Married With Mr. Arrogant

Married With Mr. Arrogant
Marah


__ADS_3

🌹SELAMAT MEMBACA🌹


Pukul 20:00 malam.


Adelia dan Reqy baru saja selesai makan malam bersama. Saat selesai makan malam, tiba – tiba Reqy menerima panggilan darurat dari Inggris yang mengharuskan ia untuk naik ke lantai 3 ruang kerjanya, meninggalkan Adelia yang masih berada di ruang makannya.


Saat itu, Adelia tengah sibuk membuat susu yang harus ia minum sebelum tidur. Ia sengaja membiarkan Reqy naik ke atas terlebih dahulu ketika melihat suaminya menerima panggilan dari seseorang.


Setelah ia membuat susunya, ia kembali duduk di ruang makannya untuk menghabiskan susu yang ia buat tadi. Di sana ia sedang di dampingi Emir yang terus berdiri di dekat meja makannya.


“Emir....kenapa kau terus berdiri di situ. Pergilah istirahat?” Pinta Adelia sambil melirik Emir yang tengah berdiri di sampingnya.


“Tuan Muda bilang kalau saya harus mendampingi nyonya kemana pun nyonya pergi. Saya tidak akan membiarkan kejadian di pesta terulang kembali. Itu semua adalah kesalahan saya, nyonya.”


“Tapi aku kan berada di dalam rumah. Tidak perlu seperti itu Emir. Kau butuh istirahat juga kan.” Adelia bicara pada Emir sambil meneguk perlahan susu yang ada di depannya.


“Kalau saya tidak mendampingi nyonya, saya akan di kirim kembali ke Inggris. Tolong biarkan saya menjalankan tugas saya, nyonya” Ucap Emir dengan serius melihat Adelia yang masih duduk di ruang makannya.


“Hubby pasti melakukan sesuatu padamu ya karena kejadian di pesta.” Adelia bertanya pada Emir sambil menatap wajah Emir dengan ekspresi seriusnya.


Emir tampak diam tidak menjawab pertanyaan Adelia, sedangkan Adelia kembali melanjutkan ucapannya ketika melihat Emir diam atau pun berani menatap wajahnya. Ia hanya menundukkan kepalanya di depan Adelia.


“Pasti hubby mengurangi gajimu kan.”


Emir masih diam tak menjawab pertanyaan Adelia.


“Bukan mengurangi lagi nyonya. Tapi Tuan Muda tidak memberikan gajiku selama satu bulan. Haaaaa......uang ratusan jutaku hilang karena kelalaianku sendiri.” Dalam hati Emir.


Adelia yang melihat Emir diam, percaya dengan pikirannya kalau Reqy pasti mengurangi gaji asistennya itu. Kebisuan Emir menandakan kalau apa yang di pikirkannya memang benar adanya. Ia pun berhenti menanyakan lagi tentang yang di lakukan suaminya pada asistennya itu. Apalagi ia tahu kalau Reqy tegas dengan semua bawahannya.


Ia kembali fokus meminum semua susu pemberian dari dokter kandungannya itu.


Selesai meneguk semua susu yang ada di dalam gelas kacanya, Adelia pun berdiri dari tempat duduknya untuk naik kembali ke kamar yang ada di lantai 3 rumahnya.


“Aku mau ke kamar. Kamu tidak usah mengikutiku.” Pinta Adelia ketika sudah berdiri di depan Emir.


“Baik nyonya. Tapi saya akan mengantar Anda sampai ke depan lift.” Balas Emir sambil membungkuk hormat.


Adelia tampak menghela nafasnya melihat Emir yang tidak ingin berhenti mendampinginya.


“Terserah lah.”


Ia kemudian berjalan pelan ke arah lift yang letaknya tak jauh dari tangga rumahnya. Baru saja Adelia ingin masuk ke dalam lift, ia tidak sengaja melihat seorang pelayan berjalan sambil memegang nampang yang berisi makanan. Pelayan itu berjalan dengan menggunakan tangga rumahnya.


Saat itu, Adelia menghentikan langkahnya untuk masuk ke dalam lift, kemudian berjalan menghampiri pelayannya yang sudah menaiki setengah tangga menuju lantai 2.

__ADS_1


“Mba bawa makanan untuk siapa?” Tanya Adelia. Ia merasa penasaran dengan makanan yang di bawa pelayannya. Karena setahu dirinya kalau suaminya sudah makan malam, dan ia juga sudah makan malam. Makanan siapa yang di bawa pelayannya itu, pikirnya?


Pelayan itu seketika menghentikan langkahnya ketika mendengar suara Adelia yang berada di bawah.


“Ini makan malam untuk Nona Nerissa, nyonya.” Jawab si pelayannya sambil menundukkan kepala di depan Adelia. Ia tak berani untuk menatap langsung wajah Nyonya Mudanya itu.


Adelia merasakan ada sesuatu yang terjadi saat ini. Ia kemudian menengok ke arah Emir yang masih berdiri mendampinginya.


“Emir, sebenarnya apa yang terjadi di sini?” Tanya Adelia dengan serius menatap Emir.


“I-itu nyonya......” Emir tidak berani menatap langsung Nyonya Mudanya yang sudah merasakan ada sesuatu yang terjadi pada Nerissa. Bahkan nada bicaranya terdengar gagap.


“Emir jawab, apa yang terjadi?” Tanya Adelia kembali dengan nada suara terdengar pelan namun tegas.


Emir seketika mengangkat kepalanya melihat Adelia. “Tuan Muda sedang menghukum Nerissa di dalam gudang selama tiga hari nyonya.” Ia dengan cepat menjawab pertanyaan Nyonya Mudanya itu.


