Married With Mr. Arrogant

Married With Mr. Arrogant
Aku memang wanita sial


__ADS_3

Empat bulan sudah umur kehamilan Adelia. Ia tidak pernah keluar beraktivitas seperti menghadiri acara sosial yang pernah ia lakukan, paling ia keluar rumah bersama Reqy hanya untuk refreshing, melepaskan stres jika ia bosan di rumah. Itu pun hanya di lingkungan rumahnya saja, apalagi ia selalu memakai kursi roda kemana - mana.


Seperti janjinya pada Adelia, Reqy memang tidak pernah meninggalkan istrinya sampai sekarang. Bahkan ia tidak pernah datang ke kantor selama tiga bulan ini. Jika ada hal mendesak, ia hanya mengutus Pak Osmar untuk mewakilinya. Dan jika ada rapat kantor yang harus ia lakukan, ia hanya rapat onlien di ruang kerja yang ada di rumahnya.


Dan selama tiga bulan ini, Adelia sudah terbiasa dengan kehadiran Reqy yang selalu menemaninya. Bahkan sikap Reqy yang selalu memanjakannya dan melakukan apapun yang diinginkannya, membuat ia semakin tersentuh.


***


Hari ini adalah hari ulang tahun perusahan keluarga Abraham. Reqy berencana memanfaatkan moment ini untuk memperkenalkan istrinya pada semua orang.


Ya, memang semenjak pernikahannya dengan Adelia, Reqy tidak pernah menunjukkan sosok istrinya pada media dan para karyawan kantornya.


Inilah waktunya, ia menunjukkan Adelia di hadapan umum, apalagi Adelia sekarang sudah hamil anaknya.


Saat ini....Adelia dan Reqy sudah berpakaian rapi untuk menghadiri pesta ulang tahun perusahaan Abraham. Adelia yang sudah memakai gaun indah di tubuhnya duduk di sofa sambil memasang sepatu kets yang di berikan suaminya.


Terlihat Reqy keluar dari ruang gantinya dengan setelan jas yang sudah ia kenakan di tubuhnya. Ia berjalan cepat menghampiri istrinya yang tengah sibuk memasang sepatu ketsnya. Ia segera berjongkok di depan Adelia dan membantunya memasang sepatu ketsnya di sana.


“Aku kan sudah bilang sayang, kalau aku yang akan membantumu memasang sepatu. Kenapa kau tidak bisa menungguku sebentar saja?” Tanya Reqy melihat istrinya yang duduk menatapnya.


“Aku bisa sendiri by.”


“Selama tiga bulan ini kan, aku sudah terbiasa melakukan semuanya sayang. Apa kau tidak bisa membuatku senang?”


“Iya, aku pikir kita akan terlambat kalau hubby juga mengurusku. Jadi apa salahnya kalau aku memasang sepatu sendiri. Aku bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan hubby.”


“Iya aku tahu. Tapi aku sangat senang kalau memperlakukanmu seperti ini Del.” Ucap Reqy sambil memasang sepatu di kaki istrinya.


Adelia hanya diam sejenak melihat suaminya yang sedang sibuk membantunya memasang sepatu. Ia kemudian memanggil suaminya.


“By...”


“Eem.” Balas Reqy yang masih sibuk mengikat tali sepatu Adelia tanpa melihat istrinya yang sedang memanggilnya.


“Apa orang – orang tidak menertawakanku memakai sepatu begini ke tempat pesta?” Tanya Adelia.


Reqy mengangkat kepalanya melihat Adelia.


“Siapa yang berani menertawakan istriku?”


“Kita kan mau ke acara pesta. Pasti mereka akan membicarakanku” Ucap Adelia.


“Sudah, jangan memikirkan mereka, yang penting kau nyaman. Semua itu tidak penting. Ya” Ucap Reqy sambil mengelus kepala istrinya dengan lembut.


Adelia hanya menganggukkan kepalanya di depan Reqy.


Reqy kemudian berdiri dan mengulurkan tangannya di depan Adelia. “Ayo..”


Adelia langsung memegang tangan suaminya, lalu berdiri dari tempat duduknya. Mereka berdua berjalan keluar kamarnya menuju tempat pesta yang di adakan di salah satu gedung terbesar di dekat perusahannya.


Adelia dan Reqy naik mobil yang biasa di naikinya ke kantor.  Mereka berdua pergi bersama Emir dan Pak Osmar menuju tempat pestanya.


