
Dewi ngga masukin visual mereka dulu ya, ada waktunya. Ini hanya penampilan keseharian mereka sebagai bayangan buat kalian seperti apa Reqy dan Adelia.
🌹SELAMAT MEMBACA🌹
“Iya nyonya, lelaki yang Anda berikan kotak musik itu adalah Tuan Muda.”
Adelia melepaskan bahu Emir dengan wajahnya yang terlihat kaget mendengar kata – kata Emir. Ia tidak menyangka jika lelaki yang ia berikan kotak musiknya adalah Reqy, mengingat sifat Reqy yang begitu kasar padanya, berbeda dengan Reqy tujuh tahun lalu saat Reqy tersenyum hangat padanya.
“Bagaimana bisa dia kakak laki – laki itu?” Tanya Adelia tanpa melihat Emir. Ia seakan berbicara pada dirinya sendiri.
“Saya memang tidak terlalu jelas dengan cerita kotak musik yang Anda berikan nyonya. Tapi saya tahu kalau ada seorang gadis yang memberikan barang itu pada Tuan Muda. Dan Tuan Muda selalu menganggap itu barangnya yang sangat berharga.” Emir tahu tentang kotak musik itu karena Reqy selalu membawanya kalau ia terbang ke Inggris. Reqy pernah memberitahu Emir kalau barang itu barang pemberian seorang gadis yang akan ia nikahi, apalagi di kotak musik itu ada nama Adelia yang terukir jelas.
Adelia terlihat diam di sana tanpa membalas ucapan Emir. Emir kembali bicara pada Adelia saat melihat Adelia hanya diam membisu dengan seribu bahasa.
“Tuan Muda memang orang yang kasar dan suka emosi. Itu memang sifatnya dari dulu, tapi Anda tidak tahu kalau hati Tuan Muda sangat tulus pada nyonya. Dan nyonya pasti tidak tahu, apa saja yang di lalui Tuan Muda selama ini. Tuan Muda sudah melihat banyak wajah yang hanya pura – pura baik padanya. Mereka semua baik pada tuan karena mereka takut kalau Tuan Muda melakukan hal kejam pada mereka. Saya minta maaf kalau saya bicara terlalu lancang pada Anda. Kalau nyonya tidak mencintai Tuan Muda setidaknya nyonya bersikap baik padanya. Beliau tidak membutuhkan perhatian dari kami, tapi butuh perhatian dari Anda nyonya.” Ucap Emir sambil melihat Adelia yang masih berdiri kaku di depannya.
Emir menjelaskan itu semua pada Adelia, karena ia tahu kalau Tuan Mudanya sudah jatuh cinta pada istrinya, dan ia hanya butuh perhatian dari istrinya.
Setelah Emir mengatakan itu semua, Adelia masih diam kaku di sana. Emir kemudian berlutut di depan Adelia dengan kepala menunduk.
Adelia sangat kaget melihat Emir berlutut padanya.
“Emir, apa yang kamu lakukan?” Tanya Adelia. Ia membungkuk dan memegang kedua lengan Emir untuk menyuruhnya berdiri. “Cepat berdiri.”
“Saya tidak akan berdiri.” Ucap Emir tanpa melihat Adelia. Ia hanya menundukkan kepalanya ke bawah.
“Emir, kenapa kamu sampai melakukan hal rendah seperti ini?”
“Ini saya lakukan semua demi Tuan Muda. Nyonya tidak tahu penderitaan apa yang di lalui Tuan Muda ketika kehilangan Nyonya besar dan Tuan besar. Nyonya juga pasti tidak tahu kalau Tuan Muda sering mengalami demam tinggi saat beliau merasa sangat gelisah. Hari ini dia kembali seperti itu pasti karena beliau merasa gelisah lagi. Tuan Muda sering mengingat kejadian tujuh tahun lalu ketika Nyonya dan Tuan besar meninggal karena kecelakaan. Bahkan keluarganya sendiri di usir karena mereka hanya menginginkan harta keluarga Abraham. Hidup sebatang kara itu terpaksa di lakukannya nyonya. Tuan Muda bukan orang kejam seperti yang di katakan orang. Jadi saya mohon nyonya tolong jangan mengabaikan Tuan Muda.”
