Married With Mr. Arrogant

Married With Mr. Arrogant
Jadi dia yang membayar semua biaya kuliahku


__ADS_3

Saat ini Adelia duduk di Ruang Keluarga bersama dengan paman dan bibinya yang duduk di dekatnya. Di sana juga terlihat Emir yang berdiri tegak mendampingi dirinya.


Satu setengah jam yang lalu, paman dan bibinya di jemput Pak Osmar dari rumahnya untuk bertemu dengan Adelia. Saat pertemuan mereka, Adelia tampak sangat bahagia karena selama beberapa bulan ini, ia baru melihat wajah kedua orang yang merawatnya semenjak kematian kedua orang tuanya.


Pak Ferdi dan Bu Susan juga sangat senang bertemu dengan keponakan kesayangannya, apalagi ketika mereka tahu kalau Adelia tengah hamil muda, mereka sangat bahagia, dan gembira. Tidak ada yang melukiskan kebahagiaan mereka saat ini mendengar hal itu, mengingat beberapa bulan yang lalu kalau Adelia baru saja kehilangan kekasihnya.


“Sayang, bibi dan paman sangat senang saat mendengar kamu hamil. Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu. Dan bibi akan menjadi nenek, begitu juga dengan pamanmu. Kamu harus menjaga baik – baik bayi yang kamu kandung ya.” Ucap Bu Susan.


Saat itu Bu Susan duduk di samping kiri Adelia sambil menggenggam tangannya, sedangkan Pak Ferdi duduk di sofa, tepat di samping kanan Adelia.


Pak Ferdi tersenyum senang melihat keponakannya itu, akhirnya ia bisa melihat Adelia hamil semenjak pernikahannya dengan Reqy beberapa bulan yang lalu. Senyum bahagia juga tampak di wajah keponakannya ketika mereka bertemu tadi, itu bukan senyuman paksa yang Adelia tunjukkan padanya. Terlihat jelas di matanya kalau ia tersenyum bahagia dan itu bukan paksaan. Ia sangat mengharapkan di kehamilan Adelia ini, Adelia bisa melupakan masa lalunya dan melanjutkan hidupnya bersama dengan keluarga kecilnya.


“Iya bi, bibi tenang saja, aku akan menjaga kandunganku dengan baik.” Adelia menjawab kalimat bibinya sambil memegang perutnya diikuti senyuman yang ia tunjukkan di depan bibinya.


Pak Ferdi kemudian ikut bicara ketika Adelia selesai menjawab kata – kata Bu Susan.


“Del,”


“Iya.”Adelia langsung menengok ke arah Pak Ferdi.


Ketika Adelia melihat ke arahnya, Pak Ferdi langsung memegang kepala Adelia, mengelusnya dengan lembut dengan tatapan bahagia melihat wajah keponakannya itu.


“Paman sangat senang, akhirnya paman bisa melihatmu tersenyum bahagia. Paman hanya meminta darimu untuk tidak mengingat masa lalu lagi. Kedua orang tuamu pasti tersenyum sekarang, begitu pun dengan Rian. Mereka pasti melihatmu di atas sana dengan senyuman bahagia.”


“Iya paman, Adel pasti akan selalu tersenyum. Adel akan hidup bahagia seperti yang paman bilang. Kalau Adel bahagia, mereka juga akan bahagia kan.”


“Iya nak.”


Seketika Adelia memeluk pamannya dengan wajah tersenyum yang ia tunjukkan di sana, sedangkan Bu Susan hanya mengelus – elus punggung Adelia dengan lembut sambil melihat mereka berdua berpelukan dengan wajahnya yang tersenyum lebar.


“Sudah, paman dan bibi pulang dulu sayang. Kita sudah lama sekali disini, sebentar lagi paman dan bibi harus buka Restoran.” Ucap Bu Susan dengan suaranya yang terdengar lembut.


Adelia kemudian melepaskan pelukannya dan melihat ke arah bibinya yang saat itu memegang bahunya dengan lembut.


“Apa bibi dan paman tidak mau bermalam di sini, bersamaku. Adel masih kangen kalian. Adel masih mau mengobrol dengan kalian berdua?” Adelia terlihat kecewa dan sedih ketika mendengar bibi dan pamannya yang ingin meninggalkan rumah Keluarga Abraham. Tak tega rasanya ia berpisah dengan kedua orang yang sudah menganggapnya sebagai anak kandungnya sendiri. Rasanya waktu begitu cepat berlalu.


“Paman dan bibimu akan datang berkunjung lagi nak, kalau Darel sudah pulang dari Amerika. Dia juga pasti kangen sekali denganmu. Satu minggu setelah pernikahanmu dengan Nak Reqy, dia kembali ke Amerika untuk mengurus berkas – berkasnya di sana.”


