
🌹SELAMAT MEMBACA🌹
Reqy berjalan cepat menuju Ruang Kerjanya bersama dengan Pak Osmar yang mengikutinya dari belakang. Di depan Ruang Kerjanya sudah terlihat Emir yang tengah berdiri menunggu Tuan Mudanya, sedangkan Nerissa dan Jeny sudah berada di dalam Ruang Kerja Reqy.
Reqy menghentikan langkah kakinya di depan Emir.
“Kau pergi ke depan pintu ruang lukis Adelia, kau berjaga di sana, jangan biarkan nyonyamu ke sini sampai aku selesai.” Perintah Reqy dengan tegas.
“Baik tuan.” Balas Emir sambil membungkuk hormat, kemudian pergi menuju ruang lukis Adelia untuk berjaga di depan pintunya seperti yang di perintahkan Reqy.
Reqy melanjutkan kembali langkah kakinya masuk ke dalam Ruang Kerjanya bersama dengan Pak Osmar. Di dalam sana sudah terlihat Nerissa sedang berdiri menundukkan kepalanya ketika sadar dengan kedatangan Reqy. Saat itu, Nerissa di temani Jeny yang berdiri di sampingnya.
Reqy berjalan menuju meja kerjanya, kemudian mengambil batang rokok di laci mejanya. Ia menyalakan rokoknya di sana, lalu berjalan ke depan meja kerjanya. Ia berdiri menyandarkan tubuhnya di meja kerjanya sambil menghisap batang rokok yang ia pegang di jemarinya. Ia menatap Nerissa dan Jeny secara bergantian, ia menatap mereka berdua dengan ekspresinya yang terlihat dingin dan marah.
Sementara Pak Osmar yang mengikutinya tadi, berdiri di samping meja kerja tuan mudanya. Ia berdiri mendampingi Reqy di sana.
“Aku hanya memanggil Nerissa, kenapa kau juga datang?” Tanya Reqy melihat ke arah Jeny dengan ekspresi dinginnya.
“Aku datang untuk menemani Nerissa, aku juga ingin minta maaf pada Nyonya Muda tentang kejadian yang di lakukan Nerissa semalam.” Jawab Jeny.
“Istriku tidak membutuhkan permintaan maaf darimu.” Tegasnya.
Jeny hanya bisa diam menunduk di depan Reqy, tanpa berani mengatakan apa – apa lagi saat melihat tatapan dingin yang di tunjukkan Reqy padanya. Reqy kemudian melihat ke arah Nerissa.
“Rissa, cepat katakan. Apa yang terjadi tadi malam?” Tanya Reqy dengan suaranya yang terdengar tegas. Sesekali ia menghisap batang rokoknya di depan Nerissa dan Jeny.
Nerissa tampak diam tak menjawab pertanyaan Reqy. Ia hanya menunduk di depan kakak sepupunya itu. Ia takut mengatakan hal yang sudah ia katakan pada Adelia, apalagi ia sadar kalau kata – kata yang ia ucapkan itu memang sangat tidak pantas.
Karena marah Nerissa tak menjawabnya, ia langsung mengambil asbak kaca di sampingnya, kemudian melemparkannya pada Nerissa. Nerissa sampai terkejut ketika asbak kaca yang di lempar Reqy hampir mengenainya. Begitu juga dengan Jeny yang terkejut saat asbaknya itu terlempar keras di dinding, tepat di belakangnya.
“Bicara. Jangan hanya menunduk di depanku.” Teriak Reqy dengan marah.
Nerissa mengangkat kepalanya melihat Reqy dengan ekspresi takut mendengar teriakan Reqy.
Nerissa mulai angkat bicara dengan ekspresi takut.
“A-aku bilang kalau dia hanya bisa hamil dan tidak bisa melakukan apa – apa.” Ucap Nerissa. Nada bicaranya terdengar gagap, tubuhnya gemetar, karena takut pada Reqy.
Seketika Reqy membuang batang rokoknya di lantai, kemudian menginjaknya sampai api rokoknya itu padam. Sesaat setelah melakukan itu, ia berjalan cepat ke arah Nerissa.