Emir begitu kasihan melihat Reqy yang sakit. Ia yakin kalau Reqy pasti demam begitu bukan hanya karena kelelahan, tapi juga mengingat kecelakaan kedua orang tuanya. Kejadian itu sangat membekas di hatinya.
“Cukup Emir, kamu sudah mengakatakn hal yang terlalu banyak.” Balas Adelia dengan serius.
“Tidak, saya tidak akan berhenti sampai Anda mengerti tentang keadaan Tuan Muda. Tuan Muda bukan orang kejam seperti yang di katakan orang. Nyonya sering melihat tuan marah dan bersikap dingin. Itu memang sifat Tuan Muda, tapi dia punya hati yang tulus pada Anda, nyonya. Apalagi Tuan Muda tidak pernah menundukkan kepalanya di depan orang, tapi beliau bisa melakukannya di depan Anda.”
__ADS_1
“Kamu tidak perlu bicara panjang lebar padaku. Kamu tidak perlu seperti ini, Emir.”
Emir mengangkat kepalanya melihat Adelia yang berdiri di depannya.
“Nyonya.”
“Berdirilah. Kamu tidak perlu melakukan hal konyol begini. Kamu tenang saja, mulai sekarang aku akan bersikap baik pada tuanmu. Jadi jangan melakukan hal seperti ini di depanku.”
“Baik.” Emir kembali berdiri di depan Adelia. Ia membungkuk hormat di depan Adelia. “Saya minta maaf karena cara bicara saya tadi, nyonya.”
“Aku mengerti. Kamu melakukannya karena khawatir dengan tuanmu. Aku bukan orang yang suka menyalahkan orang.”
“Terima kasih nyonya.”
“Sudahlah, jangan membungkuk terus di depanku. Istirahatlah. Aku akan kembali ke atas menjaga tuan mudamu yang dingin itu.” Ucap Adelia dengan wajahnya yang seketika tersenyum menatap Emir.
“Baik.”
Adelia pun berjalan meninggalkan Emir menuju lantai dua. Sedangkan Emir melihat kepergian Adelia sambil tersenyum.
“Tuan Muda, maafkan saya kalau saya ikut campur masalah pribadi Anda. Saya hanya ingin membuat liburan Anda tidak sia – sia. Semoga apa yang saya lakukan ini benar. Saya hanya bisa membantu tuan muda sampai di sini, selebihnya itu adalah urusan Anda.” Dalam hati Emir melihat Adelia menaiki tangga menuju lantai dua.
“Lumi, kamu bisa pergi istirahat sekarang. Biar aku yang menjaganya.” Pinta Adelia sambil berjalan menghampiri Lumi.
“Baik. Kalau begitu saya permisi dulu nyonya. Saya akan istirahat di lantai bawah. Kalau ada apa – apa, panggil saya saja.” Ucap Dokter Lumi sambil tersenyum melihat Adelia.
“Iya.”
Lumi membungkuk hormat lalu berjalan keluar meninggalkan Adelia yang sudah duduk di samping tempat tidurnya.
Di sana Adelia menatap wajah Reqy yang tengah tertidur pulas.
“Ternyata itu kamu, orang yang aku berikan kotak musik milik ibuku. Aku ingat dulu kamu bilang kalau kamu akan membalas barang yang ku berikan, apa itu alasannya kamu menikahiku. Bagaimana bisa ada orang membalas barang yang di berikan dengan cara menikahinya. Kamu adalah orang aneh yang pernah ku temui.” Ucapnya melihat wajah Reqy. Ia berbicara dengan suara pelan karena tidak ingin Reqy terbangun ketika mendengar kata – katanya.
Adelia masih belum tahu kalau alasan Reqy menikahinya bukan karena kotak musik pemberiannya, tapi karena Reqy kagum dengan sikap tulus Adelia padanya.
Adelia kemudian memegang tangan Reqy yang sudah terpasang infus, menatap tangannya sambil mengusapnya.
