Married With Mr. Arrogant

Married With Mr. Arrogant
Pertunjukan Opera


__ADS_3

🌹SELAMAT MEMBACA🌹


Mobil Emir sudah terparkir sempurna di sebuah gedung opera paling terkenal di Kota Italia. Adelia dan Reqy turun dari mobil setelah Emir membuka pintu mobil untuk mereka.


Adelia turun dengan wajahnya yang terus melihat gedung mewah yang ada di depannya. Ia takjub melihat gedung besar nan mewah yang berdiri kokoh di depannya itu, sedangkan Reqy berdiri di samping kirinya melihat dirinya.


“Apa kau suka dengan tempatnya?” Tanya Reqy.


Adelia langsung menengok ke samping melihat suaminya.


“Suka, dari luar terlihat mewah.” Jawab Adelia sambil tersenyum melihat suaminya.


Seketika Reqy menarik kedua sudut bibirnya ke samping. Ia tersenyum melihat istrinya yang menyukai tempat yang sudah Emir atur untuknya. Ia kemudian memegang tangan kanan istrinya untuk masuk ke dalam gedung opera yang mewah itu.


“Ayo masuk. Pertunjukkannya sebentar lagi akan mulai.”


“Iya.” Balas Adelia yang ikut tersenyum melihat tangan suaminya yang sudah memegang tangannya.


Mereka berdua masuk ke dalam diikuti Emir dan Lumi yang juga ikut masuk ke dalam gedung teater.


Ketika berada di dalam sana, Adelia terlihat bingung melihat gedung teaternya yang kosong. Tidak ada penonton satu pun yang duduk di sana.


Ia menghentikan langkahnya ketika ia sudah berada di tengah – tengah ruangan teater yang di penuhi dengan kursi penonton yang berjejer rapi.


Reqy ikut berhenti ketika Adelia berhenti berjalan di belakangnya. Ia menengok melihat Adelia di belakangnya dengan tangannya yang masih memegang tangan istrinya di sana.


“Ada apa?” Tanya Reqy.


“Kenapa tidak ada orang?” Tanya Adelia. Ia tidak menjawab pertanyaan suaminya malah bertanya dengan keadaan sekitarnya.


“Aku sengaja memesannya hanya untuk kita. Aku tidak suka ada orang. Apa kau tidak suka?” Tanya Reqy dengan ekspresi datarnya.


“Oh begitu, aku suka kok kalau hubby juga suka. Aku hanya penasaran saja, makanya aku bertanya.” Jawab Adelia.


Adelia kemudian diam di sana.


“Hanya bisa mengatakan itu, mana berani aku mengatakan padanya kalau aku sedikit tidak nyaman melihat semua kursinya kosong. Kalau aku katakan itu pasti dia marah lagi.” Dalam hati Adelia.


Reqy kembali bicara pada istrinya yang terlihat diam tak beranjak dari tempatnya.


“Kenapa kau diam lagi?” Tanya Reqy membuyarkan lamunannya.


“Ah.” Adelia terlihat kaget.


“Ayo....kita duduk di tengah.” Ajak Reqy sambil menarik kembali tangan istrinya.


“Oh....iya.” Jawab Adelia. Ia berjalan di belakang suaminya dengan tangannya yang terus di pegang Reqy.


Mereka berdua duduk di tengah sedangkan Emir dan Lumi duduk sedikit jauh di belakang kedua majikannya itu.

__ADS_1


Tak lama kemudian, pertunjukkan operanya pun di mulai. Para pemainnya sudah masuk memperkenalkan dirinya masing – masing sebelum memulai asksinya.


Reqy duduk dengan menegakkan tubuhnya di sana sedangkan Adelia duduk bersandar di kursi yang ada di samping kiri suaminya. Ia melirik suaminya yang serius melihat ke depan dengan tubuhnya yang tegak.


“Kenapa saat bersantai begini dia duduk serius begitu seperti robot. Apa dia seorang bangsawan yang harus menjaga wibawanya itu. Dia itu benar – benar pria yang kaku?” Dalam hati Adelia melihat suaminya di samping.


“Belum puas melihatku.” Ucap Reqy tanpa melihat istrinya. Ia sadar kalau sejak tadi Adelia melihatnya terus.


Adelia langsung kaget. “Apa?”


Reqy lalu menengok melihat istrinya.


“Aku tahu kalau aku pria mempesona, tapi pertunjukkannya sudah akan mulai. Ada waktunya kau melihat wajahku. Sekarang fokus lah ke depan.” Ucapnya dengan ekspresinya yang terlihat datar.


Adelia langsung melihat ke depan tanpa menjawab ucapan suaminya. Ia tercengan mendengar kalimat suaminya.


“Huh...dia itu kepedean sekali. Apa dia tidak malu memuji dirinya sendiri. Wajahnya serius mengatakan hal itu. Benar – benar membuatku pusing.” Dalam hati Adelia.


Ia kemudian fokus melihat pertunjukan operanya yang sudah mulai dengan lagu sedih yang di tampilkan.


Dua jam kemudian, Adelia seketika menangis melihat pertunjukkan opera yang ada di depannya begitu pun Lumi yang ada di belakangnya. Mereka berdua begitu terharu menonton kisah opera Rosiana yang di tampilkan dengan beberapa musik dan lagu yang di nyanyikan para pemainnya.


Reqy langsung menengok ke samping melihat istrinya yang menangis.


“Kau menangis melihat itu.” Ucap Reqy dengan nada yang sedikit keras. Ia kaget melihat istrinya menangis sedih di sampingnya.


Adelia menengok melihat suaminya dengan wajahnya yang sudah di penuhi air mata.