“Kak Darel mau mengurus berkas – berkasnya di Amerika baru kembali bekerja di sini.” Tanya Adelia.


“Iya, suamimu kan memberikan dia pekerjaan di salah satu Rumah Sakit yang ada di sini. Nak Reqy memang pria yang baik. Selama ini dia yang telah membantu paman dan bibi.” Ucap Pak Ferdi.


“Maksud paman apa?” Tanya Adelia yang terlihat kaget dan bingung ketika mendengar kata – kata pamannya.


“Restoran yang paman dan bibi kelola selama ini adalah pemberian Tuan Reqy. Paman baru mengetahuinya ketika Pak Osmar datang melamarmu dulu. Tapi paman baru bisa mengatakannya sekarang nak, karena menurut paman, ini adalah waktu yang tepat. Maafkan paman, harusnya paman mengatakan padamu sejak awal.”

__ADS_1


“Jadi Restoran yang selama ini paman kelola adalah milik dia.”


“Iya Del. Itu milik Tuan Reqy, Restoran milik suamimu.” Sambung Bu Susan yang meyakinkan kembali pertanyaan Adelia pada Pak Ferdi.


“Pantas saja aku merasa aneh, kenapa paman dan bibi tiba – tiba bisa mendapatkan uang banyak dari hasil Restoran yang paman dan bibi kelola. Bahkan memberikan ku banyak uang saat ke luar negri, jadi itu semua pemberian darinya.”


“Suamimu bermaksud baik Del. Dia benar – benar pria yang baik untukmu. Kamu harus menghargainya nak, dia sudah membantu keluarga kita selama beberapa tahun ini. Paman mengatakan ini karena ingin kamu bahagia bersama dengan suamimu. Tidak tenggelam dalam masa lalu yang terus kamu ingat.” Jelas Pak Ferdi dengan wajahnya yang terlihat serius menatap Adelia.


Bukannya Adelia senang, tapi ia malah terlihat tidak suka saat ia tahu kalau Restoran yang di kelola pamannya adalah Restoran miliknya, apalagi ia tahu kalau Reqy sengaja membantu paman dan bibinya selama beberapa tahun ini.


Di sana Adelia terdiam sejenak mencerna kata – kata pamannya, seketika ia teringat tentang beasiswa yang ia dapatkan empat tahun lalu di kampusnya.


“Jangan – jangan....beasiswa yang aku dapatkan itu adalah campur tangan dia juga. Sejak awal aku merasa aneh, kenapa aku tidak menerima beasiswa seperti yang lainnya. Aku malah di hubungi setelah tiga bulan mendaftar.” Dalam hati Adelia.


Sementara Emir yang sejak tadi berdiri mendengarkan pembicaraan mereka, merasa khawatir melihat wajah yang di tunjukkan Nyonya Mudanya ketika tahu tentang bantuan Reqy pada keluarganya, begitu pun dengan Pak Ferdi.


“Ada apa Del, kok wajahmu seperti itu. Apa kamu tidak senang mendengar kata – kata paman dan bibimu?” Tanya Pak Ferdi yang terlihat khawatir menatap wajahnya.


Adelia langsung terseyum melihat paman dan bibinya ketika melihat pamannya khawatir dengan wajah yang ia tunjukkan tadi.


“Tidak paman, aku baik – baik saja kok.” Ucap Adelia sambil tersenyum.


“Syukurlah, paman khawatir kamu marah pada kami, karena baru mengatakan masalah ini padamu.”


“Kalau begitu....paman pulang dulu ya sama bibimu, kami harus membuka Restorang dulu nak.” Ucap Pak Ferdi.


“Iya paman. Kalau Kak Darel sudah pulang ke sini, paman dan bibi datang kesini lagi ya bersama Kak Darel.” Ucap Adelia sambil tersenyum.


“Iya sayang.” Sambung Bu Susan.


Pak Ferdi dan Bu Susan pun berdiri dari tempat duduknya begitu juga dengan Adelia yang ikut berdiri dari sana. Ia mengantar paman dan bibinya sampai di depan pintu rumahnya diikuti Emir yang saat itu berjalan di belakangnya.


Saat di luar, Adelia tersenyum melihat paman dan bibinya masuk ke dalam mobil sambil melambaikan tangannya di depan mereka.


Ketika mobil yang mengantar Pak Ferdi dan Bu Susan sudah melaju jauh darinya, ia langsung menengok ke samping melihat Emir yang saat itu berdiri tegak di sampingnya.


