
SELAMAT MEMBACA
Kini Adelia sudah berada di dalam kamar pribadinya. Ia duduk termenung di sana memikirkan perkataan Darel kakak sepupunya. Semakin lama ia memikirkannya semakin membuat ia curiga pada suaminya sendiri. Mengingat semua perkataan Darel memang masuk akal. Kenapa Rian tiba – tiba saja menghilang di hari pernikahannya, dan bertepatan juga kalau Reqy datang di hari itu, memaksanya untuk menikah. Tidak mungkin Rian berbohong tentang penculikannya dulu, apalagi Rian sekarang berada di luar negri melakukan perawatan. Bahkan kedua kakinya cacat bedasarkan foto yang di dapatkan Darel dari Rian.
Masih banyak pertanyaan dalam pikiran dan hatinya. Kenapa Rian di culik. Kenapa ia harus di bunuh. Siapa yang ingin membunuhnya? Pertanyaan itu penuh teka – teki dalam dirinya. Ia tidak bisa mempercayai begitu saja perkataan Darel, tapi ada keraguan dalam dirinya sekarang mengenai suaminya.
Ia ingin sekali menanyakan pada suaminya tentang penculikan mantan tunangannya, tapi ia takut kalau Reqy tidak ada hubungannya dengan masalah itu, malah membuat suaminya tersinggung dengan pertanyaannya. Dengan siapa ia harus menanyakan semua kebenaran tentang penculikan Rian.
Adelia terlihat menghela nafasnya di tepi tempat tidurnya. Ia kemudian berdiri dari tempat duduknya, lalu meraih gelas susu yang di letakkan pelayannya tadi di atas meja nakasnya.
Ia memegang gelas susunya sambil terus memikirkan penculikan Rian. Tanpa ia sadari kalau saat itu, Reqy masuk ke dalam kamarnya.
***
Reqy pulang cepat ketika Emir melaporkan kalau istrinya terlihat diam setelah bertemu dengan Darel. Tidak seperti biasanya yang selalu tersenyum jika berpapasan dengan para pelayannya. Hari ini Adelia hanya berjalan melewati mereka dengan ekspresi diam tak peduli pada orang di sekitarnya. Tentu saja Reqy sangat khawatir mendengar itu semua. Ia sampai membatalkan semua rapatnya dengan beberapa pengusaha luar negri yang bekerja sama dengan perusahaannya.
“Sayang,” Panggil Reqy.
Seketika Adelia menjatuhkan gelas susunya di lantai membuat Reqy tampak syok begitu pun dengan Adelia yang kaget melihat kedatangan suaminya. Ia berjalan mundur saat Reqy berjalan menghampirinya membuat ia hampir menginjak pecahan gelasnya. Untung saja Reqy dengan sigap menghadangnya dengan tangannya sendiri. Tangannya sampai terluka karena terkena pecahan kaca yang mengenainya
Reqy terlihat meringis, tapi ia sama sekali tidak mengeluarkan suaranya. Ia menahan rasa sakit akibat pecahan kaca yang mengenainya.
“By," Panggilnya dengan ekspresi kaget ketika ia menginjak tangan suaminya sendiri. Ia juga terkejut saat melihat suaminya yang terluka karena dirinya. Ia dengan cepat berjongkok, dan langsung memegang tangan Reqy yang terkena pecahan kaca.
"Kenapa hubby suka sekali terluka begini?" Tanya Adelia khawatir.
“Tidak apa – apa sayang. Ini hanya luka kecil.” Jawab Reqy sambil tersenyum.
Dengan sigap, Adelia mengambil kotak obat yang ada di lemari kecil, dekat tempat tidurnya.
“Sini aku obati,” Ucap Adelia sambil duduk di sofa yang letaknya sedikit jauh dari tempat tidurnya.
Reqy pun berjalan menghampiri istrinya di sana, ia langsung duduk di sofa, tepat di samping istrinya.
Setelah Reqy sudah duduk di sampingnya, ia mulai membersihkan luka di tangan Reqy, kemudian membalut luka suaminya di sana dengan perasaan yang masih mengganggu dalam dirinya. Sesekali ia mengangkat bola matanya melihat wajah suaminya. Saat itu, Reqy langsung tersenyum melihat istrinya.
Tampak di wajah Adelia kalau ia sangat penasaran untuk menanyakan tentang Rian pada suaminya.
Tanpa berpikir panjang lagi, Adelia pun bicara pada Reqy.
“Apa hubby pernah bertemu dengan Kak Rian?” Tanya Adelia tanpa melihat Reqy. Ia hanya sibuk membalut luka di tangan suaminya.
__ADS_1
“Pernah,” Secara refleks Reqy menjawab pertanyaan istrinya tanpa tahu maksud pertanyaan istrinya itu.
Seketika Adelia mengangkat kepalanya melihat Reqy. “Hubby pernah melihat Kak Rian,” Adelia kembali memastikan apa yang ia dengar dari suaminya. Wajahnya tampak kaget menatap Reqy.