“Huh...kau tidak usah memikirkan itu. Itu hanya sebuah kisah.”


“Bukannya opera yang di tampilkan itu semuanya kisah nyata yang pernah terjadi.” Tanya Adelia.


“Biarpun sudah terjadi. Tidak perlu kau tangisi. Sudah jelas dia sangat bodoh. Kenapa dia harus minum racun. Kisah yang sangat murahan?” Reqy terlihat kesal melihat pertunjukkan opera yang membuat istrinya sampai menangis sedih.


Reqy kemudian menengok ke belakang melihat Emir. Ia menatap Emir dengan tajam di sana.


“Beraninya kau mempermainkanku. Katanya istriku akan sangat senang kalau aku bawa nonton opera. Apa ini, aku malah melihatnya menangis?” Dalam hati Reqy menatap Emir.


“Gawat, sepertinya Tuan Muda tidak senang. Wajahnya terlihat marah melihatku.” Dalam hati Emir sambil menelan ludahnya ketika melihat tatapan dingin Tuan Mudanya.


Reqy kembali melihat istrinya yang fokus menonton.


“Ayo kita pulang.” Ajak Reqy. Ia tidak tahan melihat istrinya terus menangis sedih melihat pertunjukan operanya yang berakhir tragis.


“Sebentar dulu. Aku masih mau mendengarkan lagu dan musiknya.” Balas Adelia tanpa melihat Reqy. Ia hanya fokus melihat ke depan dengan wajahnya yang masih berlinang air mata, karena sedih dan terharu tentang kisah Rosiana.


Reqy kembali duduk tegak dengan wajahnya yang terlihat kesal. Bibirnya cemberut karena penolakan istrinya untuk pulang.


“Aku mau membuatnya senang malah membuatnya bersedih. Emir sialan, aku menuruti kata – katanya karena dia bilang kalau wanita suka hal seperti ini tapi apa ini. Dia malah menangis. Aku bahkan rela duduk lama – lama di sini karena mendengarkan kata – katanya itu. Huh....dasar brengsek.” Dalam hati Reqy.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian pertunjukan operanya pun selesai. Reqy keluar dari gedung pertunjukan bersama dengan istrinya dan kedua bawahannya.


Ketika di luar, Emir langsung membuka pintu mobil untuk Adelia dan Reqy. Emir dan Lumi ikut masuk ke dalam mobil saat Adelia dan Reqy sudah ada di dalam mobil.


Di dalam mobil.


Adelia terlihat diam memikirkan pertunjukkan opera yang ia tonton tadi. Reqy kemudian bertanya pada istrinya yang duduk diam di sana.


“Kau masih sedih.”


“Tidak, aku tidak sedih kok.” Adelia menjawab Reqy tanpa melihatnya, dan hanya menatap lurus ke depan.


“Jangan membohongiku.”


Adelia kemudian menengok ke samping melihat Reqy yang sejak tadi menatapnya dengan ekspresi datarnya.


“Apa aku terlihat sedih?” Tanya Adelia.


“Wajahmu mengatakan kalau kau masih sedih. Itu terlihat sangat jelas.” Ucap Reqy.


Adelia menghela nafasnya melihat suaminya.


“Haaaa....siapa yang tidak sedih, Rosiana meninggal begitu saja dan suaminya rela hidup sendirian sampai ajal menjemputnya. Itu semua dia lakukan karena kesetiaannya pada Rosiana. Apalagi itu kisah nyata yang mereka tampilkan?”


“Kalau kau di posisi Rosiana, apa kau juga akan melakukan hal seperti itu?” Tanya Reqy. Ia tiba – tiba menanyakan pendapat istrinya tentang kisah yang mereka lihat tadi.


“Kenapa Hubby menanyakan hal itu?” Tanya Adelia. Ia bertanya maksud suaminya tanpa menjawab pertanyaannya.


“Aku hanya bertanya saja tentang pendapatmu, karena kau terus memikirkan si Rosiana bodoh itu.”


“Mungkin aku juga melakukan seperti yang di lakukan Rosiana. Dari pada meyakiti mereka berdua lebih aku yang menghilang agar mereka tidak tersakiti, karena mereka sama – sama mencintai Rosiana.” Jawab Adelia.


“Apa kau tidak lihat akhir kisahnya. Kedua pria itu semakin menderita ketika mereka kehilangan wanita bodoh itu. Apalagi dengan suaminya, dia bahkan tidak menikah lagi sampai umur 80 tahun karena kesetiaannya. Pikiranmu dan pikiran Rosiana itu benar – benar bodoh dan sempit. Huh...kedua pria itu juga bodoh, karena mencintai wanita seperti itu?”


Adelia diam saat mendengar ucapan suaminya yang terdengar kesal. Ia kemudian memalingkan wajahnya ke samping melihat luar jendela kaca mobilnya.


“Kalau aku Rosiana, mungkin aku akan melakukan hal yang sama. Dia tidak bodoh tapi dia seorang wanita yang baik. Rosiana meninggal karena tidak tega melihat kedua orang yang sangat penting dalam hidupnya menderita. Baginya lebih baik menghilang daripada melihat kedua pria yang mencintainya tersakiti karena kehadirannya. Suami dan kekasihnya mengorbankan apa saja demi dirinya. Benar – benar kisah yang menyentuh hati.” Dalam hati Adelia.


Bersambung.


.


.


.



Ingat tekan LIKE di bawah ya, tulis KOMENTAR kalian di kolom komentar. Kalau punya koin dan poin, Silahkan VOTE Reqy dan Adelia.

__ADS_1


Terima Kasih.


__ADS_2