokus melihat bunga yang di pegang Reqy. Wajahnya terlihat penasaran.
Saat itu, Reqy berusaha menggerakkan tubuhnya ketika melihat Adelia memiringkan kepalanya untuk melihat bunga yang ia pegang.
Adelia kembali menegakkan badannya di depan Reqy ketika ia tidak berhasil melihat jelas bunga yang di pegang suaminya.
“Hubby tidak perlu menyembunyikan bunga yang hubby pegang. Memangnya aku tidak bisa melihatnya dengan jelas.” Ucap Adelia.
“Kau sudah lihat ya.”
__ADS_1
“Bunga sebesar itu, tentu saja aku lihat. Hanya orang buta saja yang tidak bisa melihatnya.”
Karena sudah di ketahui istrinya, Reqy kemudian memegang tangan istrinya dan berjalan keluar ruangannya itu. Di luar, Reqy memperlihatkan semua bunga yang sudah di bawa Emir tadi.
“Lihat....ini semua bunga untukmu.” Ucap Reqy sambil tersenyum.
Adelia sangat kaget melihat begitu banyak bunga yang berjejer di lantai.
“Ada apa ini, kenapa hubby memberiku bunga sebanyak ini. Aku kan tidak ulang tahun?” Tanya Adelia penasaran.
“Adel...lihat aku.” Pinta Reqy.
Adelia segera berbalik menghadap suaminya yang saat itu berdiri di belakang.
“Ada apa by?” Tanya Adelia dengan ekspresi bingungnya.
Reqy langsung menyodorkan bunga mawar merah yang ia pegang tadi di hadapan Adelia.
Adelia melihat sejenak bunganya, kemudian meraih dari tangan suaminya.
“Bunga ini untukku.”
Reqy mengangguk. “Iya, untukmu. Semua bunga yang ada di sini milikmu.”
“Kenapa hubby memberikanku bunga seindah ini?” Tanya Adelia.
“Bunga ini simbol dari perasaanku.”
“Apa?” Adelia terlihat kaget mendengar ucapan suaminya.
Reqy kembali mengambil bunga yang di pegang istrinya, kemudian meletakkannya di lantai. Ia lalu memegang tangan istrinya setelah meletakkan bunga yang sangat besar itu. Ia menatap mata istrinya dalam – dalam, menatapnya dengan penuh cinta.
“Adelia.....dengarkan baik – baik yang kukatakan.”
“Iya.”
“Aku mencintaimu. I......Love.......you.” Ucap Reqy dengan suaranya yang terdengar pelan namun jelas.
Adelia langsung terkejut mendengar penyataan cinta yang di ucapkan Reqy. Ia tampak diam tak bisa berkata – kata di depan suaminya yang saat itu menatapnya dengan tersenyum.
Reqy kembali melanjutkan kalimatnya ketika melihat Adelia diam membisu dengan tatapan kaget melihat dirinya.
“Sayang, aku pria kaku, tidak bisa bicara lembut, tidak romantis, tidak tahu perasaan wanita seperti apa, dan tidak tahu apa itu cinta. Tapi...aku sangat sayang padamu, aku selalu ingin melihatmu, setiap hari aku hanya ingin dekat denganmu, sekarang yang aku inginkan itu hanya kamu sayang. Pikiran dan hatiku sudah di penuhi dengan dirimu. Kau juga seperti itu kan, sama seperti yang aku rasakan.” Jelasnya menatap Adelia dengan penuh cinta.
Adelia melepaskan tangannya dari genggaman tangan suaminya saat ia selesai mendengar semua yang di katakan suaminya. Ia berjalan mundur dengan wajahnya yang seketika sedih melihat Reqy yang berdiri di depannya.
Dengan cepat, ia masuk kembali ke ruang lukisnya tanpa mengucapkan satu kalimat pun dari bibirnya. Ia langsung menutup pintu ruangannya saat Reqy juga ingin masuk ke dalam.
Bersambung.
.
.
.
__ADS_1
Ingat tekan LIKE ya sayang, harus. Tulis KOMENTAR positif kalian di bawah kolom komentar. Silahkan VOTE ya untuk Reqy dan Adelia.
Terima kasih.