
Pukul 1:00 siang
Reqy baru saja selesai rapat di Ruang Rapat bersama dengan para karyawan perusahaannya. Sejak rapat tadi, ia sama sekali tidak fokus memperhatikan para karyawannya yang sibuk membahas proyek yang sedang di jalankan perusahaannya. Pikirannya terus berada di tempat lain. Ia memikirkan perkataan ibu Nita yang membuatnya sangat khawatir dan gelisah. Meskipun ia tipe orang yang tidak pernah terpengaruh dengan semua perkataan orang lain, dan hanya memikirkan dirinya sendiri, tapi entah kenapa perasaannya terganggu hanya karena ucapan seorang wanita tidak penting, menurutnya.
Kini ia berdiri menatap luar jendela kaca kantornya, tepat di belakang meja kerjanya dengan kekhawatiran yang melanda pikirannya itu. Ia berdiri di sana sambil menghisap batang rokok yang ia pegang di jemarinya.
Sementara Pak Osmar berdiri tegak di depan meja kerja Tuan Mudanya, menatap diam Reqy yang sejak tadi tidak bicara semenjak masuk ke dalam ruangannya.
“Baru kali ini saya melihat Tuan Muda begitu khawatir memikirkan perkataan orang lain sampai tuan tidak pernah fokus, bahkan tuan terus diam merokok di sana.” Dalam hati Pak Osmar. Ia tahu jika Reqy sekarang pasti gelisah gara – gara wanita tadi yang terus mengatakan karma pada Tuan Mudanya. Apalagi ia tahu kalau Reqy merokok pasti, karena ia tidak senang dan gelisah dengan sesuatu.
Pak Osmar pun bicara ketika ia tidak tahan melihat Reqy yang terus diam di sana dengan menghisap batang rokoknya.
“Tuan Muda, apa saya perlu menyingkirkan wanita tadi?” Tanya Pak Osmar dengan serius.
Reqy melirik Pak Osmar tanpa membalikkan badannya ke depan Pak Osmar.
“Tidak perlu.” Jawabnya dengan tegas.
“Baik tuan.”
“Apa ada orang yang tahu tentang kejadian penculikan beberapa bulan yang lalu?” Tanya Reqy tanpa melihat Pak Osmar. Tiba – tiba Reqy bertanya tentang kejadian penculikan Rian, karena kegelisahannya yang terus mengganggu pikirannya itu.
“Hanya sekertaris Jeny yang tahu tentang masalah penculikan itu tuan muda.” Jawab Pak Osmar.
“Pecat dia.” Perintah Reqy dengan tegas.
“Apa sebaiknya Tuan Muda mengawasinya saja. Menurut saya, kalau Tuan Muda pecat Jeny, kita tidak bisa mengontrol dan mengawasinya dengan baik. Kalau tuan muda memecatnya, takutnya dia mengatakan semuanya pada nyonya.” Jelas Pak Osmar.
Reqy langsung membalikkan badannya ke arah Pak Osmar.
“Bukannya kau sudah memperingati dia untuk tidak membocorkan apa yang dia dengar. Dan aku memecatnya karena tidak ingin dia berada di dekat Adelia?” Reqy mengerutkan keningnya menatap Pak Osmar dengan memberikan pertanyaan yang ia lontarkan pada Pak Osmar.
“Baik. Akan saya lakukan seperti yang Anda perintahkan.” Jawab Pak Osmar sambil membungkukkan badanya dengan hormat.
“Panggilkan saja dia kemari. Aku ingin bicara sendiri dengannya.” Perintah Reqy dengan tegas.
“Baik Tuan Muda.” Balas Pak Osmar.
__ADS_1
Pak Osmar pun keluar memanggil Jeny yang berada di ruangannya, tepat di depan ruangan Reqy. Saat itu, Jeny tengah sibuk mengerjakan semua dokumen proyeknya.
***
Jeny berhenti mengerjakan semua pekerjaannya ketika Pak Osmar menyuruhnya masuk ke dalam ruangan Reqy. Ia masuk ke dalam ruangan Reqy bersama dengan Pak Osmar tanpa tahu maksud Reqy memanggilnya ke sana. Di dalam sana, Jeny sudah melihat Reqy berdiri menyandarkan tubuhnya di meja kerjanya, menghadap ke depan.
Tanpa berbasa – basi, Reqy langsung mengatakan maksudnya memanggil Jeny ke ruangannya.
“Bereskan barang – barangmu dan kembalilah ke luar negri.” Pinta Reqy dengan tegas, menatap dingin Jeny.
Seketika Jeny syok mendengar ucapan Reqy yang membuatnya tak percaya dengan apa yang ia dengar itu.
“Tuan Muda, kenapa Anda menyuruh saya kembali ke luar negri?” Tanya Jeny yang masih bingung dengan ucapan yang ia dengar dari Reqy.
“Apa kata – kataku tidak jelas. Kau di pecat, segera bereskan barang – barangmu dan kembalilah ke luar negri?” Reqy berbicara dengan tatapan dingin yang ia tunjukkan pada Jeny.
“Selama ini saya tidak melakukan kesalahan apapun tuan muda. Kenapa Anda memecat saya bahkan mengusir saya dari negara ini?” Tanya Jeny meminta penjelasan Reqy.
“Aku tidak suka kau berada di sini. Aku tidak suka kau berkeliaran di dekat istriku.” Tegasnya dengan lantang membuat wanita berambut pendek itu semakin sedih.
Jadi yang membuat Reqy mengusirnya hanya karena ia tidak menginginkan Adelia melihatnya. Pikirnya.
