Married With Mr. Arrogant

Married With Mr. Arrogant
Kedatangan Reqy


__ADS_3

🌹SELAMAT MEMBACA🌹


Adelia duduk di sebuah ruangan di gedung pernikahannya itu. Gaun putih panjang membalut tubuh langsingnya dengan Veil yang di sematkan di kepalanya. Tudung pengantin panjang yang di sematkan di belakang kepalanya itu menambah kesan anggun dalam dirinya.


Ia duduk di meja rias dengan wajahnya yang terlihat sangat bahagia. Jantungnya sampai berdetak tak karuan karena rasa gugup dalam dirinya. Ini adalah hari bahagianya bersama Rian. Ia terus menatap wajahnya yang sudah di hiasi make up sederhana oleh penata riasnya tadi. Ia hanya duduk sambil menunggu pamannya datang menjemputnya.


Tiba – tiba kedua orang tua Rian masuk ke dalam ruangannya bersama paman, bibi dan Darel, kakak sepupunya.


Adelia langsung berdiri melihat mereka masuk.


“Adelia....apa Rian mengirimkanmu pesan?” Tanya ibu Rian dengan wajahnya yang terlihat khawatir.


“Aku tidak tahu tante. Aku mendiamkan nada HP ku tadi.”


“Coba kamu buka HP mu.”


Adelia buru – buru mengambil HP-nya di tas kecilnya yang ia letakkan di meja rias tadi. Perasaannya sudah tidak enak melihat ekspresi mereka. Begitu pun dengan paman dan bibinya. Sejak tadi ia sudah khawatir ketika Bu Rani mengajaknya masuk ke dalam ruangan Adelia tanpa memberitahu masalahnya.


Adelia membuka HP-nya dan melihat isi pesan Rian.


“Adelia...maafkan aku. Aku tidak siap menikah denganmu. Saat ini aku terbang ke Thailand bersama temanku. Tolong jangan cari aku. Aku benar – benar menyesal karena melakukan ini secara tiba – tiba. Saat perjalanan tadi, aku terus berpikir tentang keputusanku menikahimu sampai aku sadar kalau aku masih ingin melanjutkan karirku dulu sebelum menikah denganmu. Tolong maafkan aku yang tidak berguna ini.”


Itu lah isi pesan yang di kirim Pak Osmar tadi dengan memakai HP milik Rian. Ia memang tahu semua tentang Rian termasuk ke berangkatannya ke Thailand.


Adelia yang membaca pesan itu langsung syok. Ia sampai pingsan karena pesan yang di terimanya itu.


"Adelia..." Teriak Bu Susan dengan wajahnya yang panik melihat Adelia yang pingsan.


Dengan sigap, Darel menangkap tubuh adiknya itu yang hampir jatuh ke lantai.


Pak Ferdi dan Bu Susan berlari ke arah Adelia yang pingsan. Wajah mereka sangat panik.


Pak Ferdi kemudian mengambil HP Adelia yang terjatuh ke lantai. Ia membaca pesan Rian tadi. Seketika ia memegang dadanya yang kesakitan. Jantungnya kambuh karena melihat pesan Rian itu apalagi melihat Adelia pingsan di depannya.


“Ayah....” Teriak Bu Susan melihat suaminya yang kesakitan.


Ia memegang tubuh suaminya yang hampir jatuh dan membantunya duduk di sofa yang ada di sana. Pak Ferdi hanya bisa menunduk lemas di sana sedangkan Adelia di baringkan Darel di sofa tepat di samping Pak Ferdi.

__ADS_1


Ibu Rian langsung menangis di depan Pak Ferdi dan Bu Susan sedangkan Pak Amar memejamkan matanya karena situasinya sekarang. Ia terlihat sangat kecewa dengan anaknya Rian yang tidak datang di pernikahannya sampai membuat Adelia pingsan.


Pak Amar kemudian menghela nafasnya dengan kasar lalu bicara pada Pak Ferdi.


“Pak Ferdi....tolong maafkan saya. Ini semua salah saya karena memanjakan Rian sampai dia seperti itu.”


Pak Ferdi tidak menanggapi ucapan Pak Amar. Ia hanya memegang kepalanya dengan kedua tangannya sambil menunduk. Ia tidak bisa menahan rasa malunya pada semua tamu yang hadir. Apa yang akan ia katakan pada mereka kalau Adelia tidak jadi menikah. Pasti Adelia akan di gosipkan tidak baik oleh mereka. Sesekali ia memegang jantungnya yang sakit. Ia berusaha menarik nafasnya untuk menahan rasa sakitnya itu.


Ia kemudian menyandarkan tubuhnya di sofa sambil memegang dadanya.


“Apa jantung ayah sangat sakit?” Tanya Bu Susan sambil memegang lengan suaminya yang duduk di sampingnya. “Bagaimana ini, Adelia juga pingsan?” Dengan wajahnya yang sangat khawatir.


“Aku tidak bisa menanggung rasa malu ini bu. Aku tidak sanggup melihat keponakanku tidak jadi menikah. Ya tuhan...cobaan apa yang kamu berikan pada keluargaku?” Ucap Pak Ferdi dengan wajahnya yang sangat sedih.