__ADS_1
“Dulu aku mengajakmu bicara karena melihatmu sedih dan kesepian. Tidak di sangka aku malah suka padamu saat kamu menceritakan keluargamu sendiri waktu itu, aku tidak menyangka saja kalau waktu itu kamu menceritakan rasa sakitmu pada orang yang baru kamu temui, apalagi ketika kamu tersenyum. Tapi di bandingkan dulu dan sekarang, kamu sangat berbeda ya. Sekarang kamu begitu menakutkan. Dulu aku bisa melihat senyum manis di wajah dinginmu itu, tapi saat bertemu denganmu, aku tidak pernah melihatnya lagi.” Adelia berbicara dengan suara pelannya. Hanya ia yang bisa mendengar kata – katanya itu.
Setelah Adelia tahu kalau orang yang ia berikan kotak musik adalah Reqy, perasaannya seketika santai dan merasa tidak takut jika melihat wajah dingin suaminya. Tujuh tahun lalu ia memang merasa kalau Reqy adalah lelaki baik. Menurut Adelia, kalau wajah dan hati Reqy berbeda, makanya ia berani mendekatinya dan berbicara padanya.
Adelia kembali bicara pada suaminya dengan suaranya yang terdengar pelan.
“Sebenarnya aku dulu berharap bertemu denganmu lagi suatu saat, tapi sayang sekali kita di pertemukan dalam keadaan seperti ini. Kotak musik itu adalah barang peninggalan ibuku. Itu barangku yang paling berharga. Hanya karena aku suka dan kasihan padamu, aku sampai memberikannya.”
Adelia kemudian menundukkan kepalanya sebentar sambil menghela nafasnya dengan pelan. Ia kembali melihat suaminya dengan tangan Reqy yang masih ia pegang erat.
“Mulai sekarang, aku akan bersikap layaknya seorang istri yang kamu inginkan. Tapi kalau kamu meminta aku untuk mencintaimu, aku sungguh minta maaf. Aku sudah berjanji pada seseorang kalau aku tidak akan memberikan hatiku pada siapapun. Semoga kamu bisa mengerti. Kalau saja aku bertemu denganmu kembali sebelum bertemu dengan Kak Rian, mungkin akan berbeda.” Dalam hati Adelia.
Tiba – tiba seorang pelayan mengetuk pintu kamar tuannya itu. Adelia berdiri dari sana dan berjalan ke arah pintu kamarnya. Ia membuka pintu kamarnya dan sudah melihat seorang pelayan berdiri di depannya memegang sebuah baskon kecil berisi air hangat.
“Nyonya, saya membawa air hangatnya.” Ucap si pelayannya sambil menyodorkan baskon kecilnya itu di depan Adelia.
“Terima kasih.” Balas Adelia sambil meraih baskon di tangan si pelayannya itu.
“Kamu boleh keluar sekarang.”
“Baik. Permisi.” Pelayan itu membungkuk hormat di depan Adelia lalu berjalan meninggalkan kamar pribadi majikannya. Adelia kemudian menutup kembali pintu kamarnya ketika melihat pelayannya sudah pergi.
Ia berjalan menghampiri suaminya yang masih tidur di kasur. Di sana Adelia mulai mengompres tubuh Reqy selama 30 menit. Tidak lama kemudian ia ikut berbaring di samping Reqy setelah memeriksa panas badan suaminya yang sudah mulai turun.
Bersambung.
.
.
.
Tekan LIKE ya sampai berwarna merah, tulis KOMENTAR positif kalian juga di bawah kolom Komentar. Kalau punya poin dan koin silahkan VOTE untuk Reqy dan Adelia. Siapa tahu bisa masuk 10 besar.
Readers: Loh halu lagi thor.
Author: Hei juminteng, memangnya loh doang yang bisa ngehalu, author juga dong.
__ADS_1
Readers: Oke...oke....halu deh loh sana sampai lebaran monyet. Gue dukung loh thor. Selamat halu ya.
Terima Kasih ya😘😘🤗