“Kau sudah tahu kan. Tidak perlu menanyakannya lagi padaku.” Jelasnya dengan serius.
“Tapi....saya sudah berjanji kalau saya tidak akan mengatakannya pada siapapun. Tolong jangan pecat saya. Saya masih ingin bekerja di sini.” Ucap Jeny dengan ekspresi sedihnya. Ia merasa tidak adil dengan permintaan Reqy yang memecatnya karena masalah Adelia.
Reqy langsung berjalan mendekati Jeny ketika mendengar ucapan Jeny yang memohon padanya. Ia memegang dagu Jeny dengan keras sambil menatap Jeny dengan dingin.
“Apa kau pikir aku bodoh. Kau punya bisnis sendiri di luar negri, tapi kau malah bekerja menjadi sekertaris di perusahaanku. Apa kau pikir aku tidak tahu kenapa kau bekerja di sini. Pamanmu itu masih berharap aku menikahmu bukan. Jangan bermimpi, aku tidak pernah menyukai siapapun selain istriku. Dengar Jeny, aku membiarkanmu bekerja di sini, karena kasihan padamu yang terus memohon mohon itu. Kalau saja kau tidak banyak tahu tentang masalahku, mungkin hal ini tidak akan terjadi padamu?”
Setelah mengatakan itu, Reqy langsung mendorong dagu Jeny membuat Jeny hampir jatuh, karena tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.
“Aku mau kau meninggalkan perusahaanku secepatnya. Jangan pernah muncul di depanku apalagi muncul di hadapan Adelia. Kalau sampai aku tahu kau menemuinya, apalagi memberitahu apa yang kau ketahui. Aku jamin, kau dan seluruh keluargamu itu tidak akan bisa menjalankan bisnisnya di mana – mana.” Ancamnya dengan suara lantang menatap Jeny.
Jeny tampak diam dengan wajahnya yang terlihat sedih mendengar ancaman Reqy. Ia tidak habis pikir kalau Reqy akan mengusirnya dari perusahaan Abraham. Selama ini ia selalu menjaga sikapnya agar Reqy tidak melakukan apapun padanya, tapi sekarang Reqy malah memecatnya dengan tidak hormat bahkan berencana mengusirnya dari Indonesia. Apa yang di miliki Adelia sampai Reqy bisa berbuat seperti itu padanya. Begitu pikirnya.
Jeny kemudian berbicara kembali pada Reqy dengan wajahnya yang terlihat sedih.
__ADS_1
“Tuan Muda, saya berjanji tidak akan membocorkan masalah penculikan itu. Tolong jangan usir saya dari sini. Saya masih ingin bekerja di sini.” Jeny kekeh tidak ingin meninggalkan perusahaan, apalagi meninggalkan Indonesia. Ia ingin terus berada di dekat Reqy, meskipun ia tahu kalau Reqy tidak pernah melihatnya sebagai wanita yang ia sukai.
Tiba – tiba Adelia masuk ke dalam ruangan suaminya bersama Emir. Ia datang memberikan kejutan makan siang untuk suaminya di hari pertama Reqy mulai bekerja lagi di kantornya.
“By....” Panggil Adelia membuat Reqy sangat syok melihat kedatangan istrinya yang tidak ia ketahui itu. Apalagi Adelia masuk tanpa mengetuk pintu ruangannya. Begitu pun dengan Pak Osmar dan Jeny yang kaget melihat kedatangan Adelia secara tiba – tiba. Mereka semua menengok melihat Adelia dan Emir dengan ekspresi kaget.
“Apa kau tidak bisa masuk tanpa mengetuk pintu dulu?” Teriak Reqy dengan keras membuat Adelia seketika menghentikan langkahnya. Ia kaget mendengar teriakan suaminya dengan ekspresi dingin yang di tunjukkan Reqy padanya.
“Aku minta maaf kalau aku mengganggu. Maaf.....” Ucap Adelia yang seketika sedih dan tersinggung mendengar Reqy membentaknya hanya karena ia tidak mengetuk pintu ruangannya. Apalagi selama ini Reqy tidak mempermasalahkan jika ia masuk tanpa mengetuk pintu.
Dengan cepat, ia membalikkan badannya untuk pergi meninggalkan Reqy di sana dengan memegang bekal makan siang yang ingin di berikan suaminya. Ia tanpa sadar berlinang air mata saat keluar dari ruangan suaminya tanpa memberikan bekal makan siangnya itu.
Reqy menghela nafasnya saat melihat istrinya pergi dari sana. Ia tidak sadar kalau ia sedang berteriak pada Adelia, karena kegelisahan tentang penculikan Rian. Ia sangat takut kalau Adelia mendengar semuanya yang akan membuat Adelia meninggalkannya.
“Paman, kau urus wanita ini.” Perintah Reqy melihat ke arah Pak Osmar.
“Baik tuan.”
Reqy pun berjalan keluar dari ruangannya untuk mengejar istrinya, ia tahu kalau Adelia pasti tersinggung dan sedih mendengar teriakannya tadi.
Ia secara refleks dan tanpa sadar melakukan hal itu, karena sangat takut kalau Adelia sampai tahu tentang masalah penculikan yang ia sembunyikan rapat – rapat.
Bersambung.
.
.
.
.
INgat tekan LIKE ya sayang. Tolong VOTE Reqy N Adelia supaya masuk 10 besar atau 20 besar lah. Alhamdulillah kalau masuk, itu semua karena VOTE dukungan kalian. Buat yang sudah VOTE, aku ucapin banyak terima kasih sudah mendukung karyaku. Semangat menulis karena VOTE kalian.
.
.
__ADS_1
.Love love buat kalian semua.