“Apa Nyonya ingin mengatakan sesuatu pada saya?” Tanya Emir. Ia tahu maksud dari tatapan Adelia kalau ia pasti ingin menanyakan sesuatu tentang masalah tadi.


“Kamu asistenku kan.” Tanya Adelia.


“Iya nyonya.”


“Kalau begitu jawab pertanyaanku dengan jujur, apa selama tujuh tahun ini tuanmu itu selalu memberikan bantuan pada keluargaku?” Tanya Adelia penasaran dengan apa yang ia pikirkan tadi.


“Iya nyonya, seperti yang di katakan paman dan bibi Anda tadi. Tuan Muda yang membantu mereka.” Jawab Emir dengan serius.

__ADS_1


“Apa aku sekolah di luar negri juga karena dia?” Tanya Adelia penasaran.


Emir langsung kaget mendengar pertanyaan Adelia yang membuatnya diam sejenak. Tak tahu harus mengatakan apa pada Nyonya Mudanya itu.


"Bagaimana ini, nyonya sampai menanyakan hal itu yang selama ini di sembunyikan tuan. Apa yang harus ku katakan pada nyonya, aku tidak menyangka kalau pemikiran nyonya sampai mengarah ke sana?" Dalam hati Emir.


Memang sejak tadi Adelia sudah merasa kalau kuliah di luar negri adalah campur tangan Reqy saat ia mendengar bantuan Reqy pada keluarganya, apalagi ia mengingat dulu ia sangat susah mendapatkan beasiswa ke luar negri sampai ia harus menunggu lama.


Tapi sekarang ia masih belum yakin sepenuhnya dengan apa yang ia pikirkan itu. Ia ingin memastikannya pada Emir terlebih dahulu sebelum bertanya pada Reqy, karena ia yakin kalau Emir pasti tahu semua, mengingat kalau Emir juga tahu tentang kotak musik pemberiannya pada Reqy.


Adelia kembali bicara saat melihat Emir kaget tanpa menjawab pertanyaannya.


“Cepat katakan, apa beasiswa yang aku terima karena dia?” Tanya Adelia dengan wajahnya yang terlihat kesal.


“Iya nyonya. Tapi tuan tulus membantu Anda, tuan tidak mau kalau Anda merasa terbebani dengan bantuan yang tuan berikan pada Anda.” Ucap Emir. Ia berusaha untuk memberi pengertian pada Adelia kalau Reqy melakukannya dengan tulus.


Adelia langsung syok, ternyata apa yang ia pikirkan tadi memang benar adanya. Ia tidak menyangka jika Reqy benar – benar melakukan semua itu tanpa sepengetahuan dirinya. Ia merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Ia berpikir kalau beasiswa yang ia dapatkan itu adalah hasil usahanya sendiri, ternyata semuanya telah di atur oleh suaminya sendiri.


Adelia kemudian tersenyum seringai menatap Emir. “Wah, tuan mudamu itu benar – benar egois ya.”


Emir terlihat diam menatap Adelia yang terlihat kesal mengetahui semua yang di lakukan Reqy padanya.


Sedangkan Adelia kembali melanjutkan kata – katanya pada Emir.


“Jadi maksudmu, aku tidak menerima beasiswa dari kampusku tapi dia yang membiayai semuanya. Begitu” Adelia kembali meyakinkan dirinya dengan apa yang Emir katakan padanya.


“I-iya nyonya.” Emir terdengar gagap menjawab ucapan Nyonya Mudannya karena melihat wajahnya yang marah. Itu pertama kalinya Emir melihat gadis lembut itu berwajah marah di depannya. Adelia terlihat diam setelah mendengarkan penjelasan Emir padanya.


“Jadi dia membayar semua biaya kuliahku.” Dalam hati Adelia.


Adelia kemudian masuk ke dalam rumahnya untuk menemui suaminya. Ia berjalan cepat menuju lift rumah untuk menghampiri suaminya yang tengah sibuk di Ruang Kerjanya sejak tadi pagi. Mulai hari ini, Reqy memang tidak pergi ke kantor dan hanya bekerja di rumahnya sesuai dengan janjinya pada Adelia. Jika ada rapat di kantornya, ia akan rapat online di ruang kerjanya. Seperti yang di lakukannya saat ini, apalagi ia membiarkan Adelia menghabiskan waktunya dengan paman dan bibinya.


Bersambung.


.


.


.


Ingat tekan LIKE di bawah ya, harus. Tulis KOMENTAR positif kalian di bawah kolom komentar yah, kalau punya koin dan poin, silahkan VOTE Adelia dan Reqy.


Insya Allah, konfliknya tidak berat - berat kok, biasa - biasa lah di banding novelku yang lalu itu, hehehe...


Terima Kasih

__ADS_1


__ADS_2