Plakk.... tamparan keras langsung mendarat di pipi Nerissa sampai Nerissa jatuh tersungkur ke lantai.
“Aahh.” Suara Nerissa ketika menerima tamparan Reqy.
“Tuan Muda.” Panggil Jeny saat kaget melihat Nerissa di tampar dan jatuh di lantai.
__ADS_1
Reqy menunjuk Jeny. “Diam kau.” Teriaknya dengan marah.
Jeny langsung diam di depan Reqy ketika melihat dirinya di tunjuk di tambah tatapan dingin yang di tunjukkan Reqy padanya.
Reqy kembali fokus melihat Nerissa. “Berdiri kau.” Tegasnya dengan mata melotot melihat Nerissa.
Nerissa berdiri pelan sambil memegang pipinya di depan Reqy.
“Katakan semua yang kau katakan padanya, jangan tersisa sedikit pun.” Tegas Reqy ketika Nerissa sudah berdiri di depannya.
Nerissa terlihat diam dengan tubuhnya yang gemetar. Ia sangat takut melihat kemarahan Reqy yang tidak kenal ampun. Biasanya Reqy tidak menamparnya dengan keras seperti yang di lakukannya sekarang, sampai sudut bibirnya mengeluarkan darah akibat tamparan yang di layangkan Reqy.
“Cepat katakan.” Teriak Reqy dengan keras.
Nerissa sangat ketakutan, ia tidak berani mengatakan kata – kata yang sudah membuat Adelia sakit hati.
Seketika Reqy langsung memegang dagu Nerissa, meremasnya dengan keras sampai gadis itu meringis kesakitan.
“Cepat katakan padaku. Jangan menyisakan satu pun kalimat yang kau katakan pada istriku.” Tegasnya menatap Nerissa dengan mata melotot.
Reqy melepaskan dagu Nerissa ketika Nerissa mulai menggerakkan bibirnya untuk bicara.
“Katakan.”
“A-aku bilang....kalau dia tidak pantas untuk kakak, karena dia wanita sial yang membuat orang – orang terdekatnya tiada.” Ucap Nerissa dengan suaranya yang terdengar gemetar. Rasanya sangat berat mengatakan kata – kata itu pada Reqy yang akan membuat Reqy murka.
Di sana Nerissa langsung menangis menahan rasa sakit akibat tamparan yang di lakukan Reqy, apalagi melihat amarah Reqy yang membuatnya sangat ketakutan. Ia tidak menyangka kalau Reqy bisa semarah itu padanya. Pikirnya kalau Reqy hanya memarahinya dengan biasa. Tapi kali ini Reqy sudah sangat murka sampai memukulnya dengan sangat keras. Saat itu, Jeny langsung berjongkok memegang Nerissa yang tersungkur di lantai.
Reqy kembali bicara pada Nerissa.
“Beraninya kau mengatakan hal seperti itu pada Adelia. Apa kau tahu kalau dia sedang hamil, dia tidak pantas mendengar kata – kata kotor dari mulutmu itu.” Tegas Reqy.
“Tuan Muda, Nerissa adalah keluarga Anda. Dia masih keturunan Abraham. Tolong maafkanlah dia, dia hanya mengatakan apa yang ada di pikirannya.” Ucap Jeny. Ia berusaha membela adik sepupunya itu di depan Reqy.
“Aku tidak akan memaafkan orang yang menyakiti perasaan istriku. Meskipun dia keluargaku sendiri. Kau bilang dia keluargaku, bukan. Apa kau tahu, bagaimana aku menangani keluargaku saat dia bicara kotor dan tidak bisa menjaga sopan santunnya pada orang lain?” Reqy bicara sambil melihat Jeny dengan dingin. Di sana, Jeny hanya bisa diam tanpa berani membalas ucapan Reqy.
Reqy melanjutkan kembali kalimatnya.
“Tamparan yang aku berikan padanya hanya peringatan kecil untuknya. Tapi karena dia terus mengakuiku sebagai kakaknya, maka aku akan mengajarinya sopan santun agar dia tidak berani mengatakan hal kotor pada orang lain. Apalagi dengan istriku.” Tegasnya.