Reqy ikut kaget mendengar perkataan Adelia. Ia baru sadar kalau yang ia katakan tadi tidak seharusnya ia katakan pada istrinya.
Dengan sigap, ia menjawab Adelia. “Maksudku, aku pernah melihat dia di layar Handphonemu sayang, Aku belum melihat dia secara langsung.” Diikuti senyum paksa yang ia tunjukkan pada Adelia.
"Oh..." Jawab Adelia dengan tersenyum.
"Kenapa kau tiba - tiba menanyakan tentang Rian?" Tanya Reqy yang sedikit penasaran.
"Tidak apa - apa. Aku hanya sekedar bertanya saja." Jawab Adelia sambil tersenyum melihat Reqy. Hatinya merasa lega ketika Reqy mengatakan kalau ia tidak pernah bertemu secara langsung dengan Rian. Kegundahan hatinya seketika lenyap. Ia tidak curiga lagi dengan Reqy.
“Aku tahu kalau hubby tidak mungkin melakukan kesalahan besar. Kak Darel sudah salah menilai orang, syukurlah.” Dalam hati Adelia.
Ia kemudian memeluk suaminya di sana ketika selesai membalut luka Reqy. “Maafkan aku by,” Adelia langsung meminta maaf pada suaminya. Ia merasa bersalah karena sudah berpikiran yang tidak – tidak tentang Reqy.
“Kenapa kau harus meminta maaf padaku sayang?” Tanya Reqy yang heran mendengar permintaan istrinya.
“Tidak apa – apa. Aku hanya mau mengatakan itu. Kalau aku punya salah yang menyakiti perasaan hubby selama ini. Aku minta maaf ya.”
“Iya sayang, tidak masalah. Aku tidak pernah merasa kau menyakitiku. Aku bahagia selama kau bahagia.”
Adelia kembali bicara pada Reqy. “By,..” Panggilnya.
“Eem...”
“Kenapa aku ingin sekali memukul paman Osmar saat aku melihat wajahnya?”
Reqy kaget mendengar ucapan istrinya, kemudian tertawa keras sesaat mendengar perkataan istrinya. Saat itu, Adelia langsung melepaskan pelukannya ketika mendengar tawa suaminya.
“Kenapa hubby tertawa. Aku serius mengatakannya?” Adelia memasang wajah cemberut di depan Reqy.
“Kau serius makanya aku tertawa sayang. Apa kau ngidam mau memukul kepala paman?” Tanya Reqy yang masih tertawa melihat istrinya
Adelia menganggukkan kepalanya dengan santai.
Reqy kembali tertawa keras di depan Adelia membuat Adelia semakin kesal. Ia sampai memalingkan wajahnya ke samping karena tak suka melihat wajah tertawa Reqy di depannya.
Setelah tertawa, Reqy kembali bicara pada istrinya.
__ADS_1
“Apa kau mau aku memanggil paman kesini?” Tanya Reqy dengan serius.
“Tidak usah, kalau aku memukul kepalanya itu tidak baik. Nanti junior tidak suka dengan Pak Osmar saat dia besar nanti.” Jawab Adelia.
“Tidak apa – apa kalau kau mau. Aku bisa menyuruh paman kesini.”
“Tidak usah by, aku tidak mau melakukannya.” Balas Adelia.
“Tapi dari wajahmu mengatakan, kalau kau sangat ingin memukulnya,”
Adelia mengangguk. “Meskipun begitu, aku tidak mau melakukannya. Katanya akan berdampak pada anak kita saat dia dewasa.”
Reqy memegang atas kepala istrinya dengan lembut. “Kalau kau tidak bisa menahannya, aku bisa memanggilnya sayang. Paman pasti mengerti kalau kau sedang ngidam.”
Adelia menggeleng – gelengkan kepalanya. “Aku tidak mau,"
Reqy menghela nafasnya dengan kasar melihat istrinya. “Baiklah,” Reqy kemudian menarik tangan istrinya sampai kepala Adelia bersandar di dadanya. Ia memeluk bahu istrinya di sana, begitu pun dengan Adelia yang ikut memeluk tubuh suaminya.
“Sayang...”
“Ya,” Balas Adelia tanpa melihat Reqy.
“Aku sudah mendapatkan nama yang bagus untuk anak kita,”
Adelia mengangkat kepalanya melihat wajah Reqy. “Siapa?” Tanya Adelia penasaran.
“Ikrar Abraham,”
“Kenapa hubby memberikannya nama itu?” Tanya Adelia.
“Ikrar artinya janji. Dia adalah bukti cinta kita sayang. Aku ingin seluruh dunia tahu kalau kehadirannya adalah bukti janji kebersamaan kita, selamanya. Janji cinta kita sayang” Jelasnya dengan serius sambil memegang perut istrinya.
Adelia tersenyum sambil ikut memegang perut besarnya di sana. Ia sangat senang mendengar nama yang diberikan suaminya pada bayi yang ia kandung.
Bersambung.
***
Novel lanjutan Pengantin Kecil Tuan Muda.
__ADS_1