Selama beberapa menit perjalanan menuju pesta ulang tahun kantornya, mobil yang di kendarai Pak Osmar pun sampai di sebuah gedung besar nan mewah. Pak Osmar menghentikan mobilnya di depan gedung pesta bersama mobil para pengawal yang mengikutinya dari belakang.


Ia dan Emir turun dari mobil bersamaan dengan para pengawal yang juga ikut turun dari mobilnya.


Pak Osmar langsung membuka pintu mobilnya untuk Reqy dan Adelia.


Saat itu, Reqy turun dari mobil sambil memegang tangan Adelia yang ikut menggerakkan tubuhnya untuk turun dari mobil.

__ADS_1


“Pegang lenganku.” pinta Reqy yang sudah melihat Adelia berdiri di sampingnya.


Adelia memegang lengan suaminya, kemudian berjalan masuk ke dalam bersama suaminya. Di dalam sudah di penuhi semua orang yang saat itu sudah mendapat undangan dari Pak Osmar. Mereka semua tamu – tamu dari kalangan pengusaha yang sudah bekerja sama dengan perusahaan Abraham.


Reqy dan Adelia di sambut meriah oleh beberapa tamu yang ada di sana. Saat itu Reqy memperkenalkan istrinya pada tamu – tamunya yang sudah hadir. Sedangkan Adelia hanya terseyum menyapa mereka tanpa bicara banyak.


Setelah berbincang sebentar dengan beberapa tamu, Reqy membawa Adelia duduk di sofa tepat di dekat Nerissa yang saat itu juga ikut hadir.


Ketika Reqy membantu Adelia duduk di sofa, tiba – tiba Jeny datang menghampiri mereka.


“Tuan Muda.”


Reqy langsung menengok ke arah Jeny.


“Ada apa?” Tanya Reqy.


Jeny langsung membisikkan sesuatu di telinga Reqy saat itu.


“Oke.” Ucap Reqy sesaat setelah mendengar sesuatu yang di katakan Jeny. Ia kemudian melihat istrinya yang tengah duduk memperhatikannya.


“Sayang...kau duduk dulu di sini ya, aku bicara sebentar dulu dengan Pak Alex.” Ucap Reqy sambil membungkuk dan memegang pipi Adelia.


“Iya by.”


Reqy kembali menegakkan tubuhnya dan tersenyum pada Adelia, kemudian membalikkan badannya ke arah Jeny yang berada di belakangnya.


“Ayo.”


“Baik.”


Setelah Reqy dan Jeny pergi, Adelia mulai bicara pada Nerissa yang tengah duduk diam di samping sofa yang ia duduki.


“Kau Nerissa kan.”


“Kau datang bersama siapa?” Tanya Adelia sambil tersenyum.


Pertanyaan itu hanya lah basa basi yang di ucapkan Adelia. Itu karena ia merasa canggung duduk di dekat Nerissa yang selama ini tidak pernah ia temui, semenjak Nerissa datang ke rumah Abraham. Apalagi Nerissa merupakan sepupu suaminya, yang mengharuskan ia untuk menyapa Nerissa.


Nerissa menatap sinis Adelia yang tengah tersenyum padanya.


“Tidak usah pura – pura baik padaku. Aku tidak suka denganmu. Kau itu wanita sial.” Ucap Nerissa.


Adelia langsung menghentikan senyumnya, kemudian menatap serius Nerissa.


“Apa maksudmu wanita sial?”


“Tentu saja kau wanita sial, kedua orang tuamu sudah meninggal kan, dan kau juga di tinggal mati oleh tunanganmu itu.”


“Apa?” Adelia sangat terkejut mendengar kata – kata Nerissa.


Nerissa memang tahu semua tentang Adelia, itu karena ia sudah mencari tahu informasi tentang Adelia setelah ia melihat Adelia di rumah Abraham.


Nerissa kembali melanjutkan kalimatnya.


“Kau itu tidak pantas dengan Kak Reqy, yang pantas dengannya hanya Kak Jeny. Lihatlah di sana.” Ucap Nerissa sambil melihat ke arah Reqy dan Jeny yang tengah bicara dengan beberapa pengusaha. Adelia juga ikut melihat ke arah sana.


Nerissa melanjutkan kembali ucapannya.


“Kau lihat Kak Jeny kan, dia wanita yang pantas untuk Kak Reqy. Mereka sangat serasi. Dia bisa mendampingi Kak Reqy kemana pun dia pergi sedangkan kau hanya duduk manis di rumah dan tidak melakukan apa – apa. Yang bisa kau lakukan hanya hamil dan melahirkan anak untuk Kak Reqy.” Ucap Nerissa.