Sedangkan Bu Rani dan Pak Amar terus menghubungi nomor Rian tapi tidak pernah tersambung.


Mereka tidak bisa melakukan apa – apa sekarang selain menghubungi Rian apalagi mereka tidak tahu teman dekat Rian selama ini. Itu karena Rian sudah lama tinggal di Amerika dan baru kembali. Mereka juga tidak tahu nomor Jhon.


***


Pak Osmar yang sudah berdiri di depan mobil langsung membuka pintu mobil untuk Tuan Mudanya itu sedangkan para pengawalnya hanya berdiri tegak sambil menunggu Reqy turun dari mobil.


Reqy turun dari mobil sambil merapikan jasnya dengan wajah angkuh dan sombongnya. Ia berjalan masuk ke dalam dengan tubuh tegaknya.


Pak Osmar hanya mengikutinya dari belakang sambil memegang sebuah dokumen begitu pun dengan para pengawal tadi. Mereka mengikuti Reqy dan Pak Osmar masuk ke dalam.


Semua orang yang duduk di kursi tamu langsung menengok ke belakang menatap Reqy yang berjalan masuk ke dalam dengan gaya sombongnya. Mereka sangat terkejut apalagi dengan pengawal yang ada di belakangnya. Reqy berjalan dengan wajahnya yang terlihat dingin tanpa peduli dengan orang – orang yang duduk di samping kiri kanan jalan yang ia lewati.


Mereka semua berbisik tentang dirinya.


“Wah...tampan sekali. Apa dia calon mempelai pria Adelia. Tapi kenapa gayanya seperti itu membuat suasana di sini menjadi menakutkan?” Ucap salah satu tamu yang berdiri di samping kiri kedua tamu yang lain.


“Iya...dia tampan sekali. Tapi....aku seperti pernah melihatnya. Dimana ya?” Ucap salah satu tamu yang berdiri di samping kanan tamu yang tadi sambil berpikir tentang Reqy.


“Bukan kah itu Tuan Reqy. Pengusaha ternama di Asia bahkan dia di kenal sampai di Eropa.” Ucap salah satu tamu yang berdiri di tengah kedua tamu tadi.


“Kamu tahu dari mana?” Tanya tamu yang pertama tadi.

__ADS_1


“Makanya kamu harus nonton infotainment dong. Aku sering melihat dia di Tv. Dia pernah mendapatkan piala penghargaan sebagai pengusaha tersukses se-Asia. Tapi dia itu sangat sombong dan angkuh. Dari yang aku dengar, kalau dia selalu kejam terhadap lawan bisnisnya. Dia bisa melakukan apa saja yang dia mau. Semua pengusaha di sini mengenal siapa dia. Jejaring sosialnya sangat luas.” Balas tamu yang berdiri di tengah tadi.


“Kalau orang punya banyak uang sih memang bisa melakukan apa saja yang mereka mau. Apalagi kalau sudah berkuasa.” Ucap tamu yang berdiri di samping kanan tadi.


“Sudah jangan bicara lagi. Dia sudah dekat. Nanti dia mendengar pembicaraan kita.” Ucap tamu yang berdiri di tengah mereka.


Reqy berjalan melewati mereka semua menuju salah satu ruangan yang ada di dalam tanpa sekalipun melihat mereka yang terus menatapnya.


Ia masuk ke dalam sana bersama dengan Pak Osmar sedangkan para pengawalnya tadi hanya berdiri di luar ruangan. Reqy langsung duduk di sofa dengan gaya sombongnya sedangkan Pak Osmar berdiri di sampingnya. Tak lama kemudian, seorang pria berjalan cepat dari arah luar menuju ruangan Reqy. Ia adalah pemilik gedung yang di sewa Pak Ferdi. Ia di hubungi oleh Pak Osmar tadi ketika mereka di jalan menuju gedung  pernikahan Adelia.


Pemilik gedung itu melapor pada pengawal yang sedang berjaga di depan pintu. Wajahnya terlihat ketakutan melihat badan kekar mereka yang berdiri tegak.


“Anda siapa?” Tanya salah satu pengawal yang berdiri tepat di depan pintu.


“Saya datang bertemu dengan Tuan Reqy.”


“Apa Anda sudah ada janji tuan?” Tanya pengawal itu.


“Sudah.”


Pengawal itu langsung membuka pintu ruangan Reqy.“Silahkan masuk.” Dengan wajah datarnya.


Pemilik gedung itu masuk saat pengawal menyuruhnya masuk. Ia langsung membungkuk hormat di depan Reqy dan Pak Osmar.


“Salam Tuan Muda. Sebuah kehormatan Anda bisa menghubungi saya. Saya sangat senang.” Ucapnya dengan wajahnya yang terlihat senang karena bisa di kunjungi oleh seorang Reqy.


Reqy tidak menanggapi ucapan pemilik gedung itu. Ia hanya memasang wajah dinginnya membuat pemilik gedung itu tak berani menatapnya.


Reqy kemudian melihat ke arah Pak Osmar. Dengan sigap, Pak Osmar bicara pada pemilik gedung itu.


“Cepat panggilkan Pak Ferdi ke sini.”


“Baik.”


Pemilik gedung tadi langsung keluar memanggil Pak Ferdi yang ada di ruangan sebelah.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2