“Apa?” Adelia tampak kaget mendengar ucapan Emir. “Maksudmu...hubby mengunci Nerissa di dalam gudang. Begitu.” Ia kembali memastikan apa yang ia dengar dari mulut asistennya.


“Iya nyonya.”


“Cepat bawa aku ke sana.” pinta Adelia.


“Tapi nyonya......


“Baik nyonya.”


Emir pun menuntun Adelia menuju gudang yang letaknya ada di lantai 2. Mereka berdua naik ke atas menggunakan lift rumahnya.


Tidak lama kemudian, Emir dan Adelia sampai di lantai 2. Adelia langsung keluar dari lift bersama Emir, lalu berjalan menuju gudang yang di maksud Emir. Saat itu, Emir menuntun Adelia menuju gudang dimana Nerissa di kurung.


“Apa Nerissa ada di dalam?” Tanya Adelia saat berdiri di depan pintu gudang.


“Iya nyonya.” Jawab Emir.


“Cepat buka pintunya sekarang.” Pinta Adelia dengan suara pelan namun tegas.


“Tapi nyonya, Tuan Muda tidak mengizinkan siapapun mengeluarkan Nerissa dari sana.” Emir tidak berani mengeluarkan Nerissa dari gudang tanpa persetujuan Reqy, apalagi Reqy menegaskan kalau tidak ada yang boleh mengeluarkan Nerissa dari sana. Reqy hanya membiarkan pelayan untuk memberikannya makan malam saja.


“Buka saja, aku yang akan bilang pada hubby kalau dia marah.” Perintah Adelia yang menatap serius Emir.


“Baik nyonya, saya akan mengambil kunci cadangannya dulu.” Balas Emir.


Dengan terpaksa Emir harus menuruti kemauan Adelia ketika menatap wajah serius Nyonya Mudanya. Ia pun berjalan ke arah meja laci yang letaknya tak jauh dari gudangnya.


Setelah mendapatkan kuncinya, Emir kembali ke gudang, kemudian membuka pintu gudangnya yang saat itu terkunci dari luar.

__ADS_1


Ketika pintu gudangnya sudah terbuka, Adelia langsung masuk ke dalam dan melihat Nerissa tengah duduk bersandar di dinding tembok tepat di bawah jendela kecil yang ada di sana. Ia terlihat sangat ketakutan di dalam sana. Itu karena kondisi gudang yang memang sangat gelap dan pengap.


Adelia berjalan cepat menghampiri Nerissa, kemudian berjongkok di depan Nerissa yang terlihat gemetar. Ia menundukkan kepalanya ketika Adelia masuk ke dalam sana. Ia berpikir kalau yang datang saat itu adalah Reqy.


“Nerissa....ini aku.” Ucap Adelia.


Nerissa mengangkat kepalanya dengan pelan ketika mendengar suara Adelia.


Seketika ia memegang tangan Adelia saat tahu kalau yang ada di depannya sekarang adalah Adelia.


“Tolong keluarkan aku dari sini, aku mohon.” Nerissa terlihat memohon – mohon pada Adelia sambil memegang erat kedua tangan Adelia.


“Iya, kita akan keluar dari sini. Kamu bisa berdiri kan.”


Nerissa menganggukkan kepalanya, mengiyakan ucapan Adelia. Ia kemudian berdiri dari sana dengan bantuan Adelia yang saat itu memegang lengannya.


Setelah berdiri, mereka berdua pun berjalan keluar dari dalam gudang di temani Emir. Baru saja mereka keluar dari gudang, tiba – tiba Reqy datang menghampiri mereka.


“Aku mencarimu kemana – mana, ternyata kau disini melepaskan gadis kurang ajar itu.” Reqy terlihat marah pada istrinya ketika melihat Nerissa sudah berdiri di samping Adelia.


Saat itu, Nerissa langsung bersembunyi di belakang Adelia ketika melihat ekspresi marah yang di tunjukkan Reqy. Ia sangat ketakutan jika Reqy tetap membiarkannya terkunci di dalam gudang sana. Hanya meminta perlindungan Adelia yang bisa ia lakukan agar Reqy tidak menguncinya lagi di gudang yang gelap itu.


“By....Nerissa perempuan. Tidak seharusnya dia di kurung di sini.” Balas Adelia.


“Aku memberikannya pelajarannya supaya ke depannya, dia bisa menjaga cara bicara dan sopan santunnya pada orang lain.” Tegasnya menatap istrinya.


“Tapi by.....dia...


Reqy langsung memotong ucapan istrinya. “Kau sudah berani membantahku karena gadis tidak tahu aturan itu. Istriku...kau benar – benar keterlaluan.” Ucap Reqy. Ia meninggikan suaranya di depan Adelia. Itu karena ia marah melihat Adelia membela Nerissa apalagi sudah melepaskan Nerissa tanpa sepengetahuannya.


“By....” Suara lembut Adelia yang memanggil suaminya, mencoba menenangkan amarah suaminya.


“Terserah.....” Ucap Reqy. Ia berlalu meninggalkan Adelia, Nerissa dan Emir yang masih berdiri di sana dengan ekspresinya yang masih marah. Ia tidak ingin berdebat lagi dengan Adelia yang akan membuatnya semakin marah pada istrinya. Apalagi ia adalah orang yang tidak bisa menahan emosinya ketika ada seseorang yang membantah ucapannya.


Bersambung.


.


.


,


Ingat tekan LIKE di bawah, harus ya. Tulis KOMENTAR positif kalian di bawah kolom komentar. Aku suka membaca komentar kalian tapi maaf kalau Ratu tidak membalas komentar kalian. VOTE Reqy ya biar ngga marah lagi.


Terima kasih.😊🤗

__ADS_1


__ADS_2