__ADS_1


Adelia langsung kaget mendengar kata – kata Nerissa sampai membuatnya sangat tersinggung dan sakit hati.


“Nerissa, apa kamu bisa bicara baik – baik pada istri sepupumu?” Kata Adelia dengan suaranya yang terdengar pelan tapi tegas.


“Aku hanya mengatakan apa yang aku pikirkan. Kata – kataku tidak salah kan. Apa yang bisa kamu berikan pada Kak Reqy. Tidak ada kan. Jangan pikir karena kamu hamil keturunan Abraham, kamu sudah membanggakan dirimu. Kamu itu hanya wanita sial yang membuat orang – orang di sampingmu tiada.”


Ya, Nerissa memang semakin tidak suka dengan Adelia ketika tahu tentang masa lalu Adelia yang selalu di tinggal orang terdekatnya.


Adelia mengepalkan kedua tangannya, menahan kata – kata Nerissa yang membuatnya kesal. Ia kemudian berdiri dari tempat duduknya, dan ingin pergi dari sana. Itu karena ia sudah tidak sanggup mendengar ocehan Nerissa.


“Sebaiknya kau pergi meninggalkan kakakku, jangan buat dia seperti kedua orang tuamu dan tunanganmu yang meninggal. Dasar pembawa sial.”


Adelia membalikkan badannya menghadap Nerissa. Plakk....tamparan langsung mendarat di pipi Nerissa. Suara tamparan Adelia terdengar semua orang yang berada tak jauh darinya. Adelia begitu marah dengan Nerissa yang terus mengungkit kedua orang tuanya.


Nerissa hanya diam menatap Adelia sambil memegang pipinya yang sudah di tampar. Ia tidak menyangka kalau wanita lembut seperti Adelia bisa menampar wajahnya di depan banyak orang.


Seketika air mata di pipi Adelia jatuh, sejak tadi ia ingin menangis mendengar kata – kata Nerissa yang membuatnya sangat tersinggung dan sakit hati, apalagi ia mudah sensitif.


Dengan terpaksa Adelia meninggalkan tempat pesta karena tidak bisa menahan air mata yang terus mengalir.


Ia keluar dari gedung pesta tanpa menunggu suaminya. “Aku memang wanita yang sial. Aku wanita sial. Aku tidak pantas untuk hubby. Ibu dan ayah pergi. Rian juga pergi, semuanya karena aku yang sial” Gumamnya yang terus berjalan sambil mengusap air matanya yang mengalir.


Dari kejauhan, terlihat Emir yang melihat Nyonya Mudanya itu pergi. Ia langsung berlari untuk mendekati Adelia. Baru saja Emir ingin berteriak memanggil Adelia, tapi Adelia langsung naik taksi meninggalkan gedung pestanya.


Sementara di dalam pesta, Reqy yang menyadari ada keributan, langsung mendatangi Nerissa bersama Pak Osmar.


“Nerissa, apa yang terjadi. Dimana Adelia?” Tanya Reqy sambil menatap Nerissa dengan dingin.


“Dia pergi setelah menamparku tadi.”


“Apa?” Reqy langsung kaget. “Apa yang kau lakukan sampai dia menamparmu, dia tidak pernah melakukan itu sebelumnya?” Tanya Reqy dengan serius.


“Aku hanya bicara sedikit padanya dan dia marah.” Jawab Nerissa.


“Kau pasti sudah mengatakan hal yang membuat dia tersinggung. Apa kau tahu kalau dia hamil dan gampang sakit hati. Apa kau tidak bisa menjaga ucapanmu di depannya, Hah...?” Teriak Reqy.


Nerissa langsung menunduk di depan Reqy, ia merasa bersalah dengan apa yang di lakukannya tadi.


Tiba – tiba Emir datang menghampiri mereka.


“Tuan Muda.”


“Dimana Nyonya Mudamu?” Tanya Reqy.


“Nyonya sudah pulang naik taksi tuan. Saya tidak berhasil mencegahnya tadi.”


“Sial.”


Reqy langsung berlari keluar dari sana bersama dengan Pak Osmar dan Emir untuk menyusul Adelia.


Reqy sudah tidak sempat untuk menanyakan pada Nerissa, apa yang telah dikatakannya pada Adelia. Yang paling penting baginya adalah selalu berada di dekat Adelia selama istrinya itu hamil.


Bersambung.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa LIKE ya, tulis komentar kalian di bawah kolom komentar. Kalau punya koin dan poin silahkan VOTE ya.


Terima kasih


__ADS_2