Reqy kemudian menarik tangan Nerissa dan menyeretnya keluar dari ruang kerjanya. Ia berjalan cepat menuju gudang yang letaknya di lantai 2 rumahnya.
Saat itu, Reqy menggunakan tangga ke lantai bawah sambil menyeret Nerissa dengan kasar. Nerissa sangat ketakutan melihat Reqy yang menariknya turun tangga, entah apa yang akan di lakukan Reqy padanya?
Sementara Pak Osmar mengikuti mereka turun ke bawah begitu pun dengan Jeny yang mengikuti mereka, wajah Jeny sangat khawatir tentang apa yang akan di lakukan Reqy pada Nerissa?
__ADS_1
Ketika sudah berada di depan gudang yang terlihat gelap dan pengap, Reqy langsung menarik Nerissa masuk ke dalam sana.
“Masuk. Renungkan kesalahanmu di sana.”
Saat Nerissa sudah masuk, Reqy langsung menutup pintu gudangnya, ia sampai menggemboknya di sana agar Nerissa tidak bisa keluar dari sana.
Nerissa sangat kaget saat Reqy menguncinya dari luar.
“Kakak, aku bersalah. Tolong jangan kunci aku di dalam sini. Kakak, aku salah.” Teriak Nerissa sambil menggedor – gedor pintu gudangnya.
Saat itu, Nerissa sangat ketakutan, apalagi di dalam sana sangat gelap dan pengap. Hanya ada jendela kecil yang letaknya di samping atas gudang.
“Jangan berikan dia makan.” Perintah Reqy pada Pak Osmar.
“Baik tuan.” Balas Pak Osmar yang saat itu sudah berdiri di depan tuan mudanya.
“Kakak....buka pintunya. Aku minta maaf, aku salah, aku tidak akan mengulanginya lagi. Tolong keluarkan aku dari sini. Aku takut, kakak.” Nerissa kembali berteriak sambil menggedor – gedor pintunya.
Jeny yang sudah berdiri di depan gudang, sangat khawatir mendengar teriakan Nerissa di dalam gudang.
“Tuan Muda, Anda tidak bisa seperti ini. Tolong keluarkan Nerissa. Dia itu takut gelap. Apa Anda tidak kasihan dengannya, dia itu adik Anda” Jeny memohon pada Reqy sambil menangis.
“Kau bilang dia adalah keluargaku. Beginilah caranya aku menghukum keluargaku sendiri supaya dia bisa bicara sopan pada orang lain. Kalau kau masih mau berada di negara ini, dan masih ingin bekerja di perusahaan. Sebaiknya kau diam saja. Orang lain tidak berhak ikut campur urusanku.” Tegasnya.
Jeny hanya bisa memejamkan matanya dengan air mata yang mengalir jatuh di pipinya, ia sangat sedih melihat Nerissa di hukum seperti itu.
“Pergi.” Teriak Reqy menyuruh Jeny pergi dari sana.
Dengan terpaksa, Jeny meninggalkan tempat itu dengan perasaannya yang sedih menyaksikan Nerissa yang terkunci di dalam gudang. Tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang untuk menolong Nerissa. Dan juga tidak ada yang bisa menghentikan amarah Reqy saat ini. Reqy sangat murka ketika mendengar semua ucapan Nerissa yang memang sangat keterlaluan.
Sementara Adelia yang masih berada di ruang lukisnya sama sekali tidak mendengar atau pun menyadari kejadian yang terjadi di luar ruangannya. Ya, Reqy memang sengaja membuat ruangan itu kedap suara agar Adelia bisa melukis dengan tenang tanpa mendengar suara gangguan di luar ruangannya.
Bersambung.
.
.
.
NOTE: Up Date setiap hari pukul 23:00 WIB. Kalau aku tidak terlalu sibuk dengan kegiatan di dunia nyata, aku akan up date lebih untuk kalian.
.
.
__ADS_1
Ingat tekan LIKE, harus sayang ya. Tulis KOMENTAR positif kalian di bawah kolom komentar. Punya koin dan poin silahkan VOTE. Aku tunggu ya vote kalian, sedikit tidak masalah.
Terima Kasih